Compartilhar

Jangan Pergi!

Autor: Erumanstory
last update Data de publicação: 2026-10-22 21:57:00

"Kalau Papa tetap kejar dia, aku beneran bakal pergi dari rumah ini selamanya! Aku serius, Pa!" teriak Natasha histeris, mencengkeram lengan ayahnya dengan kuat.

Bramantyo menatap putrinya dengan napas memburu. Hati Bramantyo terasa seperti diremas kuat-kuat. Ia tahu Natasha sedang dikuasai emosi, tapi membiarkan Mentari pergi sendirian dalam kondisi hancur seperti itu adalah hal yang paling tidak mungkin ia lakukan. Mengingat kejadian buruk di klub malam beberapa hari lalu membuat dada Bramantyo sesak.

"Lepaskan, Natasha," suara Bramantyo terdengar dingin.

"Pa! Kenapa Papa lebih milih dia?!" air mata Natasha tumpah semakin deras.

"Papa tidak memilih siapa-siapa. Tapi Papa tidak akan biarkan Mentari celaka di luar sana!" seru Bramantyo sambil melepaskan cengkeraman tangan putrinya dengan sekali sentakan.

Tanpa membuang waktu lagi, Bramantyo langsung melangkah lebar mengejar Mentari. Ia tidak peduli lagi dengan teriakan Natasha yang semakin menjadi-jadi di belakang. Yang ada di dalam kepalanya saat ini hanya satu, Mentari tidak boleh pergi dari sisinya.

Di halaman, Mentari berjalan cepat menuju pintu keluar sambil menyeret tas pakaiannya. Air matanya terus menetes membasahi pipi. Rasanya begitu sesak. Ia merasa kehadirannya di rumah itu hanya membawa malapetaka dan pertengkaran tiada henti antara ayah dan anak.

'Lebih baik aku pergi. Aku cari kontrakan murah lagi atau numpang di kos Maya,' batin Mentari.

Baru saja ia hendak memanggil taksi online di ponselnya, sebuah tangan yang hangat dan besar tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya dengan lembut.

"Mentari! Tunggu!"

Mentari tersentak hebat. Ia menoleh dan langsung terperanjat saat mendapati Bramantyo berdiri di sampingnya dengan napas yang tidak beraturan.

"Pa... Pak Bramantyo?" cicit Mentari, berusaha menarik tangannya pelan-pelan. "Bapak kenapa nyusul saya? Biarkan saya pergi, Pak. Ini sudah benar..."

Bramantyo tidak membiarkan Mentari melepaskan tangannya. Pria itu justru melangkah lebih dekat, lalu membawa tubuh Mentari masuk ke dalam pelukannya yang hangat dan erat.

Mentari mematung seketika. Tas pakaian yang ada di tangannya langsung lepas dan jatuh ke lantai dengan suara pelan. Napas Mentari tertahan. Wajahnya menempel langsung di dada bidang Bramantyo, mendengarkan detak jantung pria itu yang berpacu sangat cepat.

"Jangan pergi..." bisik Bramantyo tepat di samping telinganya. Suara berat pria itu terdengar bergetar, sarat akan ketakutan yang begitu nyata. "Jangan pernah berpikir untuk pergi dari saya lagi, Mentari."

Mentari tertegun, air matanya semakin deras mengalir. "Tapi... tapi keberadaan saya bikin Natasha benci sama Bapak. Saya cuma bikin rumah tangga Bapak jadi kacau..."

"Kamu sama sekali tidak bikin kacau," potong Bramantyo cepat. Ia melonggarkan pelukannya sedikit, lalu menangkup kedua pipi Mentari dengan kedua tangannya. Ibu jarinya dengan lembut mengusap air mata yang membasahi pipi gadis itu. "Dengarkan saya, Mentari. Alasan saya melarang kamu pergi bukan cuma karena kamu anak dari istri saya... tapi karena saya khawatir setengah mati sama keselamatan kamu."

Mentari menatap mata Bramantyo yang menyiratkan ketulusan dan kecemasan yang begitu mendalam.

