Masuk“Pukulan ini sebagai balasan atas perbuatanmu yang sudah mencelakai ibuku, Pene,” desis Sherin dengan napas terengah-engah.Darah masih mengalir dari pergelangan tangannya yang terluka. Akan tetapi, rasa perih itu nyaris tidak ia rasakan karena seluruh kesadarannya tertuju pada wanita di hadapannya.Penelope merintih kesakitan. Perlahan ia mendongakkan wajahnya. Kilatan kebencian menyala di matanya yang sembap dan memerah. “Gadis sialan, aku akan membunuhmu!” teriaknya, menggila.Penelope bangkit dengan cepat, lalu kembali menerjang ke arah Sherin.Namun, Sherin tidak tinggal diam. Dengan keberanian yang dipicu oleh rasa sakit selama bertahun-tahun, ia kembali mengayunkan kayu itu dan─BUGH!Hantaman telak mendarat di perut Penelope. Wanita itu tersentak, lalu berlutut di hadapan Sherin sambil memegangi perutnya.“Dan pukulan ini ... adalah balasan atas semua penindasan dan penghinaan yang kupikul selama bertahun-tahun di kediaman Scarlet.” desis Sherin seraya berdecih sinis.Penelope
“Cukup! Hentikan omong kosongmu!” bentak Penelope dengan histeris. Ia segera mendekat ke sisi David, menggelayut erat lengan pria itu dan berkata dengan gelagapan, “David, kamu jangan sampai tertipu. Dia hanya ingin mengadu domba kita. Jangan sampai kamu terjebak oleh permainan kata wanita licik ini.” David tidak langsung menjawab. Keraguan jelas tergambar di wajahnya. Pandangannya beralih dari Penelope ke Natalie secara bergantian, seolah menimbang kebenaran di antara dua sisi yang saling berseberangan. “Siapa yang menjebak siapa … biar nanti pengadilan yang membuktikan semuanya,” balas Natalie sembari mendengus dingin. Dengan suara berdesis penuh kebencian, ia menambahkan, “aku akan menuntut keadilan atas semua kejahatan yang kalian lakukan padaku dan putriku. Dan, akan kupastikan kalian membusuk di dalam penjara dan merasakan penderitaan yang berlipat ganda dari apa yang kualami sepuluh tahun lalu!” Alih-alih merasa takut, Penelope malah tertawa kecil penuh cemooh, tetapi gura
“Jadi … kamu melakukan operasi plastik seperti wajah sekarang dan jasad itu adalah pengacaramu?” gumam David dengan mulut menganga syok.Natalie tidak menjawab. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis yang dingin. Tangannya meraih kerah kemeja David dan menarik pria itu hingga sejajar dengan tatapannya yang menyala penuh bara amarah.“Andai saja selama sepuluh tahun ini aku tidak amnesia, aku pasti tidak akan membiarkanmu dan Penelope menikmati satu sen pun dari warisanku,” geramnya dengan amarah yang mendidih.Bukan hanya merasa marah kepada David dan Penelope, ia juga kesal kepada dirinya sendiri yang tidak dapat mengingat lebih awal dan membiarkan semua berlalu tanpa bisa ia cegah.Rahang David mengeras. Ia masih tidak dapat mempercayai pengakuan wanita di hadapannya ini. Namun, ia dapat melihat dengan jelas sorot mata penuh kebencian yang ditujukan wanita itu padanya.“Setelah menikmati semuanya, apa itu belum cukup memuaskan kalian? Bisa-bisanya sekarang kamu dan wanita jalang ini
“J-Jadi kamu … kamu adalah … Natalie?” gumam Penelope dengan suara bergetar yang nyaris hilang ditelan ketakutan dan rasa sakit.“Kamu masih mengingatku?” Gretta alias Natalie menyungging senyum dingin. Ia terus mendesak maju, memaksa Penelope mundur selangkah demi selangkah hingga tumit wanita itu menyentuh tepian gedung yang belum dibangun sempurna itu.“Aku benar-benar tersanjung, Penelope,” imbuh Natalie dengan nada sinis.Penelope menoleh sekilas ke belakang. Kegelapan menganga di bawah sana seperti jurang tak berdasar, membuat jantungnya berdegup sangat cepat. Ia kembali menatap wanita yang kini berdiri tepat di hadapannya seperti malaikat pencabut nyawa.“Tidak mungkin …” Penelope menggeleng lemah sambil meringis menahan sakit akibat cengkeraman itu. “Kamu bukan Natalie. Wajah … wajah kalian saja berbeda … Natalie sudah mati terbakar dalam kecelakaan itu!”Natalie menyeringai. Di bawah pencahayaan yang remang, ekspresinya terlihat sangat menyeramkan.“Tentu saja berbeda,” ucapny
“Pene, apa yang kamu lakukan?!” sergah David.Pria itu baru saja menyelesaikan panggilan telepon di sudut ruangan yang cukup jauh. Saat berbalik, ia membeku, melihat kegilaan yang tengah istrinya lakukan pada Sherin.“Hentikan! Dia tidak boleh mati sekarang!” seru David dengan panik.Namun, Penelope tidak menggubrisnya. Kebencian telah meracuni akal sehatnya dan mendesaknya untuk segera menghabisi nyawa putri dari wanita yang paling ia benci.David hendak berlari mendekat untuk menghentikan kegilaan istrinya. Namun, sebelum ia sempat bergerak, tiba-tiba saja seseorang telah mendahuluinya dan─BUGH!Hantaman keras itu mendarat telak di punggung Penelope. Cengkeramannya terlepas seketika dan ia langsung tersungkur ke lantai dengan jeritan tertahan.Sherin terbatuk-batuk hebat, menghirup oksigen sebanyak mungkin sambil berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang masih terikat.Sementara, David mematung di tempatnya. Dahinya mengernyit saat melihat sosok asing yang kini berdiri di antara mereka
“Jadi … sejak awal kalian sudah merancang untuk membunuh ibuku demi menguasai hartanya?” desis Sherin dengan suara dingin, memendam kebencian yang tak tertahankan. Ia sangat yakin Penelope memiliki andil besar dalam kecelakaan yang menimpa ibunya.Penelope terdiam sesaat. Senyumnya membeku di bibir, tetapi hanya sepersekian detik sebelum berubah menjadi seringai miring yang terlihat lebih licik.“Oh, Sayang ...," ucap Penelope dengan nada lembut penuh kepalsuan. Tangannya terangkat, mengelus pipi Sherin dengan sentuhan yang membuat gadis itu menatapnya dengan jijik."Jangan berburuk sangka sampai sejauh itu. Ini hanyalah akibat yang harus ibumu tanggung karena sudah merampas apa yang seharusnya aku dan Paula dapatkan,” lanjut Penelope dengan angkuh, tidak menunjukkan sedikit pun penyesalan atas semua perbuatan yang telah ia lakukan di masa lalu.Dahi Sherin mengernyit. Kebingungan bercampur amarah memenuhi wajahnya. "Merampas? Apa maksudmu? Ibuku adalah istri sahnya. Jangan seenaknya m







