Share

Bab 5

Author: Lampy
Setelah beristirahat dan memulihkan diri selama lebih dari seminggu, Hazel akhirnya cukup kuat untuk menyeret tubuhnya yang masih lemah kembali ke asrama staf. Namun begitu membuka pintu, dia melihat seseorang yang seharusnya tidak berada di sana.

Nessa sedang duduk di depan mejanya sambil mengoleskan cat kuku.

"Kamu sudah pulang?" Nessa bahkan tidak mengangkat kepala. "Gara-gara kejadian belakangan ini, semua orang mengucilkanku. Kak Alaric menyuruhku tinggal di sini untuk sementara. Katanya, kamu akan menjagaku."

Hazel tidak menjawab.

Mungkin Alaric memang pernah mengatakan hal itu.

Namun selama seminggu terakhir, Alaric hanya beberapa kali datang menjenguknya. Itu pun sering kali dia harus pergi karena mendapat panggilan telepon. Hazel juga sudah tidak peduli.

Saat itu, Hazel diam-diam mulai membereskan barang-barangnya. Namun, tatapannya tiba-tiba terhenti. Matanya tertuju pada lemari penyimpanan.

Seharusnya ada empat guci abu di sana.

Sekarang tempat itu kosong.

Hazel bergegas menghampiri lemari, lalu berlutut dan mencari ke sana kemari.

"Kamu cari guci-guci itu?" Nessa melirik santai ke arah balkon. "Menyimpan benda seperti itu di kamar bawa sial. Jadi, aku pindahkan ke balkon."

Hazel langsung berlari ke sana dan mendorong pintu kaca hingga terbuka. Empat guci abu ditumpuk sembarangan di sudut balkon. Permukaannya dipenuhi bekas telapak kaki kucing. Seekor kucing melompat keluar dari salah satu guci, sementara bau pesing dan amis memenuhi udara.

Abu jenazah itu ... dijadikan pasir kucing.

Benda-benda yang selama ini disimpannya dengan begitu hati-hati ... satu-satunya tempat dia menitipkan kerinduannya kepada keluarganya ....

"Nessa."

Hazel menyebut namanya dengan suara yang begitu tenang hingga terdengar mengerikan.

Nessa berdiri dan mundur selangkah sambil memasukkan tangannya ke dalam saku. "Kamu mau apa? Abu itu kalau disimpan juga cuma mencemari lingkungan. Sekarang dipakai kucingku, hitung-hitung bantu mereka mengumpulkan pahala!"

Hazel menyambar gunting tanaman yang ada di balkon dan menerjang ke arahnya.

Nessa menjerit sambil berusaha menghindar, tetapi mana mungkin dia mampu melawan Hazel yang telah menjalani latihan profesional?

Namun tepat saat Hazel mengangkat gunting itu, suara deru yang jelas terdengar dari luar jendela.

Sebuah helikopter melayang di luar balkon. Pintu kabinnya segera terbuka.

Alaric mengangkat senapan bius.

Terdengar suara desingan saat jarum bius memelesat dan menancap di tangan kanan Hazel.

Sebelum kehilangan kesadaran, Hazel melihat Nessa menerjang ke dalam pelukan Alaric dan mendengar Alaric berkata, "Sudah nggak apa-apa. Aku sudah datang."

Tombol panggilan darurat yang berada di tangan Nessa terjatuh ke lantai.

Setiap komandan tertinggi memiliki satu kuota setiap tahunnya untuk memberikan perangkat panggilan darurat kepada bawahan yang paling dia prioritaskan.

Alaric pernah berkata secara terbuka, "Demi keadilan, aku nggak akan memberikannya kepada siapa pun, kecuali untuk misi dengan tingkat bahaya ekstrem."

Namun, Hazel juga pernah menjalankan misi dengan tingkat bahaya ekstrem, tetapi tidak pernah mendapatkan tombol itu sekali pun.

....

Di ruang medis.

Pergelangan tangan kanan Hazel terasa sakit hingga menusuk ke tulang. Dia mencoba menggerakkan jari-jarinya, tetapi sama sekali tidak bisa dikendalikan.

Setelah memeriksa lukanya, dokter berkata dengan nada menyesal, "Jarum bius itu mengenai saraf. Kemungkinan akan meninggalkan kerusakan permanen."

"Apa maksudnya?"

