LOGIN"Pa... Pak Bramantyo, tolong lepaskan saya..." bisik Mentari dengan suara bergetar hebat.
Rasa takut, gugup, dan bingung bercampur aduk menjadi satu di dalam kepalanya. Ini adalah posisi yang sangat tidak pantas antara seorang ayah tiri dan anak tirinya. Bramantyo tidak langsung bergerak. Matanya yang sayu akibat pengaruh alkohol menatap lekat-lekat ke dalam mata Mentari. Ada sorot penyesalan sekaligus kebingungan di sana. "Mentari..." suara serak Bramantyo terdengar sangat dekat di telinganya. "Maafkan saya... Saya benar-benar tidak sengaja..." "Iya, Pak. Saya tahu. Tolong biarkan saya bangun dulu," pinta Mentari dengan suara nyaris seperti bisikan, sementara pipinya sudah merah padam karena malu. Dengan sisa tenaganya, Mentari menggunakan kedua tangannya untuk mendorong dada bidang Bramantyo perlahan. Pria itu mengangguk kecil lalu melonggarkan cengkeramannya. Begitu ada celah, Mentari langsung melompat turun dari ranjang. Wajahnya menunduk, tidak berani sama sekali menatap wajah pria paruh baya itu lagi. "Saya... saya keluar dulu, Pak. Silakan Bapak istirahat," ucap Mentari terbata-bata. Tanpa menunggu jawaban, Mentari berbalik dan melangkah cepat keluar dari kamar tidur Bramantyo, lalu menutup pintunya pelan-pelan. Begitu berada di luar, Mentari menyandarkan punggungnya di dinding dingin. Ia memegang dadanya sendiri yang masih berdegup sangat liar. Tangannya bahkan sedikit gemetar. Kenapa jantungku berdebar separah ini? batin Mentari dalam hati, merasa sangat bersalah pada dirinya sendiri. Dia itu ayah tiriku! Kenapa aku malah merasa gugup dan tersipu waktu dekat sama dia tadi? Tidak boleh! Aku tidak boleh punya perasaan aneh seperti ini! Mentari menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang mulai berkecamuk di dalam otaknya. Ia berjalan cepat kembali ke kamar tidurnya sendiri, mengunci pintu, lalu merebahkan diri di atas kasur sambil menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Malam itu, Mentari sama sekali tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan tatapan mata Bramantyo dan aroma tubuh pria itu terus berputar-putar di kepalanya. Keesokan paginya, matahari sudah naik cukup tinggi. Mentari keluar dari kamarnya dengan langkah pelan. Ia mengenakan celana kain panjang sederhana dan kaus oblong polos. Matanya sedikit berkantong hitam karena kurang tidur semalaman. Saat ia menuruni tangga menuju lantai bawah, suasana penthouse terasa sangat sunyi. Mentari mengira Bramantyo sudah pergi ke kantor. Namun, saat ia melangkah ke area dapur, ia melihat pria itu sedang berdiri di depan meja dapur sambil menyeduh secangkir kopi hitam. Bramantyo mengenakan pakaian santai rumah berupa kaus polo gelap dan celana bahan kain. Rambutnya yang sedikit berantakan di pagi hari membuat pria berusia empat puluhan itu terlihat jauh lebih santai, tapi tetap memancarkan kharisma yang kuat. Mendengar suara langkah kaki, Bramantyo menoleh. Mata mereka langsung beradu pandang. Suasana seketika terasa canggung. Bayangan kejadian semalam langsung melintas di benak keduanya, membuat suasana sedikit kikuk. Bramantyo berdeham pelan untuk memecah keheningan. "Pagi, Mentari." Mentari menunduk sedikit, meremas ujung kausnya karena rasa salah tingkah. "Pa-pagi, Pak Bramantyo..." "Kamu sudah bangun? Tidurmu nyenyak semalam?" tanya