Share

Bab 3

Author: Jul
Melihat pesan yang tertera di layar, aku merasa dadaku sangat sesak.

Jika saja aku benar-benar bodoh sampai mengumpulkan kertas kosong dan tetap tinggal di sini untuk menemani mereka...

Maka aku bukan hanya kehilangan nilai yang membanggakan dan aura mentereng dari universitas terbaik, tapi juga bakal berubah jadi sapi perah dan batu loncatan di hubungan mereka.

Aku akan diperas habis-habisan, lalu di tengah-tengah sebuah pesta pernikahan yang jadi lelucon besar kemudian bakal menghabiskan sisa hidupku dengan tragis.

Sungguh mengerikan.

Di saat inilah, sikap tegarku yang palsu akhirnya runtuh.

Air mataku pun meledak tanpa suara.

Kenangan masa lalu berhamburan di kepala bagai ombak yang menerjang. Detail-detail kecil yang dulunya sengaja kuabaikan, kini berubah menjadi bilah pisau yang menusuk-nusuk hatiku.

Tatapan mata Eric setiap kali melihat Kirana padahal jelas-jelas begitu fokus dan reaksinya saat berhadapan dengan Kirana juga terasa sangat hidup.

Sedangkan aku seperti orang bodoh yang berkali-kali menyaksikan dan mengganggu mereka, hingga hari ini melihat mereka berdua telanjang dan berhubungan bersama.

Aku menyeka air mata, lalu bangkit berdiri.

Cukup… benar-benar sudah cukup.

Malam harinya, Eric meneleponku.

Suaranya terdengar agak lelah, “Sayang, aku baru sampai di kampung, hari ini capek sekali.”

“Oh iya, tadi kamu belum jawab pertanyaanku. Ujian terakhir tadi kamu benaran kumpul kertas kosong, ‘kan? Tenang saja, meski nilaimu rendah, kita tetap bisa masuk universitas yang sama kok.

Mendengar suaranya yang munafik, bayangan saat dia menindih Kirana di hotel tiba-tiba terngiang-ngiang di kepalaku, seketika membuatku mual.

Aku meresponnya dengan tenang, “Tentu saja nggak diisi, demi masa depan kita, aku nggak menyentuh kertas itu sama sekali.”

Setelah mematikan telepon, aku menatap diriku yang datar tanpa ekspresi di depan cermin dan tersenyum dingin.

Setengah bulan sebelum nilai ujian nasional keluar adalah masa-masa paling gembira buat para lulusan SMA.

Eric terus merayu dan memaksaku melalui whatsapp, menagih janji yang pernah kubuat untuk pergi liburan kelulusan bersama ke Nihi.

“Liana, kita bakal kuliah sebentar lagi. Ini liburan pertama kita setelah dewasa, lho.”

Suaranya di pesan suara terdengar lembut dan penuh harapan, “Aku sudah merencanakan semuanya, kita bakal melihat danau dan melintasi jalanan yang indah. Aku bakal foto kamu dengan sangat cantik.”

Rasa pahit menyebar di dalam dada, aku hanya membalas singkat, [Iya.]

Hubungan ini memang sudah saatnya diakhiri.

Di hari keberangkatan, aku menarik koper dan tiba tepat waktu di bandara.

Dari kejauhan, aku langsung melihat Eric dan Kirana yang berdiri di sampingnya memakai gaun tali yang bermotif bunga-bunga.

Melihatku berjalan mendekat, Kirana menyambutku dengan akrab dan secara alami merangkul lenganku, “Liana, akhirnya kamu datang juga! Eric bilang liburan kali ini akan seru kalai ramai-ramai, jadi dia sekalian mengajakku. Kamu nggak keberatan, ‘kan?”

Aku menarik kembali tanganku, lalu menatap mereka berdua tanpa ekspresi, “Nggak kok, cetak boarding pass dulu.”

Saat berjalan ke konter check in mandiri, Eric mengeluarkan KTPnya dan segera mencetak dua lembar boarding pass.

Satu punya dirinya dan satu punya Kirana.

Aku berdiri di samping sambil memperhatikan layar mesin yang menampilkan tulisan [data pemesanan tiket anda tak ditemukan], lalu menoleh menatap Eric.

