Se connecterPintu kamar tidur Natasha dibanting dengan sangat keras. Gadis itu melempar tas ranselnya ke atas kasur dengan penuh emosi. Wajahnya merah padam, napasnya memburu tidak beraturan, dan air mata kekesalan terus mengalir membasahi pipinya. Tangannya gemetar hebat saat ia merogoh ponsel di dalam saku celananya.
Ia sudah tidak tahan lagi. Perlakuan Bramantyo tadi benar-benar membuat harga dirinya hancur berkeping-keping. Selama ini, papanya tidak pernah membentaknya separah itu demi orang lain, apalagi demi Mentari, anak dari wanita yang sangat dibencinya. Tanpa berpikir panjang, Natasha langsung menekan tombol cepat untuk menghubungi satu-satunya orang yang ia harapkan bisa membantunya saat ini, mamanya, Eva. Panggilan itu berdering beberapa kali sebelum akhirnya terdengar suara di seberang sana. "Halo, Natasha? Ada apa telepon siang-siang begini, nggak jalan keluar? Bukannya kamu libur kuliah hari ini?" Suara Eva terdengar tenang di ujung telepon. Begitu mendengar suara mamanya, pertahanan diri Natasha langsung runtuh. Tangisnya pecah seketika. "Ma... Papa jahat banget sama aku!" Di seberang sana, suara Eva langsung berubah panik. "Jahat bagaimana maksudmu? Coba cerita pelan-pelan ke Mama. Bramantyo berbuat apa sama kamu?" "Papa bawa Mentari tinggal di sini lagi. Tadi Mentari udah mau pergi dari rumah, Ma! Tapi nggak jadi!" teriak Natasha histeris, melampiaskan seluruh amarah yang menyesakkan dadanya. "Aku senang banget tadinya, aku pikir dia bakal pergi selamanya kali ini. Tapi tahu apa yang Papa lakukan? Papa malah mengejar dia. Papa lebih memilih mengejar anak pembawa sial itu daripada menenangkan aku!" Eva terdiam sejenak di ujung telepon. Hembusan napasnya terdengar berat. "Bramantyo mengejar anak itu? Dia benar-benar keluar buat nyusul Mentari?" "Iya, Ma! Aku sudah ancam Papa, kalau Papa kejar Mentari, aku bakal pergi dari rumah. Tapi Papa tetap nekat lari ngejar dia!" suara Natasha makin meninggi, menunjukkan betapa tidak terimanya ia dengan keadaan ini. "Aku benci banget sama Mentari! Gara-gara dia, hubungan aku sama Papa jadi rusak kayak gini!" Eva menarik napas panjang di seberang sana, mencoba mencerna situasi yang sedang terjadi. Sebagai mantan istri, Eva sangat paham seperti apa watak keras kepala Bramantyo. "Dengarkan Mama, Natasha," suara Eva terdengar serius dan tegas. "Kamu sekarang diam dulu di kamar. Jangan buat ulah lagi." "Kok Mama malah nyuruh aku diam?!" protes Natasha tidak terima. "Papa sudah keterlaluan sama aku!" "Kamu itu jangan bodoh, Natasha!" hardik Eva lewat telepon, membuat Natasha langsung terdiam. "Kalau kamu terus-terusan ngamuk dan bersikap kekanak-kanakan begini, justru kamu yang bakal kalah. Kalau Mentari terus mengalah dan terlihat teraniaya, Bramantyo akan terus simpati sama dia. Situasi itu akan membuat kamu tersingkirkan." "Maksud Mama apa?" tanya Natasha bingung, mengusap sisa air matanya di pipi. "Coba kamu pakai otakmu sedikit!" suara Eva terdengar gemas. "Kalau Mentari berhasil dibujuk balik sama Bramantyo, dan kamu terus-terusan galak, Mentari bisa mengambil kesempatan buat cari muka di depan papamu. Dia bisa merayu Bramantyo, bersikap manis seolah-olah dia korban, dan menghasut pikiran papamu supaya membenci kamu selamanya!" Mendengar penjelasan mamanya, Natasha langsung merinding. Bayangan Mentari mengambil alih perhatian papanya membuat dadanya mendadak sesak oleh rasa cemas. "I-iya juga ya, Ma... Terus aku harus bagaimana?" tanya Natasha meminta pendapat. "Kalau aku tetap di sini, aku pasti bakal darah tinggi