Home / Romansa / Pesona Ayah Tiri / Sentuhan Tanpa Sengaja

Share

Sentuhan Tanpa Sengaja

Author: Erumanstory
last update publish date: 2026-10-22 15:14:12

Mentari menatap tulisan tangan itu, lalu beralih memandangi laptop baru yang harganya puluhan juta rupiah. Seketika, tenggorokannya terasa tercekat. Air matanya menetes begitu saja membasahi pipinya.

Bukan karena ia senang mendapatkan barang mahal, melainkan karena ia tersadar betapa besar perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh ayah tirinya. Pria yang selama ini mati-matian ia coba jauhi karena merasa asing dengannya dan tidak menganggapnya keluarga.

Diam-diam, Mentari sebenarnya senang mendapat perhatian seorang ayah. Tapi ia selalu merasa bersalah. Apa boleh ia menikmati fasilitas dan pemberian Bramantyo dengan statusnya sebagai anak tiri, saat ibunya sudah tidak ada?

Hingga malam makin larut, suasana di penthouse terasa semakin sunyi. Natasha belum juga pulang. Mentari paham betul, Natasha pasti sengaja menginap di tempat lain karena tidak sudi berada di bawah satu atap dengannya. Dulu, saat Mentari masih tinggal di sana, Natasha juga sering bertengkar dengan ayahnya karena hal itu.

Mentari menghela napas lega setelah menyelesaikan draf skripsinya menggunakan laptop baru pemberian Bramantyo. Rasa lelah mulai melingkupi tubuhnya. Ia memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap tidur.

Setelah selesai mandi, Mentari keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur sederhana—kaos putih longgar dan celana panjang tipis berwarna senada. Rambut hitamnya yang masih agak basah dibiarkan terurai di bahu.

Saat Mentari hendak melangkah ke dapur untuk mengambil segelas air hangat sebelum tidur, suara pintu yang dibuka seseorang mengejutkannya.

Bramantyo melangkah masuk dengan jalan yang sedikit sempoyongan. Jasnya sudah ia jinjing di tangan, kemeja putihnya kusut dengan dua kancing atas yang terbuka, dan dasinya sudah melonggar.

Mentari kaget dan membeku di tempatnya. "Pak Bramantyo? Bapak baru pulang?"

Bramantyo menghentikan langkahnya. Matanya yang sayu dan kemerahan akibat pengaruh alkohol menatap tajam ke arah Mentari. Di bawah sinar lampu ruang tengah, sosok Mentari yang mengenakan pakaian rumahan dengan rambut terurai basah terlihat sangat mirip dengan almarhumah istrinya—wanita yang amat ia cintai.

"Kalila..." bisik Bramantyo dengan suara serak yang penuh kerinduan.

Belum sempat Mentari menyelesaikan ucapannya, Bramantyo tiba-tiba melangkah cepat, memangkas jarak di antara mereka. Bau alkohol yang cukup pekat seketika tercium di udara.

"Pak Bramantyo, Bapak mabuk—"

Belum meyelesaikan pertanyaannya, tubuh besar Bramantyo langsung menerjang tubuh Mentari. Pria itu menarik pinggang Mentari dan memeluknya dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di leher hangat Mentari.

Deg!

Jantung Mentari berdesir hebat. Seluruh tubuhnya mendadak kaku. Kehangatan dari tubuh Bramantyo yang kekar dan bau maskulin bercampur alkohol yang menyengat membuat napas Mentari tertahan seketika.

"Aku merindukanmu, Kalila... Sangat merindukanmu..." gumam Bramantyo lirih.

Sebelum Mentari sempat mencerna keadaan, Bramantyo menangkup kedua pipi Mentari dan langsung menempelkan bibirnya ke atas bibir Mentari.

Ciuman itu terasa begitu tiba-tiba, mendalam, dan dipenuhi rasa rindu yang teramat sangat.. Bramantyo melumat bibir lembut Mentari dengan gairah yang lama terpendam, seolah melampiaskan seluruh kerinduannya pada sang istri yang telah tiada.