“Di mana tiketku?” tanyaku tenang.

Eric mendadak menepuk pahanya keras-keras, lalu mengeluh sambil mengerutkan kening, “Kirana, bukannya dua hari lalu aku sudah menyuruhmu mengirim data KTP Liana ke agen tiket untuk dipesankan lagi? Kamu nggak mengirimnya?”

Kirana langsung berkacak pinggang dengan wajah yang seolah tak bersalah, “Wah, kamu keterlaluan! Kamu yang salah malah menyalahkanku?”

“Bukannya aku sudah bilang padamu, Liana selalu memesan kelas bisnis sendiri kalau berpergian? Aku takut kalau dipesankan kelas ekonomi, dia bakal nggak senang. Makanya aku nggak berani asal pesan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 9

    Waktu berlalu cepat, tujuh tahun pun lewat dalam sekejap.Menurut pesan dari nomor tak dikenal saat itu, seharusnya hari ini adalah malam pernikahanku dengan Eric, sekaligus hari di mana diriku menjadi bahan tertawaan seluruh Kota Jakut.Namun sekarang, aku berdiri di atas panggung penghargaan nasional, memegang piala penghargaan ilmuwan muda berprestasi tahun ini.Tepuk tangan meriah membahana di seluruh ruangan.Toni duduk tepat di tengah barisan paling depan. Dia mengenakan setelan jas rapi dan menatapku dengan tatapan yang bangga.Satu tahun yang lalu, kami resmi bertunangan dengan disaksikan oleh orang tua dari kedua belah pihak.Toni tak pernah mematahkan sayapku, melainkan menjadi angin yang menopangku untuk tebang ke langit yang lebih tinggi.Setelah acara penghargaan selesai, aku menerima sebuah foto tangkapan layar dari teman SMAku di ruang belakang panggung.Tangkapan layar itu berisi kabar tentang Eric dan Kirana.Waktu itu, mereka berdua sama-sama tak menyelesaikan kuliah.

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 8

    Yang membukakan pintu adalah ibuku.“Tante! Di mana Liana? Dia sakit? Makanya nggak pergi mendaftar ulang?” Eric bermandi keringat, sorot matanya tampak begitu cemas.Ibuku menatap dingin ke arah pria yang dulu pernah dia anggap seperti anak sendiri, matanya penuh dengan rasa kecewa dan jijik.“Kamu jangan mencari Liana lagi.” Nada suara ibuku tetap tenang, “Liana sudah terbang ke Kota Jakut tiga hari yang lalu. Hari ini adalah hari pertama masuk kuliah di Universitas Indonesia.”Eric seperti tersambar petir. Seluruh tubuhnya membeku di tempat, pikirannya tiba-tiba kosong.“Nggak mungkin...nggak mungkin...” Dia bergumam sendiri, “Dia sudah janji padaku, dia jelas-jelas sudah janji padaku...”“Janji apa padamu? Janji untuk merusak masa depannya sendiri? Untuk terus tetap tinggal di sini dan melihat kamu berselingkuh dengan wanita lain?”Ibuku menghancurkan semua kedoknya tanpa ampun, “Eric, mulai sekarang jangan pernah datang lagi ke rumah kami, kami merasa jijik.”Pintu rumah pun ditut

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 7

    Sore itu, Kirana menerobos masuk ke rumahku dengan mata berkaca-kaca.Tak ada lagi topeng polos dan tak berdaya yang biasa dia pakai. Dia terlihat seperti seekor anjing gila yang terdesak, menatap tajam ke arah surat penerimaan Universitas Indonesia berwarna merah menyala yang ada di atas mejaku.“Liana, kamu mempermainkanku?!” jerit Kirana dengan suara melengking yang memekakkan telinga. “Kamu jelas-jelas bilang ujian terakhir kemarin nggak diisi?! Kamu jelas-jelas bilang mau masuk kampus swasta bersama kami! Kok membohongiku?!”Melihat reaksinya yang terpuruk, aku hanya merasa puas luar biasa.“Kok aku nggak boleh membohongimu?” Aku menatapnya dengan dingin, “Hanya kalian berdua yang boleh membohongiku di atas ranjang hotel, sedangkan aku nggak boleh menyiapkan jalan pintas untuk diriku sendiri di ruang ujian?”Seketika, wajah Kirana menjadi pucat. Akhirnya dia sadar kalau aku sudah tahu semuanya sejak awal.Karena topengnya sudah dihancurkan, dia pun tak berpura-pura lagi.“Iya! Aku

