Accueil / Romansa / Pesona Gelap Tuan Mafia / Ch—1 Kesan Yang Buruk

Partager

Pesona Gelap Tuan Mafia
Pesona Gelap Tuan Mafia
Auteur: My_passion94

Ch—1 Kesan Yang Buruk

Auteur: My_passion94
last update Date de publication: 2025-05-23 21:24:13

‘Maaf aku tidak bisa datang. Mungkin lain waktu kita makan malam bersama.’

Pria itu termangu. Sorot matanya tajam menunjukkan kekecewaan yang begitu dalam di sana. Sebuah pesan singkat yang baru saja ia terima membuktikan kalau perasaannya masih belum terbalas.

Niccolo Morelli, seorang Don mafia yang memasuki usia 30 tahun itu masih berusaha untuk menarik hati seorang wanita yang sejak lama ia kagumi. Namanya sudah tersohor hingga pelosok Italia bagian selatan. Tetapi hal tersebut tak cukup membuat hati sang wanita jatuh padanya.

Matanya menatap enggan pada meja yang sudah dipenuhi oleh makanan mahal. Ia mengabaikan pesan itu dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana sebelum pergi meninggalkan tempat tersebut.

Pria lain yang berdiri di ujung tangga itu mendekat. Pietro Falsetti, merupakan orang kepercayaan Niccolo. Usianya 2 tahun lebih muda dari Niccolo.

“Kenapa? Apa dia tidak datang?”

Ini bukan kali pertama wanita itu menolak secara tiba-tiba.

“Sepertinya cukup untuk hari ini,” sahut Niccolo dengan suara pelan.

“Bosco menelpon,” Pietro memberikan jeda. Ragu untuk mengatakannya. “Ada masalah dengan pengiriman kokain.”

Bibir Niccolo terkatup rapat dengan rahang yang mengeras. Menegaskan emosi yang menggerayangi kepala. Kakinya mulai bergerak menuruni deretan anak tangga.

Riuh pesta pernikahan terdengar samar tetapi tidak mengalihkan perhatian Niccolo. Dari arah lain, seorang wanita sedang sibuk melontarkan emosi melalui panggilan telepon. Tangan kanan memegang ponsel sedang tangan yang satunya menggenggam gelas berisi wine.

“Baiklah, kalau begitu jangan pernah hubungi aku lagi! Aku tidak mau melihat wajah brengsekmu itu lagi!”

Teriakan itu menjadi salam perpisahan. Tanpa disadari tangannya reflek melayangkan ponselnya ke sembarang arah. Sampai akhirnya…

Bang!

Suara itu membuat Siena terperanjat. Dirinya baru sadar telah melempar ponsel. Sontak matanya mencari sumber suara.

Tatapan Siena tertuju ke arah dua pria yang mematung. Wajah salah satu dari mereka menggambarkan kemurkaan. Sedang yang lain tampak berdiri pasrah.

Siena menarik langkah ke arah mereka. Dirinya berdiri tepat di depan mereka. Ia berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah.

“Ya Tuhan!”

Ia menutup mulutnya yang ternganga. Sepasang mata coklat gelap itu membelalak. Pipi pria itu memerah seperti bekas pukulan benda tumpul.

“Ma-maaf,” sesal Siena. Tangannya gugup ketika hendak menyentuh wajah pria asing di hadapannya. “Aku tidak sengaja,” ucapnya dengan dialek Italia tetapi menggunakan bahasa Perancis.

Siena menggigit bibir sembari menundukkan tatapannya untuk menghindari sorot mata tajam dan mengintimidasi milik pria itu.

Niccolo menangkis tangan Siena saat hendak menyentuh wajahnya cukup keras. Hingga membuat gelas berisi wine itu tumpah.

Aroma tajam dari wine memenuhi indra penciuman mereka. Tak terlihat nodanya di kemeja hitam Niccolo. Berbeda dengan gaun Celestial blue milik Siena yang menampakkan noda dengan jelas.

“Hei!” pekik Siena. Tatapan penyesalan itu berubah amarah. “Ya Tuhan, padahal ini gaun sewa. Apa yang harus aku lakukan?” Siena bergumam sendiri sembari mengibas-ngibaskan tangannya ke arah noda wine.

Niccolo mengabaikan Siena. Ia membungkuk meraih ponsel milik Siena.

“Itu ponselku, kembalikan!”

