Share

Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku
Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku
Author: Jul

Bab 1

Author: Jul
Pengawas ujian masuk dan menyuruh semua orang mengumpulkan ponsel masing-masing.

Aku mematikan ponselku seperti robot, lalu memasukkannya ke dalam kantong penyimpanan di meja depan.

Begitu kembali ke tempat duduk, lembar soal ujian pun dibagikan.

Tulisan hitam di atas kertas putih terlihat begitu padat, tapi isi kepalaku hanya dipenuhi oleh pesan-pesan singkat tadi.

Momen dua malam lalu saat Eric memegang tanganku dengan tatapan penuh kasih masih terekam jelas di ingatan, “Liana, ujianku hari ini sangat kacau, pasti nggak bakal masuk universitas terbaik.”

“Ujian terakhir nanti, bisa nggak kamu mengumpulkan kertas kosong saja? Biar kita dan Kirana, sahabatmu sama-sama masuk kampus lokal di sini dan nggak berpisah selamanya.”

“Asalkan kamu mau tetap di sini untuk menemaniku kuliah di kampus lokal, aku janji bakal memperlakukan dirimu seorang dengan baik seumur hidupku.”

Saat itu, aku sangat tersentuh dan tanpa ragu langsung mengiyakannya.

Deminya, aku rela melepas universitas impian yang selama ini kudambakan.

Namun sekarang, pesan singkat itu malah memberitahuku kalau Eric sengaja mengacaukan ujiannya demi Kirana.

Kirana adalah sahabat terbaikku. Badannya mungil, kepribadiannya lemah lembut, tapi nilainya selalu berantakan.

Eric selalu bilang kalau Kirana itu bodoh dan kasihan, lalu menyuruhku untuk lebih sering memperhatikannya.

Mungkinkah… mereka berdua berselingkuh di belakangku…

“Ujian dimulai, harap perhatikan waktu kalian dengan baik,” ujar pengawas ujian dari atas panggung.

Aku tersadar kembali, lalu menunduk menatap lembar jawabanku.

Jika aku mengumpulkan kertas kosong, aku bakal menuruti kemauannya dan tetap tinggal di kampus lokal bersamanya.

Aku menggenggam erat pena di tanganku, menekan ujungnya dengan keras hingga membuat titik hitam di atas lembar jawaban.

Jika pesan singkat itu bohong dan ternyata nilaiku tinggi, paling-paling aku hanya perlu meminta maaf pada Eric.

Namun, bagaimana kalau itu benar? Haruskah aku merusak masa depanku dari hasil belajar mati-matianku selama 12 tahun hanya demi pria bajingan yang mengkhianatiku?

Tidak.

Aku menarik napas dalam-dalam. Mataku berkaca-kaca, tapi tanganku tak lagi gemetaran.

Aku mengerahkan seluruh kemampuanku. Ujung penaku bergeser cepat di atas kertas, menimbulkan suara gesekan yang halus.

Lembar jawaban yang tadinya mau kubiarkan kosong, kini kuisi penuh sampai tak tersisa.

Aku menjawab semua soal dengan sangat lancar tanpa menahan diri sedikitpun.

Bel tanda berakhirnya ujian terdengar di seluruh area sekolah.

Ujian nasional pun resmi berakhir.

Di luar ruang ujian, sorak-sorai membahana memecah suasana. Ada yang merobek buku pelajaran, ada pula yang saling berpelukan sambil menangis.

Aku mengambil kembali ponselku. Begitu dinyalakan, dua pesan whatsapp langsung masuk bersamaan.

Eric, [Sayang, bagaimana ujiannya? Kamu kumpulkan kertas kosong, ‘kan? Ibuku tiba-tiba datang menjemputku untuk pulang menjenguk nenek di kampung. Aku nggak bisa menemanimu dan Kirana malam ini. Maaf, ya! Kutemani lain hari!]

Tepat setelahnya, pesan dari Kirana juga masuk.

Kirana, [Liana, mensku datang tiba-tiba, perutku sakit sekali. Jadi, aku langsung pulang untuk istirahat. Padahal tadinya mau makan hotpot bersama malam ini, huhuhu… kalian berdua pacaran saja, nggak perlu pedulikan aku.]

Tanganku yang memegang ponsel semakin erat dan tiba-tiba sudah ada jawaban di dalam hatiku.