tiap hari lihat muka anak itu." Di seberang sana, Eva terdiam beberapa detik, sepertinya sedang memikirkan sebuah siasat licik. Suasana di ujung telepon terasa senyap sebelum akhirnya Eva kembali bersuara dengan nada penuh perhitungan. "Mama punya rencana," kata Eva pelan. "Bagaimana kalau kita masukkan orang kita ke dekat Bramantyo untuk mengawasi pergerakan Mentari sekaligus merebut perhatiannya?" Kening Natasha berkerut dalam. "Orang kita? Siapa maksud Mama?" "Kamu ingat tante Ajeng? Itu lho, sepupu jauh Mama yang kemarin sempat datang ke rumah," jelas Eva. "Anak itu penurut, penampilannya juga menarik, dan paling penting... dia sangat pandai mengambil hati orang tua." Natasha mendengus pelan mendengar usulan mamanya. . "Duh, Ma... Kenapa harus pakai sepupu jauh segala? Kenapa bukan Mama saja yang balikan sama Papa?" Suara tawa kecil yang pahit terdengar dari mulut Eva. "Balikan? Kamu kira Bramantyo itu pria yang gampang dibujuk, Natasha?" "Ya kan, dulu Mama istrinya! Setidaknya Papa lebih kenal sama Mama daripada perempuan lain!" desak Natasha, masih berharap orang tuanya bisa bersatu kembali agar posisinya sebagai putri pemilik harta kembali aman tanpa saingan. "Kamu jangan mimpi di siang bolong, Natasha," potong Eva dengan suara dingin dan getir. "Semenjak perceraian kami dulu, Bramantyo sudah menutup pintu rapat-rapat buat Mama. Dia benci mati-matian sama Mama karena masalah pembagian harta dan masa lalu kita. Dia tidak akan pernah sudi menerima Mama kembali dalam hidupnya. Harga diri pria itu terlalu tinggi." Natasha menggigit bibir bawahnya, merasa kecewa. "Terus kita harus pasrah gitu aja liat Mentari menang banyak di rumah ini?" "Tentu saja tidak!" suara Eva meninggi penuh penekanan. "Kami memang tidak mungkin balikan, tapi bukan berarti kita tidak bisa mengambil keuntungan dari harta Bramantyo. Kalau Ajeng berhasil menarik perhatian Bramantyo, atau setidaknya membuat papamu itu sibuk dengan urusan lain, kita tetap bisa mengendalikan keadaan dari belakang. Paham?" Natasha merenungkan perkataan mamanya. Memang benar apa yang dikatakan Eva. Papanya adalah pria kaya raya dengan harta yang melimpah. Jika mereka kehilangan kendali atas Bramantyo, maka seluruh kekayaan itu bisa jatuh ke tangan Mentari, anak dari wanita yang paling mereka benci di dunia ini. Hal itu tidak boleh terjadi sampai kapan pun. "Ya sudah kalau itu mau Mama..." jawab Natasha akhirnya dengan nada pasrah tapi setuju. "Kapan Mama mau bawa si Ajeng itu ketemu Papa?" "Biar Mama yang urus semuanya. Kamu tugasnya cuma satu di rumah itu," pesan Eva dengan nada serius. "Jangan pernah tinggalkan rumah. Awasi terus gerak-gerik Mentari. Jangan kasih celah sedikit pun buat anak pelakor itu untuk mengambil alih harta papamu." "Iya, Ma. Aku mengerti," jawab Natasha singkat. Setelah panggilan telepon itu ditutup, Natasha melempar ponselnya ke atas kasur. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan rasa kesal di dadanya. Ia sama sekali belum tahu apa yang sedang direncanakan oleh Bramantyo di bawah sana. 'Awas saja kamu, Mentari,' batin Natasha dalam hati dengan penuh ancaman, sementara senyum sinis mulai terukir di bibirnya. 