Share

Belajar Berciuman

Penulis: LV Edelweiss
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-15 18:12:51

Susah payah Arumi menelan ludah, saat pelukan tangan Langit sudah melingkar sempurna di pinggangnya. Dan untuk pertama kali di hidupnya, ia merasakan didekap seerat itu, hingga membuat napasnya sesak dan tersengal. 

“O—om ....” Suara lirih Arumi tercekal dan nyaris tak terdengar. Dua bola matanya tak pudar dari menatap pria sang pria dewasa.

“Kenapa? Apa kamu gugup?” tanya Langit santai.

Jelas itu bukan sebuah pertanyaan. Sebab tanpa Arumi jawab saja, ia bisa melihat seperti apa gelagapan istrinya itu saat ini. 

“Om, ini nggak bener. Kit-kita—”

“Dari segi mana kamu bilang kalau ini nggak benar? Apa saya ini sugar daddy kamu? Saya ini suami kamu, Arumi.” Langit mempertegas status mereka kepada Arumi. Yang semakin membuat Arumi bingung dan terjebak.

“Ta—tapi kata Om waktu itu ....”

“Tidak akan menyentuh kamu?” potong Langit cepat. “Itu sebelum kontrak kita saya revisi.” Langit lalu semakin membawa tubuh Arumi tenggelam ke dalam tubuhnya yang kekar.

“Ja—jadi maksud, Om. Om mau kita bener-bener jadi suami-istri, gitu?”

“Kalau iya, memangnya kenapa?” tanya Langit balik dengan satu alisnya yang menanjak.

Arumi membeku tanpa sepatah kata pun. Hanya dua hazelnya yang tampak berkedip-kedip. Seolah bermakna jika tak ada penolakan di sana.

Tubuhnya kian lunglai dan gemetar. Sebuah respon yang cukup normal dari seorang wanita yang baru beranjak dewasa dan belum pernah merasakan sentuhan dari laki-laki asing.

Kenapa pria ini tiba-tiba berubah pikiran begitu?

Pikiran Arumi berkecamuk. Jujur saja ia tidak siap dengan hal seperti ini. Menerima fakta bahwa ia menggantikan posisi ibunya saja masih tidak masuk akal.

Lalu sekarang, Arumi harus benar-benar menghabiskan malam panas dengan pria ini? Pria yang sebelumnya mengatakan tidak akan menyentuhnya, bahkan akan menceraikannya saat ibunya kembali? 

“T–tapi, Om ….”

Langit mengulas senyum tipis dengan mata yang sedikit memicing. Sebelum kemudian mendekatkan perlahan wajahnya kepada wajah Arumi. Gadis itu refleks memejamkan matanya rapat-rapat.

Sesaat kemudian, Arumi pun merasakan sesuatu menabrak kedua bibir ranumnya. Itu bibir Langit.

“Hmmpp—”

‘Ya Tuhan, apa ini? Apa dia benar-benar nyium aku?’ bisik batin Arumi.

Awalnya, ciuman itu hanya berupa kecupan- kecupan lembut, sampai kemudian berubah menjadi lumatan-lumatan yang sedikit kasar, tapi tidak menyakiti. 

Kedua tangan Arumi mulai bergerak perlahan. Yang semula ada pada bidang dada sixpack milik Langit, kini berpindah melingkar, mengalungi leher laki-laki dingin itu.

Sementara Langit, pria itu benar-benar seperti kehilangan jati dirinya saat bersama Arumi. Yang semula begitu yakin untuk tidak akan menyentuh, berbelok menjadi sangat menikmati saat mencium calon anak tirinya itu.

Dan, setelah lama hal itu berlangsung, Langit pun melepaskan sejenak tautan bibir mereka. Ia lalu melihat Arumi dengan dahi yang sedikit mengernyit. 

“Kamu benar-benar tidak pernah ciuman ya?” selidiknya tiba-tiba.