"Kamu masih ingat kejadian di klub malam itu, kan?" lanjut Bramantyo dengan suara serak. "Kalau malam itu saya terlambat datang semenit saja, saya tidak tahu apa yang akan terjadi sama kamu. Kamu itu gadis muda yang polos, Mentari. Di luar sana banyak orang jahat yang mengincar perempuan seperti kamu. Saya tidak akan bisa memaafkan diri saya sendiri kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu."

Hati Mentari seperti dihantam ribuan jarum halus. Selama ini, tidak pernah ada orang yang mengkhawatirkannya separah ini, bahkan setelah ibunya meninggal. Rasanya sangat hangat, membuat pertahanan diri Mentari runtuh seketika.

"Tapi... tapi saya tidak enak sama Natasha, Pak..." cicit Mentari dengan suara melemah.

Bramantyo menghela napas panjang, menatap lurus ke dalam mata Mentari. "Soal Natasha, serahkan sama saya. Saya sudah punya cara supaya kamu tidak perlu sering-sering bertemu dengan dia di rumah, dan supaya kamu juga bisa hidup mandiri tanpa harus bekerja di tempat yang berbahaya."

Mentari mengerjap keningnya, menatap Bramantyo dengan penuh tanda tanya. "Maksud Bapak... apa?"

Bramantyo tersenyum tipis, sorot matanya berubah menjadi lebih tenang dan penuh wibawa.

"Mulai besok, kamu bekerja sama saya," kata Bramantyo mantap.

Mentari membelalakkan matanya kaget. "Bekerja... sama Bapak? Maksudnya?"

"Iya. Kamu jadi asisten pribadi saya di kantor," jelas Bramantyo dengan nada serius. "Dengan begitu, kamu bisa tetap mandiri, punya penghasilan sendiri, dan memegang uang hasil kerja kerasmu sendiri tanpa harus merasa berutang budi atau menolak pemberian saya."

Mentari terdiam, otaknya mencoba mencerna tawaran itu.

"Selain itu," lanjut Bramantyo, "kalau kamu bekerja di kantor saya, kamu bisa berangkat dan pulang bareng saya. Waktu kamu di penthouse juga akan berkurang karena kamu sibuk di kantor. Dengan begitu, bentrokan antara kamu dan Natasha bisa dihindari. Dan yang paling penting... kamu akan selalu berada di bawah pengawasan saya, jadi saya tahu kamu aman."

Mendengar penjelasan itu, Mentari merasa lega. Tawaran itu terdengar sangat masuk akal. Ia tidak perlu lagi bingung mencari pekerjaan paruh waktu di tempat tersembunyi, ia tidak perlu merasa menjadi beban, dan ia bisa punya alasan kuat untuk jarang bertemu Natasha.

"Tapi... apakah saya mampu jadi asisten Bapak?" tanya Mentari ragu-ragu, menggigit bibir bawahnya. "Saya kan masih kuliah, Pak. Saya takut malah bikin kacau pekerjaan Bapak di kantor."

Bramantyo terkekeh pelan—sebuah tawa lembut yang sangat jarang didengar oleh orang lain. Pria itu menurunkan tangannya dari pipi Mentari, tapi sebelah tangannya tetap menggenggam jemari Mentari dengan erat.

"Kamu anak yang cerdas, Mentari. Saya tahu kapasitas kamu," ucap Bramantyo meyakinkan. "Pekerjaan asisten pribadi saya tidak terlalu sulit. Kamu cuma perlu mencatat jadwal harian saya, menyiapkan dokumen rapat, dan menemani... ah, maksud saya, membantu urusan administrasi ringan di ruangan saya. Jangan khawatir, saya yang akan mengajari kamu semuanya dari nol."

Mentari menatap jemari mereka yang saling menggenggam. Jantungnya kembali berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena ada perasaan aneh yang manis menggelitik perutnya. Rasanya begitu nyaman berada di dekat pria ini.

"Bagaimana, Mentari? Kamu mau terima tawaran saya?" tanya Bramantyo penuh harap, menunggu jawaban dari gadis di depannya.

Mentari menelan ludah pelan. Ia mengangkat wajahnya, lalu mengangguk perlahan dengan senyuman kecil di bibirnya. "Iya, Pak... Saya mau."

