INICIAR SESIÓNMasih jelas dalam ingatan Aluna, siapa pria itu. Pria yang memberinya keteduhan pada Aluna yang tengah berkuyup sedih.
Aluna yang menangis karena baru saja kehilangan orang tuanya di sebuah masjid yang ada di kota ini. Padahal, Aluna baru saja hijrah untuk meniti karir disini. Tapi kabar yang ia terima dari tempat kelahirannya membuat Aluna seakan tak ingin hidup lagi. Bak cinta sejati, kedua orang tua Aluna meninggal secara serempak karena sakit yang sama. Membuat Aluna tak sempat lagi mencium dahi kedua orang tuanya untuk terakhir kali karena terpaut oleh jauhnya jarak mereka. Aluna yang menangis dihampiri oleh seorang pria. Arkan namanya. Pria ini memberikan sapu tangannya untuk membantu Aluna mengusap air matanya. Menenangkannya dengan ucapan yang begitu lembut. Seakan meneduhkan hati Aluna yang tengah bergemuruh. Hingga hubungan ini berlanjut menjadi lebih dekat dan jauh lebih serius. Arkan pun nekat mengenalkan Aluna pada keluarganya seakan serius meminang Aluna sebagai istrinya. Walau saat itu Fiona tak menyetujui hubungan mereka karena status sosial yang berbeda. Arkan tak perduli. Dia tetap ingin menjadikan Aluna istrinya. Melihat kemantapan hati Arkan, membuat Aluna luluh dan menerima pria itu. Sampai mereka menikah, Aluna harus berbesar hati menerima semua perlakuan buruk mertua beserta keluarga besar suamimya. Arkan yang dikenalnya lembut menunjukkan sikap aslinya. Pria yang dingin, misterius dan enggan untuk disentuh. Pernikahan ini seperti memilik tabir tipis yang tak terlihat. Ketika Aluna akan mendekat maka dia tertahan. Namun dia bisa melihat semua ketidak sukaan Arkan pada dirinya. Sadar akan itu, Aluna berusaha menentang dan bertanya apa salahnya. Dia hanya wanita biasa yang diseret dalam pernikahan ini. Sebagai wanita, dia juga ingin cintanya terbalaskan. Tapi, ini Arkan pria yang keras kepala. Semakin Aluna berkeras maka Arkan menjauhinya. Semakin Aluna menunjukkan pada dunia bahwa dia adalah istri yang terbaik, Arkan malah menghujatnya. Hingga sampai pada saat Aluna menemukan pesan mesra di ponsel suaminya, saat itu juga Aluna menemukan sebuah strategi untuk meraih perhatian suaminya. Memberi makan ego Arkan setiap hari adalah tugasnya. Tak perduli jika egonya sendiri terluka. Sebisa mungkin Aluna meniru gaya bicara Nindi yang dikirimkan via pesan. Walau awalnya Arkan mengelak dan memarahinya. Sekarang, Arkan mulai melunak. Mungkin karena melihat perjuangan Aluna yang begitu ingin membahagiakannya. Sudah satu bulan lebih, Aluna merasa Arkan mulai hangat. Tak ada lagi tatapan dingin menyakitkan. Walau terkesan datar, Aluna merasa ada perkembangan dalam hubungan mereka. Setiap hari Aluna akan memuji suaminya. Membuat makanan kesukaannya. Bertanya kabarnya serta memperlakukan Arkan bak raja yang harus disembah. "Hari ini aku mendapat pujian dari manajer." Ucap Arkan ketika mereka makan malam. "Benarkah?" Tanya Fiona semangat. "Syukurlah, nak." "Hmm.. kemarin aku memang sulit berkonsentrasi. Tapi, sekarang aku lebih bersemangat bekerja." "Nah! Nggak sia-sia kita liburan di Bali, kan?" Arkan lalu menggeleng. "Kayaknya karena bukan liburan di Bali. Tapi karena..." Arkan memandang istrinya tapi tak mampu melanjutkan kalimatnya. Fiona yang melihat itu langsung menggeram. "Sama aja. Karena liburan itu membuat otakmu lebih fresh!" Seru Fiona tak terima. Selesai makan malam, Arkan memberanikan diri mengajak istrinya keluar bersama. Pertama kalinya di sepanjang pernikahan mereka. "Mau kemana, mas? Bukannya kita udah makan malam." "Jalan-jalan saja. Menghirup udara segar." Ajak Arkan. Aluna tak mau menolak kesempatan. Keduanya