Partager

Bab 4

Auteur: Jul
“Gimana sih kamu ini!” Eric menegur Kirana lagi, lalu menoleh dan menatapku dengan raut wajah serba salah.

“Liana, sebentar lagi sudah harus lewat pemeriksaan keamanan. Kalau dibatalin sekarang sangat rugi.”

Dia menghela napas, lalu mengulurkan tangan mau menarik koperku, “Gini saja, coba kamu cek penerbangan ke Nihi berikutnya, langsung pesan biar bisa menyusul kami.”

“Aku dan Kirana pergi duluan, nanti kami ke hotel untuk pesan dua kamar duluan sambil menunggumu, bagaimana?”

Melihat ekspresinya, tiba-tiba aku merasa ini benar-benar tak masuk akal, sampai-sampai rasa marah pun sudah tak ada sama sekali.

“Nggak perlu.” Aku menghindari tangannya yang ingin menarik koperku, lalu menjawab dua kata singkat itu.

Eric terdiam sejenak, lalu bertanya, “Apanya yang nggak perlu?”

Dari pengeras suara bandara, terdengar panggilan boarding yang mendesak.

Eric mulai agak panik. Dia menoleh ke arah pintu boarding, lalu menatapku lagi, “Liana, jangan marah. Sayang, burusan pesan tiket penerbangan berikutnya. Nanti kalau sudah sampai, aku belikan es krim sebagai permintaan maafnya.”

Usai bicara, seolah takut ketinggalan pesawat, Eric langsung mencengkeram pergelangan tangan Kirana, “Kirana, ayo cepat, nanti bakal telat.”

Kirana menoleh menatapku sebentar. Ada kilatan rasa puas yang tersembunyi di matanya, meski wajahnya berpura-pura merasa bersalah.

“Liana, maaf. Nanti di dalam pesawat, aku bakal marahin Eric habis-habisan. Kami bakal menunggumu di Nihi!”

Aku kira diriku bakal berdiri di tempat sambil menangis sesenggukan seperti dulu atau nekat membeli tiket penerbangan berikutnya untuk mengejar mereka.

Namun, aku hanya berdiri diam di tempat. Menatap punggung mereka berdua yang begitu tak sabaran ingin lepas dariku dan bergegas menuju jalur pemeriksaan. Tidak ada riak emosi sedikitpun di dalam hatiku.

Aku berbalik berjalan keluar dari bandara, menghentikan taksi dan langsung pulang ke rumah.

Selama beberapa hari berikutnya, ponselku dibombardir oleh pesan-pesan dari Eric.

Awalnya bernada menuntut, [Liana, kamu lagi marah apa sih sebenarnya? Penerbangan berikutnya sudah sampai lama, kamu di mana?]

Lalu berganti menjadi permintaan maaf, [Sayang, ini salahku. Aku nggak seharusnya meninggalkanmu sendirian di bandara. Cepat datang, ya? Kirana juga bilang liburannya nggak seru kalau nggak ada kamu.]

Dan akhirnya berubah jadi emosi, [Liana, cukup ya! Setiap kali harus aku yang membujukmu! Kamu sendiri yang nggak mau datang, jangan menyesal nanti!]

Melihat pesan-pesan itu, tak satu pun yang kubalas. Aku langsung menyetel pesannya ke mode hening.

Di hari pengumuman hasil nilai ujian nasional dan pengisian pilihan kampus, bel rumahku berdering.

Begitu membuka pintu, Eric berdiri di luar sambil memegang sebuket bunga mawar merah.

Eric menyodorkan bunga itu ke pelukanku, lalu menajamkan senyuman penuh keyakinan, “Liana, sudah nggak marah, ‘kan? Setengah bulan lebih aku mengabaikanmu, seharusnya kamu sudah kapok dan belajar dari pengalaman, ‘kan?”

“Seharusnya nilaimu pas-pasan untuk masuk kampus swasta lokal yang pernah kukirim padamu, ‘kan? Mumpung kamu sudah rela mengosongkan jawaban demi diriku, aku bakal berbesar hati untuk memaafkanmu yang kemarin marah sembarangan.”

“Cepat isi pilihan kampusnya, biar kita bertiga bisa tetap bersama terus.”

Dia melangkah masuk ke rumah tamu seolah rumah sendiri, lalu mulai mengoceh tanpa henti, “Kamu nggak tahu seberapa indah dan serunya Nihi, sayang sekali kamu nggak ikut.”

