Share

Bab 3

Author: Yunaza
"Bagus, bagus, anak muda yang punya semangat itu hal bagus. Ivy, perusahaan sangat menghargaimu, teruslah bekerja keras."

Ivy menjawab singkat beberapa kata, lalu menutup telepon. Setelah itu, dia menekan kontak lain dan panggilan segera diangkat.

"Ivy, kenapa tiba-tiba menelepon Ayah?"

Mendengar suara yang begitu familier, tenggorokan Ivy langsung tercekat.

Karena tak mendapat jawaban untuk waktu lama, ayahnya mulai bertanya dengan cemas beberapa kali.

Ivy akhirnya berusaha menenangkan suaranya, berpura-pura santai saat berkata, "Nggak apa-apa, cuma mau bilang aku naik jabatan. Tapi harus pindah ke Kota Selan. Ayah ikut aku ke sana ya."

Ayahnya menghela napas lega, lalu tersenyum. "Ayah sudah tua, nggak usah repot-repot deh. Di kota baru pasti banyak pengeluaran, kamu jaga diri baik-baik saja. Ayah juga entah bisa bertahan berapa lama lagi ...."

"Ayah!" Ivy memotongnya, "Masa paling sulit sudah kita lewati. Sekarang aku sudah bisa cari uang. Selama kita dapat donor ginjal yang cocok, Ayah pasti akan sembuh. Aku mau Ayah lihat aku nikah."

Ayahnya terdiam beberapa detik, lalu menghela napas. "Kapan pacarmu dibawa ke rumah supaya Ayah bisa lihat?"

Dia takut tidak sempat melihat putrinya menikah, takut putrinya memilih orang yang salah, tetapi dia tidak berani mengatakan apa pun. Karena putrinya sudah terlalu lelah demi dirinya.

Ivy tersenyum. "Ya sudah, akhir pekan ini aku bawa dia pulang untuk ketemu Ayah."

Ayahnya langsung menyetujui berkali-kali, suaranya bahkan dipenuhi kebahagiaan.

Setelah menutup telepon, Ivy langsung pergi ke kamar samping dan baru tertidur menjelang subuh.

Entah sudah berapa lama dia tidur, dalam keadaan setengah sadar, dia merasakan sesuatu yang lembap di dahinya.

Dia langsung terbangun. Saat membuka mata, yang terlihat adalah dagu dan jakun yang familier. Aroma sabun mandi yang samar memenuhi hidungnya.

Melihat dia sudah bangun, Theo justru menunduk, tertawa pelan sambil hendak mencium bibirnya. Ivy secara refleks memiringkan kepala menghindar.

Theo tertegun sesaat, lalu tersenyum menggoda. "Kenapa jadi malu, hm?"

Ivy mendorongnya sambil asal bicara, "Kamu lapar?"

Melihat dia mengalihkan topik, Theo tidak membongkarnya, hanya menopang kepala dengan satu tangan. Dia mengangkat alis dengan ekspresi penuh arti, lalu menjawab dengan santai, "Lapar."

Suaranya sedikit serak setelah mandi.

"Aku masak dulu." Sambil berkata begitu, Ivy buru-buru bangkit, ingin segera pergi dari tempat itu. Namun, pinggangnya langsung ditarik dan tubuhnya ditekan kembali ke tempat tidur.

"Makan kamu dulu."

Ivy belum sempat bicara, bibirnya sudah dibungkam. Napas panas menjalar dari bibirnya ke bawah, bergerak samar di lehernya.

Ivy menggigit bibirnya erat-erat. Tanpa sadar, dia mulai berpikir, apakah saat Theo bersama Gaia di ranjang juga seperti ini. Rasa mual yang tak bisa dijelaskan tiba-tiba naik.

Ivy tiba-tiba mendorongnya dan berlari ke kamar mandi, lalu muntah.

Di cermin, Theo menatapnya dengan ekspresi rumit. "Kapan terakhir kamu datang bulan?"

Napas Ivy tertahan. Dia menunduk mencuci wajah dengan air dingin, lalu menjawab, "Akhir-akhir ini perutku memang kurang nyaman."

Ekspresi tegang Theo tanpa sadar sedikit mengendur. "Kalau begitu, setelah makan aku temani kamu periksa."

Ivy mengangguk. Setelah ragu beberapa detik, dia akhirnya bertanya dengan hati-hati, "Sore ini kamu bisa ikut aku pulang? Aku ingin kamu ketemu ayahku."

Theo sedang bersandar di kusen pintu sambil melihat ponselnya. Dia menjawab asal, "Mm."

Tak disangka, dia menyetujuinya begitu cepat. Perasaan aneh pun muncul di hati Ivy. Entah itu tulus atau pura-pura, setidaknya untuk saat ini dia belum bisa mengungkapkan semuanya. Dia harus membuat ayahnya tenang.