pun keluar bersama dan berjalan-jalan mengelilingi kota. Menikmati pemandangan malam hari yang begitu indah dengan banyaknya lampu hias yang menerangi kota. Keduanya lalu berhenti di sebuah taman kota yang terdapat air mancur disana. Aluna pun membelikan suaminya makanan ringan dan menyantapnya bersama. "Apa aku boleh bertanya, mas?" Tanya Aluna hati-hati. "Tentang apa?" "Tentang diriku. Apa yang kamu nggak sukai dariku?" Arkan tampak berpikir sembari menatap wajah istrinya. "Aku tidak suka penampilanmu." Jawab Arkan jujur. "Gaya hijab panjangmu itu terlihat kuno, Aluna. Juga wajahmu yang tidak dipoles make up." "Lalu apa lagi?" "Mungkin pakaianmu.. kamu selalu memakai rok yang berwarna itu-itu saja." "Oh.." Aluna terkesiap dan memperhatikan penampilannya. Dia memang lebih suka memakai kemeja kedodoran dengan rok senada. "Kalau kamu apa yang tidak disukai dariku?" Giliran Arkan bertanya. "Nggak ada." Jawab Aluna cepat. "Kamu nggak punya celah, mas. Kamu terlalu sempurna. Bahkan aku sering rendah diri karena itu." Mendengar jawaban istrinya, Arkan tersenyum tipis. Makin kesini, Aluna pandai sekali memuji. Padahal dia dulu berpikir kalau Aluna hanya ingin menggombalinya saja. Tapi, sepertinya wanita ini bicara serius. Tingkat kepercayaan diri Arkan pun meningkat karena pujian dari istrinya. "Terima kasih." Ucap Arkan. Sementara, Aluna tersenyum. Dia sudah berhasil memberi makan ego suaminya lagi. Walau hatinya tadi merasa sakit karena kejujuran suaminya. Tapi tak masalah. Ia akan merubah dirinya sesuai dengan keinginan Arkan. Selesai berjalan-jalan dan menikmati kota. Keduanya memutuskan pulang ke rumah. Sesampainya disana, mereka melihat sebuah mobil sudah parkir di halaman rumah ini. Rupanya ada Farah yang berkunjung dari luar kota. "Apa kabar tante?" Arkan menyalimi tantenya, begitu juga dengan Aluna. "Baik. Kalian dari mana?" Tanya Farah. "Dari luar. Tante kapan sampai?" "Baru aja." "Aluna!" Tegur Fiona. "Buatkan tantemu minum." "Iya, ma." Padahal baru saja Aluna ikut duduk diantara mereka, tapi dia sudah disuruh ke belakang. "Oh, ya.. tantemu ngasih kabar baik tadi buat kita. Adel hamil." Ucap Fiona. "Oh.. selamat kalau begitu tante Farah." "Iya.." Farah lalu tersenyum bangga. "Kalian kapan, Kan? Masa keduluan sama Adelina?" Arkan terkesiap akan pertanyaan itu, termasuk Aluna yang baru datang mengantarkan minuman. "Mohon do'anya saja.." sahut Arkan pelan. "Iya, nih. Udah bertahun menikah kok belum hamil juga." Farah lalu melirik Aluna yang ikut duduk. "Coba kamu periksa ke dokter. Siapa tahu ada masalah." Fiona langsung mendengkus. "Kalaupun nanti hamil, anaknya juga harus mirip Arkan. Sayang bibit unggul begini malah dihancurkan sama keturunan yang lain." Aluna hanya tertunduk mendengar celotehan dua wanita ini. "Bener! Kalau bisa anaknya mirip Arkan aja, ya. Jangan mirip yang lain!" Ucap Farah yang membuat kedua wanita itu tertawa. Sementara, Arkan mengepalkan tangannya. Ia kesal karena istrinya seperti disepelekan seperti itu. "Aluna.. kita masuk ke kamar. Sudah malam." Ajak Arkan. Aluna mengangguk dan bangkit dari duduknya. "Aluna! Nanti siapkan kamar untuk tantemu. Dia akan menginap disini beberapa hari ke depan." Fiona memberi perintah. "Baik, ma." Ucap Aluna patuh. Aluna pergi ke kamar tamu dulu dan membereskan seadanya. Setelah itu, dia ke kamarnya sendiri. "Mas.. apa mas mau punya anak dariku?" Tanya Aluna ikut duduk di tepi pembaringan bersama suaminya. "Kamu pasti kepikiran ucapan mama dan tante Farah tadi, kan? Udahlah. Nggak usah dipikirin. Mereka suka ceplas ceplos." "Tapi.. aku mau punya anak, mas." Ucap Aluna sedih. Dia