Siena berusaha mengambil ponsel itu tapi Niccolo mengangkat tangan. Membiarkan ia kesusahan meraihnya.

“Kau harus bertanggung jawab karena benda ini sudah melukai wajahku,” ucap Niccolo.

Siena mengernyit. Ia tidak pandai berbicara Italia. “Apa kau bisa bicara bahasa Perancis atau Inggris? Aku… tidak bisa bicara bahasa Italia,” ucap Siena menggunakan bahasa Inggris.

Niccolo menyeringai. Berpikir kalau wanita di hadapannya sedang membodohinya.

“Tapi kau berdialek seperti orang Italia.”

Siena mendesah kasar karena Niccolo masih bicara menggunakan bahasa Italia. “Kembalikan ponselku, tolong.”

“Kau melakukan dua kesalahan. Memukul wajahku dan menumpahkan minumanmu ke pakaianku.”

Wajah Siena tampak bingung mendengar Niccolo bicara. Ini memang kesalahannya tidak pernah belajar bahasa Italia sejak berumur tujuh tahun hingga sekarang. Setelah keluarganya pindah ke Monaco, ia tidak lagi menggunakan bahasa Italia.

“Aku tidak tahu apa yang kau katakan. Jika kau ingin aku mengerti ucapanmu, katakan dalam bahasa Inggris, atau kembalikan ponselku sekarang,” tegas Siena.

Niccolo terdiam. Tatapan intimidasi itu masih mengarah ke Siena. Kali ini lebih tajam membuat Siena memilih untuk memalingkan wajahnya.

“Kau sudah melakukan dua kesalahan. Memukul dan menumpahkan minuman sialanmu ke pakaianku,” gumam Niccolo, kali ini dengan bahasa Inggris.

“Itu ulahmu. Bahkan gaunku juga kena noda minuman!” sentak Siena, emosinya kembali muncul setelah tahu apa yang diucapkan Niccolo.

Siena tersentak saat tangan kasar dan besar itu mencengkram rahangnya. Sungguh ia tidak menyangka pria itu akan bersikap agresif.

“Aakkhh!” Siena meringis.

“Pelankan suaramu, Nona. Kau tidak tahu sedang bicara dengan siapa?”

“Lepaskan!” desis Siena.

Namun yang terasa cengkraman itu semakin kuat membuatnya reflek menjatuhkan gelas dari genggaman tangan. Ia berusaha melepaskan cengkraman itu dengan kedua tangannya.

“Sebaiknya kau berhati-hati selama menghabiskan waktu liburanmu di sini atau kau akan… hanya tersisa nama,” bisik Niccolo penuh ancaman.

Pietro tampak gusar menyadari emosi Niccolo sedang tidak stabil. Tidak ingin terjadi masalah hanya karena insiden kecil, ia pun berusaha untuk mengalihkan perhatian Niccolo.

“Kita harus segera pergi, Bosco sudah menunggu,” bisik Pietro.

Niccolo melirik ke samping sekilas. Lalu melepas cengkraman itu dengan kasar membuat Siena terdorong ke belakang. Ia juga melempar ponsel Siena lalu pergi begitu saja.

Siena masih meringis. Ada bekas kemerahan di wajahnya. Ia membungkuk meraih ponsel. Lalu melirik tajam ke arah punggung Niccolo yang semakin menjauh.

“Dasar pria brengsek! Sialan!” desis Siena.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Pesona Gelap Tuan Mafia   Ch-30 Kegelisahan di Beirut

    Sebuah mobil kuning berhenti di depan rumah besar berpagar besi tempa hitam. Siena terbangun saat mendengar supir itu memanggil. “Kita sudah sampai di alamat yang kau tuju, Nona,” ucapnya. “Tunggu di sini. Aku akan mengambil uangnya,” balas Siena dan bergegas keluar dari mobil. Siena berjalan dengan langkah berat akibat rasa pegal yang menjalar di seluruh badan. Menghabiskan waktu selama hampir delapan jam di dalam mobil sudah cukup membuat otot-otot di tubuhnya menjadi kaku. Dan ini adalah hal gila yang pernah dilakukannya, pulang ke Roma dari Calabria menggunakan taksi. Sedangkan dari arah taman, Benigno tertegun melihat kepulangan Siena. Ia berjalan cepat, memotong langkah Siena. “Nona muda, Anda pulang sendirian?” tanyanya bingung, matanya menoleh ke arah gerbang. Tak ada orang lain yang menyusul di belakang. “Apa kau ada uang tunai €1.500?” Siena balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Benigno sebelumnya. Benigno semakin bingung. Ia memperhatikan wajah Siena yang tampak k

