Share

Bab 2

Author: Lampy
Detik berikutnya, suara alarm yang memekakkan telinga membuat Hazel sontak berdiri dari meja kerjanya. Suara itu adalah alarm keadaan darurat di landasan parkir pesawat.

Selama setahun dilarang terbang, Hazel bertugas melakukan pemeliharaan jet tempur di darat. Dia pun segera berlari keluar.

Di dekat hanggar, hati Hazel langsung mencelos.

Dia melihat Nessa.

Nessa berdiri di samping jet tempur yang sudah dijaganya selama lima tahun, dengan sebuah pemicu ledakan yang tergenggam di tangannya. Alat itu merupakan langkah terakhir yang hanya akan digunakan jika jet tempur menghadapi situasi berbahaya yang sudah tidak dapat dikendalikan.

"Lepaskan benda itu!" teriak Hazel.

Nessa tersentak kaget. "Kak Hazel, aku cuma melakukan pemeriksaan rutin pada jet ...."

"Aku bilang, lepaskan pemicu ledakan itu." Hazel berjalan mendekatinya selangkah demi selangkah dengan tatapan dingin dan tegas. "Itu bukan mainan."

Nessa menggigit bibir bawahnya, lalu tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat seolah baru saja mengalami ketakutan luar biasa. Dia mendadak menekan pemicu itu!

"Jangan!"

Hazel langsung menerjang ke arahnya, tetapi terlambat selangkah.

Di tengah suara ledakan yang dahsyat, gelombang kejut menghempaskan Hazel hingga terjatuh ke tanah.

Namun, dia bahkan tidak merasakan sakit. Matanya hanya terbelalak menatap jet tempur yang telah menemaninya selama lima tahun itu terus berubah bentuk dan hancur berkeping-keping di tengah kobaran api.

Hazel pun kehilangan kesadaran.

Di ruang medis.

Hazel duduk terpaku, membiarkan dokter merawat luka-luka lecet di tubuhnya. Dia memejamkan mata, tetapi kobaran api yang menjulang tinggi masih memenuhi benaknya.

Setiap hari dalam lima tahun terakhir ini, setiap kali lepas landas dan pendaratan, setiap kali tangannya menyentuh badan pesawat itu ... semuanya berubah menjadi abu bersama ledakan tersebut.

Pintu terbuka.

Alaric masuk, diikuti Nessa yang matanya merah karena menangis.

Dengan suara terisak, Nessa berkata, "Kak Hazel tiba-tiba berlari keluar dan mengagetkanku. Lagian, aku kira itu cuma tombol biasa. Aku nggak tahu kalau itu pemicu ledakan ...."

"Kamu nggak tahu? Bukannya aku sudah kasih tahu kamu?" Hazel tertawa. "Lagian, sejak hari pertama masuk ke pangkalan, semua orang diwajibkan mengenali seluruh perangkat darurat. Sekarang kamu bilang kamu nggak tahu?"

Nessa menatap Alaric dengan tatapan memohon bantuan. Tatapan Alaric beralih di antara mereka berdua sebelum akhirnya berhenti pada wajah Hazel.

"Bagaimanapun juga, faktanya jet tempur itu sudah hancur. Setiap jet tempur di pangkalan adalah aset negara. Kamu bertanggung jawab karena lalai dalam pengawasan."

Hazel tertegun menatap pria di hadapannya.

Pria yang sudah didekati dan dicintainya selama sepuluh tahun, pria yang sebentar lagi akan dia nikahi ....

Tiba-tiba, pria itu terasa begitu asing baginya.

Dengan nada formal, Alaric berkata, "Sesuai peraturan, kamu harus menjalani hukuman kurungan selama tiga hari untuk merenungkan kesalahanmu."

....

Di ruang kurungan.

Hazel terus menggigit bibir bawahnya sambil gemetar karena klaustrofobianya.

Sepuluh tahun lalu, dia pernah disekap di sebuah gudang gelap selama 13 hari. Sampai akhirnya, di tengah kepulan asap mesiu, seorang pemuda datang menyelamatkannya.

"Jangan takut," kata Alaric yang masih muda saat itu. "Aku akan membawamu pulang."

