Compartilhar

Bab 5

Autor: Antonia
Ruang konferensi di rumah sakit diubah menjadi lokasi konferensi pers sementara.

Selina duduk di barisan paling depan dengan perban putih melilit kepalanya, tampak begitu lemah dan menyedihkan.

Puluhan kamera dan mikrofon diarahkan ke Avena yang berada di atas panggung. Kilatan lampu kamera menyala tanpa henti hingga hampir menyilaukan mata.

Avena mengenakan kemeja putih sederhana dan celana panjang hitam. Dia duduk di samping Cassian, diam seperti boneka yang telah kehilangan jiwanya.

Cassian membuka konferensi pers lebih dulu.

"Terima kasih kepada rekan-rekan media yang telah hadir hari ini. Mengenai konflik yang terjadi antara istri saya, Avena, dan Nona Selina, saya mewakili istri saya menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada Nona Selina dan kepada seluruh masyarakat."

"Ini adalah insiden yang sangat disayangkan. Karena tekanan mental yang berkepanjangan, istri saya kehilangan kendali atas emosinya untuk sesaat sehingga melakukan tindakan yang tidak seharusnya. Dia telah menyadari kesalahannya dengan sungguh-sungguh dan bersedia bertanggung jawab penuh."

Begitu dia selesai berbicara, para wartawan langsung gaduh. Pertanyaan-pertanyaan ditembakkan bertubi-tubi.

"Nona Avena, apakah benar itu hanya luapan emosi sesaat, atau sebenarnya sudah direncanakan sejak lama?"

"Saat Anda mendorong Selina jatuh dari tangga, apakah Anda tahu bahwa dia sedang hamil?"

"Sebagai mantan negosiator profesional, apakah menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah menunjukkan bahwa Anda tidak memiliki etika profesi?"

"Apakah kematian putri Anda benar-benar ada hubungannya dengan Selina? Apakah karena itu Anda menyimpan dendam kepadanya?"

Setiap pertanyaan terdengar semakin tajam. Bagai pisau yang menusuk tanpa ampun.

Avena menggenggam erat lembar pidato di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Dia ingin berbicara. Ingin menjelaskan. Ingin memberi tahu semua orang bahwa Selina-lah yang membunuh Nina. Bahwa Selina sengaja memancing emosinya.

Akan tetapi, dia tidak bisa mengeluarkan suara. Dia hanya mampu berdiri di sana seperti seorang bisu, menerima semua tuduhan dan kecurigaan yang diarahkan kepadanya.

"Setelah putri Anda meninggal, Anda mengalami afasia. Apakah itu karena rasa bersalah yang terus menghantui hati Anda?"

"Kabarnya putri Anda dulu meninggal karena jatuh akibat kenakalannya sendiri. Sekarang Anda melampiaskan kemarahan kepada Nona Selina. Bukankah ini hanya pelampiasan dendam kepada orang yang salah?"

"Kalau memang bisu, sebaiknya diam saja di rumah. Untuk apa keluar dan mencelakai orang lain?"

Kalimat terakhir itu terdengar sangat menusuk. Yang mengatakannya adalah seorang wartawan muda. Suaranya lantang, dipenuhi kebencian yang sama sekali tidak disembunyikan.

Avena akhirnya mengangkat kepala. Dia menatap wartawan itu. Tatapannya begitu tenang. Namun entah mengapa, wartawan itu tanpa sadar mundur setengah langkah.

Meski begitu, para wartawan tetap tidak mau berhenti. Pertanyaan yang mereka lontarkan justru semakin berlebihan.

"Nona Avena, kalau putri Anda benar-benar bisa melihat dari alam sana, menurut Anda apa yang akan dia pikirkan saat melihat Anda menyakiti orang lain seperti ini?"

"Menurut Anda, apakah Anda pantas menjadi seorang ibu?"

Tubuh Avena mulai gemetar. Dia menoleh ke arah Cassian, berharap pria itu akan mengatakan sesuatu atau setidaknya melakukan sesuatu. Namun, Cassian hanya mengernyit sambil memberi isyarat kepada petugas keamanan agar mengendalikan situasi.

