Share

24 Nekat

Author: Eliyen Author
last update publish date: 2026-11-03 21:36:02

“Cut! Cut! Erlang, tunjukkan emosimu! Kau mencintai kekasihmu. Kenapa matamu justru seperti ingin membunuh Yinfei?”

Yinfei adalah karakter yang diperankan oleh Bai Churan. Dan sang aktris menatap lekat-lekat ke arah Erlang yang terlihat sangat frustrasi.

“Ulangi sekali lagi! Ingat, jangan sampai salah! Kita sudah 20 kali take.”

Erlang memejamkan mata. Dia mencoba memunculkan seluruh rasa sukanya kepada Bai Churan. Perlahan dia membuka mata dan mulai masuk ke perannya sebagai seorang jenderal mu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Brondong Tetangga   24 Nekat

    “Cut! Cut! Erlang, tunjukkan emosimu! Kau mencintai kekasihmu. Kenapa matamu justru seperti ingin membunuh Yinfei?”Yinfei adalah karakter yang diperankan oleh Bai Churan. Dan sang aktris menatap lekat-lekat ke arah Erlang yang terlihat sangat frustrasi.“Ulangi sekali lagi! Ingat, jangan sampai salah! Kita sudah 20 kali take.”Erlang memejamkan mata. Dia mencoba memunculkan seluruh rasa sukanya kepada Bai Churan. Perlahan dia membuka mata dan mulai masuk ke perannya sebagai seorang jenderal muda.Tangannya meraih tengkuk Bai Churan. Tatapan Erlang terpaku ke mata wanita itu. Perlahan dia memiringkan kepala, kemudian menurunkan wajah, dan ….“CUT!”Teriakan sutradara kali ini benar-benar membahana. Semua orang mengeluh. Erlang mengertakkan rahang.“Demi Tuhan! Apa yang salah denganmu? Kau sempurna saat adegan duel kemarin. Kenapa sekarang jadi melempem seperti ini?” omel sutradara. “Apa susahnya mencium Yinfei? Kau mencintai Yinfei dan lama tak bertemu. Yinfei ini kekasihmu, bukan ban

  • Pesona Brondong Tetangga   23 Kecewa

    Valerina pusing tujuh keliling. Mondar-mandir terus dia di kamar hotelnya. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai cara menolak si berondong. Sebagai janda berharga diri tinggi, dia harus menolak pendekatan apapunyang dilakukan oleh lelaki yang lebih muda dengannya.“Yang bener aja! Nggak mungkin Erlang suka sama aku, kan?”Jari-jarinya memijat pelipis. Dia sudah sampai di hotel sejak satu jam lalu. Kemudian, dengan usaha ekstra keras, dia berhasil mengusir Erlang agar tidak naik ke kamarnya.“Apa pula itu tadi? Dia mau deketin aku?”Valeria mengerang keras-keras. Dia melempar badan ke tempat tidur, berbaur dengan baju-baju yang harus dimasukkannya ke koper.Pandangan Valeria terpaku ke langit-langit kamar. “Apa maksudnya itu? Dia serius apa bercanda sama aku, sih?”Tring. Tring. Tring.Jantung Valeria hampir putus saat ponselnya menjerit kencang. Disambarnya gawai dari nakas dan mematung. Nama Erlang berkedip-kedip di layar ponsel.“Kenapa dia telepon jam segini?” Valeria berdeham-deham

  • Pesona Brondong Tetangga   22 Bercinta dengan Siapa?

    “Bukan urusan kamu, aku bercinta sama siapa,” desis Valeria membalas Erlang.Mata Erlang menyipit. Detik berikutnya, dia menatap sangat tajam. Valeria tak ambil peduli. “Terima kasih udah bantuin aku. Permisi, aku mau siapin makanan kamu dulu.”Valeria mendorong Erlang perlahan. Kemudian, dia merampas syalnya dari genggaman Bai Churan dan melilitkannya di lehernya sendiri.“Val.”Valeria hanya menoleh untuk mengangguk singkat. Dia tidak bicara sepatah kata pun. Seluruh waktunya di sisa hari itu dihabiskannya di dapur pribadi Erlang. Sengaja dia menghindar semua orang, sampai tidak menyadari apa yang terjadi di lokasi syuting.“Aku beneran pengen cepet balik ke Indonesia.” Una datang di sore hari dengan wajah berlipat-lipat kesal. “Kerja sama tim Bai Churan bener-bener menguras energi.”Valeria tersenyum penuh simpati. Dia menyodorkan secangkir kopi decaf untuk temannya itu.“Bayangin, Valeria. Di lokasi tadi dia bikin rusuh. Syuting hampir tertunda gara-gara dia ngamuk nggak jelas se