Sebelum Hazel dibawa masuk ke ambulans, pemuda itu menyelipkan sebuah liontin giok ke tangannya. "Ini untukmu. Kalau nanti kamu merasa takut lagi, lihatlah benda ini. Ingat, akan selalu ada seseorang yang datang untukmu."

Pipi Hazel dibasahi air mata. Dia membenamkan wajah di antara kedua lengannya dan mengusap air matanya dengan asal-asalan.

Pembohong.

Jantungnya seolah-olah ditusuk berulang kali. Setiap detaknya hanya menyisakan rasa sakit.

Entah berapa lama berlalu sebelum pintu ruang kurungan akhirnya dibuka. Alaric yang sekarang berdiri di ambang pintu, berkata dengan suara dingin, "Ada misi darurat."

Hazel mendongak menatapnya tanpa ekspresi sedikit pun. Dia sendiri tidak tahu apakah hatinya sudah benar-benar mati atau rasa sakit itu sudah membuatnya mati rasa.

"Seorang ilmuwan harus segera dikawal." Setelah melihat kondisi Hazel dengan jelas, Alaric sedikit mengernyit. Dia bahkan sempat terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Misi ini akan memengaruhi hasil evaluasi akhirmu. Kamu tahu apa artinya itu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 21

    Ketakutan, kecemasan, dan ... cinta yang begitu dalam.Dia mengira dirinya masih punya kesempatan. Dia mengira, asalkan dia tidak melepaskan Hazel, asalkan dia mengikat Hazel di sisinya, terus berada di samping Hazel, suatu saat dia pasti bisa menghangatkan kembali hati wanita itu.Namun, ketika Hazel tanpa ragu melepaskan diri dari ikatannya, ketika dia melompat ke tengah angin yang mengamuk, barulah Alaric benar-benar menyadari bahwa dia telah kehilangan Hazel.Apa pun yang dia lakukan setelah ini, sekeras apa pun dia memohon atau bertindak gila, tatapan Hazel tidak akan pernah berhenti untuknya walau sedetik.Semua perasaan Hazel terhadapnya kini hanya menyisakan kebencian. Semua itu adalah akibat yang dia ciptakan dengan tangannya sendiri, sesuatu yang tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi.Sesuatu yang hangat tiba-tiba mengalir dari sudut matanya. Ternyata, beginilah rasanya ketika hati benar-benar mati.Dari belakang, terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa. Alaric tidak menole

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 20

    Dia langsung menoleh ke arah Hazel di sampingnya. Wajah Hazel pucat, bibirnya terkatup rapat, dan matanya hanya dipenuhi ketakutan.Benar juga, badai petir ....Badai petir yang pernah membuatnya mengalami pendarahan dari tujuh lubang tubuhnya dan menyebabkan pesawat tempurnya hancur ....Tepat saat pikirannya terguncang hebat, di antara awan tebal di depan, seberkas petir merobek kegelapan dan memelesat lurus ke arah mereka!"Awas!" teriak Hazel.Dalam sekejap, pesawat tempur Lucas memelesat dari samping dengan sudut yang nyaris mustahil, memaksa masuk tepat di antara pesawat tempur hitam dan sambaran petir itu.Duar! Suara gemuruh yang memekakkan telinga disertai cahaya putih yang menyilaukan. Pandangan Hazel seketika kabur oleh air mata.Karena dia melihat pesawat tempur Lucas terkena sambaran petir secara langsung. Pesawat itu kehilangan kendali, berputar-putar, lalu jatuh dengan cepat menuju hutan pegunungan yang gelap di bawah."Jangan!" Pada saat itu, jantung Hazel seakan berhen

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 19

    "Tanpamu, aku nggak bisa kembali." Suaranya terdengar serak. "Hazel, aku benar-benar mencintaimu. Hari-hari tanpamu nggak ada artinya bagiku ...."Cinta? Hazel menatap ekspresi Alaric yang penuh kepedihan. Baginya, semua ini terasa konyol dan menggelikan. Cinta yang datang terlambat tidak ada bedanya dengan sampah."Kita masih punya masa depan." Alaric berusaha berpegangan pada harapan terakhirnya dan buru-buru berkata, "Aku tahu kita kehilangan seorang anak, tapi kita masih bisa punya anak lagi, bahkan punya banyak! Aku akan jadi ayah yang baik. Kita akan punya keluarga ....""Cukup!" Hazel tiba-tiba berdiri."Kamu nggak berhak menyebutnya. Kamu adalah salah satu orang yang membunuhnya." Dia mengucapkannya kata demi kata dengan tegas. "Soal keluarga, tentu saja aku ingin punya keluarga. Tapi bukan denganmu."Setelah berkata demikian, dia tak lagi melirik Alaric dan berbalik pergi dengan langkah cepat.Alaric terpaku di tempat, hanya mampu melihat Hazel membuka pintu dan berjalan menuj