'Aku dan Mama tidak akan biarkan kamu hidup tenang di rumah ini!' Sementara itu, di lantai bawah, suasana di ruang kerja pribadi Bramantyo terasa sangat tenang. Pria paruh baya itu duduk di belakang meja kerjanya yang luas, mengenakan kemeja rapi dengan lengan yang sedikit digulung hingga siku. Di hadapannya, beberapa dokumen kantor menumpuk, tapi pikiran Bramantyo justru tidak sepenuhnya fokus pada pekerjaan. Pikirannya melayang pada kejadian tadi, saat ia berhasil menahan Mentari, lalu memeluknya, dan menawarkan gadis itu posisi sebagai asisten pribadinya. Bramantyo tahu betul keputusan itu akan memicu amarah besar dari Natasha. Tapi ia tidak peduli lagi. Keselamatan dan kenyamanan Mentari adalah hal utama yang harus ia lindungi saat ini. Bramantyo membuka laci meja kerjanya, lalu mengeluarkan sebuah map dokumen baru. Di dalam map itu, ia sudah menyiapkan surat penugasan resmi untuk Mentari sebagai asisten pribadi di kantornya. Besok adalah hari pertama Mentari mulai bekerja langsung di bawah pengawasannya. Pria itu tersenyum tipis di balik kesendiriannya. Ada rasa hangat yang tidak biasa menyusup di dalam dadanya setiap kali ia membayangkan wajah Mentari yang polos dan lugu. Sebuah perasaan yang sudah lama sekali tidak pernah ia rasakan setelah kepergian istri pertamanya. 'Mulai besok, kamu akan selalu berada di dekat saya, Mentari,' gumam Bramantyo dalam hati, menatap map dokumen itu dengan sorot mata yang sulit diartikan.Pintu kamar tidur Natasha dibanting dengan sangat keras. Gadis itu melempar tas ranselnya ke atas kasur dengan penuh emosi. Wajahnya merah padam, napasnya memburu tidak beraturan, dan air mata kekesalan terus mengalir membasahi pipinya. Tangannya gemetar hebat saat ia merogoh ponsel di dalam saku celananya.Ia sudah tidak tahan lagi. Perlakuan Bramantyo tadi benar-benar membuat harga dirinya hancur berkeping-keping. Selama ini, papanya tidak pernah membentaknya separah itu demi orang lain, apalagi demi Mentari, anak dari wanita yang sangat dibencinya.Tanpa berpikir panjang, Natasha langsung menekan tombol cepat untuk menghubungi satu-satunya orang yang ia harapkan bisa membantunya saat ini, mamanya, Eva.Panggilan itu berdering beberapa kali sebelum akhirnya terdengar suara di seberang sana."Halo, Natasha? Ada apa telepon siang-siang begini, nggak jalan keluar? Bukannya kamu libur kuliah hari ini?" Suara Eva terdengar tenang di ujung telepon.Begitu mendengar suara mamanya, pertahan
"Kalau Papa tetap kejar dia, aku beneran bakal pergi dari rumah ini selamanya! Aku serius, Pa!" teriak Natasha histeris, mencengkeram lengan ayahnya dengan kuat.Bramantyo menatap putrinya dengan napas memburu. Hati Bramantyo terasa seperti diremas kuat-kuat. Ia tahu Natasha sedang dikuasai emosi, tapi membiarkan Mentari pergi sendirian dalam kondisi hancur seperti itu adalah hal yang paling tidak mungkin ia lakukan. Mengingat kejadian buruk di klub malam beberapa hari lalu membuat dada Bramantyo sesak. "Lepaskan, Natasha," suara Bramantyo terdengar dingin."Pa! Kenapa Papa lebih milih dia?!" air mata Natasha tumpah semakin deras."Papa tidak memilih siapa-siapa. Tapi Papa tidak akan biarkan Mentari celaka di luar sana!" seru Bramantyo sambil melepaskan cengkeraman tangan putrinya dengan sekali sentakan.Tanpa membuang waktu lagi, Bramantyo langsung melangkah lebar mengejar Mentari. Ia tidak peduli lagi dengan teriakan Natasha yang semakin menjadi-jadi di belakang. Yang ada di dalam
