Share

Bab 2

Author: Jul
“Eric… agak pelan…”

Suara Kirana terdengar manja dan malu-malu, dengan nada yang belum pernah kudengar sebelumnya.

Tepat setelah itu, terdengar deru napas Eric yang berat.

“Kirana, kamu benar-benar nikmat… jauh lebih sempit dari yang kubayangkan…”

Aku berdiri di luar pintu, seketika seluruh darah di tubuhku rasanya membeku.

Suara pergerakan di dalam semakin menjadi-jadi, bunyi deritan ranjang yang menahan beban terdengar semakin memilukan.

Kirana tertawa manja sambil terengah-engah, “Eric, Liana sengaja mengumpulkan kertas kosong demi kamu hari ini, lho. Sekarang kita malah begini… kamu nggak kasihan sama dia?”

Eric tertawa pelan, “Hanya dia yang bisa menjadi istriku, aku nggak bisa tanpa dia. Tapi, hanya kamu yang bisa memuaskan tubuhku.”

“Dia terlalu polos, kaku seperti kayu. Baru dicium saja mukanya sudah merah, nggak bisa selepas dirimu.”

Kirana terkekeh, “Terus kamu tega menyuruh dia melepaskan universitas terbaik hanya untuk menemanimu di kampus lokal?”

“Bedalah.” Suara Eric terdengar agak ragu, “Dia sangat mencintaiku dan nggak bisa hidup tanpaku. Bagaimana mungkin aku membiarkan dia tanpa pengawasanku?”

“Dasar nakal kamu, hanya mencintai tubuhku saja…”

“Hatiku juga milikmu. Sayang, balikkan badanmu…”

Seketika, terdengar benturan tubuh yang menjijikkan, disertai helaan napas yang memburu.

Aku mengepalkan telapak tanganku erat-erat, kukuku menusuk ke dalam daging, menggunakan rasa sakit itu untuk memaksa diriku tetap sadar.

Suara Eric terdengar serak, dipenuhi ketegasan dan hasrat.

Tiba-tiba, aku merasa dia begitu asing.

Sejak kecil, meski usianya sedikit lebih tua dariku, dia selalu menempel ke mana pun aku pergi.

Orang tua kami suka mengejeknya sebagai calon suami yang dibesarkan sejak kecil, Eric pun hanya tersenyum lebar sambil buru-buru mengiyakan, “Iya dong! Liana itu calon istriku ke depannya!”

Jadi, di separuh hidupku, hampir di setiap momen penting, selalu ada Eric yang menemaniku.

Hingga akhirnya di masa SMA, Kirana hadir di hidupku. Kirana sering beradu mulut dengan Eric.

Kirana paling tak suka melihatku tersakiti sedikitpun. Setiap kali Eric muncul, mereka berdua pasti bakal berperang dan saling bertengkar.

Setiap kali, aku selalu berada di tengah-tengah mereka untuk jadi penengah, berusaha menasihati mereka dengan penuh kesabaran. Bagaimanapun juga, mereka berdua adalah orang-orang terpenting dalam hidupku.

Berkat usahaku, kami bertiga jadi tak terpisahkan. Meski mereka berdua masih saling suka serang saat bertemu dan menjadikanku sebagai alasan keributan, aku merasa masa-masa itu sangatlah membahagiakan.

Di hari ulang tahun legalku, aku resmi menerima ungkapan cinta dari Eric. Kami berjanji untuk masuk ke kampus yang sama. Diiringi godaan teman-teman, wajah kami berdua pun merona malu. Semuanya terasa begitu indah hingga rasanya tak nyata.

Di saat-saat itulah, kondisi mental Kirana berada di titik terendah.

Aku yang khawatir setengah mati terus menemaninya setiap saat, bahkan sampai mengabaikan Eric yang baru saja menjadi pacarku.

Jika dipikir-pikir sekarang, aku telah melewatkan setiap momen saat Kirana berpura-pura tersenyum manis di hadapanku.

Pikiranku pun tersadar kembali, dadaku terasa sesak hingga sulit bernapas.

Tanpa suara, aku membalikkan badan dan pergi.

Saat melangkah keluar dari hotel, silau sinar matahari di luar membuat mataku tak sanggup terbuka.

Aku tak meneteskan air mata sedikitpun.

Mulai dari hari ini, Liana yang rela mengorbankan masa depannya demi Eric… sudah mati.

Setibanya di rumah, aku masuk ke kamar mandi, menyalakan shower, lalu mengguyur wajahku keras-keras dengan air dingin.

Saat itulah, layar ponsel yang kuletakkan di wastafel kembali menyala.

