“Gimana sih kamu ini!” Eric menegur Kirana lagi, lalu menoleh dan menatapku dengan raut wajah serba salah.“Liana, sebentar lagi sudah harus lewat pemeriksaan keamanan. Kalau dibatalin sekarang sangat rugi.”Dia menghela napas, lalu mengulurkan tangan mau menarik koperku, “Gini saja, coba kamu cek penerbangan ke Nihi berikutnya, langsung pesan biar bisa menyusul kami.”“Aku dan Kirana pergi duluan, nanti kami ke hotel untuk pesan dua kamar duluan sambil menunggumu, bagaimana?”Melihat ekspresinya, tiba-tiba aku merasa ini benar-benar tak masuk akal, sampai-sampai rasa marah pun sudah tak ada sama sekali.“Nggak perlu.” Aku menghindari tangannya yang ingin menarik koperku, lalu menjawab dua kata singkat itu.Eric terdiam sejenak, lalu bertanya, “Apanya yang nggak perlu?”Dari pengeras suara bandara, terdengar panggilan boarding yang mendesak.Eric mulai agak panik. Dia menoleh ke arah pintu boarding, lalu menatapku lagi, “Liana, jangan marah. Sayang, burusan pesan tiket penerbangan beri
続きを読む