Share

Bab 6

Author: Lampy
Hazel yang dulu akan menangis untuknya, tersenyum untuknya, dan mempertaruhkan segalanya demi dirinya, seolah-olah telah menghilang.

"Istirahatlah yang baik." Pada akhirnya, Alaric menekan perasaan aneh di hatinya dan berkata, "Besok aku datang jenguk kamu lagi."

Pintu tertutup.

Pergelangan tangan kanan Hazel masih terasa sangat sakit ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Itu adalah panggilan darurat dari pusat perawatan. Tanpa memedulikan pergelangan tangannya, dia segera mengangkat telepon.

"Bu Hazel, kondisi nenek Ibu tiba-tiba kritis dan sekarang sedang menjalani tindakan penyelamatan! Dokter bilang kondisinya sangat buruk. Sebaiknya Ibu segera datang. Ini mungkin kesempatan terakhir Ibu untuk bertemu dengannya!"

Jantung Hazel seakan berhenti berdetak. Dia mencabut jarum infus dari tangannya dan turun dari ranjang dengan terhuyung-huyung, lalu bergegas keluar dari kamar.

Namun, Alaric yang juga tampak panik mengadangnya di depan lift.

"Minggir! Nenek dalam kondisi kritis!" kata Hazel dengan suara serak sambil berusaha menerobos dari sampingnya.

"Nessa diculik." Alaric mencengkeram lengannya dan tidak membiarkannya melepaskan diri. "Mereka mengincarku. Kamu harus menggantikannya sebagai sandera. Kita berangkat sekarang."

"Nggak! Minggir!" Hazel tidak mampu melepaskan diri dan mulai memohon, "Setidaknya beri aku satu malam saja!"

"Nggak ada waktu." Alaric nyaris menyeretnya masuk ke mobil. "Aku akan mengatur tim medis terbaik untuk merawat nenekmu."

Hazel tersandung. Tangan kanannya yang terluka menghantam dinding dan rasa sakit yang menusuk membuat pandangannya seketika menggelap.

"Alaric ... kumohon ...." Suaranya bergetar.

Namun, tentu saja semua itu sia-sia. Rasa sakit Hazel tidak pernah mampu menggoyahkan Alaric.

Bahkan permohonannya yang bercampur tangis hanya membuat langkah Alaric terhenti sesaat. Setelah itu, dia mengecup kening Hazel dan memberikan sebuah janji yang terdengar sekadar untuk menenangkannya, "Aku akan datang untuk menyelamatkanmu."

....

Di sebuah pabrik terbengkalai.

Hazel diserahkan sebagai pengganti Nessa. Namun, tiga hari penuh berlalu dan Alaric tidak kunjung datang menyelamatkannya. Para penculik pun kehilangan kesabaran. Tulang rusuk Hazel dipukuli hingga patah, sedangkan urat di pergelangan tangan kanannya disayat hingga putus.

Hazel menggigit bibirnya sampai terluka dan sudah tidak mampu mengeluarkan suara. Hanya sorot matanya yang kosong terus menatap ke arah pintu.

'Nenek ... apakah Nenek baik-baik saja?'

Alaric belum juga datang tepat waktu. Mungkinkah karena dia sedang menjaga Nenek?

Baru pada dini hari ketiga, terdengar suara langkah kaki yang kacau dan teriakan dari luar.

Ketika pintu didobrak, beberapa wajah yang tidak asing bergegas masuk. Mereka adalah rekan-rekannya dari pangkalan. Begitu melihat kondisi Hazel, mereka sontak terkesiap.

Saat Hazel diangkat ke atas tandu, dia mendengar seseorang berbisik, "Padahal kemarin Pak Alaric sudah berhasil menerobos garis pertahanan, tapi ...."

"Gara-gara kucing Nessa hilang, dia malah berbalik untuk mencarinya."

Hazel menolak masuk ke ruang gawat darurat. Dia bersikeras pergi ke rumah sakit tempat neneknya dirawat. Sampai akhirnya seorang perawat berkata pelan kepadanya, "Nenek Anda meninggal tadi pagi. Sebelum pergi, dia terus memanggil nama Hazel ...."

....

Hazel berlutut di kamar jenazah.

Tidak ada air mata. Hanya dadanya terasa begitu sesak hingga dia hampir tidak bisa bernapas. Kemudian, darah menyembur dari mulutnya dan dia langsung jatuh tak sadarkan diri.

Ketika kembali membuka mata, dia sudah berada di kamar rumah sakit.