Itu adalah pesan dari ‘nomor tak dikenal’.

[Kalau hari ini kamu nggak pergi ke hotel dan nggak menemukan kenyataannya, maka tujuh tahun dari sekarang, hari ini akan menjadi malam pernikahanmu.]

Aku mengeringkan tanganku, lalu menatap kata demi kata di layar.

[Malam itu, kalian menyewa hotel terbesar di Kota Jakut, tapi saat resepsi hampir selesai, tiba-tiba Eric mendapat telepon.]

[Kirana menelan obat tidur dan sedang mencuci lambung di rumah sakit.]

[Eric seperti orang gila mendorongmu menjauh. Bahkan sebelum janji suci selesai dibacakan, dia langsung pergi ke rumah sakit.]

Isi pesan singkat itu seperti kutukan yang terbentang di depan mataku.

[Eric meninggalkanmu sendirian di kamar pengantin, membiarkanmu memakai gaun pengantin dan jadi bahan tertawaan di seluruh kalangan di Kota Jakut.]

[Malam itu, dia menunggu Kirana semalaman di samping ranjang rumah sakit. Begitu Kirana terbangun sambil menangis bilang nggak mau hidup lagi, Eric merasa sangat kasihan. Di hotel murah tepat di sebelah rumah sakit, akhirnya mereka pun berhubungan.]

[Setelahnya, waktu kamu menuntut penjelasan, Eric malah dengan tegas bilang padamu, ‘Liana, kamu itu sudah resmi menjadi istriku, kamu sudah punya segalanya. Sedangkan Kirana nggak punya apa-apa lagi, dia hanya punya aku. Aku hanya kasihan padanya, bisa nggak kamu jangan terlalu memojokkannya?’]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 9

    Waktu berlalu cepat, tujuh tahun pun lewat dalam sekejap.Menurut pesan dari nomor tak dikenal saat itu, seharusnya hari ini adalah malam pernikahanku dengan Eric, sekaligus hari di mana diriku menjadi bahan tertawaan seluruh Kota Jakut.Namun sekarang, aku berdiri di atas panggung penghargaan nasional, memegang piala penghargaan ilmuwan muda berprestasi tahun ini.Tepuk tangan meriah membahana di seluruh ruangan.Toni duduk tepat di tengah barisan paling depan. Dia mengenakan setelan jas rapi dan menatapku dengan tatapan yang bangga.Satu tahun yang lalu, kami resmi bertunangan dengan disaksikan oleh orang tua dari kedua belah pihak.Toni tak pernah mematahkan sayapku, melainkan menjadi angin yang menopangku untuk tebang ke langit yang lebih tinggi.Setelah acara penghargaan selesai, aku menerima sebuah foto tangkapan layar dari teman SMAku di ruang belakang panggung.Tangkapan layar itu berisi kabar tentang Eric dan Kirana.Waktu itu, mereka berdua sama-sama tak menyelesaikan kuliah.

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 8

    Yang membukakan pintu adalah ibuku.“Tante! Di mana Liana? Dia sakit? Makanya nggak pergi mendaftar ulang?” Eric bermandi keringat, sorot matanya tampak begitu cemas.Ibuku menatap dingin ke arah pria yang dulu pernah dia anggap seperti anak sendiri, matanya penuh dengan rasa kecewa dan jijik.“Kamu jangan mencari Liana lagi.” Nada suara ibuku tetap tenang, “Liana sudah terbang ke Kota Jakut tiga hari yang lalu. Hari ini adalah hari pertama masuk kuliah di Universitas Indonesia.”Eric seperti tersambar petir. Seluruh tubuhnya membeku di tempat, pikirannya tiba-tiba kosong.“Nggak mungkin...nggak mungkin...” Dia bergumam sendiri, “Dia sudah janji padaku, dia jelas-jelas sudah janji padaku...”“Janji apa padamu? Janji untuk merusak masa depannya sendiri? Untuk terus tetap tinggal di sini dan melihat kamu berselingkuh dengan wanita lain?”Ibuku menghancurkan semua kedoknya tanpa ampun, “Eric, mulai sekarang jangan pernah datang lagi ke rumah kami, kami merasa jijik.”Pintu rumah pun ditut

