Share

Perpisahan di Bawah Awan
Perpisahan di Bawah Awan
Author: Lampy

Bab 1

Author: Lampy
Hazel menghabiskan waktu lima tahun untuk mengatasi fobia ketinggiannya. Dia memanjat tebing setinggi seratus meter dengan tangan kosong dan berjalan di atas kabel baja yang membentang di antara dua sisi samudra demi mengalahkan rasa takut itu.

Dia berhasil masuk akademi penerbangan, lulus sebagai peringkat pertama, lalu bergabung dengan Pangkalan Penerbangan Utara.

Jika berhasil melewati evaluasi selama lima tahun berikutnya, dia akan menjadi pilot elite dan satu-satunya partner Alaric.

Namun, tiga misi yang dijalaninya selama lima tahun itu selalu berakhir tragis.

Dalam misi pertama, dia mengalami pendarahan hebat dari mata, telinga, hidung, dan mulutnya. Dalam misi kedua, seluruh keluarganya tewas mengenaskan akibat aksi balas dendam. Dalam misi ketiga, dia mengalami patah tulang remuk.

Semua kejadian itu ternyata disengaja.

Hazel akhirnya menemukan dalang di balik semuanya.

Namun, dia malah mendengar Alaric berkata, "Nessa tahu aku bakal menikah sama Hazel dan dia nggak bisa menerima kenyataan. Karena itu, aku sengaja menutupi semuanya. Nggak perlu menghancurkan seluruh hidup Nessa hanya gara-gara masalah kecil begini."

Hazel tersenyum. Lalu, dia meninggalkan tiga hal yang membuat Alaric menyesal seumur hidup.

Misi pertama, Alaric sendiri yang memberikan perintah agar dia membawa pulang sebuah formula rahasia dari luar negeri. Namun, satu-satunya rute penerbangan yang tersedia dilanda badai petir. Dia mengertakkan gigi dan menerbangkan jet tempurnya menerobos badai hingga berhasil keluar dari kepungan awan petir.

Kotak berisi formula itu tetap utuh, tetapi jet tempurnya mengalami kerusakan di banyak bagian.

Misi kedua, dia ditugaskan memberikan bantuan dari udara dalam kasus penyanderaan 100 orang. Dia sudah berhasil mengunci lokasi para penculik dan operasi penangkapan akan segera dilakukan.

Namun pada saat genting, suara seorang wanita tiba-tiba terdengar melalui saluran komunikasi dan membocorkan rencana operasi awal.

Alaric langsung memberikan perintah tegas, "Jalankan Rencana B. Tabrakkan pesawat ke gedung sasaran, sekarang!"

Tanpa ragu sedikit pun, Hazel menjalankan perintah itu dan 100 sandera berhasil diselamatkan. Namun, identitas wanita yang membocorkan rencananya itu tak kunjung terungkap.

Misi ketiga, dia dikirim ke zona perang untuk menerjunkan bantuan kemanusiaan. Namun, paket pertama yang dijatuhkan ternyata sebuah bom. Hazel tidak punya pilihan selain menabrakkan badan pesawatnya ke bom tersebut hingga meledak.

Dia berhasil menyelamatkan banyak nyawa, tetapi dilarang terbang selama satu tahun karena melakukan manuver berbahaya.

Setelah masa evaluasi lima tahunnya berakhir, dia terancam dipindahkan dari tim yang berada langsung di bawah komando Alaric.

Namun, dia masih belum menyerah.

Selama setahun itu, dia memanfaatkan semua koneksi yang dimilikinya untuk melakukan penyelidikan. Semua bukti yang berhasil ditemukan mengarah pada satu nama, Nessa.

Seorang anak magang biasa di pusat komando.

Hazel membawa bukti-bukti itu dan berjalan menuju kantor Alaric. Dadanya terasa sesak karena rasa sakit dan ketidakadilan yang sulit dia ungkapkan.

Dari dalam kantor terdengar perdebatan sengit antara Alaric dan wakilnya, Elio.

"Kamu mau ngasih gelar Pilot Terbaik kali ini ke Nessa? Orang yang bahkan belum pernah naik jet tempur?" Suara Elio sarat akan amarah yang ditahan, "Kamu pikir aku benaran nggak tahu apa yang terjadi dalam tiga misi Hazel itu?"

Langkah Hazel yang berada di luar pintu seketika terhenti.

Suara Alaric terdengar tenang tanpa gejolak sedikit pun. Nada bicara yang dingin itu telah didengarnya selama sepuluh tahun dan selalu dia patuhi seakan-akan setiap perkataan Alaric adalah titah mutlak.

"Aku komandan tertinggi. Setiap penilaianku selalu adil dan objektif."