Ivy pergi ke dapur. Saat dia membawa mi yang sudah dimasak keluar, Theo sudah berpakaian rapi dan berjalan ke arah pintu.

"Aku ada urusan mendadak. Kamu pergi sendiri ke rumah sakit. Kalau ada apa-apa, telepon aku."

"Kalau sore nanti ...."

"Kirim alamatnya ke ponselku."

Detik berikutnya, suara pintu tertutup memutus kata-kata Ivy yang belum sempat terucap. Dia tidak berkata apa-apa lagi. Setelah duduk dan makan mi beberapa suap, dia sudah merasa kenyang.

Ivy mendorong mangkuk di depannya, lalu pergi ke apotek di bawah untuk membeli tespek. Saat dua garis merah muncul, wajah Ivy langsung menjadi pucat pasi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 27

    "Bu Ivy, Pak Rico datang ke perusahaan, bersikeras ingin bertemu denganmu."Gerakan Ivy terhenti, dia mengangkat kepala dari tumpukan dokumen. Belum sempat membuka mulut, pintu kantor sudah didorong keras dari luar.Asisten yang hendak menghalangi langsung dihentikan olehnya. "Kamu turun saja dulu.""Baik."Ivy secara pribadi menuangkan segelas air untuk Rico, tetapi detik berikutnya, air itu langsung disiramkan ke wajahnya.Seolah-olah belum puas, sebuah tamparan keras langsung menyusul. Rasa amis darah langsung memenuhi mulutnya."Perempuan jalang!" Pria itu menunjuk hidungnya sambil memaki, "Siapa yang memberimu keberanian untuk mengakuisisi saham Grup Gunarso?!""Grup Gunarso sudah lama cuma jadi cangkang kosong. Daripada jatuh ke orang luar, dikasih ke siapa pun sama saja." Ivy mengambil beberapa lembar tisu, perlahan mengelap air di wajahnya."Lagi pula, sepertinya Pak Rico belum paham situasi. Sekarang sudah nggak ada lagi Grup Gunarso. Kalau aku mau, kapan saja bisa ganti naman

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 26

    Gaia tiba-tiba terduduk di lantai. Dia memandang Ivy seperti melihat hantu yang datang menagih nyawa.Begitu kabar bahwa pendiri Sunrise sekaligus pewaris masa depan Keluarga Abraham akan menikah dengan putri sulung Keluarga Gunarso tersebar, hampir seluruh kalangan atas terguncang.Semua orang tahu Keluarga Gunarso beberapa tahun terakhir terus merosot dan putri sulungnya bahkan baru saja membuat skandal di pernikahan hingga diusir oleh Keluarga Pramono.Tak ada yang mengerti kenapa Roman yang punya segalanya, baik itu nama, kekuasaan, ataupun bakat luar biasa, justru memilih wanita dengan reputasi buruk sebagai pasangan pernikahan.Bahkan Theo pun merasa bingung. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya direncanakan Roman.Sebelum Theo sempat bereaksi, tiba-tiba lagu "Wedding March" terdengar. Dia refleks mendongak, melihat pintu aula terbuka.Seorang wanita dengan gaun pengantin putih berjalan perlahan ke atas panggung. Begitu melihat wajah wanita itu, kepala Theo seperti meledak.Seg

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 25

    Tanpa memberi tahu siapa pun, Ivy langsung mengurus prosedur keluar dari rumah sakit. Dia pulang, menutup tirai, lalu menjatuhkan diri di sofa dan tertidur lelap.Entah sudah berapa lama dia tidur, suara ketukan pintu yang samar terdengar di telinganya. Dalam kondisi setengah sadar, dia tidak bisa bangun, jadi kembali tenggelam dalam tidur.Saat bangun lagi, ruangan sudah gelap. Hanya ada cahaya biru redup dari laptop di sofa tunggal di samping.Roman sedikit menunduk, menatap layar dengan fokus. Sepertinya dia sedang bekerja. Cahaya layar menyinari rambutnya, membuat seluruh dirinya tampak begitu lembut."Lapar?" Suara rendah pria itu menarik kesadaran Ivy kembali.Tatapan mereka bertemu, Ivy bertanya, "Gimana kamu bisa masuk?"Roman sedikit mengangkat kacamata berbingkai emas di pangkal hidungnya. "Maaf, aku khawatir, jadi langsung menyuruh orang buka kunci. Kalau kamu keberatan, aku bisa langsung pergi."Sambil berkata begitu, dia berdiri dari sofa. Saat melewati depan Ivy, tiba-tib