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 18

    Hazel menatap pria di hadapannya yang sudah begitu mengenaskan, lalu menarik sudut bibirnya membentuk senyuman dingin."Aku nggak memaafkanmu karena kamu nggak pantas mendapatkannya." Suaranya tidak keras, tetapi terdengar sangat jelas."Sedangkan soal kehidupan asmaraku, itu sudah nggak ada hubungannya denganmu. Kamu nggak berhak mempertanyakan siapa pun di sini.""Nggak ada hubungannya denganku?" Seolah kalimat itu menusuk tepat ke jantungnya, Alaric hendak melangkah maju. Namun, dia lupa dengan lukanya sendiri hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terjerembap ke lantai.Namun, dia hanya berusaha mengangkat kepala dan terus menatap Hazel."Hazel, lihat aku! Lihat aku! Kita pernah tunangan, kita pernah punya anak! Mana mungkin kamu bisa begitu saja melupakanku dan bersama orang lain ....""Diam!" Suara Hazel seketika mendingin. "Kamu nggak berhak menyebut anak itu."Lucas meminta seseorang membantu Alaric berdiri. Sikapnya terlihat sopan, tetapi sebenarnya dia sedang mengusirnya

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 17

    Karena guncangan mental akibat aksi nekat Alaric, Lucas memaksa Hazel untuk beristirahat selama satu minggu.Selama seminggu itu, mimpi buruk yang semula Hazel kira sudah berlalu kembali menghantuinya.Cahaya api, ledakan, sensasi terjatuh, serta ucapan terakhir Alaric. "Sekarang aku tahu seberapa sakitnya kamu."Semua itu selalu menyeretnya ke dalam jurang yang mencekik setiap kali malam semakin larut.Lucas pindah ke kamar tamu di sebelah kamarnya. Katanya, dia mengkhawatirkan kondisi Hazel dan ingin lebih mudah menjaganya.Hazel tahu, alasannya bukan hanya itu. Dia bisa merasakan perhatian Lucas yang semakin jelas setiap hari, hanya saja untuk sementara dia belum mampu membalasnya.Hingga suatu malam, dia kembali terbangun karena mimpi buruk. Setelah berteriak, Hazel meringkuk di kepala ranjang. Napasnya masih terengah-engah.Kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu."Hazel?" Itu suara Lucas. Dari balik pintu, dia bertanya dengan lembut, "Kamu nggak apa-apa?"Hazel tidak menjawab.

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 16

    Di radar, titik putih yang menandakan pesawat tempur Alaric tiba-tiba mulai melaju dengan gila-gilaan. Pesawat itu menyimpang dari jalur penerbangan dan memelesat lurus menuju sebuah puncak gunung di depan!"Kamu gila?!" Jantung Hazel seakan berhenti berdetak. Dia berteriak, "Berhenti! Kamu bisa mati!""Kalau aku masih nggak mati setelah melakukan ini ...." Suara Alaric mulai terdengar samar di tengah arus udara berkecepatan tinggi, dipenuhi kegigihan yang nekat. "Bisa kamu maafkan aku?"Hazel tidak menjawab. Dia hanya bisa menyaksikan titik putih itu memelesat menuju lereng gunung.Suara Alaric terdengar untuk terakhir kalinya, begitu pelan seperti gumaman, "Kalau melakukan kesalahan, seseorang memang harus dihukum ...."Duar! Suara ledakan dahsyat terdengar. Api dan asap hitam membumbung dari lereng gunung. Pikiran Hazel seketika kosong.Naluri seorang pilot mengalahkan segala kebencian dan dendam. Hampir tanpa berpikir, dia langsung mendorong tongkat kendali dan menukik menuju lokas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status