Arumi menggelengkan kepala samar. Terlalu gugup untuk bersuara. Rasanya jangankan berbicara, melihat ke arah wajah Langit saja ia belum bisa. Jari-jari tangannya terus saja menarik ujung piyamanya. Persis seperti anak yang sedang dimarahi oleh ayahnya.

“Saya pikir kamu bohong,” kata Langit singkat, masih dengan senyum tipis di sudut bibirnya. 

Arumi mengangkat kepala cepat. “Maksud Om Langit, apa?” tanyanya.

“Ternyata kamu memang bodoh berciuman.” 

 Deg!

Mendengar penuturan Langit membuat Arumi rasanya seperti dihujani jutaan batu kerikil dari atas langit. Walau kecil, tapi cukup menyakitkan.

Padahal, bukannya itu bagus? Itu tandanya ia bisa menjaga diri, kan?!

“Om …”

Namun, sesakit apapun yang Arumi rasakan, ia tetap tidak mau memperpanjang perbincangan. Yang hanya akan berakhir dengan dirinya yang salah sebab tidak berpengalaman. Akhirnya, ia hanya menghela napas.

Melihat Arumi hanya diam, Langit pun segera menjarak dan duduk di tepi ranjang. Lalu menggerakkan keempat jari tangannya, menyuruh istri kecilnya itu untuk mendekat. 

“Kemari.”

Arumi tertegun sejenak, lalu melangkah perlahan mendekati Langit. Kedua tangannya masih menarik-narik ujung pakaiannya. Berhenti tepat di depan pria dewasa itu tapi masih dengan wajah yang menunduk.

“Mau saya ajarkan caranya berciuman?” tanya Langit yang membuat Arumi menoleh ke arahnya.

“Heuh?”

“Sini ....” Langit kembali menarik pinggang Arumi, menyuruh perempuan polos itu duduk di atas pangkuannya. “Cium saya,” titahnya.

“Hah?” Arumi cukup terkejut mendengar perintah itu. “Om gila ya?”

“Kamu pikir anak bisa datang hanya dengan kita saling pandang?” bukannya menjawab, Langit justru melempar pertanyaan lain.

Arumi menegang seketika. Kembali ia telan ludah dengan susah payah. Berusaha untuk menyingkirkan semua perasaan gugup, malu, takut, yang telah berkecamuk sejak tadi di dalam diri.

Jadi, mereka sungguh akan membuat bayi?!

Langit mulai menutup mata. Bersiap untuk menerima ciuman pertama dari istrinya itu. Yang tadi gladi resik, jadi tidak masuk hitungan.

“Dicium ini, Om?” tanya Arumi terlalu lugu.

Langit kembali membuka mata, melihat datar ke arah perempuan berambut panjang dan lurus yang masih bertengger di atas pahanya itu. 

“Kamu ini nggak paham ya dengan ucapan saya? Masa saya harus ulang lagi,” ucap Langit kesal.

“Ya ... maaf, Om. Habisnya Arum nggak pernah. Takut salah dengar ....”

“Ya sudah, cepat.” Langit kembali menutup kedua matanya. 

Arumi kembali memandangi dua benda tipis kemerahan yang ada di depannya. Perlahan ia gerakkan satu telapak tangannya, menyentuh lembut pipi berahang tegas itu. 

Arumi dekatkan bibirnya hingga mendarat sempurna di bibir Langit. Laki-laki dewasa yang seharusnya mencium pipinya selayaknya seorang ayah yang mengayomi. Bukan justru menjadi suami.

Kini mereka saling menikmati perasaan masing-masing. Arumi dengan rasa penasaran karena ini adalah hal baru baginya. Sementara Langit dengan rasa penasarannya, seperti apa perempuan itu akan menciumnya.

Dan ... tanpa Arumi duga, Langit pun menjatuhkan tubuh mereka ke atas kasur. Membuat posisi keduanya saling tumpang tindih satu sama lain. Langit di bawah sedang Arum di atas. 

“Om ....” Terkejut, Arumi pun melepaskan ciumannya. Menatap Langit dengan dua bola mata yang sudah membesar dua kali lipat dari ukuran normalnya. 