Wajah Bramantyo langsung memancarkan kelegaan yang luar biasa. Senyuman lebar terukir di wajah tampannya, membuat pesona pria paruh baya itu semakin terpancar nyata di mata Mentari.

"Syukurlah..." gumam Bramantyo pelan. Ia kemudian menunduk untuk memungut tas pakaian Mentari yang tadi sempat jatuh ke lantai. "Sekarang, ayo kita naik ke atas. Masuk ke kamar kamu, istirahat yang tenang. Mulai besok, hidup kamu di bawah pengawasan saya."

Mentari merasa pipinya memanas mendengar kalimat terakhir itu. Di bawah pengawasan saya... Kenapa kalimat itu terdengar begitu mendebarkan?

Dengan perasaan yang jauh lebih tenang dibanding tadi, Mentari membiarkan Bramantyo merangkul pelan bahunya, membimbingnya kembali masuk ke dalam penthouse.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Pesona Ayah Tiri   Rencana Licik

    Pintu kamar tidur Natasha dibanting dengan sangat keras. Gadis itu melempar tas ranselnya ke atas kasur dengan penuh emosi. Wajahnya merah padam, napasnya memburu tidak beraturan, dan air mata kekesalan terus mengalir membasahi pipinya. Tangannya gemetar hebat saat ia merogoh ponsel di dalam saku celananya.Ia sudah tidak tahan lagi. Perlakuan Bramantyo tadi benar-benar membuat harga dirinya hancur berkeping-keping. Selama ini, papanya tidak pernah membentaknya separah itu demi orang lain, apalagi demi Mentari, anak dari wanita yang sangat dibencinya.Tanpa berpikir panjang, Natasha langsung menekan tombol cepat untuk menghubungi satu-satunya orang yang ia harapkan bisa membantunya saat ini, mamanya, Eva.Panggilan itu berdering beberapa kali sebelum akhirnya terdengar suara di seberang sana."Halo, Natasha? Ada apa telepon siang-siang begini, nggak jalan keluar? Bukannya kamu libur kuliah hari ini?" Suara Eva terdengar tenang di ujung telepon.Begitu mendengar suara mamanya, pertahan

  • Pesona Ayah Tiri   Jangan Pergi!

    "Kalau Papa tetap kejar dia, aku beneran bakal pergi dari rumah ini selamanya! Aku serius, Pa!" teriak Natasha histeris, mencengkeram lengan ayahnya dengan kuat.Bramantyo menatap putrinya dengan napas memburu. Hati Bramantyo terasa seperti diremas kuat-kuat. Ia tahu Natasha sedang dikuasai emosi, tapi membiarkan Mentari pergi sendirian dalam kondisi hancur seperti itu adalah hal yang paling tidak mungkin ia lakukan. Mengingat kejadian buruk di klub malam beberapa hari lalu membuat dada Bramantyo sesak. "Lepaskan, Natasha," suara Bramantyo terdengar dingin."Pa! Kenapa Papa lebih milih dia?!" air mata Natasha tumpah semakin deras."Papa tidak memilih siapa-siapa. Tapi Papa tidak akan biarkan Mentari celaka di luar sana!" seru Bramantyo sambil melepaskan cengkeraman tangan putrinya dengan sekali sentakan.Tanpa membuang waktu lagi, Bramantyo langsung melangkah lebar mengejar Mentari. Ia tidak peduli lagi dengan teriakan Natasha yang semakin menjadi-jadi di belakang. Yang ada di dalam

  • Pesona Ayah Tiri   Mencari Jalan Terbaik

    "Pa... Pak Bramantyo, tolong lepaskan saya..." bisik Mentari dengan suara bergetar hebat. Rasa takut, gugup, dan bingung bercampur aduk menjadi satu di dalam kepalanya. Ini adalah posisi yang sangat tidak pantas antara seorang ayah tiri dan anak tirinya. Bramantyo tidak langsung bergerak. Matanya yang sayu akibat pengaruh alkohol menatap lekat-lekat ke dalam mata Mentari. Ada sorot penyesalan sekaligus kebingungan di sana. "Mentari..." suara serak Bramantyo terdengar sangat dekat di telinganya. "Maafkan saya... Saya benar-benar tidak sengaja..." "Iya, Pak. Saya tahu. Tolong biarkan saya bangun dulu," pinta Mentari dengan suara nyaris seperti bisikan, sementara pipinya sudah merah padam karena malu. Dengan sisa tenaganya, Mentari menggunakan kedua tangannya untuk mendorong dada bidang Bramantyo perlahan. Pria itu mengangguk kecil lalu melonggarkan cengkeramannya. Begitu ada celah, Mentari langsung melompat turun dari ranjang. Wajahnya menunduk, tidak berani sama sekali menatap