Begitu melihatnya sadar, Alaric berdiri. "Kamu sudah bangun?"

Hazel menatapnya tanpa mengatakan apa pun.

"Aku sudah mengatur tim medis terbaik untuk nenekmu." Suara Alaric tenang, seolah sedang menyampaikan laporan tugas. "Jadi, kamu nggak perlu khawatir."

Hazel tiba-tiba ingin tertawa. Sudut bibirnya bergerak, tetapi dia tidak mampu tertawa.

Demi seekor kucing, Alaric bahkan tidak tahu bahwa neneknya sudah meninggal.

"Besok adalah hari kita daftarin pernikahan." Alaric melanjutkan sambil sedikit mengernyit, seolah merasa Hazel terlalu diam. "Kamu pasti sangat lelah. Istirahatlah yang baik."

Dia berbalik hendak pergi, tetapi kembali berhenti. "Hazel, setelah pernikahan kita resmi, kamu akan menjadi istriku. Mengenai masalah partner terbang, aku juga akan mencari jalan keluarnya."

Pintu tertutup perlahan.

Hazel perlahan duduk dan mencabut jarum infus dari punggung tangannya. Dia mengganti pakaian rumah sakit, lalu menyandang tas yang berisi lima kotak abu kecil.

Milik ayah dan ibunya, kedua adiknya, serta ... neneknya.

Saat meninggalkan kamar rumah sakit, Hazel meninggalkan tiga benda.

Yang pertama adalah surat pengunduran dirinya.

Yang kedua adalah surat pemberitahuan bahwa penyelidikan Pengadilan Militer telah selesai.

Yang ketiga adalah sebuah liontin giok putih.

Benda yang diberikan Alaric kepadanya sebagai kenang-kenangan ketika menyelamatkannya dahulu.

Dia tidak menginginkannya lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 21

    Ketakutan, kecemasan, dan ... cinta yang begitu dalam.Dia mengira dirinya masih punya kesempatan. Dia mengira, asalkan dia tidak melepaskan Hazel, asalkan dia mengikat Hazel di sisinya, terus berada di samping Hazel, suatu saat dia pasti bisa menghangatkan kembali hati wanita itu.Namun, ketika Hazel tanpa ragu melepaskan diri dari ikatannya, ketika dia melompat ke tengah angin yang mengamuk, barulah Alaric benar-benar menyadari bahwa dia telah kehilangan Hazel.Apa pun yang dia lakukan setelah ini, sekeras apa pun dia memohon atau bertindak gila, tatapan Hazel tidak akan pernah berhenti untuknya walau sedetik.Semua perasaan Hazel terhadapnya kini hanya menyisakan kebencian. Semua itu adalah akibat yang dia ciptakan dengan tangannya sendiri, sesuatu yang tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi.Sesuatu yang hangat tiba-tiba mengalir dari sudut matanya. Ternyata, beginilah rasanya ketika hati benar-benar mati.Dari belakang, terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa. Alaric tidak menole

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 20

    Dia langsung menoleh ke arah Hazel di sampingnya. Wajah Hazel pucat, bibirnya terkatup rapat, dan matanya hanya dipenuhi ketakutan.Benar juga, badai petir ....Badai petir yang pernah membuatnya mengalami pendarahan dari tujuh lubang tubuhnya dan menyebabkan pesawat tempurnya hancur ....Tepat saat pikirannya terguncang hebat, di antara awan tebal di depan, seberkas petir merobek kegelapan dan memelesat lurus ke arah mereka!"Awas!" teriak Hazel.Dalam sekejap, pesawat tempur Lucas memelesat dari samping dengan sudut yang nyaris mustahil, memaksa masuk tepat di antara pesawat tempur hitam dan sambaran petir itu.Duar! Suara gemuruh yang memekakkan telinga disertai cahaya putih yang menyilaukan. Pandangan Hazel seketika kabur oleh air mata.Karena dia melihat pesawat tempur Lucas terkena sambaran petir secara langsung. Pesawat itu kehilangan kendali, berputar-putar, lalu jatuh dengan cepat menuju hutan pegunungan yang gelap di bawah."Jangan!" Pada saat itu, jantung Hazel seakan berhen