Bramantyo dengan suara rendah, nadanya terdengar sedikit hati-hati, seolah takut Mentari masih merasa canggung atau marah soal kejadian semalam. "Cukup nyenyak, kok, Pak," bohong Mentari sambil tersenyum kaku. Ia lalu berjalan mendekat ke kulkas untuk mengambil air putih. "Bapak tumben belum berangkat ke kantor? Ini kan hari kerja." "Hari ini saya kerja dari rumah. Ada beberapa dokumen kantor yang harus saya periksa," jawab Bramantyo sambil menyeruput kopi hitamnya. Ia menatap Mentari lekat-lekat. "Soal kejadian semalam... saya benar-benar minta maaf, Mentari. Saya waktu itu sedang mabuk berat, dan saya... saya salah mengenali kamu." Mendengar ucapan itu, ada rasa lega sekaligus rasa aneh yang menyusup di dada Mentari. Lega karena Bramantyo mengakui kesalahannya, tapi ada sedikit rasa kecewa di lubuk hatinya yang paling dalam ketika pria itu menegaskan bahwa ia mengira Mentari adalah almarhumah ibunya. Tentu saja dia cuma melihat ibuku, bukan aku, batin Mentari mengingatkan dirinya sendiri. Jangan berharap apa-apa, Mentari. Dia cuma ayah tirimu. "Tidak apa-apa, Pak," jawab Mentari berusaha tersenyum tenang dan bersikap biasa saja. "Saya paham kok. Bapak tidak perlu merasa bersalah terus. Saya sudah melupakannya." Bramantyo menatap gadis di depannya dengan pandangan rumit. Ia merasa kagum sekaligus kasihan pada kedewasaan Mentari. Di usia yang masih sangat muda, gadis itu harus menghadapi banyak sekali tekanan hidup, mulai dari kehilangan ibunya, dibenci oleh Natasha, hingga harus banting tulang bekerja di tempat berbahaya demi laptop baru. "Terima kasih karena kamu sudah mengerti," ucap Bramantyo tulus. "Oh ya, apa laptop baru yang dikirim kemarin sudah kamu coba? Apakah semuanya berfungsi dengan baik?" Mentari mengangguk pelan. "Sudah, Pak. Laptopnya bagus banget. Terima kasih banyak ya, Pak. Tapi... nanti saya tetap ingin mencicil uangnya ke Bapak sedikit demi sedikit dari hasil uang saku saya." Bramantyo menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum tipis. Senyuman itu membuat wajah tegasnya terlihat jauh lebih lembut dan tampan. "Tidak perlu dicicil, Mentari. Itu hadiah dari saya untuk kelancaran kuliah kamu. Jangan dipikirkan soal uangnya." "Tapi, Pak—" "Tidak ada bantahan," potong Bramantyo dengan nada tegas tapi tetap lembut. "Kamu fokus saja kuliah dan skripsimu. Kalau ada apa-apa lagi yang kamu butuhkan, katakan saja sama saya." Mentari hanya bisa diam mengangguk. Ia tidak bisa mendebat lagi kalau Bramantyo sudah memakai nada bicara seperti itu. Tiba-tiba, suara pintu terbuka dengan kasar dari luar. Suara hantaman pintu itu membuat Mentari dan Bramantyo menoleh bersamaan ke arah pintu masuk. Seorang gadis berambut panjang dengan tas ransel tersampir di bahu melangkah masuk dengan wajah cemberut dan penuh amarah. Natasha. Gadis itu baru saja pulang setelah semalaman menginap di tempat temannya. Begitu melihat keberadaan Mentari yang berdiri dekat dapur bersama ayahnya, mata Natasha langsung membelalak tajam. Kebencian di wajahnya terpampang dengan sangat jelas tanpa ditutup-tutupi. "Wah, hebat ya!" sindir Natasha dengan suara nyaring, berjalan mendekat dengan tangan melipat di dada. "Baru sehari tinggal di sini lagi, kamu sudah berani pasang muka sok manis di depan papa aku! Kamu sengaja kan, cari perhatian pagi-pagi