Jika bukan karena pesan singkat itu, aku mungkin bakal merasa kasihan dan memesankan wedang jahe hangat untuk Kirana, lalu dengan penuh perhatian mengingatkan Eric untuk hati-hati di jalan.

Aku menghindari kerumunan teman-teman yang sedang bersorak, berjalan keluar gerbang sekolah seorang diri, lalu berlari kencang menuju jalan belakang sekolah.

Angin berhembus kencang di telingaku. Jantungku berdegup begitu kencang seolah hampir melompat keluar dari dada.

Aku harus membuktikannya sendiri.

Koridor hotel murah itu tercium bau pengharum ruangan murahan. Karpet berkualitas rendah yang kuinjak terasa sangat empuk, membuat perasaanku semakin tak tenang.

Mengikuti informasi registrasi, aku berdiri di luar pintu kamar dengan dada yang bergerak naik turun hebat.

Terdengar suara dari dalam.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 9

    Waktu berlalu cepat, tujuh tahun pun lewat dalam sekejap.Menurut pesan dari nomor tak dikenal saat itu, seharusnya hari ini adalah malam pernikahanku dengan Eric, sekaligus hari di mana diriku menjadi bahan tertawaan seluruh Kota Jakut.Namun sekarang, aku berdiri di atas panggung penghargaan nasional, memegang piala penghargaan ilmuwan muda berprestasi tahun ini.Tepuk tangan meriah membahana di seluruh ruangan.Toni duduk tepat di tengah barisan paling depan. Dia mengenakan setelan jas rapi dan menatapku dengan tatapan yang bangga.Satu tahun yang lalu, kami resmi bertunangan dengan disaksikan oleh orang tua dari kedua belah pihak.Toni tak pernah mematahkan sayapku, melainkan menjadi angin yang menopangku untuk tebang ke langit yang lebih tinggi.Setelah acara penghargaan selesai, aku menerima sebuah foto tangkapan layar dari teman SMAku di ruang belakang panggung.Tangkapan layar itu berisi kabar tentang Eric dan Kirana.Waktu itu, mereka berdua sama-sama tak menyelesaikan kuliah.

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 8

    Yang membukakan pintu adalah ibuku.“Tante! Di mana Liana? Dia sakit? Makanya nggak pergi mendaftar ulang?” Eric bermandi keringat, sorot matanya tampak begitu cemas.Ibuku menatap dingin ke arah pria yang dulu pernah dia anggap seperti anak sendiri, matanya penuh dengan rasa kecewa dan jijik.“Kamu jangan mencari Liana lagi.” Nada suara ibuku tetap tenang, “Liana sudah terbang ke Kota Jakut tiga hari yang lalu. Hari ini adalah hari pertama masuk kuliah di Universitas Indonesia.”Eric seperti tersambar petir. Seluruh tubuhnya membeku di tempat, pikirannya tiba-tiba kosong.“Nggak mungkin...nggak mungkin...” Dia bergumam sendiri, “Dia sudah janji padaku, dia jelas-jelas sudah janji padaku...”“Janji apa padamu? Janji untuk merusak masa depannya sendiri? Untuk terus tetap tinggal di sini dan melihat kamu berselingkuh dengan wanita lain?”Ibuku menghancurkan semua kedoknya tanpa ampun, “Eric, mulai sekarang jangan pernah datang lagi ke rumah kami, kami merasa jijik.”Pintu rumah pun ditut

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 7

    Sore itu, Kirana menerobos masuk ke rumahku dengan mata berkaca-kaca.Tak ada lagi topeng polos dan tak berdaya yang biasa dia pakai. Dia terlihat seperti seekor anjing gila yang terdesak, menatap tajam ke arah surat penerimaan Universitas Indonesia berwarna merah menyala yang ada di atas mejaku.“Liana, kamu mempermainkanku?!” jerit Kirana dengan suara melengking yang memekakkan telinga. “Kamu jelas-jelas bilang ujian terakhir kemarin nggak diisi?! Kamu jelas-jelas bilang mau masuk kampus swasta bersama kami! Kok membohongiku?!”Melihat reaksinya yang terpuruk, aku hanya merasa puas luar biasa.“Kok aku nggak boleh membohongimu?” Aku menatapnya dengan dingin, “Hanya kalian berdua yang boleh membohongiku di atas ranjang hotel, sedangkan aku nggak boleh menyiapkan jalan pintas untuk diriku sendiri di ruang ujian?”Seketika, wajah Kirana menjadi pucat. Akhirnya dia sadar kalau aku sudah tahu semuanya sejak awal.Karena topengnya sudah dihancurkan, dia pun tak berpura-pura lagi.“Iya! Aku

