共有

Bab 5

作者: Stary Dream
last update 公開日: 2026-04-11 07:40:31

Masih jelas dalam ingatan Aluna, siapa pria itu. Pria yang memberinya keteduhan pada Aluna yang tengah berkuyup sedih.

Aluna yang menangis karena baru saja kehilangan orang tuanya di sebuah masjid yang ada di kota ini. Padahal, Aluna baru saja hijrah untuk meniti karir disini. Tapi kabar yang ia terima dari tempat kelahirannya membuat Aluna seakan tak ingin hidup lagi.

Bak cinta sejati, kedua orang tua Aluna meninggal secara serempak karena sakit yang sama. Membuat Aluna tak sempat lagi mencium dahi kedua orang tuanya untuk terakhir kali karena terpaut oleh jauhnya jarak mereka.

Aluna yang menangis dihampiri oleh seorang pria. Arkan namanya. Pria ini memberikan sapu tangannya untuk membantu Aluna mengusap air matanya. Menenangkannya dengan ucapan yang begitu lembut. Seakan meneduhkan hati Aluna yang tengah bergemuruh.

Hingga hubungan ini berlanjut menjadi lebih dekat dan jauh lebih serius. Arkan pun nekat mengenalkan Aluna pada keluarganya seakan serius meminang Aluna sebagai istrinya.

Walau saat itu Fiona tak menyetujui hubungan mereka karena status sosial yang berbeda. Arkan tak perduli. Dia tetap ingin menjadikan Aluna istrinya.

Melihat kemantapan hati Arkan, membuat Aluna luluh dan menerima pria itu. Sampai mereka menikah, Aluna harus berbesar hati menerima semua perlakuan buruk mertua beserta keluarga besar suamimya.

Arkan yang dikenalnya lembut menunjukkan sikap aslinya. Pria yang dingin, misterius dan enggan untuk disentuh. Pernikahan ini seperti memilik tabir tipis yang tak terlihat.

Ketika Aluna akan mendekat maka dia tertahan. Namun dia bisa melihat semua ketidak sukaan Arkan pada dirinya.

Sadar akan itu, Aluna berusaha menentang dan bertanya apa salahnya. Dia hanya wanita biasa yang diseret dalam pernikahan ini. Sebagai wanita, dia juga ingin cintanya terbalaskan.

Tapi, ini Arkan pria yang keras kepala. Semakin Aluna berkeras maka Arkan menjauhinya. Semakin Aluna menunjukkan pada dunia bahwa dia adalah istri yang terbaik, Arkan malah menghujatnya.

Hingga sampai pada saat Aluna menemukan pesan mesra di ponsel suaminya, saat itu juga Aluna menemukan sebuah strategi untuk meraih perhatian suaminya.

Memberi makan ego Arkan setiap hari adalah tugasnya. Tak perduli jika egonya sendiri terluka.

Sebisa mungkin Aluna meniru gaya bicara Nindi yang dikirimkan via pesan. Walau awalnya Arkan mengelak dan memarahinya. Sekarang, Arkan mulai melunak. Mungkin karena melihat perjuangan Aluna yang begitu ingin membahagiakannya.

Sudah satu bulan lebih, Aluna merasa Arkan mulai hangat. Tak ada lagi tatapan dingin menyakitkan. Walau terkesan datar, Aluna merasa ada perkembangan dalam hubungan mereka.

Setiap hari Aluna akan memuji suaminya. Membuat makanan kesukaannya. Bertanya kabarnya serta memperlakukan Arkan bak raja yang harus disembah.

"Hari ini aku mendapat pujian dari manajer." Ucap Arkan ketika mereka makan malam.

"Benarkah?" Tanya Fiona semangat. "Syukurlah, nak."

"Hmm.. kemarin aku memang sulit berkonsentrasi. Tapi, sekarang aku lebih bersemangat bekerja."

"Nah! Nggak sia-sia kita liburan di Bali, kan?"

Arkan lalu menggeleng. "Kayaknya karena bukan liburan di Bali. Tapi karena..." Arkan memandang istrinya tapi tak mampu melanjutkan kalimatnya.

Fiona yang melihat itu langsung menggeram.

"Sama aja. Karena liburan itu membuat otakmu lebih fresh!" Seru Fiona tak terima.

Selesai makan malam, Arkan memberanikan diri mengajak istrinya keluar bersama. Pertama kalinya di sepanjang pernikahan mereka.

"Mau kemana, mas? Bukannya kita udah makan malam."