“Kirana senang sekali di sana. Katanya daging panggang di sana enak sekali. Dia juga beli gaun yang sangat cantik….”

Dalam tiga kalimat itu, semuanya tak lepas dari Kirana.

Melihat mulutnya yang terus mengoceh tanpa henti, tiba-tiba aku merasa sangat muak.

“Eric,” potongku dengan dingin. “Sebenarnya, menurutku kalian berdua sangat serasi.”

Suara Eric langsung terhenti. Tatapannya tampak panik, “Liana, kamu nggak boleh bicara sembarangan seperti itu! Kita ini mau menikah lho ke depannya!”

Tatapannya berubah menjadi tatapan yang seolah tak menyetujuiku, “Lagipula, kalau sampai Kirana mendengar ini, dia bakal menjaga jarak lagi denganku. Ujung-ujungnya kita semua yang nggak enak hati.”

“Masa sih?” Aku menatapnya, lalu menekankan kata demi kata, “Tapi saat selesai ujian nasional kemarin, jarak kalian berdua di hotel murahan itu… bukannya sangat dekat?”

Mendengar kata-kataku, tubuhnya langsung membeku.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 9

    Waktu berlalu cepat, tujuh tahun pun lewat dalam sekejap.Menurut pesan dari nomor tak dikenal saat itu, seharusnya hari ini adalah malam pernikahanku dengan Eric, sekaligus hari di mana diriku menjadi bahan tertawaan seluruh Kota Jakut.Namun sekarang, aku berdiri di atas panggung penghargaan nasional, memegang piala penghargaan ilmuwan muda berprestasi tahun ini.Tepuk tangan meriah membahana di seluruh ruangan.Toni duduk tepat di tengah barisan paling depan. Dia mengenakan setelan jas rapi dan menatapku dengan tatapan yang bangga.Satu tahun yang lalu, kami resmi bertunangan dengan disaksikan oleh orang tua dari kedua belah pihak.Toni tak pernah mematahkan sayapku, melainkan menjadi angin yang menopangku untuk tebang ke langit yang lebih tinggi.Setelah acara penghargaan selesai, aku menerima sebuah foto tangkapan layar dari teman SMAku di ruang belakang panggung.Tangkapan layar itu berisi kabar tentang Eric dan Kirana.Waktu itu, mereka berdua sama-sama tak menyelesaikan kuliah.

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 8

    Yang membukakan pintu adalah ibuku.“Tante! Di mana Liana? Dia sakit? Makanya nggak pergi mendaftar ulang?” Eric bermandi keringat, sorot matanya tampak begitu cemas.Ibuku menatap dingin ke arah pria yang dulu pernah dia anggap seperti anak sendiri, matanya penuh dengan rasa kecewa dan jijik.“Kamu jangan mencari Liana lagi.” Nada suara ibuku tetap tenang, “Liana sudah terbang ke Kota Jakut tiga hari yang lalu. Hari ini adalah hari pertama masuk kuliah di Universitas Indonesia.”Eric seperti tersambar petir. Seluruh tubuhnya membeku di tempat, pikirannya tiba-tiba kosong.“Nggak mungkin...nggak mungkin...” Dia bergumam sendiri, “Dia sudah janji padaku, dia jelas-jelas sudah janji padaku...”“Janji apa padamu? Janji untuk merusak masa depannya sendiri? Untuk terus tetap tinggal di sini dan melihat kamu berselingkuh dengan wanita lain?”Ibuku menghancurkan semua kedoknya tanpa ampun, “Eric, mulai sekarang jangan pernah datang lagi ke rumah kami, kami merasa jijik.”Pintu rumah pun ditut

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 7

    Sore itu, Kirana menerobos masuk ke rumahku dengan mata berkaca-kaca.Tak ada lagi topeng polos dan tak berdaya yang biasa dia pakai. Dia terlihat seperti seekor anjing gila yang terdesak, menatap tajam ke arah surat penerimaan Universitas Indonesia berwarna merah menyala yang ada di atas mejaku.“Liana, kamu mempermainkanku?!” jerit Kirana dengan suara melengking yang memekakkan telinga. “Kamu jelas-jelas bilang ujian terakhir kemarin nggak diisi?! Kamu jelas-jelas bilang mau masuk kampus swasta bersama kami! Kok membohongiku?!”Melihat reaksinya yang terpuruk, aku hanya merasa puas luar biasa.“Kok aku nggak boleh membohongimu?” Aku menatapnya dengan dingin, “Hanya kalian berdua yang boleh membohongiku di atas ranjang hotel, sedangkan aku nggak boleh menyiapkan jalan pintas untuk diriku sendiri di ruang ujian?”Seketika, wajah Kirana menjadi pucat. Akhirnya dia sadar kalau aku sudah tahu semuanya sejak awal.Karena topengnya sudah dihancurkan, dia pun tak berpura-pura lagi.“Iya! Aku