Lalu, dia membuat sebuah keputusan. Dia berjalan menghampiri Selina dan mendorong kursi rodanya, lalu berkata, "Kondisi Selina sedang kurang baik. Konferensi pers kami akhiri sampai di sini. Kalau masih ada pertanyaan, silakan hubungi asisten saya."

Lalu, dia pergi begitu saja. Dia mendorong kursi roda Selina meninggalkan ruangan. Meninggalkan Avena sendirian di atas panggung, menghadapi lautan wartawan dan kilatan lampu kamera.

Para wartawan langsung berhamburan mengerumuninya.

Mikrofon hampir menempel di wajahnya. Berbagai pertanyaan menghujaninya tanpa henti. Setiap pertanyaan lebih tajam daripada sebelumnya. Setiap kalimat lebih kejam daripada yang terakhir.

"Putrimu memang pantas mati! Siapa suruh kamu nggak jaga anakmu sendiri!"

"Orang bisu nggak pantas mendampingi Pak Cassian! Lebih baik bercerai saja!"

"Pembunuh! Keluar dari sini!"

Di tengah dorong-dorongan itu, Avena terjatuh ke lantai. Luka di telapak tangannya kembali robek. Darah merembes menembus perban putih.

Dia menopang tubuhnya dengan tangan, berusaha bangkit. Namun, seseorang kembali menabraknya hingga dia terjatuh lagi. Tidak ada seorang pun yang mengulurkan tangan untuk membantunya.

Pada akhirnya, Avena berhenti berusaha. Dia hanya duduk diam di lantai. Menatap kaki dan sepatu para wartawan yang berlalu-lalang di depan matanya. Menatap tetes demi tetes darah yang jatuh ke lantai.

Entah sudah berapa lama berlalu, kerumunan akhirnya mulai bubar. Seorang petugas keamanan menghampirinya dan berkata dengan sopan, tetapi terdengar begitu dingin. "Nona Avena, kami harus membersihkan ruangan ini."

Avena berdiri kembali dengan perlahan. Dia berjalan keluar dari rumah sakit. Cahaya matahari terasa begitu menyilaukan. Arus kendaraan di jalan raya terus berlalu tanpa henti.

Para pejalan kaki berjalan tergesa-gesa. Tidak ada satu orang pun yang melirik wanita berwajah pucat dengan perban berdarah di tangannya itu. Dia terus berjalan menyusuri jalanan.

Entah sudah berapa lama, kulit kakinya sudah lecet. Namun, dia sama sekali tidak merasakan sakit. Saat akhirnya kembali ke apartemen, langit sudah gelap.

Saat Avena kembali, Cassian sudah berada di rumah. Dia duduk di sofa ruang tamu dengan wajah muram. Begitu melihat Avena masuk, dia segera berdiri.

"Kamu pergi ke mana? Kenapa nggak angkat teleponku?"

Avena tidak menghiraukannya dan langsung berjalan menuju lantai atas.

"Avena!" Cassian mengadangnya. "Kita harus membicarakan kejadian hari ini. Aku tahu para wartawan tadi keterlaluan, tapi kamu juga terlalu impulsif. Seharusnya kamu nggak ...."

Avena mengangkat mata menatapnya. Tatapan itu membuat semua kata-kata Cassian tersangkut di tenggorokannya.

"Selina hamil."

Tiba-tiba Cassian membuka suara lagi, kali ini dengan nada yang sangat pelan. "Anakku."

Waktu seolah berhenti. Ekspresi Avena sama sekali tidak berubah. Namun, Cassian melihat dengan jelas kedua pupil matanya mengecil seketika.

"Itu kecelakaan."

Cassian mengalihkan pandangan, tidak berani menatap mata Avena.

"Malam sebelum dia keluar dari rumah sakit jiwa, aku minum terlalu banyak .... Aku nggak pernah menyangka akan terjadi seperti ini. Tapi sekarang dia sudah hamil dan anak itu nggak bersalah."

Bibir Avena bergerak pelan. Tidak ada suara yang keluar. Namun, tiba-tiba dia tersenyum.

Senyum itu sangat tipis dan samar. Hanya muncul sesaat sebelum menghilang. Namun, justru senyum itulah yang membuat hati Cassian mendadak terasa dingin.

Avena hanya menganggukkan kepala, lalu berbalik dan naik ke lantai atas.