“Masih kurang,” ucap laki-laki itu.

“A—apanya, Om? Om mau yang kayak mana lagi?” tanya Arumi putus asa.

“Saya ajari yang lebih lengkap,” kata Langit sambil sedikit berbisik tepat di telinga Arumi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Kembali Ke Rumah

    Arumi menatap mata Langit dengan pandangan yang sulit diartikan. Kalimat manis itu—kalimat yang seharusnya membuat hatinya berbunga—kini justru terasa seperti beban yang menghimpit dadanya. Perlahan, ia melepaskan tangan Langit dari wajahnya dan menggeleng pelan.“Membangun kembali kata Om?” Arumi mengulang kata-kata Langit dengan suara yang bergetar.“Iya,” jawab Langit santai.“Gimana caranya Om ngebangun sesuatu di atas puing-puing penderitaan orang lain, Om? Di atas air mata Mama Selena?”Arumi bergegas bangkit dari sofa dan menjauh dari jangkauan Langit. Ia memeluk tubuhnya sendiri, merasa kedinginan di tengah kemewahan rumah yang dulu pernah ia tinggalkan.Tak lama, Langit juga ikut berdiri. “Loh, emangnya salahnya dimana, Arumi? Saya melakukan ini juga demi kamu—”“Om selalu bilang ini demi Arum, tapi apa Om pernah tanya apa Arum sanggup hidup dengan bayang-bayang pengkhianat kayak gini?" Arumi berbalik, matanya kembali berkaca-kaca.“Pengkhianatan apanya? Kamu istri saya!” Sua

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Tangis Arumi

    Dengan perasaan takut campur sedih, akhirnya Arumi pun mengangkat kepala dan memberanikan diri melihat kepada Selena. Tampak wajah perempuan itu merah padam menahan amarah yang membuncah. “Ma … Om Langit … dia … dia suami Aurel. Aurel ini adalah Arumi yang Om Langit cari selama ini. Aurel—”“Penipu kamu!” Selena maju dan hendak menyerang Arumi dengan tangannya.Beruntung Langit langsung bergerak cepat dan menahan tangan calon istrinya itu. “Selena! Apa-apaan kamu?! Jangan main tangan!” bentaknya.Selena beralih pandang kepada Langit. Dadanya kembang kempis karena gemuruh kebencian. Ia tak lagi melihat Arumi sebagai putri angkat yang merebut calon suaminya, tapi lebih kepada seorang wanita yang sudah menjadi duri dalam hubungannya bersama Langit.“Oh, kamu lebih belain dia, Mas?” tanya Selena.“Dia istri saya, Selena!” tutur Langit dengan suara keras yang menggema di ruangan itu.“Istri?” Selena tertawa mengejek. “Istri yang udah pergi dan nggak pernah ngasih kamu kabar sama sekali? G

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Selena Tahu Siapa Aureli

    Rasa tak percaya, tapi ini nyata adanya. Di depan pintu yang terbuka lebar itu, berdiri Langit dengan rahang yang mengeras dan sorot mata yang sanggup membekukan aliran darah siapapun yang melihatnya.Napas pria dewasa itu memburu, sampul dasinya sudah sedikit longgar. Penampilannya jelas menunjukkan jika ia baru saja menerjang masuk ke ruangan ini dengan emosi yang meledak-ledak.​Ia tak bersuara, namun auranya begitu pekat oleh amarah.“O—Om Langit?” desis Arumi dengan suara bergetar. Tangisnya pecah seketika saat melihat suaminya berdiri di sana, bak pahlawan baginya.​Alex, yang terkejut dengan interupsi kasar Langit refleks mengendurkan cengkeramannya pada Arumi. Ia mencoba memperbaiki duduknya sembari memasang raut wajah angkuh.“Ehem, siapa Anda? Berani-beraninya masuk ke ruangan ini dan mengganggu—”​Belum sempat Alex menyelesaikan kalimatnya, Langit sudah lebih dulu melangkah lebar masuk ke dalam ruangan itu.Hanya sepersekian detik saja, tangan kekarnya sudah menyambar kerah

