مشاركة

Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara
Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara
مؤلف: Antonia

Bab 1

مؤلف: Antonia
Namun, tidak seorang pun tahu bahwa semua kemewahan yang bahkan diidam-idamkan banyak orang itu, tak ada bedanya dengan sampah di mata Avena.

Perhiasan mewah yang diberikan Cassian langsung dia buang ke tempat sampah. Dalam vila yang direnovasi ulang dengan biaya miliaran demi mengikuti gaya Prancis kesukaannya, Avena membakar tirai sutra kamar utama saat Cassian sedang menghadiri rapat dewan direksi. Sepasang cangkir khusus yang diukir dengan nama mereka berdua juga dia banting hingga berkeping-keping tepat di depan kepala pelayan.

Hari itu, Cassian pulang kerja. Baru saja melangkah masuk, dia melihat tas edisi terbatas yang baru dihadiahkannya kemarin sudah digunting hingga hancur dan dilempar begitu saja di depan pintu. Amarah yang dia pendam selama tiga bulan akhirnya meledak sepenuhnya. Dia menerjang maju dan mencengkeram pergelangan tangan Avena. Ruas-ruas jarinya memutih karena menggenggam terlalu kuat.

"Avena! Sebenarnya apa lagi yang harus kulakukan supaya kamu mau memaafkanku? Katakan! Asal kamu bilang, apa pun akan kulakukan!"

Namun, Avena tidak berkata apa-apa. Ekspresinya tampak begitu tenang dan datar.

Padahal Cassian masih ingat, tiga tahun lalu dia bukan seperti ini.

Tiga tahun lalu, Avena adalah kepala negosiator wanita termuda di negeri ini. Suaranya mampu membuat para penjahat paling brutal meletakkan senjata, mampu membujuk orang yang sudah berdiri di tepi atap gedung untuk kembali melangkah mundur.

Suaranya adalah senjata paling tajam yang dia miliki, sekaligus pelindung paling lembut baginya.

Namun sekarang, Avena hampir tidak pernah berbicara.

Dokter mengatakan bahwa dia mengalami afasia akibat gangguan stres pascatrauma. Bukan karena tidak bisa berbicara, melainkan karena tidak ingin berbicara. Dan trauma itu berasal dari kematian putri mereka tiga tahun lalu.

Di altar penghormatan di tengah ruang tamu, terpajang foto mendiang putri mereka, Nina. Gadis kecil itu baru berusia tiga tahun. Rambutnya dikepang dua. Saat tersenyum, muncul dua lesung pipi tipis di wajahnya. Penampilannya begitu manis bagaikan permen susu stroberi kesukaan anak itu.

Wajah Cassian seketika pucat pasi.

Peristiwa tiga tahun lalu bagaikan duri beracun yang terus tertancap di antara mereka.

Hingga kini, Avena masih mengingat dengan jelas kejadian hari itu.

Tahun itu, cinta pertama Cassian, Selina, baru kembali dari luar negeri. Baru saja mendarat, dia diculik oleh musuh-musuhnya. Sementara Nina yang dibawa Cassian untuk ikut menjemput di bandara ikut terseret menjadi sandera.

Gudang terbengkalai itu dipenuhi teriakan histeris para penculik dan tangisan ketakutan Selina.

Nina dipeluk erat oleh Selina. Anak berusia tiga tahun itu bahkan belum mengerti apa arti bahaya. Dia hanya membelalakkan mata sambil berbisik pelan, "Mama ... Nina takut ...."

Saat itu, Avena ikut menangani kasus tersebut sebagai negosiator.

Di tengah upaya keras menyelesaikan situasi, para penculik memaksa Cassian memilih satu di antara dua orang, Selina atau Nina.

Cassian memilih Selina.

Dia berkata, "Kondisi tubuh Selina lemah, dia nggak akan sanggup bertahan. Nina masih kecil, para penculik nggak mungkin menyakiti anak kecil. Avena, kamu harus mengerti. Ini pilihan yang paling tepat."

Namun, tepat ketika tim pasukan khusus mendobrak masuk dan berhasil menangkap para penculik, Selina malah mendorong Nina di tengah kekacauan.

Anak berusia tiga tahun itu terjatuh dari lantai tiga. Dia bahkan tidak sempat mengucapkan kata-kata terakhir kepada Avena.

Semua orang mengatakan Selina terlalu panik hingga kehilangan kendali, sehingga kematian Nina hanyalah akibat kelalaian.

Cassian bahkan menandatangani sendiri surat perdamaian. Dia menyatakan kepada publik bahwa Selina mengidap gangguan mental bawaan. Selina hanya dikirim ke rumah sakit jiwa di pinggiran kota dan dirawat di sana selama tiga tahun. Selama itu pula, Cassian bahkan tidak pernah mengucapkan sepatah kata kasar kepadanya.

"Semuanya sudah berlalu, Avena."

