Share

Berebut Tempat Duduk

Author: LV Edelweiss
last update Last Updated: 2025-12-31 03:37:40
Di perpustakaan, Arumi dan Eva tampak fokus menatap layar laptop masing-masing. Setelah pengajuan judul skripsi mereka di ACC Pak Dewa, mereka pun mulai menyusun tugas akhir tersebut agar bisa segera naik sidang.

“Rum …,” panggil Eva tiba-tiba.

“Eum, kenapa?” jawab Arumi.

“Udah mau pukul tiga nih. Lo nggak balik?” bisik Eva pada Arumi yang duduk di depannya.

“Balik, sebentar lagi, masih nanggung nih. Dikit lagi bab satu kelar,” jelas Arumi tanpa melihat ke arah Eva.

“Pulang bareng gue aja nanti,” tawar Eva.

Arumi mengalihkan perhatian dan balas menatap Eva. “Eh, nggak apa, Va. Om Langit nanti bakal jemput gue, kok. Thanks ya atas penawaran lo.” Arumi tersenyum simpul sembari menyentuh punggung tangan temannya itu.

“Ya udah. Iya, gue paham kok. ‘Kan Lo sekarang udah punya suami. Beda sama gue.” Nada bicara Eva terdengar sedikit merendah. Pandangannya kembali ke arah layar laptop.

“Ih apaan sih? Ntar kan, Lo juga bakal punya suami.”

“Suami? Kapan? Pacar aja gue nggak p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Sosok Tak Diundang

    Dengan gerakan reflek dan tak terduga oleh Arumi, Langit pun langsung menarik tangan Arumi dan membawa perempuan itu lebih dekat dengan dirinya. Sentakan itu begitu tiba-tiba hingga Arumi memekik pelan. Es krim yang tinggal sedikit di tangannya hampir saja terjatuh jika tak segera ia pertahankan.Dalam hitungan detik, jarak di antara mereka lenyap. Sehingga Arumi bisa mencium aroma parfum maskulin Langit yang bercampur dengan aroma hutan pinus yang segar.Dan tanpa permisi, pria dewasa itu langsung mengarahkan tangan Arumi yang tengah memegang es krim ke dekat mulutnya dan melayapnya. “Hmm, enak,” ujarnya. Kemudian kembali menyantapnya hingga habis.Arumi terpaku dengan mulut yang sedikit ternganga. Ia hanya bisa menatap tangannya yang kini sudah kosong—hanya menyisakan tisu pembungkus. Gerakan Langit yang begitu natural, seakan-akan mereka adalah pasangan normal yang tadi tidak baru saja bertengkar hebat. Menjadikan perasaan Arumi kembali berbunga seperti sebelum-sebelumnya.“Maaf

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Satu Sama

    Langit tidak langsung menjawab pertanyaan Arumi. Ia hanya menyandarkan punggung, melepas kacamata hitam yang sejak tadi bertengger di pangkal hidung, lalu menoleh sepenuhnya ke arah perempuan itu. “Udara di sini bagus. Saya rasa … kita berdua butuh oksigen segar setelah tadi hampir kehabisan napas di mobil,” ujar Langit dengan nada suara yang kini sudah sepenuhnya tenang, tanpa ada sisa ketajaman di dalamnya. ​Arumi menunduk, memainkan sisa es krimnya. Aroma khas pohon pinus yang segar mulai menyusup lewat celah ventilasi mobil. Membawa rasa damai yang asing ke dalam batinnya yang tadi sempat porak-poranda karena suara keras sang suami. “Maafin Arum ya, Om? Soal … yang tadi,” bisik Arumi lirih. Ia merasa inilah saatnya untuk benar-benar bicara, mumpung suasana sedang mendukung. “Arum cuma ... cuma takut aja, Om,” sambungnya. ​Langit terdiam sejenak, memandangi wajah istrinya yang tampak sangat kontras dengan latar belakang hutan yang liar. “Takut? Takut apa? Takut saya pergi?

