Share

Bab 4

Author: Lampy
"Nessa!" Alaric segera mengejarnya.

Tepat saat Hazel hendak menurunkan roda pendaratan, sesosok tubuh tiba-tiba berlari ke landasan.

Hazel sontak menarik tuas kendali dengan kuat. Roda pendaratan pesawat bergesekan dengan tepi landasan. Jet tempur kehilangan keseimbangan dan menghantam pagar pengaman di sampingnya. Percikan api beterbangan ke segala arah.

Tubuh Hazel terhempas keras ke panel instrumen. Darah terus menyembur dari mulutnya. Pemandangan terakhir yang dilihatnya sebelum kehilangan kesadaran adalah Alaric memeluk erat Nessa yang terduduk lemas di tanah.

Dia bahkan tidak melirik ke arah Hazel sedikit pun.

....

Di rumah sakit.

Hazel tidak tahu sudah berapa lama dia tidak sadarkan diri.

Namun begitu membuka mata, Alaric yang berwajah muram langsung menyeretnya ke kamar pasien lain.

"Hik ...." Nessa berbaring di ranjang dengan mata berlinang air mata. "Setiap kali kaget, aku pasti hik ... cegukan seperti bayi ... sakit sekali!"

Hazel masih linglung dan seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Dia sampai tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Hazel." Alaric menatapnya dengan nada yang tidak menerima bantahan. "Minta maaf sama Nessa."

"Tindakanmu yang nekat saat mendarat membuat dia ketakutan sampai terus cegukan," kata Alaric. "Cepat minta maaf."

"Apa?" tanya Hazel dengan suara serak. Dia merasa tulang rusuknya mungkin patah dan organ dalamnya mungkin terluka.

Nessa hanya "ketakutan" sampai cegukan seperti bayi? Hanya karena itu, Hazel harus diseret turun dari ranjang rumah sakit untuk meminta maaf padanya?

Hazel berdiri di sana dengan tubuh yang diselimuti hawa dingin dan ujung jari yang terus gemetar.

"Gimana kalau aku nggak mau meminta maaf?" tanyanya pelan.

Tatapan Alaric menggelap.

Alaric mendekatinya, lalu berkata dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, "Hazel, durasi penerbanganmu bermasalah hingga menyebabkan bahan bakar tidak mencukupi. Kamu juga melanggar perintahku. Bagaimanapun, kamu yang melakukan kesalahan lebih dulu. Atau kamu ingin Nenek dipindahkan ke kamar perawatan biasa mulai besok?"

Hazel sontak mendongak menatapnya.

Nenek adalah satu-satunya keluarganya yang tersisa.

Tiga tahun lalu, dia selamat dari aksi balas dendam para penculik karena sedang berada di pusat perawatan.

"Maaf." Hazel mendengar dirinya sendiri berbicara dengan suara kering dan serak. "Maaf."

Cegukan Nessa langsung berhenti. Dia mengangkat kepala dari pelukan Alaric dan memperlihatkan senyum kemenangan.

Hazel akhirnya dibiarkan pergi.

Dengan langkah kaku, dia berjalan kembali ke kamar rawatnya. Sampai dia merasakan cairan hangat mengalir di sepanjang pahanya.

"Bu Hazel! Anda berdarah!" seru seorang perawat.

Hazel menunduk.

Tiba-tiba, dia teringat bahwa menstruasinya sepertinya sudah terlambat lebih dari sebulan.

....

Ketika tersadar kembali, hanya suara dokter yang terdengar.

"Gimana perasaanmu? Emosimu tadi terlalu terguncang. Usia kehamilanmu kira-kira enam minggu dan kandungannya sudah gugur. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin."

Hazel memejamkan mata.

Selama setahun terakhir, dia dilarang terbang dan disingkirkan dari tugas-tugas penting. Setiap hari dia sibuk mencari bukti, sekaligus berusaha mempertahankan sisa harga dirinya di hadapan Alaric.

Ketika siklus menstruasinya berantakan, dia mengira itu karena stres yang terlalu berat. Ketika sesekali merasa mual, dia mengira masalahnya ada pada lambung.