Entah sudah berapa lama berlalu, dari luar kamar terdengar suara Cassian. "Avena, apa kamu sudah tidur?"

Avena tidak menjawab.

"Aku tahu kamu membenciku." Suara Cassian terdengar samar dari balik pintu. "Tapi aku benar-benar mencintaimu. Dari awal sampai sekarang, satu-satunya orang yang kucintai hanyalah kamu. Selina ... dia hanyalah sebuah kecelakaan."

"Beri aku satu kesempatan lagi, ya? Setelah anak ini lahir, semuanya akan kembali seperti semula. Kita bisa memulai hidup yang baru."

Sudut bibir Avena perlahan terangkat.

Cinta? Mengapa kata itu terdengar begitu menggelikan ketika keluar dari mulut Cassian?

Dia mengeluarkan ponselnya, lalu mengirim pesan terakhir ke nomor terenkripsi itu.

[ Bisa mulai bertindak. ]

Besok adalah hari terakhir.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 19

    Tiga bulan kemudian, di sebuah negara kepulauan kecil di Pasifik Selatan.Negara kecil itu mengandalkan pariwisata sebagai industri utamanya. Pemandangannya indah dan penduduknya hidup sederhana serta ramah. Di pulau itu terdapat sebuah panti asuhan bernama "Rumah Cahaya Bintang", yang menampung lebih dari 20 anak yang kehilangan tempat tinggal.Relawan yang baru datang adalah seorang wanita dari timur. Dia sangat pendiam dan jarang berbicara, tetapi semua anak menyukainya. Dia menguasai bahasa isyarat dan sering menggunakan bahasa isyarat untuk menceritakan dongeng kepada anak-anak.Dia juga pandai membuat kue stroberi yang lezat. Setiap Rabu sore saat waktu minum teh, semua anak pasti bisa menikmati kue buatannya.Selain itu, dia juga pandai membuat kotak musik. Dari barang-barang bekas, dia menciptakan boneka kecil yang bisa berputar dan menari, dengan lagu "Bintang Kecil" sebagai pengiringnya.Meskipun kemampuan bicaranya sudah pulih, dia tetap enggan banyak berbicara. Karena itu,

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 18

    "Aku selalu berpikir masih ada waktu. Aku selalu berpikir kamu akan memaafkanku. Aku selalu berpikir semuanya masih bisa kembali seperti dulu. Tapi aku salah. Terkadang, ada kesalahan yang nggak akan bisa lagi diperbaiki."Dia mengangkat pistol itu dan mengarahkannya ke pelipisnya sendiri. "Kalau kematianku bisa membuatmu merasa sedikit lebih baik, aku bersedia."Tatapan Avena sempat bergetar sesaat, tetapi segera kembali tenang."Cassian, berhentilah berpura-pura. Kamu bukan orang yang akan bunuh diri. Kamu nggak akan rela kehilangan perusahaanmu, kedudukanmu, dan nama baikmu. Kamu hanya akan memilih 'pilihan yang paling masuk akal' bagimu sendiri, sama seperti tiga tahun yang lalu."Tangan Cassian bergetar.Avena benar. Dia memang bukan orang yang sanggup bunuh diri. Dia takut mati. Takut kehilangan segalanya. Takut jatuh dari puncak kehidupan. Namun, yang lebih dia takuti adalah menjalani sisa hidup di dalam kebencian Avena."Kalau aku benar-benar memilih mati?" tanyanya pelan. "Kal

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 17

    "Maaf ...." Cassian kembali mengucapkan kata itu.Namun, dia tahu. Semuanya sudah terlambat."Nggak ada gunanya lagi kata maaf, Cassian," ujar Avena pelan."Permintaan maaf nggak bisa menghidupkan Nina kembali. Nggak bisa mengembalikan suaraku. Nggak bisa mengembalikan hidup kita seperti dulu. Kata 'maaf' adalah hal yang paling nggak berguna di dunia. Itu hanyalah alasan yang digunakan para pengecut untuk membebaskan diri dari rasa bersalah."Dia berjalan menghampiri Selina, lalu berjongkok di depannya, menatap kedua mata yang perlahan kehilangan cahaya."Selina, di kehidupan berikutnya ... jadilah orang yang baik."Untuk terakhir kalinya, mata Selina bergerak sedikit. Dia memandang Avena, lalu tatapannya membeku untuk selamanya.Selina telah mati. Dengan kedua tangan yang berlumuran darah dan jiwa yang dipenuhi dosa. Dia meninggal di pulau terpencil yang tidak diketahui siapa pun.Avena berdiri. Dia memandang Selina untuk terakhir kalinya, lalu menoleh kepada Cassian. "Sekarang gilira