  • Pesona Ayah Tiri   Sentuhan Tanpa Sengaja

    Mentari menatap tulisan tangan itu, lalu beralih memandangi laptop baru yang harganya puluhan juta rupiah. Seketika, tenggorokannya terasa tercekat. Air matanya menetes begitu saja membasahi pipinya. Bukan karena ia senang mendapatkan barang mahal, melainkan karena ia tersadar betapa besar perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh ayah tirinya. Pria yang selama ini mati-matian ia coba jauhi karena merasa asing dengannya dan tidak menganggapnya keluarga. Diam-diam, Mentari sebenarnya senang mendapat perhatian seorang ayah. Tapi ia selalu merasa bersalah. Apa boleh ia menikmati fasilitas dan pemberian Bramantyo dengan statusnya sebagai anak tiri, saat ibunya sudah tidak ada? Hingga malam makin larut, suasana di penthouse terasa semakin sunyi. Natasha belum juga pulang. Mentari paham betul, Natasha pasti sengaja menginap di tempat lain karena tidak sudi berada di bawah satu atap dengannya. Dulu, saat Mentari masih tinggal di sana, Natasha juga sering bertengkar dengan ayahnya

  • Pesona Ayah Tiri   Perdebatan Sengit

    Mobil sedan mewah yang dikemudikan oleh sopir pribadi Bramantyo masuk ke basement gedung apartemen dengan mulus. Di dalam kabin belakang, suasana terasa sangat sunyi. Mentari duduk di sudut jok, masih mengenakan jas hitam besar milik Bramantyo untuk menutupi gaun pelayannya yang terbuka. Ia menunduk dalam-dalam, meremas jemarinya sendiri karena rasa gugup dan takut. Setibanya di penthouse, pintu lift pribadi terbuka langsung ke ruang tengah yang luas dan megah. Langkah kaki Bramantyo dan Mentari baru saja melangkah masuk ketika suara decakan sinis menyambut mereka dari arah sofa ruang tamu. "Wah, wah. Kemarin gak terima dibilang anak wanita murahan, tapi penampilannya malah kayak kupu-kupu malam. Sok polos," sindir Natasha. Gadis itu berdiri di dekat sofa, melipat tangan di dada dengan senyum meremehkan. "Papa dari mana sama cewek ini? Kenapa dia dibawa ke rumah kita lagi? Jangan bilang dia habis lelang tubuhnya dan malah ketemu papa," ucap Natasha dengan nada meremehkan, menunjuk

  • Pesona Ayah Tiri   Rayuan Pria Hidung Belang

    Malam itu, Vanguard Club dipenuhi pengunjung yang larut dalam euforia. Mereka berjoget mengikuti irama musik. Diiringi cahaya lampu yang sengaja dibuat redup. Udara terasa hangat, bercampur aroma alkohol dan wangi parfum yang menyengat. Mentari berdiri canggung di balik konter bar. Ia mengenakan seragam pelayan berupa gaun hitam polos di atas lutut. Meski gaun itu terbilang sederhana, potongan baju yang agak terbuka di bagian bahu dan leher memperlihatkan kulit mulusnya dengan sangat jelas. Rambut hitam tebalnya dibiarkan terurai, menambah kesan alami yang jarang terlihat di tempat seperti ini. "Mentari, antar minuman ini ke meja sofa di sudut sana!" seru manajer bar sambil menyodorkan nampan berisi beberapa gelas minuman beralkohol. "Ingat ya, tamu di sana orang-orang kaya. Kalau mereka minta dituangkan, layani dengan ramah. Kalau mereka senang, tips buat kamu bisa sejuta sendiri!" Mentari menelan ludah. Rasa cemas dan takut merayapi hatinya. "Harus dilayani banget ya, Mas?" "Iya

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status