sakit hati karena di cap mandul. Dan lebih sakit hati lagi ketika mertuanya sendiri tidak menginginkan cucu yang nantinya mirip Aluna. Arkan menatap istrinya yang tengah bersusah hati itu. Tangannya lalu terulur menyentuh bahu Aluna dengan lembut. Aluna pun sampai menoleh. Sepanjang pernikahan, bisa dihitung menggunakan jari berapa kali Arkan menyentuhnya. Mungkin karena Aluna yang memiliki wajah yang tidak cantik, itu sebabnya Arkan tak mau menyentuhnya. "Mari kita punya anak." Arkan pun merebahkan istrinya di tempat tidur dan mengajaknya mengarungi samudera kenikmatan dunia."Aluna!" Arkan terkejut melihat wanitanya terjatuh akibat dorongan para wanita. Ia berlari menolong mantan istrinya. Begitu juga dengan Aamir yang menyergap Sinar. "Mas. Lihat aku dapat bunga!" Seru Sinar berbinar saat mendapatkan lemparan bunga pengantin. "Kamu bisa mendapatkannya dariku!" Sahut Aamir. Sinar tersenyum dan terlonjak kaget saat menoleh. Ada Aluna yang terjatuh sedang dibantu oleh Arkan. "Astaga, mbak Aluna!" Aluna menerima uluran tangan Arkan. Ia berusaha berdiri dengan susah payah. Gara-gara terdorong tadi. Sepertinya tak hanya pinggulnya yang sakit karena membentur lantai. Tapi kakinya juga ikut terkilir karena memakai hak tinggi ini. "Sakit, mas." Keluh Aluna saat berdiri. "Yang mana?" "Kakiku." Arkan berlutut untuk melihat kaki wanitanya. Aluna menunjuk bagian yang terkilir. "Duduk dulu." Ajak Arkan memapah mantan istrinya. Si kembar yang penasaran ikut berlarian mengejar orang tuanya. Dengan cepat, Fiona menahan Abi dan Ditha agar tidak meng
Ketika Arkan berdebar menunggu jawaban, Aluna malah dipanggil. "Mbak Aluna! Lihat Ditha!" Seru Sinar cepat. Tanpa pikir panjang, Arkan dan Aluna bangkit dari duduknya dan berlari menuju ke depan. Mereka pikir terjadi sesuatu pada Ditha. Rupanya.. Astaga! Aluna sampai tertawa. Ditha tengah diajari cara menabur bunga di altar pernikahan. Besok dia akan menjadi peri yang akan membuka jalan untuk pengantin dengan cara menabur bunga. Tapi Ditha yang ceriwis malah menabur bunga dengan sembarangan. Sontak saja kakek, nenek dan semuanya tertawa karena ulah Ditha. "Sudah ku katakan, Adel. Kamu harus memakluminya." Ucap Aluna mengulum senyum. Adelina tertawa. "Nggak masalah. Itu saja sudah bagus." Langit memanggil Abi. Setidaknya kembaran Ditha ini lebih bisa dipercaya. Dalam satu kali arahan, Abi mengerti. Ia pun menyebar bunya dengan baik. Tapi ekspresi wajahnya itu.. ya, ampun! Langit s
Satu menghalangi jalan ibunya, satu lagi terus menarik gaun. Aluna sampai tertatih-tatih melangkah karena ulah kedua anaknya. Perut anak kembar ini memang tak bisa diajak kompromi jika sedang lapar. Arkan yang melihat itu pun tak tinggal diam. Pria ini bergegas ke arah Aluna dan mengambil alih kedua anaknya. Setelah itu mereka memilih meja yang kosong untuk makan bersama. "Ayah, mau ayam goreng!" Ucap Abi. "Ibu, mau sopnya!" Seru Ditha. Aluna dan Arkan duduk. Keduanya menaruh si kembar di tengah. Yang terjadi, Abi dan Ditha berebut makanan hingga bertengkar. "Aduh, kalian ini!" Arkan sampai geleng-geleng kepala. Akhirnya posisi itu ditukar. Arkan berada di tengah dengan si kembar di sisi kanan kirinya. Sementara Aluna berada di ujung. "Lapar, ayah!" Seru Abi mencebik. "Sabar, nak.." ujar Aluna kewalahan. Inilah alasannya kenapa jarang membawa si kembar di tempat umum. Mengurus sa
