Home / Romansa / Pesona Ayah Tiri / Rayuan Pria Hidung Belang

Share

Rayuan Pria Hidung Belang

Author: Erumanstory
last update publish date: 2026-10-22 15:12:50

Malam itu, Vanguard Club dipenuhi pengunjung yang larut dalam euforia. Mereka berjoget mengikuti irama musik. Diiringi cahaya lampu yang sengaja dibuat redup. Udara terasa hangat, bercampur aroma alkohol dan wangi parfum yang menyengat.

Mentari berdiri canggung di balik konter bar. Ia mengenakan seragam pelayan berupa gaun hitam polos di atas lutut. Meski gaun itu terbilang sederhana, potongan baju yang agak terbuka di bagian bahu dan leher memperlihatkan kulit mulusnya dengan sangat jelas. Rambut hitam tebalnya dibiarkan terurai, menambah kesan alami yang jarang terlihat di tempat seperti ini.

"Mentari, antar minuman ini ke meja sofa di sudut sana!" seru manajer bar sambil menyodorkan nampan berisi beberapa gelas minuman beralkohol. "Ingat ya, tamu di sana orang-orang kaya. Kalau mereka minta dituangkan, layani dengan ramah. Kalau mereka senang, tips buat kamu bisa sejuta sendiri!"

Mentari menelan ludah. Rasa cemas dan takut merayapi hatinya. "Harus dilayani banget ya, Mas?"

"Iya dong! Jangan kaku. Kasih ekspresi terbaikmu, Mentari," ucap manajer itu. "Kamu mau uang cepat buat beli laptop, kan? Kerjakan yang benar!"

Dengan tangan gemetar, Mentari memegang nampan dan melangkah ragu menuju meja di sudut ruangan. Di sana, tiga pria paruh baya bersetelan rapi sedang tertawa lebar sambil memegang gelas minuman.

"Permisi, Tuan... Ini minuman pesanan Anda," kata Mentari pelan, berusaha tersenyum sopan.

Salah satu pria berbadan tambun dengan kemeja yang agak terbuka menoleh. Matanya langsung membelalak melihat Mentari. "Wah, ada pelayan baru rupanya! Cantik dan masih sangat muda!"

"Terima kasih, Tuan. Silakan diminum," ujar Mentari sambil meletakkan gelas satu per satu ke atas meja. Ia berniat segera berbalik dan pergi, tapi pria tambun itu mendadak mencengkeram pergelangan tangannya.

Srett!

"Eh, mau ke mana cepat-cepat, Cantik? Duduk dulu di sini, temani Om minum," kata pria itu dengan hembusan napas berbau alkohol yang pekat.

Mentari kaget setengah mati. Wajahnya langsung pucat. "M-maaf, Tuan! Saya cuma pelayan, saya harus kembali ke bar untuk mengantar pesanan lain—"

"Halah, gak usah sok jual mahal!" Pria itu menarik tangan Mentari dengan kasar hingga tubuh ringan Mentari terhuyung dan terpaksa terduduk tepat di sampingnya.

"Tuan, tolong lepaskan! Jangan seperti ini!" jerit Mentari panik. Ia berusaha mendorong dada pria itu, tapi tenaganya kalah jauh.

Pria tambun itu malah tertawa senang melihat kepanikan Mentari. Tangannya yang kasar mulai merayap naik, mengusap paha mulus Mentari yang tersingkap, lalu mencoba merangkul bahunya yang terbuka. "Satu jam temani Om, nanti Om kasih bonus tiga juta! Cukup kan buat beli baju mahal?"

"Tidak mau! Lepaskan saya!" Mentari berontak. Air mata ketakutan mulai merembet keluar dari sudut matanya. Ia merasa sangat jijik dan takut. Ia menyesali keputusan karena telah datang ke tempat ini.

Saat tangan pria itu makin berani memegang pinggang Mentari, sebuah cengkeraman kuat dan keras tiba-tiba menghantam pergelangan tangan pria tambun tersebut.

"Aduh! Siapa yang berani—" Pria tambun itu menjerit kesakitan dan mendongak.