begini supaya papa makin luluh sama kamu?!" Mentari langsung menelan ludah. Ia tidak mau mencari ribut di pagi hari yang tenang ini. "Aku tidak cari perhatian, Natasha. Aku cuma mau ambil air minum." "Alasan!" potong Natasha dengan nada tinggi. Ia menoleh ke arah Bramantyo yang berdiri dengan wajah mengeras. "Pa! Papa lihat sendiri kan sifat aslinya cewek ini?! Muka dua! Di depan Papa dia pura-pura baik dan polos, tapi di belakang dia itu sebenarnya licik!" "Natasha!" bentak Bramantyo. "Jaga mulut kamu! Jangan pernah menuduh Mentari sembarangan!" Natasha makin meradang. Air matanya tumpah begitu saja di pipinya karena merasa ayahnya selalu membela Mentari dibandingkan dirinya yang anak kandung. "Kenapa Papa selalu membela dia?!" teriak Natasha histeris, menunjuk tepat ke wajah Mentari dengan jari yang bergetar. "Jelas-jelas dia itu anak pembawa sial! Gara-gara ibunya dan dia, keluarga kita hancur! Sekarang dia mau ngerebut Papa juga dari aku?!" "Cukup, Natasha!" Bramantyo melangkah maju dengan amarah yang meluap-luap. Pria itu benar-benar sudah habis kesabaran menghadapi sikap keras kepala dan egois putrinya. "Papa tidak pernah membedakan kalian! Tapi kelakuan kamu sudah keterlaluan! Minta maaf sama Mentari sekarang!" Mentari merasa sangat tidak enak melihat ayah dan anak itu bertengkar hebat gara-gara dirinya. Ia tahu kalau ia terus berada di sini, suasana rumah ini tidak akan pernah tenang. Natasha pasti akan semakin membencinya. "Pak Bramantyo, sudah... jangan dimarahi Natasha terus," kata Mentari sambil memegang lengan Bramantyo pelan, mencoba meredakan emosi pria itu. "Benar kata Natasha... mungkin kehadiran saya di sini memang bikin suasana jadi tidak nyaman buat dia." Bramantyo menoleh, menatap tangan Mentari yang menyentuh lengannya, lalu menatap mata gadis itu yang menyiratkan kelelahan batin yang amat sangat. "Mentari, kamu tidak salah apa-apa..." ucap Bramantyo dengan lembut. "Saya memang salah!" potong Mentari dengan suara bergetar, menahan air mata yang mendesak keluar dari pelupuk matanya. "Tempatku memang bukan di sini. Dari dulu saya sadar, saya ini cuma orang lain di keluarga ini." Setelah mengucapkan kalimat itu, Mentari melepaskan tangannya dari lengan Bramantyo. Tanpa menunggu jawaban apa pun, ia langsung berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya di lantai atas untuk membereskan barang-barang miliknya. "Mentari! Tunggu!" panggil Bramantyo dengan panik. Pria itu hendak menyusul langkah Mentari, tapi pergelangan tangannya langsung dicengkeram erat oleh Natasha. "Kalau Papa berani kejar dia, aku bakal pergi dari rumah ini selamanya!" ancam Natasha sambil menangis tersedu-sedu, menatap ayahnya dengan penuh keputusasaan. Bramantyo tertegun di tempatnya. Langkah kakinya terpaku. Ia dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit antara mengejar Mentari yang terluka atau menahan putrinya sendiri yang sedang kalap. Di dalam kamar di lantai atas, Mentari memasukkan pakaiannya ke dalam tas dengan tangan gemetar hebat. Air matanya menetes satu per satu membasahi lantai. Ia merasa lelah, sedih, dan sakit hati. Aku harus pergi, batin Mentari sambil menutup resleting tasnya dengan kasar. Aku tidak boleh bikin keluarga Pak Bramantyo hancur lebih parah lagi. Mentari membawa tasnya keluar kamar, menuruni tangga