Share

Bab 3

Author: Lampy
Itu berarti dia masih memiliki kesempatan untuk menjadi satu-satunya partner terbang Alaric.

Namun, Hazel hanya berdiri perlahan dan mengangguk.

Alaric tertegun sejenak.

Hazel tidak lagi seperti dulu, menatapnya dengan mata berbinar sambil bertanya, "Benarkah?" atau berjanji dengan penuh semangat, "Aku pasti nggak akan mengecewakan harapanmu."

Hazel berjalan melewatinya dengan tenang, bahkan tanpa meliriknya lagi. Karena di dalam hati, dia sudah mengambil keputusan.

Setelah menyelesaikan misi ini, dia akan mengajukan pengunduran diri. Sepuluh tahun sudah cukup. Sudah waktunya dia sadar.

Di landasan parkir pesawat, seseorang berjas putih sedang bersandar di samping jet tempur sambil membaca beberapa dokumen. Begitu pandangan mereka bertemu, keduanya sama-sama tertegun.

"Hazel?" Keterkejutan melintas di mata orang itu. "Aku kira pilotnya pria yang itu."

"Jenis kelamin nggak memengaruhi kemampuan menerbangkan pesawat." Hazel memeriksa kondisi jet tempur dengan sikap profesional. "Silakan naik. Kita lepas landas tiga menit lagi."

Selama penerbangan, mereka beberapa kali menghadapi turbulensi tak terduga, tetapi Hazel berhasil menghindari semuanya dengan sempurna.

Setelah mendarat, ilmuwan itu bersandar di kursinya dan bertanya, "Timku butuh pilot terbaik. Gaji tahunannya tiga kali lipat dari yang diberikan pangkalan. Kamu tertarik?"

Hazel akhirnya menoleh kepadanya dan berkata, "Aku masih butuh waktu sekitar satu bulan."

"Nggak masalah."

Dalam perjalanan kembali, Hazel berkonsentrasi menerbangkan pesawat hingga peta rute di layar radar tiba-tiba menghilang dan seluruh sinyal komunikasi terputus.

Hati Hazel mencelos. Dia mencoba segala cara yang diketahuinya, tetapi komunikasi tetap tidak bisa dipulihkan. Dia tidak punya pilihan selain terus berputar di udara hingga bahan bakarnya hanya tersisa sepertiga.

Jika tidak segera berhasil menghubungi menara pengawas, dia bahkan tidak akan bisa menentukan lokasi pendaratan yang tepat. Tepat ketika dia hendak menjalankan prosedur pendaratan buta yang paling berbahaya, suara samar tiba-tiba terdengar dari saluran komunikasi.

Tersambung!

Hazel segera melakukan panggilan.

"Ini Hazel. Meminta panduan untuk pendaratan. Saya ulangi, meminta panduan ...."

Namun, ucapannya mendadak terhenti. Karena suara yang terdengar dari headset sama sekali bukan suara petugas menara pengawas.

Dia mendengar suara Nessa yang terisak, "Kak Alaric, kamu benar-benar akan menikah dengan Kak Hazel?"

Napas Alaric terdengar sedikit berat. "Iya ...."

"Terus aku gimana?" Tangisan Nessa semakin keras. "Aku bisa gila. Kamu yang menyelamatkanku. Sekarang kamu nggak menginginkanku lagi?"

Keheningan singkat menyusul.

Kemudian, suara Alaric terdengar begitu lembut hingga membuat perut Hazel terasa mual.

"Setelah menikah, aku akan mengatakan kepadanya bahwa aku harus sering menginap di pangkalan untuk mengurus pekerjaan. Dia akan menerimanya."

Hazel mencengkeram tuas kendali dengan erat. Mengandalkan kemampuan terbangnya sendiri, dia akhirnya berhasil membawa pesawat kembali ke sekitar pangkalan. Dia juga akhirnya berhasil menghubungi menara pengawas.

Saat bersiap untuk mendarat, suara Alaric kembali terdengar, "Kenapa penerbangan kali ini memakan waktu lama sekali? Bahan bakarmu juga hampir habis. Kamu tahu betapa berbahayanya ini?"

"Sekarang mendaratlah di landasan tiga yang paling dekat. Utamakan keselamatan ...."

