Share

Gairah Di Kamar Mandi

Author: LV Edelweiss
last update Last Updated: 2025-11-13 22:48:16
Tatapan Langit begitu tajam. Menghunus hingga ke saraf-saraf motorik Arumi. Meski datar, tapi sorot mata pria itu mampu membuat detak jantungnya naik dua kali lipat dari normalnya.

“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Langit penuh selidik.

Diam. Hanya itu respon yang bisa Arumi berikan saat ini. Yah, setidaknya sampai dirinya sanggup untuk memberitahu suaminya, tentang rencana sang Mama yang ingin bertemu dengan mantan calon suaminya itu.

“Sebenarnya … ada, Om. Tapi … kita ngomong di rumah aja ya? Balik yuk, Arumi udah gerah, pingin cepat-cepat mandi.” Arumi memasang raut wajah memelas seraya memeluk lengan Langit.

“Ya sudah, tapi kamu janji ya sama saya. Sampai di rumah, kamu harus cerita sama saya,” pesan Langit.

“Iya, Om. Janji.”

Langit manggut-manggut. Setelah itu, mereka pun melaju meninggal area kampus yang mulai tampak lengang itu.

Sepanjang jalan, semuanya terlihat normal. Langit terus fokus dengan kemudinya, sementara Arumi sibuk dengan ponselnya.

Namun dalam k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Pulang Ke Rumah Arumi

    Arumi tertegun di kursi taman kampus sembari melihat ke arah kerumunan mahasiswa yang lalu lalang dengan kesibukan masing-masing. Ia baru saja bertemu dengan Pak Dewa, dosen pembimbing skripsinya dan sudah memulai penyusunan bab dua dan tiga. Sejauh ini, Pak Dewa tampak normal—tak melakukan sesuatu yang tak senonoh kepada Arumi. Itu maknanya, ucapan pria dewasa itu beberapa waktu yang lalu, bisa dibilang hanya lelucon semata.“Hei, melamun aja.” Eva datang dan langsung menepuk pundak Arumi.“Eh, kaget gue. Udah selesai bimbingannya?” tanya Arumi.“Udah.”“Banyak revisi nggak?” “Enggak. Cuma beberapa baris aja.”“Syukur deh. Ya udah, balik yuk?” Ajak Arumi. Dia sudah bangkit dan memakai kembali tas selempangnya. Bersiap untuk pulang karena hari juga sudah mulai sore.Eva mengangguk setuju. Mereka segera melangkah menuju ke gerbang kampus. Dari jauh, tampak mobil hitam mengkilap jenis crossover sudah terparkir tak jauh dari pintu masuk gedung.“Suami Lo udah nyampek tuh,” tunjuk Eva k

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Benarkah?

    Dua bola mata Arumi terus menatap Langit tanpa berkedip. Seolah ia tengah mentransfer ketakutan dirinya setelah bertemu Andini tadi. “Om … peluk,” pinta Arumi manja.“Peluk?” tanya Langit dengan raut wajah yang tak lagi setegang tadi.“Eum,” angguk Arumi.Dengan segera Langit pun memeluk tubuh mungil itu hingga tenggelam di dalam dekapannya. “Kenapa tiba-tiba minta peluk?” tanya Langit.“Nggak tau, Om. Tiba-tiba kepingin aja.”Langit tersenyum tipis. “Yang berangkat Ayah dan Bunda, Arumi. Bukannya saya. Kamu gini kayak kita mau pisah saja.” “Ya … mau gimana. Kan kepinginnya tiba-tiba.”“Ngidam?” tebak Langit.“Hah? Ngidam?” tanya Arumi balik, nada bicaranya sedikit naik. Dengan perlahan ia pun melepaskan pelukannya dari Langit. “Kok ngidam, sih Om?” Langit terkekeh melihat reaksi kaget Arumi. Ia mencubit pelan hidung istrinya yang memerah, mencoba mencairkan suasana yang sejak tadi terasa aneh baginya. Sebagai seorang pria yang sudah lama mengenal Arumi, ia pasti tahu gestur tubuh

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa     Kamu Kemana?