dengan langkah gontai, melewati ruang tengah di mana Bramantyo dan Natasha masih berdiri saling berpandangan. "Mentari, kamu mau ke mana?!" seru Bramantyo saat melihat Mentari membawa tas pakaiannya. Mentari berhenti sejenak di dekat pintu keluar. Ia mendongak, menatap wajah Bramantyo dengan senyuman pahit di bibirnya. "Terima kasih atas semuanya, Pak Bramantyo," ucap Mentari pelan dengan suara serak. "Bapak sudah terlalu baik sama saya. Tapi biarkan saya pergi sekarang. Ini jalan terbaik untuk semuanya. Bapak sebaiknya fokus pada Natasha saja." Selesai mengucapkan kalimat itu, Mentari pun melangkah keluar."Kalau Papa tetap kejar dia, aku beneran bakal pergi dari rumah ini selamanya! Aku serius, Pa!" teriak Natasha histeris, mencengkeram lengan ayahnya dengan kuat.Bramantyo menatap putrinya dengan napas memburu. Hati Bramantyo terasa seperti diremas kuat-kuat. Ia tahu Natasha sedang dikuasai emosi, tapi membiarkan Mentari pergi sendirian dalam kondisi hancur seperti itu adalah hal yang paling tidak mungkin ia lakukan. Mengingat kejadian buruk di klub malam beberapa hari lalu membuat dada Bramantyo sesak. "Lepaskan, Natasha," suara Bramantyo terdengar dingin."Pa! Kenapa Papa lebih milih dia?!" air mata Natasha tumpah semakin deras."Papa tidak memilih siapa-siapa. Tapi Papa tidak akan biarkan Mentari celaka di luar sana!" seru Bramantyo sambil melepaskan cengkeraman tangan putrinya dengan sekali sentakan.Tanpa membuang waktu lagi, Bramantyo langsung melangkah lebar mengejar Mentari. Ia tidak peduli lagi dengan teriakan Natasha yang semakin menjadi-jadi di belakang. Yang ada di dalam
"Pa... Pak Bramantyo, tolong lepaskan saya..." bisik Mentari dengan suara bergetar hebat. Rasa takut, gugup, dan bingung bercampur aduk menjadi satu di dalam kepalanya. Ini adalah posisi yang sangat tidak pantas antara seorang ayah tiri dan anak tirinya. Bramantyo tidak langsung bergerak. Matanya yang sayu akibat pengaruh alkohol menatap lekat-lekat ke dalam mata Mentari. Ada sorot penyesalan sekaligus kebingungan di sana. "Mentari..." suara serak Bramantyo terdengar sangat dekat di telinganya. "Maafkan saya... Saya benar-benar tidak sengaja..." "Iya, Pak. Saya tahu. Tolong biarkan saya bangun dulu," pinta Mentari dengan suara nyaris seperti bisikan, sementara pipinya sudah merah padam karena malu. Dengan sisa tenaganya, Mentari menggunakan kedua tangannya untuk mendorong dada bidang Bramantyo perlahan. Pria itu mengangguk kecil lalu melonggarkan cengkeramannya. Begitu ada celah, Mentari langsung melompat turun dari ranjang. Wajahnya menunduk, tidak berani sama sekali menatap
Mentari menatap tulisan tangan itu, lalu beralih memandangi laptop baru yang harganya puluhan juta rupiah. Seketika, tenggorokannya terasa tercekat. Air matanya menetes begitu saja membasahi pipinya. Bukan karena ia senang mendapatkan barang mahal, melainkan karena ia tersadar betapa besar perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh ayah tirinya. Pria yang selama ini mati-matian ia coba jauhi karena merasa asing dengannya dan tidak menganggapnya keluarga. Diam-diam, Mentari sebenarnya senang mendapat perhatian seorang ayah. Tapi ia selalu merasa bersalah. Apa boleh ia menikmati fasilitas dan pemberian Bramantyo dengan statusnya sebagai anak tiri, saat ibunya sudah tidak ada? Hingga malam makin larut, suasana di penthouse terasa semakin sunyi. Natasha belum juga pulang. Mentari paham betul, Natasha pasti sengaja menginap di tempat lain karena tidak sudi berada di bawah satu atap dengannya. Dulu, saat Mentari masih tinggal di sana, Natasha juga sering bertengkar dengan ayahnya
