Share

Bab 4

Author: Yunaza
Saat tersadar kembali, barulah dia menyadari ponselnya sedang berdering. Dia meletakkan tespek begitu saja di atas toilet, lalu bangkit dan mengangkat telepon.

"Ayah?"

"Ivy, pagi-pagi Ayah sudah ke pasar beli banyak bahan makanan. Kalian langsung datang saja, nggak usah beli apa-apa lagi."

Ivy mengernyit. "Bukannya sudah dibilang tunggu aku pulang saja yang masak? Kemarin Ayah baru selesai cuci darah, harusnya istirahat yang baik."

Ayahnya tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. "Ini pertama kali calon menantu datang ke rumah, tentu harus disambut dengan baik. Lagi pula, Ayah senang."

Ivy tidak berbicara panjang lebar lagi, hanya buru-buru berkata, "Kalau begitu, tunggu aku pulang, kita masak bareng." Kemudian, dia menutup telepon.

Ayah dan anak itu sibuk sepanjang sore, menyiapkan satu meja penuh makanan. Namun, sampai makanan menjadi dingin, Theo tetap tidak datang. Pesan yang dikirim Ivy di tengah-tengah juga semuanya tidak mendapat balasan.

Melihat wajah ayahnya yang masam, Ivy mencoba mencairkan suasana dengan canggung, lalu pergi ke balkon dan kembali menelepon Theo.

Kali ini, nada sambung berbunyi sampai akhir sebelum akhirnya diangkat. Ivy langsung bertanya, "Kamu sudah berangkat? Ayahku sudah nunggu lama."

Mendengar itu, orang di seberang seolah-olah baru teringat sesuatu. "Maaf, pelatihan di perusahaan terlalu sibuk, jadi lupa waktu ...."

Tiba-tiba, suara gaduh dari telepon memotong perkataan Theo, "Apa sih? Ayahnya yang sakit-sakitan itu cuma sakit, bukan mati. Memangnya harus banget makan bareng?"

Begitu kata-kata itu selesai, terdengar gelak tawa dari seberang. Seseorang bercanda, "Gaia cemburu ya?"

"Siapa yang cemburu?"

"Memang kamu yang paling keras kepala. Silakan saja terus begitu, Kak Theo pasti tahan kok. Haha."

....

Suara tawa dan obrolan perlahan menjauh. Theo menutup mikrofon dengan satu tangan, lalu berjalan ke balkon.

Dia bersandar di pagar, mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya. Suaranya serak saat berkata, "Ivy, aku baru masuk perusahaan, nggak enak kalau menyalahgunakan hak istimewa. Atasan nggak kasih izin pergi. Lain hari aku baru datang dan minta maaf ke Paman ya?"

Atasan? Ivy tak bisa menahan senyuman dingin. Gaia juga termasuk atasannya, 'kan? Bagaimanapun, dia anjing paling setia di sisi Gaia.

Tanpa sadar, Ivy menggenggam ponsel lebih erat. Saat dia hendak berbicara, dari telepon terdengar suara seseorang memanggil dari jauh. "Theo, sudah belum? Giliranmu main kartu."

Sudut bibir Ivy terangkat membentuk senyuman sinis. "Baiklah."

Theo mematikan rokoknya, nadanya kembali ringan dengan sedikit senyuman, "Memang kamu yang paling pengertian. Nanti malam aku akan menebusnya dengan baik."

Setelah menutup telepon, Ivy kembali ke meja makan dan berpura-pura santai. "Ayah, dia ada urusan mendadak di kantor, nggak bisa datang. Kita makan saja ya, aku panaskan lagi makanannya ...."

Ayahnya menepuk tangan Ivy, memberi isyarat agar dia duduk. "Ivy, Ayah memang berharap bisa melihatmu menikah selama Ayah masih hidup. Tapi Ayah nggak ingin kamu maksain diri demi menenangkan Ayah. Kalau pernikahan bukan berdasarkan kebahagiaan, Ayah lebih milih kamu nggak nikah."

"Anakku, kapan pun itu, kamu selalu punya kesempatan untuk memulai kembali."

Hidung Ivy terasa perih. Dia menunduk, tidak ingin ayahnya melihat matanya yang memerah. Beberapa saat kemudian, dia mengangkat kepala dan tersenyum. "Aku tahu kok. Jarang-jarang Ayah bicara begitu, jadi agak geli dengarnya."

Ayahnya tahu Ivy adalah orang yang keras kepala. Apa pun selalu ditanggung sendiri dan tidak suka menunjukkan kelemahan di depan orang lain. Jadi, dia tidak membongkarnya, hanya tertawa sambil mengalihkan pembicaraan.

Tak lama kemudian, mereka selesai makan. Ivy membereskan piring, lalu menemani ayahnya mengobrol sebentar. Sebelum pergi, ayahnya menyerahkan beberapa kotak makanan ke tangan Ivy. Ivy tahu, semuanya adalah makanan favoritnya.