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 7

    Sore itu, Kirana menerobos masuk ke rumahku dengan mata berkaca-kaca.Tak ada lagi topeng polos dan tak berdaya yang biasa dia pakai. Dia terlihat seperti seekor anjing gila yang terdesak, menatap tajam ke arah surat penerimaan Universitas Indonesia berwarna merah menyala yang ada di atas mejaku.“Liana, kamu mempermainkanku?!” jerit Kirana dengan suara melengking yang memekakkan telinga. “Kamu jelas-jelas bilang ujian terakhir kemarin nggak diisi?! Kamu jelas-jelas bilang mau masuk kampus swasta bersama kami! Kok membohongiku?!”Melihat reaksinya yang terpuruk, aku hanya merasa puas luar biasa.“Kok aku nggak boleh membohongimu?” Aku menatapnya dengan dingin, “Hanya kalian berdua yang boleh membohongiku di atas ranjang hotel, sedangkan aku nggak boleh menyiapkan jalan pintas untuk diriku sendiri di ruang ujian?”Seketika, wajah Kirana menjadi pucat. Akhirnya dia sadar kalau aku sudah tahu semuanya sejak awal.Karena topengnya sudah dihancurkan, dia pun tak berpura-pura lagi.“Iya! Aku

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 6

    Di hari pembukaan sistem pengisian pilihan kampus, Kirana datang ke rumahku.Begitu masuk, dia langsung mau memegang tanganku, tapi aku buru-buru menghindar.“Liana, aku dengar kamu lagi kelahi dengan Eric?” Kirana menggigit bibir bawahnya, berakting dengan raut wajah yang penuh kehati-hatian.“Eric selalu mabuk-mabukkan di rumah beberapa hari ini, bahkan nggak mau isi pilihan kampus. Ada apa dengan kalian sebenarnya? Gara-gara aku ikut ke Nihi, makanya kamu jadi nggak senang?”Melihat gaya sok polosnya yang manipulatif ini, aku hanya bisa tertawa dingin dalam hati.Kirana mungkin belum tahu kalau sebenarnya aku sudah pernah ke hotel itu. Eric si pengecut itu jelas-jelas tak berani membocorkan kenyataan yang sebenarnya ke Kirana dan hanya bilang kalau kami berdua sedang berkelahi.“Nggak ada, aku hanya sudah bosan saja.” Aku berjalan ke meja komputer dan duduk, nada bicaraku terdengar datar, “Untuk apa kamu datang mencariku?”Melihat sikapku yang dingin, ada kilatan tajam di dasar mata

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 5

    Senyuman percaya diri dan santai di wajah Eric seolah-olah terpaksa berhenti, lalu perlahan-lahan retak berantakan.Bunga mawar merah di tangannya bergetar hebat, membuat beberapa helai mahkotanya gugur dan jatuh melayang ke lantai… terlihat seperti ejekan yang penuh sindiran.“Kamu… kamu bilang apa, sih? Liana, kamu dengar gosip dari orang-orang lagi?” Eric masih berusaha mengelak, tapi sorot matanya yang panik bergerak liar, sama sekali tak berani menatapku secara langsung.Melihat sosoknya yang luar biasa munafik ini, tiba-tiba rasa jijik menyebar di dalam hatiku.“Perlu keingat-ingat kembali detailnya padamu?” Aku melangkah mundur satu langkah untuk menjauhkan jarak dengannya, lalu melanjutkan dengan dingin, “Hanya dia yang bisa menjadi istriku, aku nggak bisa tanpa dia. Tapi, hanya kamu yang bisa memuaskan tubuhku. Dia terlalu polos, kaku seperti kayu…”“Eric, waktu kamu lagi menilaiku di atas ranjang murahan itu, pernah nggak kamu memikirkan hubungan kita selama 18 tahun ini?”Se

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 4

    “Gimana sih kamu ini!” Eric menegur Kirana lagi, lalu menoleh dan menatapku dengan raut wajah serba salah.“Liana, sebentar lagi sudah harus lewat pemeriksaan keamanan. Kalau dibatalin sekarang sangat rugi.”Dia menghela napas, lalu mengulurkan tangan mau menarik koperku, “Gini saja, coba kamu cek penerbangan ke Nihi berikutnya, langsung pesan biar bisa menyusul kami.”“Aku dan Kirana pergi duluan, nanti kami ke hotel untuk pesan dua kamar duluan sambil menunggumu, bagaimana?”Melihat ekspresinya, tiba-tiba aku merasa ini benar-benar tak masuk akal, sampai-sampai rasa marah pun sudah tak ada sama sekali.“Nggak perlu.” Aku menghindari tangannya yang ingin menarik koperku, lalu menjawab dua kata singkat itu.Eric terdiam sejenak, lalu bertanya, “Apanya yang nggak perlu?”Dari pengeras suara bandara, terdengar panggilan boarding yang mendesak.Eric mulai agak panik. Dia menoleh ke arah pintu boarding, lalu menatapku lagi, “Liana, jangan marah. Sayang, burusan pesan tiket penerbangan beri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status