"Adil?" Elio nyaris berteriak, "Misi pertama Hazel ternyata cuma untuk mengawal pembalut khusus pesanan Nessa? Cuma karena dia bilang alergi kalau memakai produk dalam negeri? Hazel sampai tersambar petir di tengah badai waktu itu! Mata, telinga, hidung, dan mulutnya semua berdarah. Kamu nggak tahu itu?"

Di luar pintu, Hazel merasa jantungnya seolah diremas dengan kuat. Rasa sakit itu membuatnya hampir tidak bisa bernapas.

"Situasinya mendesak. Alergi membuat Nessa sangat nggak nyaman." Suara Alaric tetap datar. Bahkan pembelaannya terdengar seolah-olah hal itu sudah sewajarnya.

"Kalau yang kedua?" Elio masih diliputi amarah. "Nessa nggak bisa menemukanmu, lalu berteriak-teriak di saluran komunikasi umum sampai membocorkan keberadaan Hazel! Setelah itu para penculik membalas dendam. Orang tuanya mengalami kecelakaan mobil, sedangkan adik laki-laki dan adik perempuannya diperlakukan oleh para bajingan itu sampai ...."

Elio tidak sanggup melanjutkan.

Hazel juga nyaris tidak sanggup mendengarnya lagi.

"Dia takut gelap." Akhirnya terdengar sedikit kelelahan dalam suara Alaric, tetapi dia tetap membela Nessa, "Dia membutuhkanku. Mengenai apa yang menimpa keluarga Hazel ... aku sudah memberikan kompensasi padanya."

Seluruh tubuh Hazel gemetar. Dia terpaksa bersandar ke dinding agar masih bisa berdiri.

Foto jasad kedua adiknya yang mengenaskan, telepon orang tuanya yang tak akan pernah tersambung lagi .... Semua mimpi buruk yang membuat dia terbangun di tengah malam ternyata hanya berawal dari ucapan Nessa bahwa dia takut gelap?

"Oke, lalu yang ketiga?" Elio tak mampu lagi menahan amarah dan kesedihannya. "Nessa mengganti bantuan dengan bom itu tanpa alasan. Dia sebenarnya mau membunuh para pengungsi di bawah atau mau membunuh Hazel? Perbuatannya seharusnya membuat dia diadili di pengadilan militer! Kenapa kamu malah menutup-nutupinya?"

"Nessa cuma khilaf sesaat." Suara Alaric merendah saat melanjutkan, "Nessa tahu aku bakal menikah sama Hazel dan dia nggak bisa menerima kenyataan. Karena itu, aku sengaja menutupi semuanya. Nggak perlu menghancurkan seluruh hidup Nessa hanya gara-gara masalah kecil begini."

Masalah kecil?

Seluruh tubuh Hazel bergetar.

Sepuluh tahun perjuangannya yang berlumuran darah, berkali-kali berada di ambang hidup dan mati, serta nyawa keempat anggota keluarganya ....

Di mata Alaric, semua itu hanya masalah kecil?

Bahkan Elio sendiri sampai tak mampu menahan nada sinisnya.

"Kamu pilih kasih sekali sama Nessa hanya karena dia adalah sandera pertama yang kamu selamatkan waktu itu, sehingga dia punya arti khusus bagimu. Tapi demi dia, kamu bahkan nggak segan menggunakan pernikahanmu untuk mempertahankan Hazel. Pak Alaric, sebenarnya kamu ini nganggap Hazel apaan?"

Setelah hening sesaat, suara Alaric kembali terdengar. Nada bicaranya tetap seolah semua itu sudah sewajarnya.

"Hazel sebentar lagi bakal jadi istriku. Aku juga sudah memutuskan bahwa setelah kami resmi menikah, aku akan mengajukan permohonan agar dia menjadi satu-satunya partner terbangku. Tapi Nessa berbeda. Dia sudah nggak punya apa-apa lagi."

"Hah, lalu gimana kalau Hazel mengetahui semua ini?" tanya Elio dengan menekankan setiap katanya. "Apa dia masih mau menikah denganmu dan menjadi partnermu?"

"Dia nggak bakal tahu." Suara Alaric mendadak dingin, jelas tidak ingin membahas masalah itu lebih jauh. "Lagian, dia sudah mengejarku selama sepuluh tahun. Semua impiannya sudah aku wujudkan. Sebulan lagi kami akan resmi menikah. Dia nggak akan pergi."

Ternyata Alaric tahu semuanya. Dia tahu Hazel sudah mencintainya selama sepuluh tahun dan bermimpi menjadi satu-satunya partner terbangnya selama sepuluh tahun.