Terlebih lagi, dia dan Alaric hanya pernah melakukannya satu kali dan itu terjadi lebih dari sebulan lalu.

Alaric datang mencarinya tengah malam dengan aroma alkohol yang masih melekat di tubuhnya. Dia memeluk Hazel dan membenamkan wajah di lekuk lehernya.

Berkali-kali dia berkata, "Aku sangat merindukanmu."

"Aku mencintaimu. Kamu wanita pertama yang membuatku begitu peduli."

Hazel mengira Alaric akhirnya jatuh cinta padanya. Namun setelah dipikirkan kembali sekarang, orang yang dibicarakan Alaric malam itu sama sekali bukan dirinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 21

    Ketakutan, kecemasan, dan ... cinta yang begitu dalam.Dia mengira dirinya masih punya kesempatan. Dia mengira, asalkan dia tidak melepaskan Hazel, asalkan dia mengikat Hazel di sisinya, terus berada di samping Hazel, suatu saat dia pasti bisa menghangatkan kembali hati wanita itu.Namun, ketika Hazel tanpa ragu melepaskan diri dari ikatannya, ketika dia melompat ke tengah angin yang mengamuk, barulah Alaric benar-benar menyadari bahwa dia telah kehilangan Hazel.Apa pun yang dia lakukan setelah ini, sekeras apa pun dia memohon atau bertindak gila, tatapan Hazel tidak akan pernah berhenti untuknya walau sedetik.Semua perasaan Hazel terhadapnya kini hanya menyisakan kebencian. Semua itu adalah akibat yang dia ciptakan dengan tangannya sendiri, sesuatu yang tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi.Sesuatu yang hangat tiba-tiba mengalir dari sudut matanya. Ternyata, beginilah rasanya ketika hati benar-benar mati.Dari belakang, terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa. Alaric tidak menole

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 20

    Dia langsung menoleh ke arah Hazel di sampingnya. Wajah Hazel pucat, bibirnya terkatup rapat, dan matanya hanya dipenuhi ketakutan.Benar juga, badai petir ....Badai petir yang pernah membuatnya mengalami pendarahan dari tujuh lubang tubuhnya dan menyebabkan pesawat tempurnya hancur ....Tepat saat pikirannya terguncang hebat, di antara awan tebal di depan, seberkas petir merobek kegelapan dan memelesat lurus ke arah mereka!"Awas!" teriak Hazel.Dalam sekejap, pesawat tempur Lucas memelesat dari samping dengan sudut yang nyaris mustahil, memaksa masuk tepat di antara pesawat tempur hitam dan sambaran petir itu.Duar! Suara gemuruh yang memekakkan telinga disertai cahaya putih yang menyilaukan. Pandangan Hazel seketika kabur oleh air mata.Karena dia melihat pesawat tempur Lucas terkena sambaran petir secara langsung. Pesawat itu kehilangan kendali, berputar-putar, lalu jatuh dengan cepat menuju hutan pegunungan yang gelap di bawah."Jangan!" Pada saat itu, jantung Hazel seakan berhen

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 19

    "Tanpamu, aku nggak bisa kembali." Suaranya terdengar serak. "Hazel, aku benar-benar mencintaimu. Hari-hari tanpamu nggak ada artinya bagiku ...."Cinta? Hazel menatap ekspresi Alaric yang penuh kepedihan. Baginya, semua ini terasa konyol dan menggelikan. Cinta yang datang terlambat tidak ada bedanya dengan sampah."Kita masih punya masa depan." Alaric berusaha berpegangan pada harapan terakhirnya dan buru-buru berkata, "Aku tahu kita kehilangan seorang anak, tapi kita masih bisa punya anak lagi, bahkan punya banyak! Aku akan jadi ayah yang baik. Kita akan punya keluarga ....""Cukup!" Hazel tiba-tiba berdiri."Kamu nggak berhak menyebutnya. Kamu adalah salah satu orang yang membunuhnya." Dia mengucapkannya kata demi kata dengan tegas. "Soal keluarga, tentu saja aku ingin punya keluarga. Tapi bukan denganmu."Setelah berkata demikian, dia tak lagi melirik Alaric dan berbalik pergi dengan langkah cepat.Alaric terpaku di tempat, hanya mampu melihat Hazel membuka pintu dan berjalan menuj