Alaric belum selesai berbicara ketika Nessa menyelanya, "Nggak! Dia nggak boleh memakai landasan tiga!" Suara Nessa terdengar melengking, "Itu landasan khusus milikmu! Bagaimana bisa jet tempur biasa mendarat di sana? Nanti landasanmu jadi kotor!"

Hazel nyaris tertawa saking kesalnya.

Dari alat komunikasi terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dan suara orang yang saling tarik-menarik. Kemudian, suara Alaric kembali terdengar.

Komandan yang selama ini selalu menganggap keselamatan pilot sebagai tanggung jawab dan misinya itu memberikan perintah dengan dingin, "Hazel, ubah lokasi pendaratan. Mendaratlah di landasan lima. Dengan kemampuanmu, kamu pasti bisa melakukannya."

Landasan lima adalah landasan yang terletak paling jauh di pangkalan.

"Bahan bakarku nggak cukup. Aku nggak bisa mencapai landasan lima." Hazel hanya menyampaikan fakta.

Suara Alaric terdengar dingin dan tegas, "Ini perintah."

Hazel mematikan komunikasi. Kemudian, dia menukik menuju landasan tiga.

Di menara pengawas, Nessa tiba-tiba berlari keluar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 21

    Ketakutan, kecemasan, dan ... cinta yang begitu dalam.Dia mengira dirinya masih punya kesempatan. Dia mengira, asalkan dia tidak melepaskan Hazel, asalkan dia mengikat Hazel di sisinya, terus berada di samping Hazel, suatu saat dia pasti bisa menghangatkan kembali hati wanita itu.Namun, ketika Hazel tanpa ragu melepaskan diri dari ikatannya, ketika dia melompat ke tengah angin yang mengamuk, barulah Alaric benar-benar menyadari bahwa dia telah kehilangan Hazel.Apa pun yang dia lakukan setelah ini, sekeras apa pun dia memohon atau bertindak gila, tatapan Hazel tidak akan pernah berhenti untuknya walau sedetik.Semua perasaan Hazel terhadapnya kini hanya menyisakan kebencian. Semua itu adalah akibat yang dia ciptakan dengan tangannya sendiri, sesuatu yang tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi.Sesuatu yang hangat tiba-tiba mengalir dari sudut matanya. Ternyata, beginilah rasanya ketika hati benar-benar mati.Dari belakang, terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa. Alaric tidak menole

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 20

    Dia langsung menoleh ke arah Hazel di sampingnya. Wajah Hazel pucat, bibirnya terkatup rapat, dan matanya hanya dipenuhi ketakutan.Benar juga, badai petir ....Badai petir yang pernah membuatnya mengalami pendarahan dari tujuh lubang tubuhnya dan menyebabkan pesawat tempurnya hancur ....Tepat saat pikirannya terguncang hebat, di antara awan tebal di depan, seberkas petir merobek kegelapan dan memelesat lurus ke arah mereka!"Awas!" teriak Hazel.Dalam sekejap, pesawat tempur Lucas memelesat dari samping dengan sudut yang nyaris mustahil, memaksa masuk tepat di antara pesawat tempur hitam dan sambaran petir itu.Duar! Suara gemuruh yang memekakkan telinga disertai cahaya putih yang menyilaukan. Pandangan Hazel seketika kabur oleh air mata.Karena dia melihat pesawat tempur Lucas terkena sambaran petir secara langsung. Pesawat itu kehilangan kendali, berputar-putar, lalu jatuh dengan cepat menuju hutan pegunungan yang gelap di bawah."Jangan!" Pada saat itu, jantung Hazel seakan berhen

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 19

    "Tanpamu, aku nggak bisa kembali." Suaranya terdengar serak. "Hazel, aku benar-benar mencintaimu. Hari-hari tanpamu nggak ada artinya bagiku ...."Cinta? Hazel menatap ekspresi Alaric yang penuh kepedihan. Baginya, semua ini terasa konyol dan menggelikan. Cinta yang datang terlambat tidak ada bedanya dengan sampah."Kita masih punya masa depan." Alaric berusaha berpegangan pada harapan terakhirnya dan buru-buru berkata, "Aku tahu kita kehilangan seorang anak, tapi kita masih bisa punya anak lagi, bahkan punya banyak! Aku akan jadi ayah yang baik. Kita akan punya keluarga ....""Cukup!" Hazel tiba-tiba berdiri."Kamu nggak berhak menyebutnya. Kamu adalah salah satu orang yang membunuhnya." Dia mengucapkannya kata demi kata dengan tegas. "Soal keluarga, tentu saja aku ingin punya keluarga. Tapi bukan denganmu."Setelah berkata demikian, dia tak lagi melirik Alaric dan berbalik pergi dengan langkah cepat.Alaric terpaku di tempat, hanya mampu melihat Hazel membuka pintu dan berjalan menuj