Itulah sebabnya, ketika Hazel mengetahui keempat anggota keluarganya tewas mengenaskan dan dengan kalap bersikeras mencari pengkhianat di antara mereka, Alaric terus berkata padanya, "Hazel, jangan takut. Mulai sekarang, aku akan memberimu sebuah keluarga."

Lebih ironisnya lagi, sandera pertama yang diselamatkan Alaric dalam misi tempur pertamanya dulu bukanlah Nessa.

Melainkan Hazel sendiri.

Hari itu menjadi akhir dari mimpi buruk Hazel, tetapi juga awal dari perasaannya terhadap Alaric.

Setelah dibawa ke rumah sakit dan kondisinya pulih, dia mendengar Alaric juga sedang menjalani pemulihan di sekitar sana.

Hazel pun membawa benda kenang-kenangan mereka dan diam-diam keluar dari kamar rawatnya. Namun dari kejauhan, dia hanya sempat melihat Alaric memeluk seorang gadis.

Tak lama kemudian, orang tuanya datang tergesa-gesa dan membawanya pergi. Sejak saat itu, mereka tidak pernah bertemu lagi sampai Hazel masuk ke pangkalan penerbangan.

Air mata menetes menyusuri pipi Hazel.

Satu-satunya sosok yang selama ini dipujanya, kesetiaan yang telah terpatri dalam relung hatinya, serta impian yang dia kira akhirnya akan menjadi kenyataan ....

Ternyata semua itu hanyalah kompensasi dan rasa iba.

Demi sesuatu yang begitu konyol, Hazel telah mengorbankan masa muda, kesehatan, bahkan nyawa orang-orang yang paling dia cintai.

Hazel berdiri tegak dan menghapus sisa air mata terakhir di wajahnya.

Dia tidak membuka pintu itu. Dia hanya berbalik dan berjalan kembali ke meja kerjanya. Semua bukti dikumpulkan menjadi satu berkas, lalu dikirimkan melalui situs pengaduan Pengadilan Militer Tertinggi.

Tak lama kemudian, sebuah balasan muncul di layar.

[ Laporan dan seluruh bukti telah diterima. Proses verifikasi akan segera dilakukan dan diperkirakan memerlukan waktu 30 hari kerja. ]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 21

    Ketakutan, kecemasan, dan ... cinta yang begitu dalam.Dia mengira dirinya masih punya kesempatan. Dia mengira, asalkan dia tidak melepaskan Hazel, asalkan dia mengikat Hazel di sisinya, terus berada di samping Hazel, suatu saat dia pasti bisa menghangatkan kembali hati wanita itu.Namun, ketika Hazel tanpa ragu melepaskan diri dari ikatannya, ketika dia melompat ke tengah angin yang mengamuk, barulah Alaric benar-benar menyadari bahwa dia telah kehilangan Hazel.Apa pun yang dia lakukan setelah ini, sekeras apa pun dia memohon atau bertindak gila, tatapan Hazel tidak akan pernah berhenti untuknya walau sedetik.Semua perasaan Hazel terhadapnya kini hanya menyisakan kebencian. Semua itu adalah akibat yang dia ciptakan dengan tangannya sendiri, sesuatu yang tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi.Sesuatu yang hangat tiba-tiba mengalir dari sudut matanya. Ternyata, beginilah rasanya ketika hati benar-benar mati.Dari belakang, terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa. Alaric tidak menole

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 20

    Dia langsung menoleh ke arah Hazel di sampingnya. Wajah Hazel pucat, bibirnya terkatup rapat, dan matanya hanya dipenuhi ketakutan.Benar juga, badai petir ....Badai petir yang pernah membuatnya mengalami pendarahan dari tujuh lubang tubuhnya dan menyebabkan pesawat tempurnya hancur ....Tepat saat pikirannya terguncang hebat, di antara awan tebal di depan, seberkas petir merobek kegelapan dan memelesat lurus ke arah mereka!"Awas!" teriak Hazel.Dalam sekejap, pesawat tempur Lucas memelesat dari samping dengan sudut yang nyaris mustahil, memaksa masuk tepat di antara pesawat tempur hitam dan sambaran petir itu.Duar! Suara gemuruh yang memekakkan telinga disertai cahaya putih yang menyilaukan. Pandangan Hazel seketika kabur oleh air mata.Karena dia melihat pesawat tempur Lucas terkena sambaran petir secara langsung. Pesawat itu kehilangan kendali, berputar-putar, lalu jatuh dengan cepat menuju hutan pegunungan yang gelap di bawah."Jangan!" Pada saat itu, jantung Hazel seakan berhen

