Share

Bab 2

Author: Yammy
Namun, suara di belakangku terdengar jelas.

Jovan berkata kepada Tara dalam bahasa Franc, "Sudah kubilang dia akan percaya padaku. Itu bukan hal yang sulit. Dia tetap begitu mudah dibohongi."

Saat pintu tertutup, rasa sakit yang tajam menusuk dadaku. Seperti senar yang putus, rasa sakit itu menghancurkan tekadku. Namun, aku tidak membongkar kebohongannya.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa pria yang paling mencintaiku pada usia 19 tahun, yang pernah bersumpah bahwa akulah satu-satunya wanita yang dicintainya, akan menggoda wanita lain di depanku sepuluh tahun kemudian.

Dia yakin aku tidak akan pernah tahu. Aku juga bersandiwara dengan baik. Aku tidak memberitahunya bahwa aku telah belajar bahasa Franc secara autodidak.

Perayaan ulang tahunku yang ke-29 berlangsung dengan sangat sederhana. Mungkin karena tahu tidak ada keinginanku yang akan terwujud, aku bahkan tidak bisa menyalakan lilin.

Tara memosting sebuah foto di media sosialnya. Itu adalah gambar bayangan dua orang yang berpelukan. Wajah mereka tertutup, tetapi mereka terlihat sangat mesra. Keterangannya ditulis dalam bahasa Franc.

[ Memangnya dia pantas dibandingkan denganku? Kami bukan hanya cocok secara batin, tetapi juga secara fisik. ]

Tara hampir selalu memosting sesuatu di media sosialnya dalam bahasa Franc. Tidak ada yang peduli apa yang tertulis di sana, tetapi aku langsung mengerti.

Hanya saja, aku tidak langsung menuntut jawaban dari Jovan dengan histeris. Sebaliknya, aku diam-diam menghubungi nomor sahabatku.

"Aisha, bantu aku buat surat kesepakatan cerai."

Jovan baru kembali keesokan paginya.

"Sayang, aku sibuk banget semalam!" Dia menyerahkan hadiah itu kepadaku sambil berkata, "Tapi, aku nggak lupa sama ulang tahunmu."

Ya, dia memang terlalu sibuk, sampai-sampai dia tidak sempat menutupi bekas ciuman di lehernya.

Jovan tahu betapa mudahnya membuat amarahku mereda. Aku tidak pernah marah karena kelalaiannya, juga selalu terhanyut dalam kasih sayangnya. Jika sandiwara ini tidak terbongkar, kami mungkin bisa hidup damai seperti ini selamanya.

Namun, aku telah lelah. Aku tidak ingin berpura-pura acuh tak acuh dan hanya diam-diam menangis sendiri. Jadi, aku tidak menerima hadiah itu.

Dulu, aku akan marah karena dia tidak menganggap ulang tahunku penting. Sekarang, meskipun dia melewatkannya, aku tidak merasakan apa pun lagi.

"Sayang, kamu mau pergi ke mana? Aku akan mengantarmu."

Mungkin menyadari ada yang aneh dengan ekspresiku, Jovan menawarkan untuk mengantarku. Namun, begitu membuka pintu mobil, aku melihat kondom di bawah jok.

Aku seketika membeku. Aku tidak menyangka dia akan begitu ceroboh, bahkan tanpa sadar memperlihatkan bukti perselingkuhannya tepat di hadapanku.

Jovan terlihat panik. Dia segera menghalangi pandanganku dan berujar, "Sayang, kursi depan agak kotor. Kamu duduk saja di belakang."

Aku pura-pura tidak melihat apa pun dan menuruti permintaannya untuk duduk di belakang.

Jovan menghela napas lega yang hampir tak terdengar. Pada saat ini, ponselnya tiba-tiba berdering. Dia melirikku secara refleks melalui kaca spion, lalu dengan cepat beralih ke bahasa Franc.

"Ada apa, Sayang?"

"Apa istrimu di sebelahmu?"

"Emm."

"Pantas saja kamu bangun begitu pagi. Ternyata demi pergi temani dia."

"Sudah, jangan merengek lagi. Kemarin ulang tahunnya, aku harus menebusnya."

Hati Jovan langsung melunak begitu mendengar nada manja Tara. Dia pun tersenyum dan berkata, "Sudahlah, aku paling mencintaimu. Kalau aku ketemu kamu dulu, dia nggak akan punya kesempatan."