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 24

    Ayah Ivy tergeletak di lantai."Ayah!" Ivy langsung berlari mendekat, ujung jarinya gemetar saat memeriksa napasnya. Untungnya masih ada napas.Dalam kepanikan, dia tanpa sadar menekan nomor yang sudah sangat dia hafal. Nada dering bahkan belum sempat berbunyi dua kali, sudah diangkat."Roman, tolong aku!"Mobil melaju kencang, menerobos beberapa lampu merah. Setelah ayahnya dibawa ke ICU, tubuh Ivy baru terasa lemas. Sepasang tangan yang kuat langsung menopang pinggangnya."Aku di sini, jangan takut. Paman akan baik-baik saja."Ivy tidak menjawab, hanya menunduk dengan mata memerah.Entah berapa lama, pintu ICU akhirnya terbuka lagi. Ivy langsung menghampiri, menatap dokter dengan penuh harap. Dokter menghela napas pelan, lalu menggeleng."Pasien mengalami serangan jantung akut dan melewatkan waktu terbaik untuk penanganan ...."Telinganya langsung berdengung. Ivy merasa pusing, tubuhnya lemas. Dia tidak lagi bisa mendengar apa pun dengan jelas. Air matanya jatuh tanpa henti.Hati Rom

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 23

    "Theo, sekarang kamu pakai status apa untuk mengaturku?" Ivy mencibir dingin. "Mantan pacar tanpa status atau adik Kelly?"Mendengar itu, senyuman di sudut bibir Theo langsung meredup. Tangan yang berada di bahunya tanpa sadar mengendur.Ivy mengambil kantong dari tangan Roman, mengucapkan terima kasih dengan tenang, lalu berjalan menuju Bentley hitam yang terparkir tak jauh."Ivy, Keluarga Abraham nggak akan menerimamu. Nyonya Abraham nggak mungkin punya latar belakang sepertimu."Langkahnya sempat terhenti, tetapi Ivy seolah-olah tidak mendengar dan langsung masuk ke mobil.Saat mobil sudah melaju agak jauh, dia baru melirik lewat kaca spion. Theo masih berdiri di tempat dengan kepala tertunduk. Cahaya lampu yang redup memanjangkan bayangannya, membuatnya tampak sedikit kesepian.Hanya sekilas, Ivy sudah menarik kembali pandangannya dengan tenang. Roman menoleh padanya dan berkata dengan lembut, "Nggak perlu pikirkan omongannya."Ivy tersenyum mengejek dirinya sendiri, lalu berkata d

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 22

    Ivy sudah siap. Dia langsung menendang perut Gaia dari belakang hingga membuatnya membungkuk kesakitan."Kalian semua lihat baik-baik ya, ini pembelaan diri." Setelah itu, dia mendekat dan berbisik di telinga Gaia, "Katanya aku wanita kasar, 'kan? Ya sudah, aku selesaikan dengan cara wanita kasar.""Kalian suka memutarbalikkan fakta dan pura-pura nggak bersalah? Ya sudah, kalian pura-pura saja sampai puas."Sejak kecil, Ivy sering membantu ayahnya bekerja, jadi tenaganya tidak kecil. Menghadapi dua wanita manja seperti mereka bukan masalah besar. Satu lawan dua, tetapi dia sama sekali tidak kalah.Saat petugas keamanan datang, Ivy sedang mencengkeram rambut Gaia dengan tangan kiri, sementara kaki kanannya menginjak punggung Joy. Riasan mereka berantakan, wajah penuh air mata dan ingus.Gaia menutupi wajahnya sambil menangis. "Aku sudah tahu dari dulu kamu cuma pura-pura! Kamu pikir Theo dan Roman masih akan menginginkanmu setelah melihat wajah aslimu?!"Joy yang tergeletak di lantai be

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 10

    Seolah-olah sudah menduga dia akan menolak, Theo tidak menunjukkan reaksi berarti terhadap sikapnya.Dia mematikan rokok di ujung jarinya, lalu saat kembali menatap ke arah kamar di lantai tujuh, tatapannya menjadi suram."Ivy, kamu cabut laporan secara sukarela atau aku cari cara supaya kamu mencab

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 9

    Setelah menutup telepon, Ivy mematikan ponselnya, lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur dan tertidur dalam keadaan setengah sadar.Sampai suara bel membangunkannya, dia baru sadar hari sudah gelap. Dengan kepala yang masih berat, Ivy berjalan membuka pintu.Baru saja terbuka sedikit, pintu tiba-tiba

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 8

    Begitu kata-kata itu terlontar, Theo seolah-olah tersadar dari mimpi, lalu langsung melepaskan tangannya.Ivy mengusap pergelangan tangannya, lalu berbalik dan pergi tanpa ragu sedikit pun."Kenapa? Sudah benar-benar jatuh cinta ya? Kalau begitu, perlu aku restui kalian? Soal anak, kamu juga nggak p

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 7

    Saat kesadarannya kembali, Ivy membuka kelopak matanya yang terasa berat dengan susah payah.Ruang rawat itu kosong dan sunyi, begitu sunyi sampai Ivy bisa mendengar suara Kelly berbicara di koridor."Sepertinya Ivy sebentar lagi bangun, kamu nggak mau masuk dan lihat?""Nggak perlu, jangan bilang k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status