Share

Bab 3

Author: Yammy
Aku belum pernah melihat Jovan begitu cemas. Bahkan di usia 19 tahun, dia tidak akan pernah melakukan hal sejauh ini untukku. Tara hanya meneteskan beberapa air mata, tetapi Jovan bahkan rela menerobos lampu merah demi bisa menemuinya secepat mungkin.

Aku tidak pernah bermaksud untuk bersaing dengan Tara. Aku hanya tidak menginginkannya lagi.

Semua orang hanya tahu Kanya berwatak lembut dan bersahabat. Namun, tidak ada yang tahu betapa keras kepalanya aku. Saat dihadapkan dengan pengkhianatan, aku tidak akan pernah menoleh lagi.

"Kanya, apa kamu benar-benar yakin?"

Aisha adalah seorang pengacara. Dia telah melihat banyak pengkhianatan dan perselisihan dalam pernikahan. Namun, ketika menghadapi masalahku, dia agak ragu.

"Gimanapun, kalian sudah bersama selama 10 tahun. Kita semua bisa lihat betapa baiknya dia padamu. Memangnya hal ini sudah nggak bisa dibicarakan?"

Aisha tahu segalanya. Dia tahu betapa bangganya Jovan ketika pria itu mengakui perasaannya padaku, bagaimana gembira Jovan ketika aku menerima lamarannya, serta betapa megah resepsi pernikahan kami.

Semua orang bercanda, "Jovan bilang dia nggak akan pernah menikah lagi kalau ditolak Kanya!"

"Kanya, kamu nggak tahu, 'kan? Di hari kamu terima lamarannya, dia bahkan menggendong anjing di tepi jalan dan berputar beberapa kali! Dia begitu gembira sampai nggak bisa tidur sepanjang malam, juga desak kami untuk rencanakan resepsi pernikahan kalian. Dia bilang, dia mau kamu jadi pengantin paling bahagia di dunia!"

Memikirkan hal itu, aku tersenyum getir. Siapa yang bisa menduga apa yang akan terjadi selanjutnya? Hanya dalam 10 tahun, cinta itu sudah perlahan memudar.

Di hadapanku, Jovan bahkan mengatakan kata-kata seperti ini tanpa ragu.

"Kanya, aku sudah bosan denganmu."

"Lagian, dia nggak mengerti bahasa Franc. Meski ngerti, apa yang bisa dia lakukan?"

Dia benar. Saat itu, aku tidak mengerti kata-kata itu. Namun, ekspresinya membuatku sangat tidak nyaman. Senyum tulus yang tidak mencapai matanya membuatku merasa bahwa itu bukanlah kata-kata yang berarti mencintaiku.

Aku secara refleks menghafal ungkapan bahasa Franc itu dan mencari artinya. Kemudian, hatiku tenggelam ke dalam jurang yang dingin. Sebelum aku sempat bereaksi, air mata sudah jatuh ke kertas.

"Kanya, jangan nangis. Kalau dia benar-benar khianati kamu, tinggalkan saja dia!" Aisha memelukku dan berkata dengan tatapan penuh kesedihan, "Aku belum pernah lihat kamu nangis sehebat ini."

Aku menatap Aisha dengan mata merah, tanpa mengatakan apa-apa. Namun, dia memahami semuanya.

Begitu aku sampai di rumah, Jovan menelepon. Terdengar suara Tara di ujung telepon.

"Kak Kanya, Pak Jovan sudah mabuk berat hari ini. Jadi, dia akan tidur di rumahku."

"Sayang, kamu telepon siapa pakai ponselku?" tanya Jovan dengan nada mesra.

Aku tidak berbicara, hanya menarik napas dalam-dalam dengan tenang.

Tara dengan polos menjelaskan, "Kak Kanya, jangan terlalu dipikirkan. Awalnya, aku mau bawa Pak Jovan pulang. Tapi, dia menolak pergi .... Sebenarnya, kamu juga nggak bisa salahkan Pak Jovan. Saat kerja, dia butuh aku berada di sisinya sepanjang waktu. Gimanapun, kamu cuma seorang ibu rumah tangga dan nggak bisa banyak membantu, 'kan?"

Ternyata, dia repot-repot menelepon karena ingin mengingatkanku secara khusus mengenai hal ini, juga menggunakan cara ini untuk menegaskan kepemilikannya atas Jovan.