Suara Cassian bergetar. Dia mengulurkan tangan hendak menyentuh wajah Avena, tetapi Avena memalingkan kepala dan menghindarinya.

"Aku tahu kamu menyalahkanku. Tapi dia sudah menerima konsekuensi atas perbuatannya. Nanti kita masih bisa punya anak lagi. Aku berjanji, mulai sekarang apa pun akan kuturuti. Ya?"

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Di layar muncul nama "Selina".

Cassian segera mengangkat telepon itu. Seketika ekspresinya berubah. Begitu panggilan berakhir, dia meraih jasnya dan bergegas menuju pintu. Langkahnya penuh kegelisahan.

"Hari ini Selina keluar dari rumah sakit. Kondisi mentalnya masih belum stabil. Aku harus jemput dia. Nanti malam aku bawakan bakpao isi kepiting favoritmu."

Pintu vila menutup dengan suara keras.

Di ruang tamu yang luas itu, hanya Avena seorang diri yang tersisa.

Sesampainya di ambang pintu, Cassian sempat menoleh ke arah Avena. Bibirnya bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya dia hanya berbalik dan pergi.

Begitu pintu tertutup, Avena berjalan ke depan foto mendiang Nina. Dia berlutut, lalu menyandarkan dahinya pada bingkai foto yang dingin.

Beberapa saat kemudian, dia mengeluarkan ponselnya dan mencari sebuah nomor terenkripsi, lalu mengirim pesan.

[ Selina sudah keluar. Jalankan rencana seperti semula. Hapus seluruh data kependudukan dan identitas atas namaku dan dia. Berapa lama? ]

Dua detik kemudian, balasan datang.

[ Paling cepat tujuh hari. ]

Avena mengangkat pandangannya ke arah foto Nina di altar penghormatan. Dadanya seketika terasa sesak.

Tepat tujuh hari lagi adalah hari peringatan tiga tahun kepergian Nina.

[ Baik. ]

Itulah balasan terakhir yang dia kirim sebelum menghapus seluruh riwayat percakapan.

Ujung jarinya membelai lembut lesung pipi kecil di foto putrinya. Tatapannya sedingin es.

"Tujuh hari lagi, Mama akan bawa kamu pergi. Mama akan balaskan dendammu. Setelah itu, kita nggak akan pernah kembali lagi."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 19

    Tiga bulan kemudian, di sebuah negara kepulauan kecil di Pasifik Selatan.Negara kecil itu mengandalkan pariwisata sebagai industri utamanya. Pemandangannya indah dan penduduknya hidup sederhana serta ramah. Di pulau itu terdapat sebuah panti asuhan bernama "Rumah Cahaya Bintang", yang menampung lebih dari 20 anak yang kehilangan tempat tinggal.Relawan yang baru datang adalah seorang wanita dari timur. Dia sangat pendiam dan jarang berbicara, tetapi semua anak menyukainya. Dia menguasai bahasa isyarat dan sering menggunakan bahasa isyarat untuk menceritakan dongeng kepada anak-anak.Dia juga pandai membuat kue stroberi yang lezat. Setiap Rabu sore saat waktu minum teh, semua anak pasti bisa menikmati kue buatannya.Selain itu, dia juga pandai membuat kotak musik. Dari barang-barang bekas, dia menciptakan boneka kecil yang bisa berputar dan menari, dengan lagu "Bintang Kecil" sebagai pengiringnya.Meskipun kemampuan bicaranya sudah pulih, dia tetap enggan banyak berbicara. Karena itu,

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 18

    "Aku selalu berpikir masih ada waktu. Aku selalu berpikir kamu akan memaafkanku. Aku selalu berpikir semuanya masih bisa kembali seperti dulu. Tapi aku salah. Terkadang, ada kesalahan yang nggak akan bisa lagi diperbaiki."Dia mengangkat pistol itu dan mengarahkannya ke pelipisnya sendiri. "Kalau kematianku bisa membuatmu merasa sedikit lebih baik, aku bersedia."Tatapan Avena sempat bergetar sesaat, tetapi segera kembali tenang."Cassian, berhentilah berpura-pura. Kamu bukan orang yang akan bunuh diri. Kamu nggak akan rela kehilangan perusahaanmu, kedudukanmu, dan nama baikmu. Kamu hanya akan memilih 'pilihan yang paling masuk akal' bagimu sendiri, sama seperti tiga tahun yang lalu."Tangan Cassian bergetar.Avena benar. Dia memang bukan orang yang sanggup bunuh diri. Dia takut mati. Takut kehilangan segalanya. Takut jatuh dari puncak kehidupan. Namun, yang lebih dia takuti adalah menjalani sisa hidup di dalam kebencian Avena."Kalau aku benar-benar memilih mati?" tanyanya pelan. "Kal