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Es Krim Cinta

    Arumi menggelengkan kepala, sebuah isyarat jika ia menolak permintaan Langit. Tadi disuruh diam kan?“Hei …,” Langit menarik pelan tangan Arumi.“Hmm eum ….” Arumi berdehem kesal.“Udah bisu ya? Nggak bisa lagi bicara?” tanya Langit dengan sudut bibir yang sedikit tertarik ke atas.Mendengar kata-kata Langit, perlahan Arumi pun menurunkan tangannya. Menoleh ke arah suaminya itu dengan tatapan ragu, seolah ingin memastikan apakah pria di sampingnya ini masih memiliki sisa kemarahan atau tidak. Namun penampakan yang terlihat oleh Langit justru wajah sembab, hidung memerah, dan mata yang menunjukkan kerapuhan luar biasa. ​“Maaf kalau suara saya tadi terlalu tinggi,” ucap Langit pelan saat pandang mereka sudah bertemu. “Tapi diam kamu itu lebih mengganggu saya ketimbang pertanyaan konyol kamu tadi.”Langit mengulurkan tangan perlahan. Jemarinya yang hangat mengusap sisa-sisa air mata di pipi Arumi dengan gerakan yang sangat lembut—berbanding terbalik dengan kasarnya cara ia membanting s

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Emosi Langit

    Suaranya menggelegar di dalam ruang kabin mobil yang sempit itu. Sehingga membuat Arumi tersentak dan spontan menciut di kursinya. Jujur saja, ini adalah kali pertama Langit menaikkan nada bicara setinggi itu kepadanya. Di sisi lain, Langit memukul kemudi satu kali sebagai ekspresinya dalam menyalurkan kekesalannya. Kemudian menoleh ke arah Arumi dengan tatapan yang menyala—campuran antara kemarahan, luka, dan frustrasi yang sudah sangat membuncah. “Kamu pikir saya ini apa, Arumi? Robot yang tidak punya perasaan? Atau pria tanpa harga diri yang mau menikahi anak dari wanita yang sudah mengkhianatinya hanya karena ‘logis’?” Langit bertanya dengan nada sarkasme yang dalam. Arumi masih terdiam dengan kepala yang menunduk. Terus melihat jari-jari tangannya yang saling mencubit sejak tadi di atas pangkuannya. “Kamu terus-menerus membandingkan diri kamu dengan Mama kamu. Kamu terus-menerus menyiksa diri dengan bayangan itu! Apa selama ini perhatian saya, semua yang saya berikan, tida

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Om Masih Cinta Mama?

    ​Mendengar suara Langit, lamunan Arumi seketika buyar tak bersisa. Dengan gerakan spontan, ia menoleh ke arah suaminya yang masih fokus menyetir, mencoba menata kembali detak jantungnya yang sedikit berpacu karena terkejut dari alam bawah sadarnya.“Eh, nggak Om. Nggak ada apa-apa,” jawab Arumi seraya tersenyum canggung.“Saya pikir kamu melihat sesuatu,” ujar Langit.“Nggak kok, Om.” “Ya sudah, kamu istirahat saja kalau lelah. Nanti saya bangunkan kalau sudah sampai.”Arumi pun mengangguk patuh. Lalu kembali menyandarkan kepalanya pada bantalan kursi mobil yang empuk. Namun, alih-alih memejamkan mata, pandangannya justru terlempar kosong ke arah deretan ruko yang mulai ramai oleh aktivitas manusia di bawah terik matahari pagi yang kian menyengat. Batinnya bergejolak hebat. Bayangan sosok ibunya di tepi jalan tadi terus menghantui, seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang di kepalanya.Ya, Arumi kembali melihat Andini. Sama seperti saat ia melihat bayangan perempuan itu di m

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Hadiah Dari Mertua

    Arumi membuka kotak tersebut dan melihat isinya. Sontak saja ia terkejut sekaligus bahagia, sebab benda yang ada di dalam kotak itu adalah sebuah kalung berlian yang sangat indah. Sebagai seorang wanita, tentu saja perhiasan seperti ini sangat diingini.“Astaga, Bunda, Ayah, ini ... apa?” tanya Arumi menggantung. Ia sampai tak bisa berkata-kata. Seribu tanya terukur jelas di raut wajahnya.“Ini kalung, Arumi. Untuk kamu,” jawab Langit.Arumi menoleh ke arah Langit. “Ini beneran untuk Arumi, Om?” tanya Arumi lebih ingin yakin lagi. Sebab jika dilihat dari ukuran berlian yang tersemat di kalung tersebut, pasti harganya sangat mahal. Mungkin sekitar miliyaran rupiah.“Iya, Arumi. Kalung ini hadiah dari ayah dan bunda,” jelas Viola.“Sebenarnya kami mau kasih ini waktu kalian baru menikah. Tapi ternyata kalungnya belum jadi dibuat,” ucap Erlangga.Arumi tertegun sejenak. Melihat kepada Langit, lalu berpindah lagi melihat kepada Viola dan Erlangga. “Maksudnya, Ayah?” tanyanya.“Maksud ayah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status