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 6

    Di hari pembukaan sistem pengisian pilihan kampus, Kirana datang ke rumahku.Begitu masuk, dia langsung mau memegang tanganku, tapi aku buru-buru menghindar.“Liana, aku dengar kamu lagi kelahi dengan Eric?” Kirana menggigit bibir bawahnya, berakting dengan raut wajah yang penuh kehati-hatian.“Eric selalu mabuk-mabukkan di rumah beberapa hari ini, bahkan nggak mau isi pilihan kampus. Ada apa dengan kalian sebenarnya? Gara-gara aku ikut ke Nihi, makanya kamu jadi nggak senang?”Melihat gaya sok polosnya yang manipulatif ini, aku hanya bisa tertawa dingin dalam hati.Kirana mungkin belum tahu kalau sebenarnya aku sudah pernah ke hotel itu. Eric si pengecut itu jelas-jelas tak berani membocorkan kenyataan yang sebenarnya ke Kirana dan hanya bilang kalau kami berdua sedang berkelahi.“Nggak ada, aku hanya sudah bosan saja.” Aku berjalan ke meja komputer dan duduk, nada bicaraku terdengar datar, “Untuk apa kamu datang mencariku?”Melihat sikapku yang dingin, ada kilatan tajam di dasar mata

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 5

    Senyuman percaya diri dan santai di wajah Eric seolah-olah terpaksa berhenti, lalu perlahan-lahan retak berantakan.Bunga mawar merah di tangannya bergetar hebat, membuat beberapa helai mahkotanya gugur dan jatuh melayang ke lantai… terlihat seperti ejekan yang penuh sindiran.“Kamu… kamu bilang apa, sih? Liana, kamu dengar gosip dari orang-orang lagi?” Eric masih berusaha mengelak, tapi sorot matanya yang panik bergerak liar, sama sekali tak berani menatapku secara langsung.Melihat sosoknya yang luar biasa munafik ini, tiba-tiba rasa jijik menyebar di dalam hatiku.“Perlu keingat-ingat kembali detailnya padamu?” Aku melangkah mundur satu langkah untuk menjauhkan jarak dengannya, lalu melanjutkan dengan dingin, “Hanya dia yang bisa menjadi istriku, aku nggak bisa tanpa dia. Tapi, hanya kamu yang bisa memuaskan tubuhku. Dia terlalu polos, kaku seperti kayu…”“Eric, waktu kamu lagi menilaiku di atas ranjang murahan itu, pernah nggak kamu memikirkan hubungan kita selama 18 tahun ini?”Se

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 4

    “Gimana sih kamu ini!” Eric menegur Kirana lagi, lalu menoleh dan menatapku dengan raut wajah serba salah.“Liana, sebentar lagi sudah harus lewat pemeriksaan keamanan. Kalau dibatalin sekarang sangat rugi.”Dia menghela napas, lalu mengulurkan tangan mau menarik koperku, “Gini saja, coba kamu cek penerbangan ke Nihi berikutnya, langsung pesan biar bisa menyusul kami.”“Aku dan Kirana pergi duluan, nanti kami ke hotel untuk pesan dua kamar duluan sambil menunggumu, bagaimana?”Melihat ekspresinya, tiba-tiba aku merasa ini benar-benar tak masuk akal, sampai-sampai rasa marah pun sudah tak ada sama sekali.“Nggak perlu.” Aku menghindari tangannya yang ingin menarik koperku, lalu menjawab dua kata singkat itu.Eric terdiam sejenak, lalu bertanya, “Apanya yang nggak perlu?”Dari pengeras suara bandara, terdengar panggilan boarding yang mendesak.Eric mulai agak panik. Dia menoleh ke arah pintu boarding, lalu menatapku lagi, “Liana, jangan marah. Sayang, burusan pesan tiket penerbangan beri

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status