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Pertemuan Yang Menegangkan

    Malamnya, Arumi langsung bersiap-siap untuk pergi makan malam bersama Selena. Ia berdiri di depan cermin besar kamarnya seraya merapikan gaun selututnya berwarna nude yang sederhana namun tampak elegan.Ia lalu memulas lipstik tipis di bibirnya, mencoba menutupi aura pucat di wajahnya yang masih menyisakan sedikit rasa lemas sisa meriang kemarin.Namun kalau boleh jujur, rasa lemas itu masih kalah jauh dengan rasa penasarannya sejak pagi tadi.“Siapa sih yang mau Mama kenalin ke aku?” tanyanya pada diri sendiri. Tiba-tiba, ​pikirannya kembali pada sosok Langit. Sejak pria itu pergi dari rumah Selena, Arumi merasa tidak tenang. Bukan karena ia tahu tentang sifat pria itu, tapi karena ia merasa bersalah—sudah janji untuk mendukung Langit dalam memberitahu Selena yang sebenarnya namun kembali berubah pikiran.“Aureli Sayang, udah siap? Pak Eko udah nungguin tuh!” teriak Selena dari lantai bawah.“Iya, Ma, sebentar.” Arumi menyambar tas kecilnya dan bergegas turun.​Di dalam mobil, Selen

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Kenekatan Langit Di Ruang Makan

    Mata Arumi membola tatkala mendengar Langit hendak mengatakan sesuatu kepada Selena. Entah kenapa, ia menduga jika suaminya itu akan mengatakan sesuatu yang ia takutkan ibunya tahu selama ini.Jujur saja, dia belum sepenuhnya siap untuk kehilangan figur seorang ibu sebaik Selena.“Pagi, Ma,” sapa Arumi dari arah tangga. Selena dan Langit serentak menoleh ke arahnya. Ia melepas senyum lebar demi menutupi perasaan gugupnya.“Eh, Sayang? Udah bangun? Sini, sarapan,” ucap Selena, ia menyapa Arumi dengan senyum cerah dan dua bola mata yang berbinar.Arumi mengangguk patuh. Langkahnya terasa ringan sekaligus berat saat menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Napasnya sedikit tersengal, bukan hanya karena gerakan fisiknya, tapi juga karena ketakutan yang mencekik kerongkongannya. Ia harus menghentikan Langit sebelum rahasia besar mereka meluncur jelas dari bibir pria itu.Begitu tiba di depan meja makan, matanya sempat melirik sekilas kepada Langit yang tampak santai seolah semalam tak te

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Langit Akan Beritahu Selena Tentang Arumi

    Tanpa banyak bertanya lagi, Langit pun segera menautkan bibirnya pada bibir ranum Arumi. Ia melumatnya dengan kelembutan yang jauh lebih dalam, seolah ingin menghisap habis semua kesedihan dan ketakutan yang baru saja Arumi tunjukkan kepadanya.“Hhmmpp—” Ciuman itu tidak lagi terasa kasar atau menuntut seperti sebelum-sebelumnya. Kali ini, Langit mencium Arumi dengan rasa lapar yang dibalut kasih sayang, sebuah permohonan bisu agar Arumi percaya bahwa ia benar-benar dicintai.Sedang Arumi, mendapatkan hal itu, langsung memejamkan mata, membiarkan dirinya hanyut dan terbuai oleh sentuhan Langit. Tangannya yang semula gemetar kini perlahan merayap naik, melingkar di leher pria itu, mencari kehangatan yang statusnya begitu rumit dalam hidupnya kini.“Eummmmm—” Arumi kembali mendesah.Sentuhan Langit seolah membakar kulit tubuhnya, tapi kali ini Arumi tidak ingin lari. Ia ingin merasa hidup, meski hanya untuk satu malam ini saja.Sesaat kemudian, tangan Langit yang besar mulai menjelaja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status