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 19

    "Tanpamu, aku nggak bisa kembali." Suaranya terdengar serak. "Hazel, aku benar-benar mencintaimu. Hari-hari tanpamu nggak ada artinya bagiku ...."Cinta? Hazel menatap ekspresi Alaric yang penuh kepedihan. Baginya, semua ini terasa konyol dan menggelikan. Cinta yang datang terlambat tidak ada bedanya dengan sampah."Kita masih punya masa depan." Alaric berusaha berpegangan pada harapan terakhirnya dan buru-buru berkata, "Aku tahu kita kehilangan seorang anak, tapi kita masih bisa punya anak lagi, bahkan punya banyak! Aku akan jadi ayah yang baik. Kita akan punya keluarga ....""Cukup!" Hazel tiba-tiba berdiri."Kamu nggak berhak menyebutnya. Kamu adalah salah satu orang yang membunuhnya." Dia mengucapkannya kata demi kata dengan tegas. "Soal keluarga, tentu saja aku ingin punya keluarga. Tapi bukan denganmu."Setelah berkata demikian, dia tak lagi melirik Alaric dan berbalik pergi dengan langkah cepat.Alaric terpaku di tempat, hanya mampu melihat Hazel membuka pintu dan berjalan menuj

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 18

    Hazel menatap pria di hadapannya yang sudah begitu mengenaskan, lalu menarik sudut bibirnya membentuk senyuman dingin."Aku nggak memaafkanmu karena kamu nggak pantas mendapatkannya." Suaranya tidak keras, tetapi terdengar sangat jelas."Sedangkan soal kehidupan asmaraku, itu sudah nggak ada hubungannya denganmu. Kamu nggak berhak mempertanyakan siapa pun di sini.""Nggak ada hubungannya denganku?" Seolah kalimat itu menusuk tepat ke jantungnya, Alaric hendak melangkah maju. Namun, dia lupa dengan lukanya sendiri hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terjerembap ke lantai.Namun, dia hanya berusaha mengangkat kepala dan terus menatap Hazel."Hazel, lihat aku! Lihat aku! Kita pernah tunangan, kita pernah punya anak! Mana mungkin kamu bisa begitu saja melupakanku dan bersama orang lain ....""Diam!" Suara Hazel seketika mendingin. "Kamu nggak berhak menyebut anak itu."Lucas meminta seseorang membantu Alaric berdiri. Sikapnya terlihat sopan, tetapi sebenarnya dia sedang mengusirnya

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 17

    Karena guncangan mental akibat aksi nekat Alaric, Lucas memaksa Hazel untuk beristirahat selama satu minggu.Selama seminggu itu, mimpi buruk yang semula Hazel kira sudah berlalu kembali menghantuinya.Cahaya api, ledakan, sensasi terjatuh, serta ucapan terakhir Alaric. "Sekarang aku tahu seberapa sakitnya kamu."Semua itu selalu menyeretnya ke dalam jurang yang mencekik setiap kali malam semakin larut.Lucas pindah ke kamar tamu di sebelah kamarnya. Katanya, dia mengkhawatirkan kondisi Hazel dan ingin lebih mudah menjaganya.Hazel tahu, alasannya bukan hanya itu. Dia bisa merasakan perhatian Lucas yang semakin jelas setiap hari, hanya saja untuk sementara dia belum mampu membalasnya.Hingga suatu malam, dia kembali terbangun karena mimpi buruk. Setelah berteriak, Hazel meringkuk di kepala ranjang. Napasnya masih terengah-engah.Kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu."Hazel?" Itu suara Lucas. Dari balik pintu, dia bertanya dengan lembut, "Kamu nggak apa-apa?"Hazel tidak menjawab.

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 16

    Di radar, titik putih yang menandakan pesawat tempur Alaric tiba-tiba mulai melaju dengan gila-gilaan. Pesawat itu menyimpang dari jalur penerbangan dan memelesat lurus menuju sebuah puncak gunung di depan!"Kamu gila?!" Jantung Hazel seakan berhenti berdetak. Dia berteriak, "Berhenti! Kamu bisa mati!""Kalau aku masih nggak mati setelah melakukan ini ...." Suara Alaric mulai terdengar samar di tengah arus udara berkecepatan tinggi, dipenuhi kegigihan yang nekat. "Bisa kamu maafkan aku?"Hazel tidak menjawab. Dia hanya bisa menyaksikan titik putih itu memelesat menuju lereng gunung.Suara Alaric terdengar untuk terakhir kalinya, begitu pelan seperti gumaman, "Kalau melakukan kesalahan, seseorang memang harus dihukum ...."Duar! Suara ledakan dahsyat terdengar. Api dan asap hitam membumbung dari lereng gunung. Pikiran Hazel seketika kosong.Naluri seorang pilot mengalahkan segala kebencian dan dendam. Hampir tanpa berpikir, dia langsung mendorong tongkat kendali dan menukik menuju lokas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status