Home / Romansa / Pesona Ayah Tiri / Perdebatan Sengit

Share

Perdebatan Sengit

Author: Erumanstory
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-22 15:13:28

Mobil sedan mewah yang dikemudikan oleh sopir pribadi Bramantyo masuk ke basement gedung apartemen dengan mulus. Di dalam kabin belakang, suasana terasa sangat sunyi. Mentari duduk di sudut jok, masih mengenakan jas hitam besar milik Bramantyo untuk menutupi gaun pelayannya yang terbuka. Ia menunduk dalam-dalam, meremas jemarinya sendiri karena rasa gugup dan takut.

Setibanya di penthouse, pintu lift pribadi terbuka langsung ke ruang tengah yang luas dan megah.

Langkah kaki Bramantyo dan Mentari baru saja melangkah masuk ketika suara decakan sinis menyambut mereka dari arah sofa ruang tamu.

"Wah, wah. Kemarin gak terima dibilang anak wanita murahan, tapi penampilannya malah kayak kupu-kupu malam. Sok polos," sindir Natasha. Gadis itu berdiri di dekat sofa, melipat tangan di dada dengan senyum meremehkan.

"Papa dari mana sama cewek ini? Kenapa dia dibawa ke rumah kita lagi? Jangan bilang dia habis lelang tubuhnya dan malah ketemu papa," ucap Natasha dengan nada meremehkan, menunjuk ke arah Mentari.

Bramantyo menatap putrinya dengan tatapan tajam dan dingin. Wajah pria itu mengeras, menunjukkan kemarahan yang belum sepenuhnya reda sejak di klub malam tadi.

"Natasha, jaga bicara kamu!" bentak Bramantyo, suaranya yang berat menggema di seluruh ruangan.

Natasha tersentak kaget. Selama ini, ayahnya tidak pernah membentaknya di depan orang lain, apalagi demi Mentari. "Kenapa Papa malah membentak aku?! Jelas-jelas cewek murahan pembawa sial ini yang sengaja cari perhatian sama Papa!"

"Cukup, Natasha. Mulai hari ini, Mentari akan tinggal kembali di penthouse ini," potong Bramantyo tanpa memberi ruang bantahan. "Dia tidak akan tinggal terpisah dari kita lagi, dan tidak boleh ada protes dari kamu."

Mata Natasha membelalak lebar. Wajahnya memerah karena emosi yang meluap-luap. "Apa?! Tinggal di sini?! Papa sudah gila, ya?! Rumah ini rumah kita! Kenapa anak pelakor ini harus tinggal di sini sama kita?!"

Brak!

Bramantyo membanting kunci mobilnya ke atas meja marmer dengan keras, membuat Natasha langsung terdiam ketakutan.

"Jangan pernah panggil dia seperti itu lagi!" suara Bramantyo berubah menjadi geraman tertahan yang penuh ancaman. "Kalau kamu berani membuat masalah lagi dengan Mentari, atau mencoba menyakitinya seperti di kampus kemarin, Papa akan potong uang saku kamu, tarik semua fasilitas kartu kreditmu, dan sita mobilmu. Paham?"

Natasha menggigit bibir bawahnya, air mata kekesalan dan rasa terhina mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia menatap Mentari dengan pandangan penuh kebencian yang mendalam, seolah ingin menguliti gadis itu hidup-hidup.

Mentari yang berdiri di belakang Bramantyo merasa sangat tidak enak. Ia menarik pelan ujung jas Bramantyo, lalu berbisik gugup, "Pak Bramantyo... jangan marahi Natasha seperti itu. Benar kata Natasha, saya lebih baik pulang saja ke kontrakan..."

Bramantyo menoleh, menatap Mentari dengan tatapan yang langsung melunak. "Kamu harus tinggal di sini, Mentari. Keputusan saya sudah bulat. Kamu tidak aman tinggal sendirian di luar."

Bramantyo kemudian mengalihkan pandangannya ke Natasha. "Mentari, masuk ke kamar tamu di lantai atas sekarang. Istirahat."

Mentari mengangguk pelan. Dengan langkah ragu, ia berjalan melewati Natasha yang menatapnya tajam. Mentari naik ke lantai atas, meninggalkan ayah dan anak itu di ruang tengah.

Di kamar, Mentari masih samar-samar mendengar suara tegas Bramantyo menegur Natasha yang keras kepala membantahnya.