Tara masih tidak puas dan bersikeras mau bertemu dengan Jovan. Suaranya terdengar seperti ingin menangis saat berujar, "Kalau kamu nggak datang, aku nggak akan ngomong sama kamu lagi!"

Jovan menghentikan mobil ke pinggir jalan. Setelah menutup telepon, dia menatapku dengan wajah penuh rasa bersalah dan berkata, "Sayang, maaf banget. Ada masalah dengan seorang klien yang sedang ditangani Tara. Aku harus pergi menanganinya."

Dia berbohong tanpa ragu. Aku tidak pernah tahu dia bisa berakting dengan begitu meyakinkan dalam situasi seperti ini. Bagaimana mungkin aku menolak permintaannya? Saat mobil menghilang di ujung jalan, aku merasa sedikit kehilangan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perpisahan Tanpa Berpamitan   Bab 10

    "Kanya, kita balikan, ya? Tara nggak punya hak untuk menantang posisimu. Dia nggak akan berani berbuat begitu lagi," ujar Jovan dengan tulus sambil berjalan mendekat untuk menggenggam tanganku. Baginya, hal ini seolah-olah sangat normal.Aku memandangnya, tetapi tidak dapat menemukan bayangannya dari 10 tahun yang lalu. Ternyata, cintanya telah membusuk sedemikian rupa."Jovan, uruslah hidupmu sendiri."Aku menarik tanganku, lalu buru-buru masuk ke mobil.Jovan pun panik dan ingin menyusulku. Namun, mobil melaju sangat cepat. Dia hanya bisa mengejar sambil terus meneriakkan namaku.Aku tidak menoleh, juga tidak tergerak. Ternyata, perpisahan yang sesungguhnya tak selalu disertai air mata. Aku memutuskan seluruh kontak dengan Jovan, mengganti ponsel dan kartu SIM baru, juga pindah ke rumah baru. Meniti kembali karierku memberiku arah hidup yang baru. Aku menjalani hidup yang bahagia.Lambat laun, aku pun melupakan Jovan dan semua kenangan selama 10 tahun terakhir.Perlahan-lahan, kehad

  • Perpisahan Tanpa Berpamitan   Bab 9

    Bastian juga tidak pernah bersikap baik pada Jovan. Saat memukul Jovan, dia juga sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan. Namun, meskipun begitu, Jovan tetap mengulur perceraian kami, hingga Tara tidak tahan lagi dan membalas dendam padanya.Tara menguak masa lalu mereka ke publik dan hal itu memicu gelombang kecaman kecaman besar di internet. Dalam sekejap, Jovan dan perusahaannya menjadi sorotan publik. Setelah itu, dia baru tidak punya pilihan selain menceraikanku."Kanya, tunggu aku selesaikan urusan di sini. Tunggu aku kembali ...."Aku bahkan tidak meliriknya. Setelah masuk ke dalam mobil Bastian, aku melihat tatapan sedih Jovan melalui kaca spion. Ekspresinya terlihat sangat hancur. Namun, aku tidak merasakan sakit hati sedikit pun. Ternyata, berhenti mencintainya bisa membuat hatiku begitu lega."Karena masalah di sini sudah diselesaikan, kamu mau ikut aku menetap di Kota Harpe? Perusahaanku go public di sana."Aku tersenyum dan menjawab, "Oke."Ada perasaan lain yang terse

  • Perpisahan Tanpa Berpamitan   Bab 8

    Tara lebih memahami Jovan daripada aku, juga bisa menebak apa yang aku pedulikan. Aku tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi. Aku tidak akan membiarkan anak ini tumbuh dalam keluarga seperti itu.Pesan dari Tara telah membulatkan tekadku.Jovan menyadari sesuatu yang aneh pada ekspresiku. Dia bertanya, "Kanya, lagi mikir apa?"Apa yang bisa kupikirkan? Aku hanya ingin menghargai jerih payah Tara. Selain itu, aku tidak akan ragu lagi.Saat Jovan menyadari apa yang ingin kulakukan dan menyusulku ke rumah sakit, aku telah menggugurkan anak itu. Dengan mata merah, dia bertanya padaku, "Kenapa? Kenapa! Kanya, kamu kejam sekali! Kamu sudah janji akan memulai lagi dari awal bersamaku. Kenapa kamu bohong?"Aku menatapnya dan tiba-tiba tertawa. Entah kenapa, ucapan itu terasa seperti bumerang yang berbalik menghantam dirinya sendiri.Saat berumur 19 tahun, aku berpikir dia akan mencintaiku selamanya. Ternyata, cinta itu hanya bertahan 10 tahun. Janji dan sumpahnya sudah lama tenggelam ke