Mata pria itu membeku, dan seluruh tawa di meja itu mendadak sirna seketika.

Di hadapan mereka, berdiri seorang pria tegap dengan setelan jas mahal yang sangat berwibawa. Wajahnya mengeras penuh amarah, dan matanya memancarkan tatapan dingin yang sanggup membekukan siapa saja.

Bramantyo Wijaya.

"Lepaskan tanganmu darinya," suara Bramantyo terdengar penuh ancaman

Pria tambun itu mengenali siapa Bramantyo—salah satu pengusaha paling berpengaruh di ibu kota. Ia langsung melepaskan cengkeramannya dari Mentari dengan tubuh gemetar. "T-Tuan Bramantyo... Maaf, kami tidak tahu kalau gadis ini kenalan Anda..."

Bramantyo tidak membalas ucapan pria itu. Matanya beralih menatap Mentari yang terduduk gemetar di sofa, dengan pakaian terbuka dan air mata menetes di pipinya. Ekspresi wajah pria itu pun seketika menggelap.

Dengan gerakan cepat, Bramantyo melepas jas hitamnya, lalu menyampirkannya ke bahu Mentari untuk menutupi tubuh gadis itu yang terbuka dari pandangan pria-pria mesum di sana.

"Ikut saya sekarang," kata Bramantyo tegas. Ia menarik tangan Mentari dengan lembut namun tidak bisa dibantah, membimbingnya keluar dari klub malam itu.

Mentari hanya bisa menunduk dalam-dalam sambil merapatkan jas besar milik Bramantyo ke tubuhnya. Rasa malu yang amat sangat membakar seluruh wajah dan dadanya. Ia sangat malu karena ketahuan berada di tempat seperti ini oleh ayah tirinya sendiri.

Begitu sampai di area parkir VIP yang sepi, Bramantyo menghentikan langkahnya dan membalikkan badan. Matanya menatap Mentari dengan campuran antara marah besar dan rasa kecewa yang mendalam.

"Apa yang kamu lakukan di tempat kotor seperti ini, Mentari?!" bentak Bramantyo, suaranya bergema di area parkir yang sunyi. "Kamu menjual dirimu hanya demi uang?!"

Mentari gemetar hebat. Tangisnya pecah seketika. "S-saya tidak menjual diri, Pak... Saya cuma bekerja jadi pelayan... Saya ingin belajar cari uang sendiri..."

"Cari uang sendiri sampai harus disentuh pria-pria hidung belang begitu?!" suara Bramantyo makin meninggi, menunjukkan betapa khawatirnya ia saat membayangkan apa yang bisa saja terjadi pada Mentari jika ia tidak datang tepat waktu. "Kenapa kamu bisa nekat begini, Mentari?! Kamu tahu betapa bahayanya tempat ini?!"

"Karena saya tidak mau terus-terusan menyusahkan Pak Bramantyo!" jerit Mentari dengan suara serak, mendongak menatap Bramantyo di balik genangan air matanya. "Natasha benci sama saya! Semua orang bilang saya cuma benalu di keluarga Bapak! Saya cuma mau beli laptop sendiri supaya tidak ada lagi yang mengata-ngatai almarhumah ibu saya dan saya!"

Bramantyo membeku di tempatnya. Bentakan marah di tenggorokannya mendadak tertahan saat melihat tatapan terluka dan keputusasaan di mata Mentari.

Mentari terdiam, ia pasti telah membuat Bramantyo merasa bersalah. Pria itu menghela napas panjang, meraup wajahnya yang lelah dengan satu tangan, lalu melangkah mendekati Mentari.

Tangannya terangkat, hendak mengusap air mata di pipi Mentari dengan ibu jarinya secara perlahan. Tapi, lagi-lagi Mentari langsung mundur untuk menghindar dengan canggung. Bramantyo terdiam.

"Maafkan saya..." ucap Bramantyo dengan suara yang melunak drastis. "Saya tidak bermaksud membentakmu. Tapi melihatmu disentuh orang tadi... Saya benar-benar tidak bisa menahan emosi."

Mentari menunduk, buru-buru mengusap air matanya.