Mobil sedan mewah yang dikemudikan oleh sopir pribadi Bramantyo masuk ke basement gedung apartemen dengan mulus. Di dalam kabin belakang, suasana terasa sangat sunyi. Mentari duduk di sudut jok, masih mengenakan jas hitam besar milik Bramantyo untuk menutupi gaun pelayannya yang terbuka. Ia menunduk dalam-dalam, meremas jemarinya sendiri karena rasa gugup dan takut. Setibanya di penthouse, pintu lift pribadi terbuka langsung ke ruang tengah yang luas dan megah. Langkah kaki Bramantyo dan Mentari baru saja melangkah masuk ketika suara decakan sinis menyambut mereka dari arah sofa ruang tamu. "Wah, wah. Kemarin gak terima dibilang anak wanita murahan, tapi penampilannya malah kayak kupu-kupu malam. Sok polos," sindir Natasha. Gadis itu berdiri di dekat sofa, melipat tangan di dada dengan senyum meremehkan. "Papa dari mana sama cewek ini? Kenapa dia dibawa ke rumah kita lagi? Jangan bilang dia habis lelang tubuhnya dan malah ketemu papa," ucap Natasha dengan nada meremehkan, menunjuk
Malam itu, Vanguard Club dipenuhi pengunjung yang larut dalam euforia. Mereka berjoget mengikuti irama musik. Diiringi cahaya lampu yang sengaja dibuat redup. Udara terasa hangat, bercampur aroma alkohol dan wangi parfum yang menyengat. Mentari berdiri canggung di balik konter bar. Ia mengenakan seragam pelayan berupa gaun hitam polos di atas lutut. Meski gaun itu terbilang sederhana, potongan baju yang agak terbuka di bagian bahu dan leher memperlihatkan kulit mulusnya dengan sangat jelas. Rambut hitam tebalnya dibiarkan terurai, menambah kesan alami yang jarang terlihat di tempat seperti ini. "Mentari, antar minuman ini ke meja sofa di sudut sana!" seru manajer bar sambil menyodorkan nampan berisi beberapa gelas minuman beralkohol. "Ingat ya, tamu di sana orang-orang kaya. Kalau mereka minta dituangkan, layani dengan ramah. Kalau mereka senang, tips buat kamu bisa sejuta sendiri!" Mentari menelan ludah. Rasa cemas dan takut merayapi hatinya. "Harus dilayani banget ya, Mas?" "Iya
Wajah tampan lelaki berkepala empat itu terlihat tenang, tapi ada sedikit sorot mata cemas begitu matanya menangkap sosok Mentari yang duduk menyendiri di sudut ruangan. "Mentari..." panggil Bramantyo pelan, suara dalam dan tegasnya dipenuhi rasa bersalah. Meski usianya sudah memasuki kepala empat, Bramantyo memiliki garis rahangnya tegas, wajahnya tampan, dan postur tubuhnya menyiratkan pria yang penuh wibawa. Mentari mendongak pelan, lalu buru-buru menundukkan kepalanya lagi, tak sanggup menatap mata lelaki itu. Mentari selalu gelisah setiap kali bertemu dengannya. Meski statusnya adalah ayah tirinya, ia baru mengenal Bramantyo lima tahun lalu. Ia tidak tumbuh di bawah didikannya, tidak pernah merasa sedekat itu sebagai keluarga. Malahan, Mentari hanya merasa tidak enak kepada pria itu karena selalu merepotkannya, padahal tidak ada hubungan apa-apa. Dosen pembimbing Mentari berdiri dan menjabat tangan Bramantyo. "Terima kasih sudah menyempatkan datang, Pak Bramantyo. Kami meman