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 18

    Hazel menatap pria di hadapannya yang sudah begitu mengenaskan, lalu menarik sudut bibirnya membentuk senyuman dingin."Aku nggak memaafkanmu karena kamu nggak pantas mendapatkannya." Suaranya tidak keras, tetapi terdengar sangat jelas."Sedangkan soal kehidupan asmaraku, itu sudah nggak ada hubungannya denganmu. Kamu nggak berhak mempertanyakan siapa pun di sini.""Nggak ada hubungannya denganku?" Seolah kalimat itu menusuk tepat ke jantungnya, Alaric hendak melangkah maju. Namun, dia lupa dengan lukanya sendiri hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terjerembap ke lantai.Namun, dia hanya berusaha mengangkat kepala dan terus menatap Hazel."Hazel, lihat aku! Lihat aku! Kita pernah tunangan, kita pernah punya anak! Mana mungkin kamu bisa begitu saja melupakanku dan bersama orang lain ....""Diam!" Suara Hazel seketika mendingin. "Kamu nggak berhak menyebut anak itu."Lucas meminta seseorang membantu Alaric berdiri. Sikapnya terlihat sopan, tetapi sebenarnya dia sedang mengusirnya

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 17

    Karena guncangan mental akibat aksi nekat Alaric, Lucas memaksa Hazel untuk beristirahat selama satu minggu.Selama seminggu itu, mimpi buruk yang semula Hazel kira sudah berlalu kembali menghantuinya.Cahaya api, ledakan, sensasi terjatuh, serta ucapan terakhir Alaric. "Sekarang aku tahu seberapa sakitnya kamu."Semua itu selalu menyeretnya ke dalam jurang yang mencekik setiap kali malam semakin larut.Lucas pindah ke kamar tamu di sebelah kamarnya. Katanya, dia mengkhawatirkan kondisi Hazel dan ingin lebih mudah menjaganya.Hazel tahu, alasannya bukan hanya itu. Dia bisa merasakan perhatian Lucas yang semakin jelas setiap hari, hanya saja untuk sementara dia belum mampu membalasnya.Hingga suatu malam, dia kembali terbangun karena mimpi buruk. Setelah berteriak, Hazel meringkuk di kepala ranjang. Napasnya masih terengah-engah.Kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu."Hazel?" Itu suara Lucas. Dari balik pintu, dia bertanya dengan lembut, "Kamu nggak apa-apa?"Hazel tidak menjawab.

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 16

    Di radar, titik putih yang menandakan pesawat tempur Alaric tiba-tiba mulai melaju dengan gila-gilaan. Pesawat itu menyimpang dari jalur penerbangan dan memelesat lurus menuju sebuah puncak gunung di depan!"Kamu gila?!" Jantung Hazel seakan berhenti berdetak. Dia berteriak, "Berhenti! Kamu bisa mati!""Kalau aku masih nggak mati setelah melakukan ini ...." Suara Alaric mulai terdengar samar di tengah arus udara berkecepatan tinggi, dipenuhi kegigihan yang nekat. "Bisa kamu maafkan aku?"Hazel tidak menjawab. Dia hanya bisa menyaksikan titik putih itu memelesat menuju lereng gunung.Suara Alaric terdengar untuk terakhir kalinya, begitu pelan seperti gumaman, "Kalau melakukan kesalahan, seseorang memang harus dihukum ...."Duar! Suara ledakan dahsyat terdengar. Api dan asap hitam membumbung dari lereng gunung. Pikiran Hazel seketika kosong.Naluri seorang pilot mengalahkan segala kebencian dan dendam. Hampir tanpa berpikir, dia langsung mendorong tongkat kendali dan menukik menuju lokas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status