Setelah pulang, Ivy meletakkan kantong makanan di atas meja makan, lalu naik untuk membereskan barang-barangnya. Saat dia turun dengan koper di tangan, entah sejak kapan Theo sudah pulang. Pria itu sedang membawa segelas air keluar dari dapur.

Saat mata mereka bertemu, Theo mengangkat alis dengan santai. Kemudian, pandangannya jatuh ke koper yang Ivy pegang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 27

    "Bu Ivy, Pak Rico datang ke perusahaan, bersikeras ingin bertemu denganmu."Gerakan Ivy terhenti, dia mengangkat kepala dari tumpukan dokumen. Belum sempat membuka mulut, pintu kantor sudah didorong keras dari luar.Asisten yang hendak menghalangi langsung dihentikan olehnya. "Kamu turun saja dulu.""Baik."Ivy secara pribadi menuangkan segelas air untuk Rico, tetapi detik berikutnya, air itu langsung disiramkan ke wajahnya.Seolah-olah belum puas, sebuah tamparan keras langsung menyusul. Rasa amis darah langsung memenuhi mulutnya."Perempuan jalang!" Pria itu menunjuk hidungnya sambil memaki, "Siapa yang memberimu keberanian untuk mengakuisisi saham Grup Gunarso?!""Grup Gunarso sudah lama cuma jadi cangkang kosong. Daripada jatuh ke orang luar, dikasih ke siapa pun sama saja." Ivy mengambil beberapa lembar tisu, perlahan mengelap air di wajahnya."Lagi pula, sepertinya Pak Rico belum paham situasi. Sekarang sudah nggak ada lagi Grup Gunarso. Kalau aku mau, kapan saja bisa ganti naman

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 26

    Gaia tiba-tiba terduduk di lantai. Dia memandang Ivy seperti melihat hantu yang datang menagih nyawa.Begitu kabar bahwa pendiri Sunrise sekaligus pewaris masa depan Keluarga Abraham akan menikah dengan putri sulung Keluarga Gunarso tersebar, hampir seluruh kalangan atas terguncang.Semua orang tahu Keluarga Gunarso beberapa tahun terakhir terus merosot dan putri sulungnya bahkan baru saja membuat skandal di pernikahan hingga diusir oleh Keluarga Pramono.Tak ada yang mengerti kenapa Roman yang punya segalanya, baik itu nama, kekuasaan, ataupun bakat luar biasa, justru memilih wanita dengan reputasi buruk sebagai pasangan pernikahan.Bahkan Theo pun merasa bingung. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya direncanakan Roman.Sebelum Theo sempat bereaksi, tiba-tiba lagu "Wedding March" terdengar. Dia refleks mendongak, melihat pintu aula terbuka.Seorang wanita dengan gaun pengantin putih berjalan perlahan ke atas panggung. Begitu melihat wajah wanita itu, kepala Theo seperti meledak.Seg

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 25

    Tanpa memberi tahu siapa pun, Ivy langsung mengurus prosedur keluar dari rumah sakit. Dia pulang, menutup tirai, lalu menjatuhkan diri di sofa dan tertidur lelap.Entah sudah berapa lama dia tidur, suara ketukan pintu yang samar terdengar di telinganya. Dalam kondisi setengah sadar, dia tidak bisa bangun, jadi kembali tenggelam dalam tidur.Saat bangun lagi, ruangan sudah gelap. Hanya ada cahaya biru redup dari laptop di sofa tunggal di samping.Roman sedikit menunduk, menatap layar dengan fokus. Sepertinya dia sedang bekerja. Cahaya layar menyinari rambutnya, membuat seluruh dirinya tampak begitu lembut."Lapar?" Suara rendah pria itu menarik kesadaran Ivy kembali.Tatapan mereka bertemu, Ivy bertanya, "Gimana kamu bisa masuk?"Roman sedikit mengangkat kacamata berbingkai emas di pangkal hidungnya. "Maaf, aku khawatir, jadi langsung menyuruh orang buka kunci. Kalau kamu keberatan, aku bisa langsung pergi."Sambil berkata begitu, dia berdiri dari sofa. Saat melewati depan Ivy, tiba-tib