"Jalan-jalan saja. Menghirup udara segar." Ajak Arkan.

Aluna tak mau menolak kesempatan. Keduanya pun keluar bersama dan berjalan-jalan mengelilingi kota.

Menikmati pemandangan malam hari yang begitu indah dengan banyaknya lampu hias yang menerangi kota.

Keduanya lalu berhenti di sebuah taman kota yang terdapat air mancur disana. Aluna pun membelikan suaminya makanan ringan dan menyantapnya bersama.

"Apa aku boleh bertanya, mas?" Tanya Aluna hati-hati.

"Tentang apa?"

"Tentang diriku. Apa yang kamu nggak sukai dariku?"

Arkan tampak berpikir sembari menatap wajah istrinya.

"Aku tidak suka penampilanmu." Jawab Arkan jujur. "Gaya hijab panjangmu itu terlihat kuno, Aluna. Juga wajahmu yang tidak dipoles make up."

"Lalu apa lagi?"

"Mungkin pakaianmu.. kamu selalu memakai rok yang berwarna itu-itu saja."

"Oh.." Aluna terkesiap dan memperhatikan penampilannya. Dia memang lebih suka memakai kemeja kedodoran dengan rok senada.

"Kalau kamu apa yang tidak disukai dariku?" Giliran Arkan bertanya.

"Nggak ada." Jawab Aluna cepat. "Kamu nggak punya celah, mas. Kamu terlalu sempurna. Bahkan aku sering rendah diri karena itu."

Mendengar jawaban istrinya, Arkan tersenyum tipis. Makin kesini, Aluna pandai sekali memuji. Padahal dia dulu berpikir kalau Aluna hanya ingin menggombalinya saja. Tapi, sepertinya wanita ini bicara serius. Tingkat kepercayaan diri Arkan pun meningkat karena pujian dari istrinya.

"Terima kasih." Ucap Arkan.

Sementara, Aluna tersenyum. Dia sudah berhasil memberi makan ego suaminya lagi. Walau hatinya tadi merasa sakit karena kejujuran suaminya. Tapi tak masalah. Ia akan merubah dirinya sesuai dengan keinginan Arkan.

Selesai berjalan-jalan dan menikmati kota. Keduanya memutuskan pulang ke rumah. Sesampainya disana, mereka melihat sebuah mobil sudah parkir di halaman rumah ini. Rupanya ada Farah yang berkunjung dari luar kota.

"Apa kabar tante?" Arkan menyalimi tantenya, begitu juga dengan Aluna.

"Baik. Kalian dari mana?" Tanya Farah.

"Dari luar. Tante kapan sampai?"

"Baru aja."

"Aluna!" Tegur Fiona. "Buatkan tantemu minum."

"Iya, ma." Padahal baru saja Aluna ikut duduk diantara mereka, tapi dia sudah disuruh ke belakang.

"Oh, ya.. tantemu ngasih kabar baik tadi buat kita. Adel hamil." Ucap Fiona.

"Oh.. selamat kalau begitu tante Farah."

"Iya.." Farah lalu tersenyum bangga. "Kalian kapan, Kan? Masa keduluan sama Adelina?"

Arkan terkesiap akan pertanyaan itu, termasuk Aluna yang baru datang mengantarkan minuman.

"Mohon do'anya saja.." sahut Arkan pelan.

"Iya, nih. Udah bertahun menikah kok belum hamil juga." Farah lalu melirik Aluna yang ikut duduk. "Coba kamu periksa ke dokter. Siapa tahu ada masalah."

Fiona langsung mendengkus. "Kalaupun nanti hamil, anaknya juga harus mirip Arkan. Sayang bibit unggul begini malah dihancurkan sama keturunan yang lain."

Aluna hanya tertunduk mendengar celotehan dua wanita ini.

"Bener! Kalau bisa anaknya mirip Arkan aja, ya. Jangan mirip yang lain!" Ucap Farah yang membuat kedua wanita itu tertawa.

Sementara, Arkan mengepalkan tangannya. Ia kesal karena istrinya seperti disepelekan seperti itu.

"Aluna.. kita masuk ke kamar. Sudah malam." Ajak Arkan.

Aluna mengangguk dan bangkit dari duduknya.

"Aluna! Nanti siapkan kamar untuk tantemu. Dia akan menginap disini beberapa hari ke depan." Fiona memberi perintah.

"Baik, ma." Ucap Aluna patuh.