Jika itu dulu, aku pasti akan langsung menuntut penjelasan dari Jovan tanpa memedulikan apa pun. Kemudian, dia hanya akan mengatakan aku sensitif dan terlalu curiga, lalu bertanya kenapa aku tidak memberinya kebebasan.

Sekarang, hal yang sama terulang lagi. Namun, aku hanya tersenyum acuh tak acuh. "Terserah."

Saat aku menutup telepon, hatiku terasa sakit. Air mata jatuh setetes demi setetes ke layar ponsel. Dadaku terasa sangat sesak.

Jelas-jelas, aku bisa saja membongkar semua kedok Jovan. Namun, aku tetap tidak ingin mengambil langkah itu. Membuat keributan hingga sama-sama dipermalukan tidak akan baik untuk kami berdua.

Dulu, kami saling mencintai dengan begitu menggebu-gebu. Namun, hubungan itu justru berakhir sehambar air putih.

Aku meletakkan surat kesepakatan cerai di area meja yang paling mudah terlihat. Bersama dokumen itu, terdapat sepucuk surat.

Aku pergi diam-diam di tengah malam, tanpa memberi tahu siapa pun tentang keberadaanku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perpisahan Tanpa Berpamitan   Bab 10

    "Kanya, kita balikan, ya? Tara nggak punya hak untuk menantang posisimu. Dia nggak akan berani berbuat begitu lagi," ujar Jovan dengan tulus sambil berjalan mendekat untuk menggenggam tanganku. Baginya, hal ini seolah-olah sangat normal.Aku memandangnya, tetapi tidak dapat menemukan bayangannya dari 10 tahun yang lalu. Ternyata, cintanya telah membusuk sedemikian rupa."Jovan, uruslah hidupmu sendiri."Aku menarik tanganku, lalu buru-buru masuk ke mobil.Jovan pun panik dan ingin menyusulku. Namun, mobil melaju sangat cepat. Dia hanya bisa mengejar sambil terus meneriakkan namaku.Aku tidak menoleh, juga tidak tergerak. Ternyata, perpisahan yang sesungguhnya tak selalu disertai air mata. Aku memutuskan seluruh kontak dengan Jovan, mengganti ponsel dan kartu SIM baru, juga pindah ke rumah baru. Meniti kembali karierku memberiku arah hidup yang baru. Aku menjalani hidup yang bahagia.Lambat laun, aku pun melupakan Jovan dan semua kenangan selama 10 tahun terakhir.Perlahan-lahan, kehad

  • Perpisahan Tanpa Berpamitan   Bab 9

    Bastian juga tidak pernah bersikap baik pada Jovan. Saat memukul Jovan, dia juga sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan. Namun, meskipun begitu, Jovan tetap mengulur perceraian kami, hingga Tara tidak tahan lagi dan membalas dendam padanya.Tara menguak masa lalu mereka ke publik dan hal itu memicu gelombang kecaman kecaman besar di internet. Dalam sekejap, Jovan dan perusahaannya menjadi sorotan publik. Setelah itu, dia baru tidak punya pilihan selain menceraikanku."Kanya, tunggu aku selesaikan urusan di sini. Tunggu aku kembali ...."Aku bahkan tidak meliriknya. Setelah masuk ke dalam mobil Bastian, aku melihat tatapan sedih Jovan melalui kaca spion. Ekspresinya terlihat sangat hancur. Namun, aku tidak merasakan sakit hati sedikit pun. Ternyata, berhenti mencintainya bisa membuat hatiku begitu lega."Karena masalah di sini sudah diselesaikan, kamu mau ikut aku menetap di Kota Harpe? Perusahaanku go public di sana."Aku tersenyum dan menjawab, "Oke."Ada perasaan lain yang terse

  • Perpisahan Tanpa Berpamitan   Bab 8

    Tara lebih memahami Jovan daripada aku, juga bisa menebak apa yang aku pedulikan. Aku tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi. Aku tidak akan membiarkan anak ini tumbuh dalam keluarga seperti itu.Pesan dari Tara telah membulatkan tekadku.Jovan menyadari sesuatu yang aneh pada ekspresiku. Dia bertanya, "Kanya, lagi mikir apa?"Apa yang bisa kupikirkan? Aku hanya ingin menghargai jerih payah Tara. Selain itu, aku tidak akan ragu lagi.Saat Jovan menyadari apa yang ingin kulakukan dan menyusulku ke rumah sakit, aku telah menggugurkan anak itu. Dengan mata merah, dia bertanya padaku, "Kenapa? Kenapa! Kanya, kamu kejam sekali! Kamu sudah janji akan memulai lagi dari awal bersamaku. Kenapa kamu bohong?"Aku menatapnya dan tiba-tiba tertawa. Entah kenapa, ucapan itu terasa seperti bumerang yang berbalik menghantam dirinya sendiri.Saat berumur 19 tahun, aku berpikir dia akan mencintaiku selamanya. Ternyata, cinta itu hanya bertahan 10 tahun. Janji dan sumpahnya sudah lama tenggelam ke