Mata Mentari membelalak lebar. Dada Mentari berdebar sangat kencang—campuran antara rasa kaget luar biasa dan perasaan lain yang tidak pernah ia rasakan pada ayah tirinya. Ia tidak pernah sedekat ini dengan pria mana pun. Rasa manis yang terlarang sempat menyengat hatinya, membuat Mentari tertegun selama beberapa detik dalam buaian ciuman pria itu. Untungnya, kesadaran cepat menyadarkan Mentari.

"Mmh! Pak... Pak Bramantyo!" Mentari mendorong dada bidang Bramantyo dengan sekuat tenaga, berusaha melepaskan tautan bibir mereka. "Pak, sadar! Ini Mentari! Saya Mentari, Pak! Saya Mentari bukan Ibu!"

Bramantyo tersentak pelan. Ciumannya terhenti. Matanya berkedip beberapa kali, mencoba memfokuskan pandangannya yang samar. Begitu ia menyadari siapa yang berdiri di hadapannya dengan bibir basah dan napas terengah-engah, raut wajah Bramantyo mendadak berubah tegang.

Pria itu langsung melepaskan cengkeramannya dari tubuh Mentari dan mundur satu langkah.

"Mentari...?" bisik Bramantyo dengan suara rendah, menyapu wajahnya dengan satu tangan. "Maaf. Saya tidak sengaja... Saya kira kamu Kalila."

Pria itu menghela napas lelah, masih sedikit sempoyongan saat ia melangkah menjauh.

Jauh di dalam lubuk hati Mentari, ada sedikit perasaan yang aneh yang tidak ia mengerti. Mentari sadar, ciuman tadi bukan untuk dirinya, melainkan untuk almarhumah ibunya. Tapi, kenapa jantungnya berdebar-debar?

Dengan menarik napas, Mentari berusaha menenangkan dirinya. Bramantyo sedang mabuk dan membuat kesalahan, itu wajar. Sedangkan Mentari tidak pernah sedekat itu dengan pria lain, tentu saja ia kaget.

Namun, saat melihat Bramantyo yang memegangi kepalanya dan hampir kehilangan keseimbangan, Mentari menyampingkan rasa canggungnya. Ia ingat betapa besarnya budi pria ini yang baru saja membelikannya laptop baru bernilai puluhan juta.

"Pak Bramantyo, tidak apa-apa... Saya tahu Bapak tidak sengaja," kata Mentari, berusaha menenangkan suasana. "Bapak mabuk berat. Mari saya bantu jalan ke kamar Bapak."

"Saya bisa sendiri, Mentari..." gumam Bramantyo pelan.

"Bapak jalan saja sudah sempoyongan begini, jangan keras kepala," sela Mentari tegas penuh perhatian.

Mentari merapat, melingkarkan satu tangan Bramantyo yang berat ke atas bahunya, sementara tangan kecil Mentari memeluk pinggang tegap Bramantyo untuk menahan bobot tubuh pria itu. Sentuhan itu membuat dada Mentari kembali berdebar liar, tetapi ia memaksakan diri melangkah menuju kamar tidur yang berada di ujung koridor.

Begitu pintu kamar terbuka, Mentari menuntun Bramantyo menuju ranjang berukuran king-size yang empuk.

Dengan hati-hati, Mentari mendudukkan Bramantyo di tepi kasur. Ia kemudian berlutut di depan pria itu, membantunya melepaskan sepatu kulitnya satu per satu, lalu berdiri untuk melepas dasi dan melonggarkan beberapa kancing kemeja Bramantyo agar pria itu bisa bernapas lebih lega.

"Nah, sekarang Bapak istirahat ya..." kata Mentari pelan sambil merapikan bagian depan kemeja Bramantyo.

Bramantyo menatap wajah Mentari yang berada sangat dekat di depannya. Tatapannya masih hangat dan sayu. "Terima kasih, Mentari. Kamu anak yang sangat baik."

Saat Mentari hendak berbalik dan menarik diri, tangan lebar Bramantyo tanpa sengaja meraih pergelangan tangan Mentari, berniat menahannya. Tapi karena pengaruh alkohol yang membuat keseimbangannya hilang, Bramantyo justru tertarik ke depan.

"Eh—Pak Bramantyo!" jerit Mentari kaget.