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 19

    "Tanpamu, aku nggak bisa kembali." Suaranya terdengar serak. "Hazel, aku benar-benar mencintaimu. Hari-hari tanpamu nggak ada artinya bagiku ...."Cinta? Hazel menatap ekspresi Alaric yang penuh kepedihan. Baginya, semua ini terasa konyol dan menggelikan. Cinta yang datang terlambat tidak ada bedanya dengan sampah."Kita masih punya masa depan." Alaric berusaha berpegangan pada harapan terakhirnya dan buru-buru berkata, "Aku tahu kita kehilangan seorang anak, tapi kita masih bisa punya anak lagi, bahkan punya banyak! Aku akan jadi ayah yang baik. Kita akan punya keluarga ....""Cukup!" Hazel tiba-tiba berdiri."Kamu nggak berhak menyebutnya. Kamu adalah salah satu orang yang membunuhnya." Dia mengucapkannya kata demi kata dengan tegas. "Soal keluarga, tentu saja aku ingin punya keluarga. Tapi bukan denganmu."Setelah berkata demikian, dia tak lagi melirik Alaric dan berbalik pergi dengan langkah cepat.Alaric terpaku di tempat, hanya mampu melihat Hazel membuka pintu dan berjalan menuj

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 18

    Hazel menatap pria di hadapannya yang sudah begitu mengenaskan, lalu menarik sudut bibirnya membentuk senyuman dingin."Aku nggak memaafkanmu karena kamu nggak pantas mendapatkannya." Suaranya tidak keras, tetapi terdengar sangat jelas."Sedangkan soal kehidupan asmaraku, itu sudah nggak ada hubungannya denganmu. Kamu nggak berhak mempertanyakan siapa pun di sini.""Nggak ada hubungannya denganku?" Seolah kalimat itu menusuk tepat ke jantungnya, Alaric hendak melangkah maju. Namun, dia lupa dengan lukanya sendiri hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terjerembap ke lantai.Namun, dia hanya berusaha mengangkat kepala dan terus menatap Hazel."Hazel, lihat aku! Lihat aku! Kita pernah tunangan, kita pernah punya anak! Mana mungkin kamu bisa begitu saja melupakanku dan bersama orang lain ....""Diam!" Suara Hazel seketika mendingin. "Kamu nggak berhak menyebut anak itu."Lucas meminta seseorang membantu Alaric berdiri. Sikapnya terlihat sopan, tetapi sebenarnya dia sedang mengusirnya

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 17

    Karena guncangan mental akibat aksi nekat Alaric, Lucas memaksa Hazel untuk beristirahat selama satu minggu.Selama seminggu itu, mimpi buruk yang semula Hazel kira sudah berlalu kembali menghantuinya.Cahaya api, ledakan, sensasi terjatuh, serta ucapan terakhir Alaric. "Sekarang aku tahu seberapa sakitnya kamu."Semua itu selalu menyeretnya ke dalam jurang yang mencekik setiap kali malam semakin larut.Lucas pindah ke kamar tamu di sebelah kamarnya. Katanya, dia mengkhawatirkan kondisi Hazel dan ingin lebih mudah menjaganya.Hazel tahu, alasannya bukan hanya itu. Dia bisa merasakan perhatian Lucas yang semakin jelas setiap hari, hanya saja untuk sementara dia belum mampu membalasnya.Hingga suatu malam, dia kembali terbangun karena mimpi buruk. Setelah berteriak, Hazel meringkuk di kepala ranjang. Napasnya masih terengah-engah.Kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu."Hazel?" Itu suara Lucas. Dari balik pintu, dia bertanya dengan lembut, "Kamu nggak apa-apa?"Hazel tidak menjawab.

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 16

    Di radar, titik putih yang menandakan pesawat tempur Alaric tiba-tiba mulai melaju dengan gila-gilaan. Pesawat itu menyimpang dari jalur penerbangan dan memelesat lurus menuju sebuah puncak gunung di depan!"Kamu gila?!" Jantung Hazel seakan berhenti berdetak. Dia berteriak, "Berhenti! Kamu bisa mati!""Kalau aku masih nggak mati setelah melakukan ini ...." Suara Alaric mulai terdengar samar di tengah arus udara berkecepatan tinggi, dipenuhi kegigihan yang nekat. "Bisa kamu maafkan aku?"Hazel tidak menjawab. Dia hanya bisa menyaksikan titik putih itu memelesat menuju lereng gunung.Suara Alaric terdengar untuk terakhir kalinya, begitu pelan seperti gumaman, "Kalau melakukan kesalahan, seseorang memang harus dihukum ...."Duar! Suara ledakan dahsyat terdengar. Api dan asap hitam membumbung dari lereng gunung. Pikiran Hazel seketika kosong.Naluri seorang pilot mengalahkan segala kebencian dan dendam. Hampir tanpa berpikir, dia langsung mendorong tongkat kendali dan menukik menuju lokas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status