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 16

    Cassian menunggu di pegunungan selama satu minggu. Avena tidak lagi mau menemuinya, juga tidak menjawab teleponnya. Dia dibatasi hanya boleh beraktivitas di sekitar vila. Ada orang-orang yang khusus mengawasinya sehingga dia tidak bisa memasuki area lain di kompleks vila itu.Namun, Cassian tidak berniat pergi. Dia tahu, jika kali ini dia pergi, maka dia benar-benar akan kehilangan Avena untuk selamanya.Pada malam hari ketujuh, semua orang yang menjaganya tiba-tiba menghilang. Cassian langsung menyadari ada yang tidak beres. Dia berlari keluar dari vila menuju sisi lain kompleks itu.Malam begitu gelap dan tidak ada cahaya bulan. Yang terdengar hanyalah deburan ombak yang menghantam karang. Mengandalkan ingatannya, Cassian menemukan bangunan putih itu.Pintunya terbuka. Di dalamnya tidak ada seorang pun.Pintu masuk menuju ruang bawah tanah terbuka lebar dan cahaya lampu memancar dari bawah. Cassian ragu selama sesaat, lalu melangkah turun.Lorong yang panjang. Cahaya lampu yang pucat

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 15

    "Tapi tiga tahun yang lalu, kamu memilih kehilangan Nina." Avena memotong ucapannya. "Di dalam hatimu, nyawa Selina akan selalu lebih penting daripada aku dan Nina."Setelah mengatakan itu, dia memutus panggilan video.Ruangan kembali sunyi. Selina masih menangis, tetapi suaranya sudah semakin lemah.Avena menyimpan pisaunya, lalu berjalan menghampiri Selina. Dia berjongkok di depannya hingga tatapan mereka sejajar."Sekarang kamu sudah lihat, bukan?" katanya pelan. "Inilah pria yang kamu cintai. Dalam situasi hidup dan mati, dia akan selalu memilih menyelamatkanmu dan mengorbankan orang lain. Tiga tahun lalu korbannya Nina, tiga tahun kemudian korbannya aku. Sungguh kisah cinta yang mengharukan."Selina menggeleng dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak mampu mengeluarkan suara."Tapi tahukah kamu, Selina." Suara Avena menjadi semakin lirih, "Dia memilihmu bukan karena dia mencintaimu. Dia memilihmu karena dia tidak mencintaiku, juga tidak mencintai Nina. Di dalam hatinya, kami tid

  • Pernikahan yang Tampak Indah, Tak Lebih Dari Sebuah Penjara   Bab 14

    Beberapa detik kemudian, panggilan itu tersambung dan wajah Cassian muncul di layar. Dia tampak sangat letih. Matanya dipenuhi guratan merah, sementara latar belakangnya adalah hutan lebat di pegunungan."Avena?" Suaranya terdengar panik. "Akhirnya kamu mau temui aku? Di mana kamu? Bisa nggak kita bicara?"Avena tidak menjawab. Sebaliknya, dia mengarahkan kamera ke Selina. Ekspresi Cassian langsung berubah."Selina? Kenapa kamu ... Avena, apa yang kamu lakukan padanya?""Nggak melakukan apa-apa. Aku hanya mengundangnya datang sebagai tamu." Suara Avena tetap tenang. "Cassian, sekarang aku kasih kamu satu pilihan. Sama seperti tiga tahun lalu di gudang, saat aku memberimu pilihan."Dia berjalan mendekati Selina, lalu mengeluarkan sebilah pisau kecil dari sakunya. Pisaunya memang tidak besar, tetapi sangat tajam. Di bawah cahaya lampu, bilahnya memantulkan kilau dingin."Dengan pisau ini, aku akan melakukan satu hal."Avena berkata dengan tenang, "Kamu bisa memilih, apakah pisau ini akan

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status