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 6

    Di hari pembukaan sistem pengisian pilihan kampus, Kirana datang ke rumahku.Begitu masuk, dia langsung mau memegang tanganku, tapi aku buru-buru menghindar.“Liana, aku dengar kamu lagi kelahi dengan Eric?” Kirana menggigit bibir bawahnya, berakting dengan raut wajah yang penuh kehati-hatian.“Eric selalu mabuk-mabukkan di rumah beberapa hari ini, bahkan nggak mau isi pilihan kampus. Ada apa dengan kalian sebenarnya? Gara-gara aku ikut ke Nihi, makanya kamu jadi nggak senang?”Melihat gaya sok polosnya yang manipulatif ini, aku hanya bisa tertawa dingin dalam hati.Kirana mungkin belum tahu kalau sebenarnya aku sudah pernah ke hotel itu. Eric si pengecut itu jelas-jelas tak berani membocorkan kenyataan yang sebenarnya ke Kirana dan hanya bilang kalau kami berdua sedang berkelahi.“Nggak ada, aku hanya sudah bosan saja.” Aku berjalan ke meja komputer dan duduk, nada bicaraku terdengar datar, “Untuk apa kamu datang mencariku?”Melihat sikapku yang dingin, ada kilatan tajam di dasar mata

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 5

    Senyuman percaya diri dan santai di wajah Eric seolah-olah terpaksa berhenti, lalu perlahan-lahan retak berantakan.Bunga mawar merah di tangannya bergetar hebat, membuat beberapa helai mahkotanya gugur dan jatuh melayang ke lantai… terlihat seperti ejekan yang penuh sindiran.“Kamu… kamu bilang apa, sih? Liana, kamu dengar gosip dari orang-orang lagi?” Eric masih berusaha mengelak, tapi sorot matanya yang panik bergerak liar, sama sekali tak berani menatapku secara langsung.Melihat sosoknya yang luar biasa munafik ini, tiba-tiba rasa jijik menyebar di dalam hatiku.“Perlu keingat-ingat kembali detailnya padamu?” Aku melangkah mundur satu langkah untuk menjauhkan jarak dengannya, lalu melanjutkan dengan dingin, “Hanya dia yang bisa menjadi istriku, aku nggak bisa tanpa dia. Tapi, hanya kamu yang bisa memuaskan tubuhku. Dia terlalu polos, kaku seperti kayu…”“Eric, waktu kamu lagi menilaiku di atas ranjang murahan itu, pernah nggak kamu memikirkan hubungan kita selama 18 tahun ini?”Se

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 4

    “Gimana sih kamu ini!” Eric menegur Kirana lagi, lalu menoleh dan menatapku dengan raut wajah serba salah.“Liana, sebentar lagi sudah harus lewat pemeriksaan keamanan. Kalau dibatalin sekarang sangat rugi.”Dia menghela napas, lalu mengulurkan tangan mau menarik koperku, “Gini saja, coba kamu cek penerbangan ke Nihi berikutnya, langsung pesan biar bisa menyusul kami.”“Aku dan Kirana pergi duluan, nanti kami ke hotel untuk pesan dua kamar duluan sambil menunggumu, bagaimana?”Melihat ekspresinya, tiba-tiba aku merasa ini benar-benar tak masuk akal, sampai-sampai rasa marah pun sudah tak ada sama sekali.“Nggak perlu.” Aku menghindari tangannya yang ingin menarik koperku, lalu menjawab dua kata singkat itu.Eric terdiam sejenak, lalu bertanya, “Apanya yang nggak perlu?”Dari pengeras suara bandara, terdengar panggilan boarding yang mendesak.Eric mulai agak panik. Dia menoleh ke arah pintu boarding, lalu menatapku lagi, “Liana, jangan marah. Sayang, burusan pesan tiket penerbangan beri

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status