  • Perpisahan Tanpa Berpamitan   Bab 7

    Aku menyahut dengan tenang, "Aku nggak mencintaimu lagi."Jovan meraih pundakku dan berseru dengan tidak percaya, "Nggak! Kanya, kamu cuma masih marah. Aku nggak percaya. Memangnya kamu benar-benar rela melepaskanku?"Aku mendorongnya dan tidak ingin berurusan dengannya lagi. Sampai perkara cerai ini selesai, kami mungkin tidak akan pernah bertemu lagi.Dengan pemikiran seperti itu, aku hendak melangkah maju. Tak disangka, aku tiba-tiba pingsan."Kanya! Kanya, ada apa denganmu?"Ketika tersadar lagi, aku sudah berada di rumah sakit.Jovan menatapku dengan mata berbinar dan penuh kebahagiaan. "Kanya, sepertinya semua ini memang kehendak Tuhan."Aku memandangnya dengan bingung.Jovan menggenggam tanganku dan berkata dengan lembut, "Kita nggak akan cerai. Soalnya, kamu sudah hamil."Tubuhku seketika membeku. Saat ini, aku hanya merasa hawa dingin menjalari seluruh tubuhku.Dalam dua bulan terakhir, aku memang kehilangan nafsu makan. Berhubung merasa terlalu stres memikirkan perceraianku d

  • Perpisahan Tanpa Berpamitan   Bab 6

    Aku memeluk barang peninggalan ayahku dan menangis lama, tetapi Bastian tetap menemaniku. Berhubung hal itu sudah berlalu cukup lama, aku tidak ingat bagaimana aku tertidur hari itu. Hanya saja, saat aku terbangun, Bastian sudah pergi. Yang kulihat adalah Jovan.Jovan mengerutkan keningnya, seperti baru saja marah. Namun, dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menyuruhku untuk beristirahat yang cukup dan jangan bersedih lagi. Malam itu, aku juga tidak memikirkannya lagi.Aku dan Bastian tidak berhubungan lebih lanjut. Lagi pula, setelah ayahku meninggal, kami tidak lagi tergolong satu keluarga. Jika dipikir-pikir sekarang, mungkin itulah yang terjadi hari itu. Oleh karena itu, Jovan masih mengingatnya sampai sekarang."Kanya, kamu harus jauhi orang seperti ini. Kalau nggak, entah apa yang akan dia lakukan!"Jovan ingin menggenggam tanganku, tetapi aku mendorongnya. "Aku tahu Bastian itu orang seperti apa." Aku menarik napas dalam-dalam, lalu memandang Jovan dengan santai. "Jovan, aku pah

  • Perpisahan Tanpa Berpamitan   Bab 5 

    Sikap pilih kasih ayahku saat kecil selalu membuatku merasa bahwa Bibi Shella tidak akan menyukaiku. Setelah mencapai umur dewasa, aku dengan peka meninggalkan rumah itu. Setelah banyak liku-liku, aku akhirnya kembali ke tempat ini.Jovan meneleponku berkali-kali. Ponsel lamaku hampir tidak pernah berhenti berdering. Namun, aku tetap tenang.Bastian, putra Bibi Shella, menatapku dan bertanya dengan ragu, "Itu panggilan dari Jovan?""Kami sudah cerai." Bastian tertegun sejenak. Setelahnya, dia pun menghindari topik tersebut.Dua minggu kemudian, Jovan akhirnya menemukanku. Saat melihatku, matanya terlihat berbinar."Kanya, ternyata kamu di sini."Namun, Bastian mengadang di depanku dan berkata, "Dia nggak punya hubungan apa pun lagi denganmu. Sebaiknya kamu jauhi dia."Jovan mencibir, "Memangnya kamu siapa? Apa hakmu ikut campur dalam urusanku dengan Kanya?" Aku tidak tahu kenapa Bastian bersikap seolah-olah melihat musuh setiap kali bertemu Jovan. Namun, aku benar-benar tidak ingin t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status