Mentari merasa bersalah. Ia takut telah mengusik ketenangan keluarga itu dengan ikut tinggal di sini.

Keesokan paginya adalah hari libur. Mentari tidak berangkat ke kampus. Suasana penthouse besar ini tenang, tapi Mentari masih merasakan sisa-sisa ketegangan dari semalam.

Mentari bangun pagi-pagi. Setelah mandi dan mengenakan pakaian kasual miliknya yang tersisa di sana, ia turun ke lantai bawah. Mentari merasa ia tidak bisa diam saja. Ia akan menunjukkan rasa terima kasihnya dengan membantu pekerjaan rumah.

Di ruang makan, Bramantyo sudah duduk rapi mengenakan kemeja kerjanya, bersiap untuk berangkat ke kantor.

"Kamu sudah bangun?" sapa Bramantyo.

"Pagi, Pak," jawab Mentari sopan.

Meja makan sudah lengkap dengan hidangan sarapan. Ada asisten rumah tangga yang datang memenuhi urusan rumah setiap hari. Mentari menengok-nengok ke kiri dan ke kanan, mencari sesuatu yang bisa ia kerjakan.

"Duduk. Makan," tegur Bramantyo dengan suara dalamnya. Mentari kaku sejenak, sebelum menuruti perintahnya.

Tak lama kemudian, Natasha berjalan menuruni tangga dengan malas. Ia mengenakan pakaian santai rumah, wajahnya tampak masam dan enggan melihat keberadaan Mentari di meja makan. Natasha duduk di kursi, langsung mengambil sepotong roti tanpa menyapa ayahnya.

Bramantyo berdiri dari kursinya, merapikan jasnya. "Papa harus berangkat ke kantor sekarang. Ada rapat penting pagi ini. Natasha, Mentari, kalian sarapanlah yang benar."

"Iya, Pak. Hati-hati di jalan," sahut Mentari sopan.

Sedangkan Natasha tidak menjawab, hanya membuang muka. Ia masih marah dengan papanya sejak kemarin.

Setelah mobil Bramantyo meninggalkan basement apartemen, Natasha langsung berdiri dari kursinya. Ia melempar serbet makannya ke atas piring dengan kasar.

"Heh, anak pungut!" panggil Natasha dengan suara sengit, menatap Mentari yang masih duduk di kursi. "Jangan kira karena Papa membawamu ke sini, kamu bisa jadi nyonya besar di rumah ini! Jangan lupa diri!"

Mentari menatap Natasha dengan tenang, memilih tidak terpancing emosi. "Aku tidak pernah berniat jadi nyonya besar, Natasha. Aku tahu batasku."

"Bagus kalau kamu sadar diri!" cerca Natasha mendengus kesal. "Aku mau pergi sama teman-temanku seharian ini. Meja makan ini kotor, piring-piring bekas sarapan kita belum dibersihkan. Jangan cuma tahu numpang tidur, bereskan semuanya sampai bersih sebelum aku pulang!"

Setelah melontarkan perintah itu dengan nada angkuh, Natasha menyambar tasnya dan berjalan keluar penthouse, membanting pintu dengan keras.

Mentari menghela napas panjang. Ia menatap piring dan gelas kotor di meja makan. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu betul dirinya memang hanya menumpang. Sebagai bentuk rasa terima kasih karena telah ditolong semalam, Mentari memutuskan untuk tidak melawan.

Ia mulai membereskan meja makan, mencuci piring, lalu berinisiatif menyapu dan mengepel lantai ruang tengah yang luas itu agar bersih.

Sebenarnya rumah ini sudah bersih, karena ada asisten rumah tangga yang setiap hari memang membersihkannya. Selain ingin dianggap berguna, Mentari juga menggunakan kesempatan ini untuk mengisi waktu luang.

Sekitar dua jam kemudian, saat Mentari sedang membersihkan meja di dekat pintu masuk, terdengar suara bel apartemen berbunyi.

Ting tong.

Mentari mengerutkan kening. Ia melangkah mendekati pintu dan membukanya. Di luar, berdiri seorang kurir pengiriman paket berpakaian seragam perusahaan logistik.

"Permisi, benar ini kediaman Tuan Bramantyo Wijaya?" tanya kurir itu ramah sambil memegang sebuah kardus berukuran sedang.