Tubuh tegap Bramantyo rubuh ke belakang, dan secara otomatis menarik tubuh ringan Mentari ikut terjatuh ke atas kasur bersama dirinya.

Suasana kamar mendadak hening seketika.

Mentari kini jatuh tersungkur tepat di atas tubuh Bramantyo. Kedua tangan Mentari menahan dadanya di atas dada bidang pria itu, sementara wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Hembusan napas hangat Bramantyo bergesekan langsung dengan kulit leher Mentari.

Di bawah remang-remang lampu kamar, mata mereka saling mengunci. Mentari bisa merasakan dengan sangat jelas detak jantung Bramantyo yang berpacu kencang di bawah telapak tangannya, persis sama dengan detak jantungnya sendiri yang serasa mau melompat keluar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Ayah Tiri   Jangan Pergi!

    "Kalau Papa tetap kejar dia, aku beneran bakal pergi dari rumah ini selamanya! Aku serius, Pa!" teriak Natasha histeris, mencengkeram lengan ayahnya dengan kuat.Bramantyo menatap putrinya dengan napas memburu. Hati Bramantyo terasa seperti diremas kuat-kuat. Ia tahu Natasha sedang dikuasai emosi, tapi membiarkan Mentari pergi sendirian dalam kondisi hancur seperti itu adalah hal yang paling tidak mungkin ia lakukan. Mengingat kejadian buruk di klub malam beberapa hari lalu membuat dada Bramantyo sesak. "Lepaskan, Natasha," suara Bramantyo terdengar dingin."Pa! Kenapa Papa lebih milih dia?!" air mata Natasha tumpah semakin deras."Papa tidak memilih siapa-siapa. Tapi Papa tidak akan biarkan Mentari celaka di luar sana!" seru Bramantyo sambil melepaskan cengkeraman tangan putrinya dengan sekali sentakan.Tanpa membuang waktu lagi, Bramantyo langsung melangkah lebar mengejar Mentari. Ia tidak peduli lagi dengan teriakan Natasha yang semakin menjadi-jadi di belakang. Yang ada di dalam

  • Pesona Ayah Tiri   Mencari Jalan Terbaik

    "Pa... Pak Bramantyo, tolong lepaskan saya..." bisik Mentari dengan suara bergetar hebat. Rasa takut, gugup, dan bingung bercampur aduk menjadi satu di dalam kepalanya. Ini adalah posisi yang sangat tidak pantas antara seorang ayah tiri dan anak tirinya. Bramantyo tidak langsung bergerak. Matanya yang sayu akibat pengaruh alkohol menatap lekat-lekat ke dalam mata Mentari. Ada sorot penyesalan sekaligus kebingungan di sana. "Mentari..." suara serak Bramantyo terdengar sangat dekat di telinganya. "Maafkan saya... Saya benar-benar tidak sengaja..." "Iya, Pak. Saya tahu. Tolong biarkan saya bangun dulu," pinta Mentari dengan suara nyaris seperti bisikan, sementara pipinya sudah merah padam karena malu. Dengan sisa tenaganya, Mentari menggunakan kedua tangannya untuk mendorong dada bidang Bramantyo perlahan. Pria itu mengangguk kecil lalu melonggarkan cengkeramannya. Begitu ada celah, Mentari langsung melompat turun dari ranjang. Wajahnya menunduk, tidak berani sama sekali menatap

  • Pesona Ayah Tiri   Sentuhan Tanpa Sengaja

    Mentari menatap tulisan tangan itu, lalu beralih memandangi laptop baru yang harganya puluhan juta rupiah. Seketika, tenggorokannya terasa tercekat. Air matanya menetes begitu saja membasahi pipinya. Bukan karena ia senang mendapatkan barang mahal, melainkan karena ia tersadar betapa besar perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh ayah tirinya. Pria yang selama ini mati-matian ia coba jauhi karena merasa asing dengannya dan tidak menganggapnya keluarga. Diam-diam, Mentari sebenarnya senang mendapat perhatian seorang ayah. Tapi ia selalu merasa bersalah. Apa boleh ia menikmati fasilitas dan pemberian Bramantyo dengan statusnya sebagai anak tiri, saat ibunya sudah tidak ada? Hingga malam makin larut, suasana di penthouse terasa semakin sunyi. Natasha belum juga pulang. Mentari paham betul, Natasha pasti sengaja menginap di tempat lain karena tidak sudi berada di bawah satu atap dengannya. Dulu, saat Mentari masih tinggal di sana, Natasha juga sering bertengkar dengan ayahnya