Dokter menghindari tatapannya. "Kemungkinan kamu nggak akan bisa lagi melakukan gerakan yang membutuhkan kontrol tangan secara presisi. Misalnya, mengoperasikan tuas kendali pesawat."

Hazel tertegun.

Setetes air mata mengalir di pipinya.

Pintu terbuka dan Alaric masuk dengan wajah penuh penyesalan, "Situasinya sangat mendesak saat itu. Kalau kamu sampai melukai Nessa, kamu akan dianggap melakukan tindak kekerasan dengan sengaja dan harus diadili di pengadilan militer."

"Hazel, aku melakukan ini demi kebaikanmu." Alaric duduk dan melanjutkan, "Kamu tunanganku. Seminggu lagi kita akan resmi menikah. Aku nggak mungkin membiarkanmu menghancurkan masa depanmu sendiri."

Hazel hanya menatapnya dalam diam tanpa mengatakan apa pun.

Alaric melanjutkan, "Lagian, dia adalah sandera pertama yang kuselamatkan. Aku punya tanggung jawab terhadapnya. Tapi Hazel, kamu berbeda ...."

"Aku nggak butuh penjelasan." Hazel memejamkan mata dan berkata, "Pergilah."

Alaric tetap berdiri di tempatnya sambil memandangi wanita berwajah pucat di atas ranjang.

Entah mengapa, sikap Hazel yang begitu tenang membuat hatinya diliputi kegelisahan.

Ini bukan Hazel yang dia kenal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 21

    Ketakutan, kecemasan, dan ... cinta yang begitu dalam.Dia mengira dirinya masih punya kesempatan. Dia mengira, asalkan dia tidak melepaskan Hazel, asalkan dia mengikat Hazel di sisinya, terus berada di samping Hazel, suatu saat dia pasti bisa menghangatkan kembali hati wanita itu.Namun, ketika Hazel tanpa ragu melepaskan diri dari ikatannya, ketika dia melompat ke tengah angin yang mengamuk, barulah Alaric benar-benar menyadari bahwa dia telah kehilangan Hazel.Apa pun yang dia lakukan setelah ini, sekeras apa pun dia memohon atau bertindak gila, tatapan Hazel tidak akan pernah berhenti untuknya walau sedetik.Semua perasaan Hazel terhadapnya kini hanya menyisakan kebencian. Semua itu adalah akibat yang dia ciptakan dengan tangannya sendiri, sesuatu yang tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi.Sesuatu yang hangat tiba-tiba mengalir dari sudut matanya. Ternyata, beginilah rasanya ketika hati benar-benar mati.Dari belakang, terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa. Alaric tidak menole

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 20

    Dia langsung menoleh ke arah Hazel di sampingnya. Wajah Hazel pucat, bibirnya terkatup rapat, dan matanya hanya dipenuhi ketakutan.Benar juga, badai petir ....Badai petir yang pernah membuatnya mengalami pendarahan dari tujuh lubang tubuhnya dan menyebabkan pesawat tempurnya hancur ....Tepat saat pikirannya terguncang hebat, di antara awan tebal di depan, seberkas petir merobek kegelapan dan memelesat lurus ke arah mereka!"Awas!" teriak Hazel.Dalam sekejap, pesawat tempur Lucas memelesat dari samping dengan sudut yang nyaris mustahil, memaksa masuk tepat di antara pesawat tempur hitam dan sambaran petir itu.Duar! Suara gemuruh yang memekakkan telinga disertai cahaya putih yang menyilaukan. Pandangan Hazel seketika kabur oleh air mata.Karena dia melihat pesawat tempur Lucas terkena sambaran petir secara langsung. Pesawat itu kehilangan kendali, berputar-putar, lalu jatuh dengan cepat menuju hutan pegunungan yang gelap di bawah."Jangan!" Pada saat itu, jantung Hazel seakan berhen