    “Arumi, ada apa? Kamu kenapa? Kenapa suaramu seperti berat?” tanya Langit dengan suara yang mendadak berubah tajam. “Kamu menangis, Arumi? Apa ada orang yang ganggu kamu?” Rentetan pertanyaan terus Langit layangan. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan istrinya.Arumi memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menelan gumpalan sesak di tenggorokannya. Ia melirik Andini yang kini justru melipat tangan di dada, menonton drama itu dengan senyum miring yang seolah-olah tengah berkata kepadanya, ‘ayo, berbohonglah lebih hebat lagi.’“Nggak, Om. Arum … nggak nangis kok. Beneran,” dusta Arumi, suaranya bergetar meski ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menutupinya.“Yakin?” tanya Langit.“Ya, Om. Tadi ... tadi kaki Arum sempat kesandung, jadi sakit dikit. Makanya suara Arum agak aneh. Ini Arum lagi jalan ke tempat tadi. Om tunggu di sana ya? Jangan ke mana-man,” pinta perempuan berambut panjang tersebut.Tanpa menunggu jawaban Langit, Arumi pun segera memutus panggilan sepihak. Ia takut, jika

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Pertemuan Maut

    Sosok itu berbalik perlahan. Ia menurunkan kacamata hitamnya sedikit, menampakkan mata yang persis seperti milik Arumi—mata yang menyimpan sejuta rahasia dan luka. Ya, itu benar-benar Andini.“Mama?” ulang Arumi. Kakinya mulai melangkah mendekati perempuan itu dan berhenti tepat di depannya. “Iya, beneran Mama,” seru Arumi bahagia. Matanya mulai berkaca-kaca dan hampir menangis.Ya, perempuan itu adalah Andini, ibunya Arumi.Arumi lalu kembali ingin maju dan memeluk Andini. Namun sayangnya, dengan gerakan spontanitas, Andini justru menjadikan telapak tangannya sebagai benteng penghalang bagi keinginan Arumi.“Mama …,” ucap Arumi sedih campur kecewa. Harapan untuk mendapatkan pelukan hangat atau setidaknya tatapan rindu dari seorang ibu yang sudah lama tak ia jumpai, seketika sirna.Andini menatap Arumi dari balik kacamata hitam yang ia turunkan sedikit hingga ke ujung hidungnya. Alih-alih memberikan putrinya senyum manis, bibirnya justru membentuk garis lurus yang dingin dan bahkan ce

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Mama?

    Arumi menelan ludah dengan susah payah. Berusaha untuk menutupi gugup yang kian merajalela di dalam diri. Jari-jari tangannya terus saling tarik di atas pangkuannya. Seolah sedang berpikir, jawaban apa yang bisa dijadikan sebagai pelarian. “E … itu, Bun. Maksud Arumi, keluar-masuk ke dalam kamar. Kan … suara pintu berisik, Bunda. Jadinya Arum nggak bisa dengan nyaman. Gitu ….” Suara Arumi terdengar lirih, bahkan sangat-sangat lirih. “Oh, Bunda pikir apa yang keluar-masuk.” Viola tertawa kecil. Dari raut wajahnya, sepertinya perempuan paruh baya itu tahu, apa yang sebenarnya sedang Arumi bicarakan. Hanya saja, ia berpura-pura bodoh. Tidak ingin membuat sang menantu merasa tak nyaman lagi seperti semalam. “Nanti kalau Langit ada cuti, kalian ke Belanda ya? Arumi pasti belum pernah ke sana kan?” tanya Erlangga. “Heuh? Oh, belum, Ayah,” sahut Arumi dari jok belakang. Ia sedikit terperanjat, sebab pikirannya masih melalang buana entah kemana. “Saran yang bagus itu, Yah. Sekalian

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Om Langit Keluar Masuk

    Tanpa sepatah katapun lagi, Arumi segera mengalungkan kedua tangannya di leher Langit dan langsung mengecup sekali bibir pria itu. Sentakan keberaniannya yang mendadak itu seolah menghentikan waktu di dalam kamar mereka. Langit sempat tertegun selama satu detik—tidak menyangka istri kecilnya yang tadi sempat menangis pilu akan mengambil inisiatif secepat itu. Namun, keterkejutan itu segera berganti dengan respons yang jauh lebih intens. “Kamu mau coba goda saya?” tanya Langit dengan senyum khasnya. “Nggak kok, Om. Arum mana pintar menggoda,” ucap Arumi. “Kamu memang tidak pintar menggoda, tapi kamu cukup pintar membuat saya tergoda.” Langit segera merapatkan pelukannya pada pinggang Arumi. Menarik tubuh mungil itu hingga benar-benar menempel pada tubuhnya. Ciuman Arumi yang awalnya terasa ragu dan polos, kini disambut oleh Langit dengan lumatan yang dalam dan penuh otoritas. Seolah ia akan menelan tubuh kecil itu hidup-hidup. “Hhmmpp—” Desahan keduanya mulai terdengar.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status