  • Pesona Ayah Tiri   Perdebatan Sengit

    Mobil sedan mewah yang dikemudikan oleh sopir pribadi Bramantyo masuk ke basement gedung apartemen dengan mulus. Di dalam kabin belakang, suasana terasa sangat sunyi. Mentari duduk di sudut jok, masih mengenakan jas hitam besar milik Bramantyo untuk menutupi gaun pelayannya yang terbuka. Ia menunduk dalam-dalam, meremas jemarinya sendiri karena rasa gugup dan takut. Setibanya di penthouse, pintu lift pribadi terbuka langsung ke ruang tengah yang luas dan megah. Langkah kaki Bramantyo dan Mentari baru saja melangkah masuk ketika suara decakan sinis menyambut mereka dari arah sofa ruang tamu. "Wah, wah. Kemarin gak terima dibilang anak wanita murahan, tapi penampilannya malah kayak kupu-kupu malam. Sok polos," sindir Natasha. Gadis itu berdiri di dekat sofa, melipat tangan di dada dengan senyum meremehkan. "Papa dari mana sama cewek ini? Kenapa dia dibawa ke rumah kita lagi? Jangan bilang dia habis lelang tubuhnya dan malah ketemu papa," ucap Natasha dengan nada meremehkan, menunjuk

  • Pesona Ayah Tiri   Rayuan Pria Hidung Belang

    Malam itu, Vanguard Club dipenuhi pengunjung yang larut dalam euforia. Mereka berjoget mengikuti irama musik. Diiringi cahaya lampu yang sengaja dibuat redup. Udara terasa hangat, bercampur aroma alkohol dan wangi parfum yang menyengat. Mentari berdiri canggung di balik konter bar. Ia mengenakan seragam pelayan berupa gaun hitam polos di atas lutut. Meski gaun itu terbilang sederhana, potongan baju yang agak terbuka di bagian bahu dan leher memperlihatkan kulit mulusnya dengan sangat jelas. Rambut hitam tebalnya dibiarkan terurai, menambah kesan alami yang jarang terlihat di tempat seperti ini. "Mentari, antar minuman ini ke meja sofa di sudut sana!" seru manajer bar sambil menyodorkan nampan berisi beberapa gelas minuman beralkohol. "Ingat ya, tamu di sana orang-orang kaya. Kalau mereka minta dituangkan, layani dengan ramah. Kalau mereka senang, tips buat kamu bisa sejuta sendiri!" Mentari menelan ludah. Rasa cemas dan takut merayapi hatinya. "Harus dilayani banget ya, Mas?" "Iya

  • Pesona Ayah Tiri   Mencoba Hidup Mandiri

    Wajah tampan lelaki berkepala empat itu terlihat tenang, tapi ada sedikit sorot mata cemas begitu matanya menangkap sosok Mentari yang duduk menyendiri di sudut ruangan. "Mentari..." panggil Bramantyo pelan, suara dalam dan tegasnya dipenuhi rasa bersalah. Meski usianya sudah memasuki kepala empat, Bramantyo memiliki garis rahangnya tegas, wajahnya tampan, dan postur tubuhnya menyiratkan pria yang penuh wibawa. Mentari mendongak pelan, lalu buru-buru menundukkan kepalanya lagi, tak sanggup menatap mata lelaki itu. Mentari selalu gelisah setiap kali bertemu dengannya. Meski statusnya adalah ayah tirinya, ia baru mengenal Bramantyo lima tahun lalu. Ia tidak tumbuh di bawah didikannya, tidak pernah merasa sedekat itu sebagai keluarga. Malahan, Mentari hanya merasa tidak enak kepada pria itu karena selalu merepotkannya, padahal tidak ada hubungan apa-apa. Dosen pembimbing Mentari berdiri dan menjabat tangan Bramantyo. "Terima kasih sudah menyempatkan datang, Pak Bramantyo. Kami meman

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status