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 19

    "Tanpamu, aku nggak bisa kembali." Suaranya terdengar serak. "Hazel, aku benar-benar mencintaimu. Hari-hari tanpamu nggak ada artinya bagiku ...."Cinta? Hazel menatap ekspresi Alaric yang penuh kepedihan. Baginya, semua ini terasa konyol dan menggelikan. Cinta yang datang terlambat tidak ada bedanya dengan sampah."Kita masih punya masa depan." Alaric berusaha berpegangan pada harapan terakhirnya dan buru-buru berkata, "Aku tahu kita kehilangan seorang anak, tapi kita masih bisa punya anak lagi, bahkan punya banyak! Aku akan jadi ayah yang baik. Kita akan punya keluarga ....""Cukup!" Hazel tiba-tiba berdiri."Kamu nggak berhak menyebutnya. Kamu adalah salah satu orang yang membunuhnya." Dia mengucapkannya kata demi kata dengan tegas. "Soal keluarga, tentu saja aku ingin punya keluarga. Tapi bukan denganmu."Setelah berkata demikian, dia tak lagi melirik Alaric dan berbalik pergi dengan langkah cepat.Alaric terpaku di tempat, hanya mampu melihat Hazel membuka pintu dan berjalan menuj

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 18

    Hazel menatap pria di hadapannya yang sudah begitu mengenaskan, lalu menarik sudut bibirnya membentuk senyuman dingin."Aku nggak memaafkanmu karena kamu nggak pantas mendapatkannya." Suaranya tidak keras, tetapi terdengar sangat jelas."Sedangkan soal kehidupan asmaraku, itu sudah nggak ada hubungannya denganmu. Kamu nggak berhak mempertanyakan siapa pun di sini.""Nggak ada hubungannya denganku?" Seolah kalimat itu menusuk tepat ke jantungnya, Alaric hendak melangkah maju. Namun, dia lupa dengan lukanya sendiri hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terjerembap ke lantai.Namun, dia hanya berusaha mengangkat kepala dan terus menatap Hazel."Hazel, lihat aku! Lihat aku! Kita pernah tunangan, kita pernah punya anak! Mana mungkin kamu bisa begitu saja melupakanku dan bersama orang lain ....""Diam!" Suara Hazel seketika mendingin. "Kamu nggak berhak menyebut anak itu."Lucas meminta seseorang membantu Alaric berdiri. Sikapnya terlihat sopan, tetapi sebenarnya dia sedang mengusirnya

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 17

    Karena guncangan mental akibat aksi nekat Alaric, Lucas memaksa Hazel untuk beristirahat selama satu minggu.Selama seminggu itu, mimpi buruk yang semula Hazel kira sudah berlalu kembali menghantuinya.Cahaya api, ledakan, sensasi terjatuh, serta ucapan terakhir Alaric. "Sekarang aku tahu seberapa sakitnya kamu."Semua itu selalu menyeretnya ke dalam jurang yang mencekik setiap kali malam semakin larut.Lucas pindah ke kamar tamu di sebelah kamarnya. Katanya, dia mengkhawatirkan kondisi Hazel dan ingin lebih mudah menjaganya.Hazel tahu, alasannya bukan hanya itu. Dia bisa merasakan perhatian Lucas yang semakin jelas setiap hari, hanya saja untuk sementara dia belum mampu membalasnya.Hingga suatu malam, dia kembali terbangun karena mimpi buruk. Setelah berteriak, Hazel meringkuk di kepala ranjang. Napasnya masih terengah-engah.Kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu."Hazel?" Itu suara Lucas. Dari balik pintu, dia bertanya dengan lembut, "Kamu nggak apa-apa?"Hazel tidak menjawab.

  • Perpisahan di Bawah Awan   Bab 16

    Di radar, titik putih yang menandakan pesawat tempur Alaric tiba-tiba mulai melaju dengan gila-gilaan. Pesawat itu menyimpang dari jalur penerbangan dan memelesat lurus menuju sebuah puncak gunung di depan!"Kamu gila?!" Jantung Hazel seakan berhenti berdetak. Dia berteriak, "Berhenti! Kamu bisa mati!""Kalau aku masih nggak mati setelah melakukan ini ...." Suara Alaric mulai terdengar samar di tengah arus udara berkecepatan tinggi, dipenuhi kegigihan yang nekat. "Bisa kamu maafkan aku?"Hazel tidak menjawab. Dia hanya bisa menyaksikan titik putih itu memelesat menuju lereng gunung.Suara Alaric terdengar untuk terakhir kalinya, begitu pelan seperti gumaman, "Kalau melakukan kesalahan, seseorang memang harus dihukum ...."Duar! Suara ledakan dahsyat terdengar. Api dan asap hitam membumbung dari lereng gunung. Pikiran Hazel seketika kosong.Naluri seorang pilot mengalahkan segala kebencian dan dendam. Hampir tanpa berpikir, dia langsung mendorong tongkat kendali dan menukik menuju lokas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status