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 24

    Ayah Ivy tergeletak di lantai."Ayah!" Ivy langsung berlari mendekat, ujung jarinya gemetar saat memeriksa napasnya. Untungnya masih ada napas.Dalam kepanikan, dia tanpa sadar menekan nomor yang sudah sangat dia hafal. Nada dering bahkan belum sempat berbunyi dua kali, sudah diangkat."Roman, tolong aku!"Mobil melaju kencang, menerobos beberapa lampu merah. Setelah ayahnya dibawa ke ICU, tubuh Ivy baru terasa lemas. Sepasang tangan yang kuat langsung menopang pinggangnya."Aku di sini, jangan takut. Paman akan baik-baik saja."Ivy tidak menjawab, hanya menunduk dengan mata memerah.Entah berapa lama, pintu ICU akhirnya terbuka lagi. Ivy langsung menghampiri, menatap dokter dengan penuh harap. Dokter menghela napas pelan, lalu menggeleng."Pasien mengalami serangan jantung akut dan melewatkan waktu terbaik untuk penanganan ...."Telinganya langsung berdengung. Ivy merasa pusing, tubuhnya lemas. Dia tidak lagi bisa mendengar apa pun dengan jelas. Air matanya jatuh tanpa henti.Hati Rom

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 23

    "Theo, sekarang kamu pakai status apa untuk mengaturku?" Ivy mencibir dingin. "Mantan pacar tanpa status atau adik Kelly?"Mendengar itu, senyuman di sudut bibir Theo langsung meredup. Tangan yang berada di bahunya tanpa sadar mengendur.Ivy mengambil kantong dari tangan Roman, mengucapkan terima kasih dengan tenang, lalu berjalan menuju Bentley hitam yang terparkir tak jauh."Ivy, Keluarga Abraham nggak akan menerimamu. Nyonya Abraham nggak mungkin punya latar belakang sepertimu."Langkahnya sempat terhenti, tetapi Ivy seolah-olah tidak mendengar dan langsung masuk ke mobil.Saat mobil sudah melaju agak jauh, dia baru melirik lewat kaca spion. Theo masih berdiri di tempat dengan kepala tertunduk. Cahaya lampu yang redup memanjangkan bayangannya, membuatnya tampak sedikit kesepian.Hanya sekilas, Ivy sudah menarik kembali pandangannya dengan tenang. Roman menoleh padanya dan berkata dengan lembut, "Nggak perlu pikirkan omongannya."Ivy tersenyum mengejek dirinya sendiri, lalu berkata d

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 22

    Ivy sudah siap. Dia langsung menendang perut Gaia dari belakang hingga membuatnya membungkuk kesakitan."Kalian semua lihat baik-baik ya, ini pembelaan diri." Setelah itu, dia mendekat dan berbisik di telinga Gaia, "Katanya aku wanita kasar, 'kan? Ya sudah, aku selesaikan dengan cara wanita kasar.""Kalian suka memutarbalikkan fakta dan pura-pura nggak bersalah? Ya sudah, kalian pura-pura saja sampai puas."Sejak kecil, Ivy sering membantu ayahnya bekerja, jadi tenaganya tidak kecil. Menghadapi dua wanita manja seperti mereka bukan masalah besar. Satu lawan dua, tetapi dia sama sekali tidak kalah.Saat petugas keamanan datang, Ivy sedang mencengkeram rambut Gaia dengan tangan kiri, sementara kaki kanannya menginjak punggung Joy. Riasan mereka berantakan, wajah penuh air mata dan ingus.Gaia menutupi wajahnya sambil menangis. "Aku sudah tahu dari dulu kamu cuma pura-pura! Kamu pikir Theo dan Roman masih akan menginginkanmu setelah melihat wajah aslimu?!"Joy yang tergeletak di lantai be

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 10

    Seolah-olah sudah menduga dia akan menolak, Theo tidak menunjukkan reaksi berarti terhadap sikapnya.Dia mematikan rokok di ujung jarinya, lalu saat kembali menatap ke arah kamar di lantai tujuh, tatapannya menjadi suram."Ivy, kamu cabut laporan secara sukarela atau aku cari cara supaya kamu mencab

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 9

    Setelah menutup telepon, Ivy mematikan ponselnya, lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur dan tertidur dalam keadaan setengah sadar.Sampai suara bel membangunkannya, dia baru sadar hari sudah gelap. Dengan kepala yang masih berat, Ivy berjalan membuka pintu.Baru saja terbuka sedikit, pintu tiba-tiba

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 8

    Begitu kata-kata itu terlontar, Theo seolah-olah tersadar dari mimpi, lalu langsung melepaskan tangannya.Ivy mengusap pergelangan tangannya, lalu berbalik dan pergi tanpa ragu sedikit pun."Kenapa? Sudah benar-benar jatuh cinta ya? Kalau begitu, perlu aku restui kalian? Soal anak, kamu juga nggak p

  • Pesona Adik Sahabatku: Aku Bukan Cintanya   Bab 7

    Saat kesadarannya kembali, Ivy membuka kelopak matanya yang terasa berat dengan susah payah.Ruang rawat itu kosong dan sunyi, begitu sunyi sampai Ivy bisa mendengar suara Kelly berbicara di koridor."Sepertinya Ivy sebentar lagi bangun, kamu nggak mau masuk dan lihat?""Nggak perlu, jangan bilang k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status