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 18

    Hazel menatap pria di hadapannya yang sudah begitu mengenaskan, lalu menarik sudut bibirnya membentuk senyuman dingin."Aku nggak memaafkanmu karena kamu nggak pantas mendapatkannya." Suaranya tidak keras, tetapi terdengar sangat jelas."Sedangkan soal kehidupan asmaraku, itu sudah nggak ada hubungannya denganmu. Kamu nggak berhak mempertanyakan siapa pun di sini.""Nggak ada hubungannya denganku?" Seolah kalimat itu menusuk tepat ke jantungnya, Alaric hendak melangkah maju. Namun, dia lupa dengan lukanya sendiri hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terjerembap ke lantai.Namun, dia hanya berusaha mengangkat kepala dan terus menatap Hazel."Hazel, lihat aku! Lihat aku! Kita pernah tunangan, kita pernah punya anak! Mana mungkin kamu bisa begitu saja melupakanku dan bersama orang lain ....""Diam!" Suara Hazel seketika mendingin. "Kamu nggak berhak menyebut anak itu."Lucas meminta seseorang membantu Alaric berdiri. Sikapnya terlihat sopan, tetapi sebenarnya dia sedang mengusirnya

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 17

    Karena guncangan mental akibat aksi nekat Alaric, Lucas memaksa Hazel untuk beristirahat selama satu minggu.Selama seminggu itu, mimpi buruk yang semula Hazel kira sudah berlalu kembali menghantuinya.Cahaya api, ledakan, sensasi terjatuh, serta ucapan terakhir Alaric. "Sekarang aku tahu seberapa sakitnya kamu."Semua itu selalu menyeretnya ke dalam jurang yang mencekik setiap kali malam semakin larut.Lucas pindah ke kamar tamu di sebelah kamarnya. Katanya, dia mengkhawatirkan kondisi Hazel dan ingin lebih mudah menjaganya.Hazel tahu, alasannya bukan hanya itu. Dia bisa merasakan perhatian Lucas yang semakin jelas setiap hari, hanya saja untuk sementara dia belum mampu membalasnya.Hingga suatu malam, dia kembali terbangun karena mimpi buruk. Setelah berteriak, Hazel meringkuk di kepala ranjang. Napasnya masih terengah-engah.Kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu."Hazel?" Itu suara Lucas. Dari balik pintu, dia bertanya dengan lembut, "Kamu nggak apa-apa?"Hazel tidak menjawab.

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 16

    Di radar, titik putih yang menandakan pesawat tempur Alaric tiba-tiba mulai melaju dengan gila-gilaan. Pesawat itu menyimpang dari jalur penerbangan dan memelesat lurus menuju sebuah puncak gunung di depan!"Kamu gila?!" Jantung Hazel seakan berhenti berdetak. Dia berteriak, "Berhenti! Kamu bisa mati!""Kalau aku masih nggak mati setelah melakukan ini ...." Suara Alaric mulai terdengar samar di tengah arus udara berkecepatan tinggi, dipenuhi kegigihan yang nekat. "Bisa kamu maafkan aku?"Hazel tidak menjawab. Dia hanya bisa menyaksikan titik putih itu memelesat menuju lereng gunung.Suara Alaric terdengar untuk terakhir kalinya, begitu pelan seperti gumaman, "Kalau melakukan kesalahan, seseorang memang harus dihukum ...."Duar! Suara ledakan dahsyat terdengar. Api dan asap hitam membumbung dari lereng gunung. Pikiran Hazel seketika kosong.Naluri seorang pilot mengalahkan segala kebencian dan dendam. Hampir tanpa berpikir, dia langsung mendorong tongkat kendali dan menukik menuju lokas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status