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 17

    "Maaf ...." Cassian kembali mengucapkan kata itu.Namun, dia tahu. Semuanya sudah terlambat."Nggak ada gunanya lagi kata maaf, Cassian," ujar Avena pelan."Permintaan maaf nggak bisa menghidupkan Nina kembali. Nggak bisa mengembalikan suaraku. Nggak bisa mengembalikan hidup kita seperti dulu. Kata 'maaf' adalah hal yang paling nggak berguna di dunia. Itu hanyalah alasan yang digunakan para pengecut untuk membebaskan diri dari rasa bersalah."Dia berjalan menghampiri Selina, lalu berjongkok di depannya, menatap kedua mata yang perlahan kehilangan cahaya."Selina, di kehidupan berikutnya ... jadilah orang yang baik."Untuk terakhir kalinya, mata Selina bergerak sedikit. Dia memandang Avena, lalu tatapannya membeku untuk selamanya.Selina telah mati. Dengan kedua tangan yang berlumuran darah dan jiwa yang dipenuhi dosa. Dia meninggal di pulau terpencil yang tidak diketahui siapa pun.Avena berdiri. Dia memandang Selina untuk terakhir kalinya, lalu menoleh kepada Cassian. "Sekarang gilira

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 16

    Cassian menunggu di pegunungan selama satu minggu. Avena tidak lagi mau menemuinya, juga tidak menjawab teleponnya. Dia dibatasi hanya boleh beraktivitas di sekitar vila. Ada orang-orang yang khusus mengawasinya sehingga dia tidak bisa memasuki area lain di kompleks vila itu.Namun, Cassian tidak berniat pergi. Dia tahu, jika kali ini dia pergi, maka dia benar-benar akan kehilangan Avena untuk selamanya.Pada malam hari ketujuh, semua orang yang menjaganya tiba-tiba menghilang. Cassian langsung menyadari ada yang tidak beres. Dia berlari keluar dari vila menuju sisi lain kompleks itu.Malam begitu gelap dan tidak ada cahaya bulan. Yang terdengar hanyalah deburan ombak yang menghantam karang. Mengandalkan ingatannya, Cassian menemukan bangunan putih itu.Pintunya terbuka. Di dalamnya tidak ada seorang pun.Pintu masuk menuju ruang bawah tanah terbuka lebar dan cahaya lampu memancar dari bawah. Cassian ragu selama sesaat, lalu melangkah turun.Lorong yang panjang. Cahaya lampu yang pucat

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 15

    "Tapi tiga tahun yang lalu, kamu memilih kehilangan Nina." Avena memotong ucapannya. "Di dalam hatimu, nyawa Selina akan selalu lebih penting daripada aku dan Nina."Setelah mengatakan itu, dia memutus panggilan video.Ruangan kembali sunyi. Selina masih menangis, tetapi suaranya sudah semakin lemah.Avena menyimpan pisaunya, lalu berjalan menghampiri Selina. Dia berjongkok di depannya hingga tatapan mereka sejajar."Sekarang kamu sudah lihat, bukan?" katanya pelan. "Inilah pria yang kamu cintai. Dalam situasi hidup dan mati, dia akan selalu memilih menyelamatkanmu dan mengorbankan orang lain. Tiga tahun lalu korbannya Nina, tiga tahun kemudian korbannya aku. Sungguh kisah cinta yang mengharukan."Selina menggeleng dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak mampu mengeluarkan suara."Tapi tahukah kamu, Selina." Suara Avena menjadi semakin lirih, "Dia memilihmu bukan karena dia mencintaimu. Dia memilihmu karena dia tidak mencintaiku, juga tidak mencintai Nina. Di dalam hatinya, kami tid

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 14

    Beberapa detik kemudian, panggilan itu tersambung dan wajah Cassian muncul di layar. Dia tampak sangat letih. Matanya dipenuhi guratan merah, sementara latar belakangnya adalah hutan lebat di pegunungan."Avena?" Suaranya terdengar panik. "Akhirnya kamu mau temui aku? Di mana kamu? Bisa nggak kita bicara?"Avena tidak menjawab. Sebaliknya, dia mengarahkan kamera ke Selina. Ekspresi Cassian langsung berubah."Selina? Kenapa kamu ... Avena, apa yang kamu lakukan padanya?""Nggak melakukan apa-apa. Aku hanya mengundangnya datang sebagai tamu." Suara Avena tetap tenang. "Cassian, sekarang aku kasih kamu satu pilihan. Sama seperti tiga tahun lalu di gudang, saat aku memberimu pilihan."Dia berjalan mendekati Selina, lalu mengeluarkan sebilah pisau kecil dari sakunya. Pisaunya memang tidak besar, tetapi sangat tajam. Di bawah cahaya lampu, bilahnya memantulkan kilau dingin."Dengan pisau ini, aku akan melakukan satu hal."Avena berkata dengan tenang, "Kamu bisa memilih, apakah pisau ini akan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status