"Mulai sekarang, kamu tidak boleh lagi bekerja di tempat seperti ini," ucap Bramantyo dengan nada tegas yang tidak boleh dibantah. "Kamu harus ikut saya pulang ke penthouse. Kamu akan tinggal bersama saya dan Natasha. Saya tidak akan biarkan kamu berada di luar pengawasan saya lagi."

Mentari tersentak pelan. "Tapi... Natasha pasti marah besar kalau melihat saya tinggal di sana lagi, Pak..."

"Biar saya yang mengurus Natasha," pangkas Bramantyo dingin. "Masuk ke mobil sekarang."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Ayah Tiri   Jangan Pergi!

    "Kalau Papa tetap kejar dia, aku beneran bakal pergi dari rumah ini selamanya! Aku serius, Pa!" teriak Natasha histeris, mencengkeram lengan ayahnya dengan kuat.Bramantyo menatap putrinya dengan napas memburu. Hati Bramantyo terasa seperti diremas kuat-kuat. Ia tahu Natasha sedang dikuasai emosi, tapi membiarkan Mentari pergi sendirian dalam kondisi hancur seperti itu adalah hal yang paling tidak mungkin ia lakukan. Mengingat kejadian buruk di klub malam beberapa hari lalu membuat dada Bramantyo sesak. "Lepaskan, Natasha," suara Bramantyo terdengar dingin."Pa! Kenapa Papa lebih milih dia?!" air mata Natasha tumpah semakin deras."Papa tidak memilih siapa-siapa. Tapi Papa tidak akan biarkan Mentari celaka di luar sana!" seru Bramantyo sambil melepaskan cengkeraman tangan putrinya dengan sekali sentakan.Tanpa membuang waktu lagi, Bramantyo langsung melangkah lebar mengejar Mentari. Ia tidak peduli lagi dengan teriakan Natasha yang semakin menjadi-jadi di belakang. Yang ada di dalam

  • Pesona Ayah Tiri   Mencari Jalan Terbaik

    "Pa... Pak Bramantyo, tolong lepaskan saya..." bisik Mentari dengan suara bergetar hebat. Rasa takut, gugup, dan bingung bercampur aduk menjadi satu di dalam kepalanya. Ini adalah posisi yang sangat tidak pantas antara seorang ayah tiri dan anak tirinya. Bramantyo tidak langsung bergerak. Matanya yang sayu akibat pengaruh alkohol menatap lekat-lekat ke dalam mata Mentari. Ada sorot penyesalan sekaligus kebingungan di sana. "Mentari..." suara serak Bramantyo terdengar sangat dekat di telinganya. "Maafkan saya... Saya benar-benar tidak sengaja..." "Iya, Pak. Saya tahu. Tolong biarkan saya bangun dulu," pinta Mentari dengan suara nyaris seperti bisikan, sementara pipinya sudah merah padam karena malu. Dengan sisa tenaganya, Mentari menggunakan kedua tangannya untuk mendorong dada bidang Bramantyo perlahan. Pria itu mengangguk kecil lalu melonggarkan cengkeramannya. Begitu ada celah, Mentari langsung melompat turun dari ranjang. Wajahnya menunduk, tidak berani sama sekali menatap

  • Pesona Ayah Tiri   Sentuhan Tanpa Sengaja

    Mentari menatap tulisan tangan itu, lalu beralih memandangi laptop baru yang harganya puluhan juta rupiah. Seketika, tenggorokannya terasa tercekat. Air matanya menetes begitu saja membasahi pipinya. Bukan karena ia senang mendapatkan barang mahal, melainkan karena ia tersadar betapa besar perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh ayah tirinya. Pria yang selama ini mati-matian ia coba jauhi karena merasa asing dengannya dan tidak menganggapnya keluarga. Diam-diam, Mentari sebenarnya senang mendapat perhatian seorang ayah. Tapi ia selalu merasa bersalah. Apa boleh ia menikmati fasilitas dan pemberian Bramantyo dengan statusnya sebagai anak tiri, saat ibunya sudah tidak ada? Hingga malam makin larut, suasana di penthouse terasa semakin sunyi. Natasha belum juga pulang. Mentari paham betul, Natasha pasti sengaja menginap di tempat lain karena tidak sudi berada di bawah satu atap dengannya. Dulu, saat Mentari masih tinggal di sana, Natasha juga sering bertengkar dengan ayahnya