"Iya, benar. Ada apa ya, Mas?" jawab Mentari heran.

"Ini ada kiriman paket atas nama Nona Mentari. Silakan tanda tangan di sini," kata kurir sambil menyodorkan mesin digital kecil.

Mentari tertegun. "Atas nama Mentari?"

"Iya, betul, Nona."

Mentari menandatangani layar digital tersebut. Kurir menyerahkan kardus itu padanya, lalu berpamitan pergi. Dengan rasa penasaran yang besar, Mentari membawa kardus tersebut ke meja ruang tamu dan membukanya menggunakan pisau kecil.

Begitu lapisan pelindung dibuka, mata Mentari langsung membelalak lebar.

Di dalam kardus itu, terbaring rapi sebuah laptop brand mewah keluaran terbaru dengan spesifikasi paling tinggi, lengkap dengan mouse nirkabel dan tas pelindungnya. Di atas laptop itu, terdapat secarik kertas kecil bertulistangan rapi:

[Gunakan ini untuk kuliahmu, jangan bekerja paruh waktu lagi.]

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pesona Ayah Tiri   Rencana Licik

    Pintu kamar tidur Natasha dibanting dengan sangat keras. Gadis itu melempar tas ranselnya ke atas kasur dengan penuh emosi. Wajahnya merah padam, napasnya memburu tidak beraturan, dan air mata kekesalan terus mengalir membasahi pipinya. Tangannya gemetar hebat saat ia merogoh ponsel di dalam saku celananya.Ia sudah tidak tahan lagi. Perlakuan Bramantyo tadi benar-benar membuat harga dirinya hancur berkeping-keping. Selama ini, papanya tidak pernah membentaknya separah itu demi orang lain, apalagi demi Mentari, anak dari wanita yang sangat dibencinya.Tanpa berpikir panjang, Natasha langsung menekan tombol cepat untuk menghubungi satu-satunya orang yang ia harapkan bisa membantunya saat ini, mamanya, Eva.Panggilan itu berdering beberapa kali sebelum akhirnya terdengar suara di seberang sana."Halo, Natasha? Ada apa telepon siang-siang begini, nggak jalan keluar? Bukannya kamu libur kuliah hari ini?" Suara Eva terdengar tenang di ujung telepon.Begitu mendengar suara mamanya, pertahan

  • Pesona Ayah Tiri   Jangan Pergi!

    "Kalau Papa tetap kejar dia, aku beneran bakal pergi dari rumah ini selamanya! Aku serius, Pa!" teriak Natasha histeris, mencengkeram lengan ayahnya dengan kuat.Bramantyo menatap putrinya dengan napas memburu. Hati Bramantyo terasa seperti diremas kuat-kuat. Ia tahu Natasha sedang dikuasai emosi, tapi membiarkan Mentari pergi sendirian dalam kondisi hancur seperti itu adalah hal yang paling tidak mungkin ia lakukan. Mengingat kejadian buruk di klub malam beberapa hari lalu membuat dada Bramantyo sesak. "Lepaskan, Natasha," suara Bramantyo terdengar dingin."Pa! Kenapa Papa lebih milih dia?!" air mata Natasha tumpah semakin deras."Papa tidak memilih siapa-siapa. Tapi Papa tidak akan biarkan Mentari celaka di luar sana!" seru Bramantyo sambil melepaskan cengkeraman tangan putrinya dengan sekali sentakan.Tanpa membuang waktu lagi, Bramantyo langsung melangkah lebar mengejar Mentari. Ia tidak peduli lagi dengan teriakan Natasha yang semakin menjadi-jadi di belakang. Yang ada di dalam

  • Pesona Ayah Tiri   Mencari Jalan Terbaik

    "Pa... Pak Bramantyo, tolong lepaskan saya..." bisik Mentari dengan suara bergetar hebat. Rasa takut, gugup, dan bingung bercampur aduk menjadi satu di dalam kepalanya. Ini adalah posisi yang sangat tidak pantas antara seorang ayah tiri dan anak tirinya. Bramantyo tidak langsung bergerak. Matanya yang sayu akibat pengaruh alkohol menatap lekat-lekat ke dalam mata Mentari. Ada sorot penyesalan sekaligus kebingungan di sana. "Mentari..." suara serak Bramantyo terdengar sangat dekat di telinganya. "Maafkan saya... Saya benar-benar tidak sengaja..." "Iya, Pak. Saya tahu. Tolong biarkan saya bangun dulu," pinta Mentari dengan suara nyaris seperti bisikan, sementara pipinya sudah merah padam karena malu. Dengan sisa tenaganya, Mentari menggunakan kedua tangannya untuk mendorong dada bidang Bramantyo perlahan. Pria itu mengangguk kecil lalu melonggarkan cengkeramannya. Begitu ada celah, Mentari langsung melompat turun dari ranjang. Wajahnya menunduk, tidak berani sama sekali menatap