Aluna pergi ke kamar tamu dulu dan membereskan seadanya. Setelah itu, dia ke kamarnya sendiri.

"Mas.. apa mas mau punya anak dariku?" Tanya Aluna ikut duduk di tepi pembaringan bersama suaminya.

"Kamu pasti kepikiran ucapan mama dan tante Farah tadi, kan? Udahlah. Nggak usah dipikirin. Mereka suka ceplas ceplos."

"Tapi.. aku mau punya anak, mas." Ucap Aluna sedih.

Dia sakit hati karena di cap mandul. Dan lebih sakit hati lagi ketika mertuanya sendiri tidak menginginkan cucu yang nantinya mirip Aluna.

Arkan menatap istrinya yang tengah bersusah hati itu. Tangannya lalu terulur menyentuh bahu Aluna dengan lembut. Aluna pun sampai menoleh.

Sepanjang pernikahan, bisa dihitung menggunakan jari berapa kali Arkan menyentuhnya. Mungkin karena Aluna yang memiliki wajah yang tidak cantik, itu sebabnya Arkan tak mau menyentuhnya.

"Mari kita punya anak."

Arkan pun merebahkan istrinya di tempat tidur dan mengajaknya mengarungi samudera kenikmatan dunia.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 11

    "Mas.."Pintu diketuk dengan pelan dan penuh kehati-hatian. Suara itu terdengar samar hingga Arkan harus melesatkan pendengarannya. Setelah yakin jika memang ada istrinya yang berdiri di depan pintu, barulah ia menegur."Masuklah." Ucap Arkan. Pria ini sibuk di ruang kerja sambil bermain di depan laptopnya.Aluna masuk dengan perlahan sembari membawa satu nampan yang berisi kue coklat dan teh hangat. Ia lalu menghidangkannya di depan Arkan."Cemilan lembur, mas." Ujar Aluna mempersilahkan."Hmm.. terima kasih." Sahut Arkan tanpa menoleh.Aluna masih memandangi suaminya yang terduduk di kursi kerja. Dahi suaminya tampak bergaris. Mata itu terlihat memerah. Belum lagi rambut yang acak-acakan.Seketika Aluna menjadi iba. Beberapa hari ini, Arkan sibuk di kantor untuk mengejar laporan akhir tahun. Dia pergi pagi dan pulang pada malam hari. Namun bukannya beristirahat, Arkan malah menghabiskan waktunya di ruang kerja."Kenapa masih disini?" Tanya Arkan pada istrinya yang tegak mematung."A

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 10

    "Bulan depan mama mau uang bulanan untuk mama dinaikkan." Serunya."Kenapa??" "Jangan perhitungan dengan ibu sendiri. Kalau bisa seluruh gaji kamu biar mama yang pegang!" Sambungnya sambil melirik Aluna.Aluna yang mendengar itu hanya bisa tertunduk seperti yang sudah-sudah. Tak mau membantah ataupun mengelak. Dia terima saja jika Arkan mengikuti keinginan ibunya.Padahal selama ini, Arkan membagi dua pengeluaran rumah ini dengan ibunya. Untuk biaya listrik dan air ada Arkan yang membayar. Sementara operasional sehari-hari Fiona yang akan menanggung.Itu karena mendiang papa Arkan masih memiliki gaji pensiun yang diwariskan pada Fiona. Begitu juga mamanya ini yang masih memiliki gaji pensiun sendiri.Aluna yang merasa akan ada perdebatan memilih menyingkir. Ia pergi ke dapur untuk mencuci piring, sedangkan anak dan ibu itu mengobrol di ruang keluarga."Kenapa, ma? Ada masalah dengan gaji papa?""Nggak ada.""Lalu kenapa?"Fiona mendengkus. "Memang salah ya mama minta seluruh gajimu?

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 9

    "Assalamu'alaikum," Aluna mengucap salam.Alih-alih membalas salam menantunya, Fiona malah menatap tajam paper bag yang ada di tangan Aluna.Aluna yang merasa tengah dikuliti lalu menunduk dengan segan, ia mencoba berlalu dari wanita yang tengah memandang sinis padanya.Plak!Aluna terkesiap ketika majalah yang dibaca Fiona terlempar di atas meja begitu saja.Wanita ini lalu memberi kode dengan tangannya agar Aluna mendekat."Ada apa, ma?" Tanya Aluna tersendat."Dari mana kamu?""Dari salon sama..." Aluna memperlihatkan paper bagnya. "Mampir ke butik.""Kemarikan!"Terpaksa Aluna membiarkan mertuanya melihat isi paper bag tersebut dan mengobrak ngabriknya. Tapi yang dilihat Fiona bukan hanya pakaian yang Aluna beli, melainkan harganya."Ya, Tuhan!" Fiona berdecak saat melihat kertas harganya. "Ini mahal banget! Kamu ini! Enak banget ngabisin uang suamimu!""Maaf, ma.. tapi aku membelinya dengan sisa uang belanja yang ku tabung.." kilah Aluna."Sama aja, Luna! Lihat ini!" Fiona memper