  • Perpisahan Tanpa Berpamitan   Bab 7

    Aku menyahut dengan tenang, "Aku nggak mencintaimu lagi."Jovan meraih pundakku dan berseru dengan tidak percaya, "Nggak! Kanya, kamu cuma masih marah. Aku nggak percaya. Memangnya kamu benar-benar rela melepaskanku?"Aku mendorongnya dan tidak ingin berurusan dengannya lagi. Sampai perkara cerai ini selesai, kami mungkin tidak akan pernah bertemu lagi.Dengan pemikiran seperti itu, aku hendak melangkah maju. Tak disangka, aku tiba-tiba pingsan."Kanya! Kanya, ada apa denganmu?"Ketika tersadar lagi, aku sudah berada di rumah sakit.Jovan menatapku dengan mata berbinar dan penuh kebahagiaan. "Kanya, sepertinya semua ini memang kehendak Tuhan."Aku memandangnya dengan bingung.Jovan menggenggam tanganku dan berkata dengan lembut, "Kita nggak akan cerai. Soalnya, kamu sudah hamil."Tubuhku seketika membeku. Saat ini, aku hanya merasa hawa dingin menjalari seluruh tubuhku.Dalam dua bulan terakhir, aku memang kehilangan nafsu makan. Berhubung merasa terlalu stres memikirkan perceraianku d

  • Perpisahan Tanpa Berpamitan   Bab 6

    Aku memeluk barang peninggalan ayahku dan menangis lama, tetapi Bastian tetap menemaniku. Berhubung hal itu sudah berlalu cukup lama, aku tidak ingat bagaimana aku tertidur hari itu. Hanya saja, saat aku terbangun, Bastian sudah pergi. Yang kulihat adalah Jovan.Jovan mengerutkan keningnya, seperti baru saja marah. Namun, dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menyuruhku untuk beristirahat yang cukup dan jangan bersedih lagi. Malam itu, aku juga tidak memikirkannya lagi.Aku dan Bastian tidak berhubungan lebih lanjut. Lagi pula, setelah ayahku meninggal, kami tidak lagi tergolong satu keluarga. Jika dipikir-pikir sekarang, mungkin itulah yang terjadi hari itu. Oleh karena itu, Jovan masih mengingatnya sampai sekarang."Kanya, kamu harus jauhi orang seperti ini. Kalau nggak, entah apa yang akan dia lakukan!"Jovan ingin menggenggam tanganku, tetapi aku mendorongnya. "Aku tahu Bastian itu orang seperti apa." Aku menarik napas dalam-dalam, lalu memandang Jovan dengan santai. "Jovan, aku pah

  • Perpisahan Tanpa Berpamitan   Bab 5 

    Sikap pilih kasih ayahku saat kecil selalu membuatku merasa bahwa Bibi Shella tidak akan menyukaiku. Setelah mencapai umur dewasa, aku dengan peka meninggalkan rumah itu. Setelah banyak liku-liku, aku akhirnya kembali ke tempat ini.Jovan meneleponku berkali-kali. Ponsel lamaku hampir tidak pernah berhenti berdering. Namun, aku tetap tenang.Bastian, putra Bibi Shella, menatapku dan bertanya dengan ragu, "Itu panggilan dari Jovan?""Kami sudah cerai." Bastian tertegun sejenak. Setelahnya, dia pun menghindari topik tersebut.Dua minggu kemudian, Jovan akhirnya menemukanku. Saat melihatku, matanya terlihat berbinar."Kanya, ternyata kamu di sini."Namun, Bastian mengadang di depanku dan berkata, "Dia nggak punya hubungan apa pun lagi denganmu. Sebaiknya kamu jauhi dia."Jovan mencibir, "Memangnya kamu siapa? Apa hakmu ikut campur dalam urusanku dengan Kanya?" Aku tidak tahu kenapa Bastian bersikap seolah-olah melihat musuh setiap kali bertemu Jovan. Namun, aku benar-benar tidak ingin t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status