  • Pesona Brondong Tetangga   21 After Ciuman

    Mabuk itu bikin menyesal.Amat-sangat-menyesal!Garis bawahi itu. Mana yang dibuat menyesal bukan hanya pelakunya, tetapi juga korban. Dan itu terjadi kepada Valeria.“Seharusnya umurku yang sudah kepala tiga ini bikin aku bijaksana. Kenapa malah jadi sembrono kayak gini, sih?”Valeria mengomeli dirinya sendiri. Pantulan dirinya di cermin wastafel seolah menertawakannya. Dia mencondongkan badan ke depan. Disingkapnya kerah piyama dan mengamati lebih jelas tanda lebam merah keunguan yang bertebaran di lehernya.“Ya ampun, gimana bisa kayak gini?” Valeria menggigit bibir. “Harusnya semalam aku bisa menahan diri. Aku yang lebih tua di sini, tapi kenapa malah aku yang kayak … kayak … manfaatin Erlang?”Ingatan Valeria melayang ke peristiwa berjam-jam lalu. Erlang masuk ke kamarnya dalam kondisi mabuk. Mereka berciuman. Ciuman yang teramat panas dan membuat Valeria seketika lupa pada statusnya sekarang.Seharusnya dia berhenti setelah ciuman itu. Sayangnya, Erlang yang mengabaikan fakta bi

  • Pesona Brondong Tetangga   20 Ciuman Pertama

    “Aku nggak kedistraksi sama Erlang. Astaga, dia itu brondong banget. Mana mungkin dia beneran suka sama aku?”Valeria mondar-mandir di kamar hotel. Ini sudah dua hari tidak bertemu dengan Erlang, pasca insiden kue osmantus di lokasi syuting. Yuxi masih melarangnya mendekat dan Valeria memilih patuh.Sialnya hal itu justru membuat Valeria overthinking. Pertanyaan Erlang tentang pacar, juga sikapnya yang mendadak manis kepadanya, pada akhirnya membuat Valeria bertanya-tanya.“Dia kayak gitu juga ke cewek lain gak, sih?”Valeria menghitung jam. Seharusnya Queen sudah pulang kerja. Panggilan internasionalnya langsung dijawab di dering ketiga.“Akhirnya ingat bestie juga. Keenakan ketemu gege ganteng di sana, kirain lupa sama aku,” cerocos Queen.Valeria nyengir lebar. “Aku dalam fase anti romantic. Nggak lupa, kan?”“Kamu udah cerai lama, Ria. Kenapa nggak nyoba buka hati? Mumpung ada di China. Cowok di sana kan, gantengnya nggak ada obat.”Terdengar suara kelontang lirih. Valeria yakin be

  • Pesona Brondong Tetangga   19 Lelaki yang Berlutut

    “Siapa yang suruh kau berikan aku kue osmantus sekarang? Apa kau tak tahu, makan kue di jam seperti ini bisa bikin aku gendut? Apa otakmu tak bisa digunakan, sampai memikirkan hal itu saja tak bisa?”Valeria bengong. “Tapi tadi Anda minta saya yang belikan kue ini,” ujarnya dalam bahasa Inggris yang langsung diterjemahkan ke bahasa Mandarin lewat aplikasi di ponsel.Bai Churan mengernyitkan dahi. “Kau ini siapa? Berani-beraninya fitnah aku. Kapan aku menyuruhmu membelikan kue osmantus? Apa kau ada bukti?”Valeria mengatupkan bibir. Bahkan ini bukan di rumah sakit, tetapi dia masih harus berhadapan dengan individu yang arogan. Benar-benar menyebalkan.“Jadi, Anda tidak ingin kue ini?” tanya Valeria menegaskan.Bai Churan mengedik jijik. “Buang saja ke tempat sampah.”Valeria menggeleng. Dia melirik ke kanan, tempat sutradara berdiri kaku bersama produser sambil menatap Valeria dan Bai Churan dengan sorot mata tidak terbaca.Wanita itu tersenyum tipis. “Kuenya masih baru, segelnya belum

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status