Aluna terkejut. Tubuhnya bergetar hebat. Dia ingin berteriak. Dalam otaknya dia sudah meronta minta dilepaskan. Tak sudi jika tangan itu digenggam lagi oleh tangan besar yang penuh kehangatan itu. Namun yang terjadi dia hanya diam saja.. dibiarkannya Arkan menggenggam hangat tangannya. Membawanya menuju altar pernikahan dimana dua kembar menjadi ekor ayah dan ibunya. Langit melirik Arkan yang baru keluar dari rumah sambil menggandeng Aluna. Ia lalu menyenggol istri barunya. "Apa?" Tanya Adelina mengikuti arah pandangan suaminya. Ia lalu tersenyum. "Sempurna. Sekarang kita bisa foto bersama." Fiona dan Farah yang melihat itu juga sontak tersenyum. Arkan dan Aluna jadi dekat kembali. Sekarang.. mereka tinggal menunggu kabar baik dari mantan suami istri itu. Aluna dibawa ke atas altar. Arkan memepetkan tubuhnya pada Aluna. Sekarang genggaman tangan itu terlepas berganti pada rangkulan di bahu hingga membuat dua
Genggaman tangan Arkan melemah. Perlahan dua tangan mungil yang sedang di dekapnya itu terlepas. Pria ini memalingkan wajah, seperkian detik ia mengembalikan wajah itu ke semula. Dimana ada Aluna yang berjalan mendekat. Berhadapan sejajar dengannya. Aluna meraih jas pria itu. Merapikan dasi yang terlihat miring. Mengancingkan jas coklat muda yang ia pakai dan mengusap bahu jas tersebut untuk memberikan kesan terakhir. Wanita ini mengangkat wajahnya. Mata itu nampak terkejut. Apa yang barusan ia lakukan? Lupakah Aluna jika keduanya adalah sepasang mantan? Arkan menatap wanita itu dengan hangat. Seolah cinta yang dulu sempat patah kini kembali tumbuh dengan sehat. Sejenak keduanya membeku dalam kebisuan. Seakan menikmati rasa baru yang tumbuh dalam hati keduanya. Abi dan Ditha tertawa melihat orang tuanya bersama. Mereka bermain. B
Hari berjalan dengan baik, enam bulan ini banyak sekali perubahan yang terjadi di warung ayam yang sudah berganti nama ini. Begitu juga dengan pemilik warungnya. Hari ini Langit akan mempersunting Adelina. Astaga. Ini adalah pernikahan kali kedua tapi benar-benar membuatnya gugup. Nekat tidak namanya kalau menikahi wanita yang ia suka sejak pertama kali melihatnya? Ya, dia suka si perempuan cerewet itu sejak pertama kali melihatnya. Untuk pertama kalinya, Langit bertemu dengan wanita secantik Adelina. Walau awalnya Langit menghempaskan perasaannya karena Adelina adalah bagian keluarga Arkan namun ia tak bisa menutupi perasaan itu. Terlebih saat mengetahui jika Adelina memiliki kisah hidup yang kelam sama seperti dirinya. Dua jiwa rapuh yang bertemu dan melebur jadi satu. Langit pun tak ragu lagi untuk menikahinya. "Udah siap belum, mas? Lama banget!" Gerutu Sinar sejak tadi melihat Langit bercermin di kaca b
Arkan sedang duduk di kursi kerjanya. Termenung menghadapi laporan yang tercipta di layar komputer pintarnya. "Ada apa denganku?" Arkan mengusap wajahnya dengan kasar. Sudah beberapa bulan ini performa kinerjanya menurun hingga membuat manajernya sering menegur. Fiona mengatakan jika Arkan ku
Tak terasa sudah satu minggu Aluna berada di kotanya sendiri. Sejak pulang dari Bali, tak sekalipun suaminya mengabarinya. Padahal, Aluna sudah memberikan spam pesan. Namun balasannya hanya singkat saja. Seperti enggan menanyakan balik kabar dirinya.Hari yang ditunggu tiba, Arkan dan ibunya akhirn
"Nindi.."Aluna melihat nama dari pengirim pesan tersebut dan tersenyum kecil. Ternyata, Arkanlah yang mengiriminya pesan terlebih dahulu. Wanita yang menjadi mantan terindah bagi suaminya.[ "Aku baik. Bagaimana kabarmu?" ] balas wanita itu.Aluna kembali menggeser pesan milik Nindi. Ternyata ini
Aluna kembali memoles bedak di wajahnya. Di poles lagi hingga Aluna menatap getir bayangan yang ada di wajahnya.Begitu aneh! Aluna kembali menghapus bedak yang tadi mampir ke wajahnya.Sekali lagi, Aluna melihat merk skincare dan juga make up yang kemarin dibelinya. Sebuah merk tersohor dari neger