  • Pesona Ayah Tiri   Perdebatan Sengit

    Mobil sedan mewah yang dikemudikan oleh sopir pribadi Bramantyo masuk ke basement gedung apartemen dengan mulus. Di dalam kabin belakang, suasana terasa sangat sunyi. Mentari duduk di sudut jok, masih mengenakan jas hitam besar milik Bramantyo untuk menutupi gaun pelayannya yang terbuka. Ia menunduk dalam-dalam, meremas jemarinya sendiri karena rasa gugup dan takut. Setibanya di penthouse, pintu lift pribadi terbuka langsung ke ruang tengah yang luas dan megah. Langkah kaki Bramantyo dan Mentari baru saja melangkah masuk ketika suara decakan sinis menyambut mereka dari arah sofa ruang tamu. "Wah, wah. Kemarin gak terima dibilang anak wanita murahan, tapi penampilannya malah kayak kupu-kupu malam. Sok polos," sindir Natasha. Gadis itu berdiri di dekat sofa, melipat tangan di dada dengan senyum meremehkan. "Papa dari mana sama cewek ini? Kenapa dia dibawa ke rumah kita lagi? Jangan bilang dia habis lelang tubuhnya dan malah ketemu papa," ucap Natasha dengan nada meremehkan, menunjuk

  • Pesona Ayah Tiri   Rayuan Pria Hidung Belang

    Malam itu, Vanguard Club dipenuhi pengunjung yang larut dalam euforia. Mereka berjoget mengikuti irama musik. Diiringi cahaya lampu yang sengaja dibuat redup. Udara terasa hangat, bercampur aroma alkohol dan wangi parfum yang menyengat. Mentari berdiri canggung di balik konter bar. Ia mengenakan seragam pelayan berupa gaun hitam polos di atas lutut. Meski gaun itu terbilang sederhana, potongan baju yang agak terbuka di bagian bahu dan leher memperlihatkan kulit mulusnya dengan sangat jelas. Rambut hitam tebalnya dibiarkan terurai, menambah kesan alami yang jarang terlihat di tempat seperti ini. "Mentari, antar minuman ini ke meja sofa di sudut sana!" seru manajer bar sambil menyodorkan nampan berisi beberapa gelas minuman beralkohol. "Ingat ya, tamu di sana orang-orang kaya. Kalau mereka minta dituangkan, layani dengan ramah. Kalau mereka senang, tips buat kamu bisa sejuta sendiri!" Mentari menelan ludah. Rasa cemas dan takut merayapi hatinya. "Harus dilayani banget ya, Mas?" "Iya

  • Pesona Ayah Tiri   Mencoba Hidup Mandiri

    Wajah tampan lelaki berkepala empat itu terlihat tenang, tapi ada sedikit sorot mata cemas begitu matanya menangkap sosok Mentari yang duduk menyendiri di sudut ruangan. "Mentari..." panggil Bramantyo pelan, suara dalam dan tegasnya dipenuhi rasa bersalah. Meski usianya sudah memasuki kepala empat, Bramantyo memiliki garis rahangnya tegas, wajahnya tampan, dan postur tubuhnya menyiratkan pria yang penuh wibawa. Mentari mendongak pelan, lalu buru-buru menundukkan kepalanya lagi, tak sanggup menatap mata lelaki itu. Mentari selalu gelisah setiap kali bertemu dengannya. Meski statusnya adalah ayah tirinya, ia baru mengenal Bramantyo lima tahun lalu. Ia tidak tumbuh di bawah didikannya, tidak pernah merasa sedekat itu sebagai keluarga. Malahan, Mentari hanya merasa tidak enak kepada pria itu karena selalu merepotkannya, padahal tidak ada hubungan apa-apa. Dosen pembimbing Mentari berdiri dan menjabat tangan Bramantyo. "Terima kasih sudah menyempatkan datang, Pak Bramantyo. Kami meman

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status