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 8

    "Ini, mas.."Aluna dengan telatennya membawakan tas kerja Arkan dan mengantarnya sampai ke teras. Tangan pria itu diambilnya dan disalimi dengan takzim."Aku pergi dulu." Sahut Arkan. Seperti biasa. Suara itu terdengar dingin, datar seakan tak bernyawa."Mas.." panggil Aluna tersendat. "Apa boleh aku minta izin keluar hari ini?"Arkan langsung menoleh. "Mau kemana?""Aku mau ke salon." Jawab Aluna sedikit malu-malu.Arkan ikut terkejut. Tumben sekali. Dalam dua tahun pernikahan mereka, baru kali ini Arkan melihat Aluna ingin ke salon."Boleh. Nanti hati-hati di jalan.""Iya, mas. Makasih banyak!" Seru Aluna bersorak. Ia pun melambaikan tangan saat suaminya masuk ke dalam mobil.Sedangkan di dalam ada dua wanita penggosip yang mengintip dari kaca jendela. Terutama Fiona yang berdecak tak suka melihat kemesraan menantu dan putranya."Adel mana sempat mengantar suaminya sampai ke teras, mbak. Suaminya dibiarin aja pergi kerja." Ucap Farah. Eh, kenapa tiba-tiba dia jadi tersentuh melihat

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 7

    Matahari bahkan belum terbit sepenuhnya. Tapi suara Fiona sudah melengking seantero rumah. Apa saja pekerjaan Aluna selalu salah di matanya.Biasanya Fiona tak akan mengomel hebat seperti ini. Tapi pagi ini kedua tanduk itu sudah keluar dari kepalanya.Ada saja yang dikoreksi oleh Fiona. Baik dari teh hangat yang sudah dibuat, atau nasi uduk yang dijadikan sarapan. Aluna serba salah. Tapi dia masih bisa berpikiran positif.Mungkin karena ada Farah disini makanya Fiona menjadi cerewet. Ya.. walaupun hari-hari sebelumnya juga begitu."Selamat pagi.. mari kita sarapan." Ajak Fiona pada saudaranya yang baru saja keluar dari kamar."Wah.. harum banget nasi uduknya. Mbak yang buat, ya?" Farah bertanya pada kakak perempuannya."Iya, dong. Memang siapa lagi?" Sahut Fiona sambil melirik Aluna.Aluna sendiri hanya diam tertunduk. Padahal sejak tadi dia yang pontang panting masak di dapur. Sementara Fiona hanya bisa mengomel."Mana suamimu? Belum bangun?" Kini pertanyaan diajukan pada Aluna."B

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 6

    Sayup-sayup Aluna membuka matanya perlahan. Aroma parfum maskulin ini sangat membelai hidungnya.. Kepala wanita ini sedikit menggeliat. Di bawahnya masih ada dada bidang tempat Aluna merebahkan diri.Jemari Aluna yang lentik mengusap dada suaminya dengan kasih sayang. Wanita ini tersenyum tipis.Semalam sungguh luar biasa..Sesungguhnya dalam dua tahun pernikahan, Arkan jarang sekali menyentuh istrinya. Hingga terkadang tebersit pertanyaan di benak Aluna.. apakah suaminya ini normal? Kenapa ia seakan tak tertarik dengan santapan halal yang dimiliknya.Namun pesan mesra dari Nindi menyadarkan Aluna. Jika Arkan sebenarnya masih terjebak dalam pesona mantan kekasihnya. Sebab itulah, Aluna harus memperbaiki diri agar suaminya berbalik mencintainya.Seperti Aluna yang sudah tunduk terlebih dahulu pada pesona yang di miliki suaminya.Aluna beringsut bangun perlahan. Kepalanya mendongak untuk menatap Arkan yang tertidur pulas.Lagi-lagi senyum itu terbit.Wajah Arkan sangat tampan. Mata taj

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status