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 6

    Di hari pembukaan sistem pengisian pilihan kampus, Kirana datang ke rumahku.Begitu masuk, dia langsung mau memegang tanganku, tapi aku buru-buru menghindar.“Liana, aku dengar kamu lagi kelahi dengan Eric?” Kirana menggigit bibir bawahnya, berakting dengan raut wajah yang penuh kehati-hatian.“Eric selalu mabuk-mabukkan di rumah beberapa hari ini, bahkan nggak mau isi pilihan kampus. Ada apa dengan kalian sebenarnya? Gara-gara aku ikut ke Nihi, makanya kamu jadi nggak senang?”Melihat gaya sok polosnya yang manipulatif ini, aku hanya bisa tertawa dingin dalam hati.Kirana mungkin belum tahu kalau sebenarnya aku sudah pernah ke hotel itu. Eric si pengecut itu jelas-jelas tak berani membocorkan kenyataan yang sebenarnya ke Kirana dan hanya bilang kalau kami berdua sedang berkelahi.“Nggak ada, aku hanya sudah bosan saja.” Aku berjalan ke meja komputer dan duduk, nada bicaraku terdengar datar, “Untuk apa kamu datang mencariku?”Melihat sikapku yang dingin, ada kilatan tajam di dasar mata

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 5

    Senyuman percaya diri dan santai di wajah Eric seolah-olah terpaksa berhenti, lalu perlahan-lahan retak berantakan.Bunga mawar merah di tangannya bergetar hebat, membuat beberapa helai mahkotanya gugur dan jatuh melayang ke lantai… terlihat seperti ejekan yang penuh sindiran.“Kamu… kamu bilang apa, sih? Liana, kamu dengar gosip dari orang-orang lagi?” Eric masih berusaha mengelak, tapi sorot matanya yang panik bergerak liar, sama sekali tak berani menatapku secara langsung.Melihat sosoknya yang luar biasa munafik ini, tiba-tiba rasa jijik menyebar di dalam hatiku.“Perlu keingat-ingat kembali detailnya padamu?” Aku melangkah mundur satu langkah untuk menjauhkan jarak dengannya, lalu melanjutkan dengan dingin, “Hanya dia yang bisa menjadi istriku, aku nggak bisa tanpa dia. Tapi, hanya kamu yang bisa memuaskan tubuhku. Dia terlalu polos, kaku seperti kayu…”“Eric, waktu kamu lagi menilaiku di atas ranjang murahan itu, pernah nggak kamu memikirkan hubungan kita selama 18 tahun ini?”Se

  • Pesan Rahasia Yang Menyelamatkanku   Bab 4

    “Gimana sih kamu ini!” Eric menegur Kirana lagi, lalu menoleh dan menatapku dengan raut wajah serba salah.“Liana, sebentar lagi sudah harus lewat pemeriksaan keamanan. Kalau dibatalin sekarang sangat rugi.”Dia menghela napas, lalu mengulurkan tangan mau menarik koperku, “Gini saja, coba kamu cek penerbangan ke Nihi berikutnya, langsung pesan biar bisa menyusul kami.”“Aku dan Kirana pergi duluan, nanti kami ke hotel untuk pesan dua kamar duluan sambil menunggumu, bagaimana?”Melihat ekspresinya, tiba-tiba aku merasa ini benar-benar tak masuk akal, sampai-sampai rasa marah pun sudah tak ada sama sekali.“Nggak perlu.” Aku menghindari tangannya yang ingin menarik koperku, lalu menjawab dua kata singkat itu.Eric terdiam sejenak, lalu bertanya, “Apanya yang nggak perlu?”Dari pengeras suara bandara, terdengar panggilan boarding yang mendesak.Eric mulai agak panik. Dia menoleh ke arah pintu boarding, lalu menatapku lagi, “Liana, jangan marah. Sayang, burusan pesan tiket penerbangan beri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status