  • Pesona Ayah Tiri   Sentuhan Tanpa Sengaja

    Mentari menatap tulisan tangan itu, lalu beralih memandangi laptop baru yang harganya puluhan juta rupiah. Seketika, tenggorokannya terasa tercekat. Air matanya menetes begitu saja membasahi pipinya. Bukan karena ia senang mendapatkan barang mahal, melainkan karena ia tersadar betapa besar perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh ayah tirinya. Pria yang selama ini mati-matian ia coba jauhi karena merasa asing dengannya dan tidak menganggapnya keluarga. Diam-diam, Mentari sebenarnya senang mendapat perhatian seorang ayah. Tapi ia selalu merasa bersalah. Apa boleh ia menikmati fasilitas dan pemberian Bramantyo dengan statusnya sebagai anak tiri, saat ibunya sudah tidak ada? Hingga malam makin larut, suasana di penthouse terasa semakin sunyi. Natasha belum juga pulang. Mentari paham betul, Natasha pasti sengaja menginap di tempat lain karena tidak sudi berada di bawah satu atap dengannya. Dulu, saat Mentari masih tinggal di sana, Natasha juga sering bertengkar dengan ayahnya

  • Pesona Ayah Tiri   Perdebatan Sengit

    Mobil sedan mewah yang dikemudikan oleh sopir pribadi Bramantyo masuk ke basement gedung apartemen dengan mulus. Di dalam kabin belakang, suasana terasa sangat sunyi. Mentari duduk di sudut jok, masih mengenakan jas hitam besar milik Bramantyo untuk menutupi gaun pelayannya yang terbuka. Ia menunduk dalam-dalam, meremas jemarinya sendiri karena rasa gugup dan takut. Setibanya di penthouse, pintu lift pribadi terbuka langsung ke ruang tengah yang luas dan megah. Langkah kaki Bramantyo dan Mentari baru saja melangkah masuk ketika suara decakan sinis menyambut mereka dari arah sofa ruang tamu. "Wah, wah. Kemarin gak terima dibilang anak wanita murahan, tapi penampilannya malah kayak kupu-kupu malam. Sok polos," sindir Natasha. Gadis itu berdiri di dekat sofa, melipat tangan di dada dengan senyum meremehkan. "Papa dari mana sama cewek ini? Kenapa dia dibawa ke rumah kita lagi? Jangan bilang dia habis lelang tubuhnya dan malah ketemu papa," ucap Natasha dengan nada meremehkan, menunjuk

  • Pesona Ayah Tiri   Rayuan Pria Hidung Belang

    Malam itu, Vanguard Club dipenuhi pengunjung yang larut dalam euforia. Mereka berjoget mengikuti irama musik. Diiringi cahaya lampu yang sengaja dibuat redup. Udara terasa hangat, bercampur aroma alkohol dan wangi parfum yang menyengat. Mentari berdiri canggung di balik konter bar. Ia mengenakan seragam pelayan berupa gaun hitam polos di atas lutut. Meski gaun itu terbilang sederhana, potongan baju yang agak terbuka di bagian bahu dan leher memperlihatkan kulit mulusnya dengan sangat jelas. Rambut hitam tebalnya dibiarkan terurai, menambah kesan alami yang jarang terlihat di tempat seperti ini. "Mentari, antar minuman ini ke meja sofa di sudut sana!" seru manajer bar sambil menyodorkan nampan berisi beberapa gelas minuman beralkohol. "Ingat ya, tamu di sana orang-orang kaya. Kalau mereka minta dituangkan, layani dengan ramah. Kalau mereka senang, tips buat kamu bisa sejuta sendiri!" Mentari menelan ludah. Rasa cemas dan takut merayapi hatinya. "Harus dilayani banget ya, Mas?" "Iya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status