"Pa... Pak Bramantyo, tolong lepaskan saya..." bisik Mentari dengan suara bergetar hebat. Rasa takut, gugup, dan bingung bercampur aduk menjadi satu di dalam kepalanya. Ini adalah posisi yang sangat tidak pantas antara seorang ayah tiri dan anak tirinya. Bramantyo tidak langsung bergerak. Matanya yang sayu akibat pengaruh alkohol menatap lekat-lekat ke dalam mata Mentari. Ada sorot penyesalan sekaligus kebingungan di sana. "Mentari..." suara serak Bramantyo terdengar sangat dekat di telinganya. "Maafkan saya... Saya benar-benar tidak sengaja..." "Iya, Pak. Saya tahu. Tolong biarkan saya bangun dulu," pinta Mentari dengan suara nyaris seperti bisikan, sementara pipinya sudah merah padam karena malu. Dengan sisa tenaganya, Mentari menggunakan kedua tangannya untuk mendorong dada bidang Bramantyo perlahan. Pria itu mengangguk kecil lalu melonggarkan cengkeramannya. Begitu ada celah, Mentari langsung melompat turun dari ranjang. Wajahnya menunduk, tidak berani sama sekali menatap
Mentari menatap tulisan tangan itu, lalu beralih memandangi laptop baru yang harganya puluhan juta rupiah. Seketika, tenggorokannya terasa tercekat. Air matanya menetes begitu saja membasahi pipinya. Bukan karena ia senang mendapatkan barang mahal, melainkan karena ia tersadar betapa besar perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh ayah tirinya. Pria yang selama ini mati-matian ia coba jauhi karena merasa asing dengannya dan tidak menganggapnya keluarga. Diam-diam, Mentari sebenarnya senang mendapat perhatian seorang ayah. Tapi ia selalu merasa bersalah. Apa boleh ia menikmati fasilitas dan pemberian Bramantyo dengan statusnya sebagai anak tiri, saat ibunya sudah tidak ada? Hingga malam makin larut, suasana di penthouse terasa semakin sunyi. Natasha belum juga pulang. Mentari paham betul, Natasha pasti sengaja menginap di tempat lain karena tidak sudi berada di bawah satu atap dengannya. Dulu, saat Mentari masih tinggal di sana, Natasha juga sering bertengkar dengan ayahnya
Mobil sedan mewah yang dikemudikan oleh sopir pribadi Bramantyo masuk ke basement gedung apartemen dengan mulus. Di dalam kabin belakang, suasana terasa sangat sunyi. Mentari duduk di sudut jok, masih mengenakan jas hitam besar milik Bramantyo untuk menutupi gaun pelayannya yang terbuka. Ia menunduk dalam-dalam, meremas jemarinya sendiri karena rasa gugup dan takut. Setibanya di penthouse, pintu lift pribadi terbuka langsung ke ruang tengah yang luas dan megah. Langkah kaki Bramantyo dan Mentari baru saja melangkah masuk ketika suara decakan sinis menyambut mereka dari arah sofa ruang tamu. "Wah, wah. Kemarin gak terima dibilang anak wanita murahan, tapi penampilannya malah kayak kupu-kupu malam. Sok polos," sindir Natasha. Gadis itu berdiri di dekat sofa, melipat tangan di dada dengan senyum meremehkan. "Papa dari mana sama cewek ini? Kenapa dia dibawa ke rumah kita lagi? Jangan bilang dia habis lelang tubuhnya dan malah ketemu papa," ucap Natasha dengan nada meremehkan, menunjuk
Malam itu, Vanguard Club dipenuhi pengunjung yang larut dalam euforia. Mereka berjoget mengikuti irama musik. Diiringi cahaya lampu yang sengaja dibuat redup. Udara terasa hangat, bercampur aroma alkohol dan wangi parfum yang menyengat. Mentari berdiri canggung di balik konter bar. Ia mengenakan seragam pelayan berupa gaun hitam polos di atas lutut. Meski gaun itu terbilang sederhana, potongan baju yang agak terbuka di bagian bahu dan leher memperlihatkan kulit mulusnya dengan sangat jelas. Rambut hitam tebalnya dibiarkan terurai, menambah kesan alami yang jarang terlihat di tempat seperti ini. "Mentari, antar minuman ini ke meja sofa di sudut sana!" seru manajer bar sambil menyodorkan nampan berisi beberapa gelas minuman beralkohol. "Ingat ya, tamu di sana orang-orang kaya. Kalau mereka minta dituangkan, layani dengan ramah. Kalau mereka senang, tips buat kamu bisa sejuta sendiri!" Mentari menelan ludah. Rasa cemas dan takut merayapi hatinya. "Harus dilayani banget ya, Mas?" "Iya