  • Pesona Gelap Tuan Mafia   Ch-29 Pergi Untuk Kembali

    Suara langkah kaki menggema di sepanjang koridor putih lantai lima di rumah sakit Ospedale Civile. Lampu-lampu LED di langit-langit memantulkan cahaya dingin di lantai mengkilap. Aroma antiseptik lembut bercampur lavender menyelimuti udara, menusuk tapi tenang. Pintu ruangan perawatan terbuka tiba-tiba. Lucia berjalan cepat. Langkahnya tertuju ke arah Siena yang sedang duduk di samping ranjang Elio. Sedangkan Siena hanya menoleh sekilas seolah mengabaikan kedatangannya. “Siena!” gertak Lucia. Ia berdiri tepat di belakangnya. Siena mengabaikan panggilan Lucia. “Kenapa kau tidak memberitahuku lebih dulu saat ingin membawa Elio ke rumah sakit?” Siena tak berdiri. Ia masih mematung di tempatnya. Hingga akhirnya tatapan dingin itu tertuju ke arah Lucia. “Dia kejang. Aku tidak butuh formalitas mu hanya untuk menolongnya,” jawab Siena dengan suara datar. Lucia mendengus kesal. Matanya menyipit, “Aku bertanggungjawab atas anak-anak di panti asuhan. Kau tidak bisa mengambil keputusan se

  • Pesona Gelap Tuan Mafia   Ch-28 Lucia

    Malam semakin larut. Namun tak membuat wanita itu merasa kantuk sedikit pun. Tubuhnya bergerak gusar di atas ranjang tua berderit. Ia menoleh ke arah samping—jauh ke sudut ruangan. Ranjang di sana masih kosong. Ruangan itu cukup luas dan terasa menyesakkan. Meskipun Lucia belum masuk, tetapi jika harus berada satu kamar bersamanya, Siena tidak bisa tidur. Akhirnya ia turun dari ranjang. Langkahnya mengalun pelan memecah kesunyian di lorong. Suasana panti asuhan sudah benar-benar sunyi. Pintu-pintu ruangan pun tertutup rapat, kecuali satu kamar yang ada di ujung lorong sebelah kanan. Dan Siena tahu di sana ada Lucia sedang menemani seorang anak laki-laki yang sakit. Siena memilih lorong yang lain seolah tak ingin berpapasan dengan Lucia. Ia mulai menyusuri lorong hingga keluar dari area panti asuhan. Sampai akhirnya langkahnya dihentikan oleh suara seseorang yang berada jauh di depan. “Dia sudah tidur,” ucap Lucia sambil kaki kirinya menendang-nendang kecil. “Nic, kapan kau kembal

  • Pesona Gelap Tuan Mafia   Ch-27 Ancaman Di Beirut, Luka Di Calabria

    Konvoi mobil berhenti di depan bangunan gedung yang berdiri kokoh di tengah kota Beirut. Niccolò keluar dari mobil saat Pietro membuka pintunya, disusul Bosco yang keluar dari pintu lain. Kemudian Giuseppe terlihat keluar dari mobil yang berbeda. Ketiga memposisikan diri berada di belakang pemimpin mereka—Niccolò.Anak buah Lebanon itu mempersilakan Niccolò dan rombongan untuk masuk ke dalam gedung. Menuntun mereka menuju lantai paling atas, tempat pemimpin sindikat Lebanon yang dikenal dengan nama Khaled Al-Hazem. Sebuah pintu lift terbuka di lantai paling atas gedung tersebut. Niccolò dan lainnya melangkah keluar, mengikuti penuntun arah menuju sebuah pintu kayu berukir yang berada di sudut koridor. Lengkap dengan beberapa pengawal bersenjata yang berjaga di sepanjang koridor. “Bukankah ini terlalu berlebihan? Seperti ingin mengepung kita,” bisik Bosco pada Niccolò. Matanya tak berhenti mengawasi. Sedang Pietro dan Giuseppe yang berada di belakang menatap waspada. Niccolò tak men

  • Pesona Gelap Tuan Mafia   Ch-26 Tanpa Pamit

    Siena tertegun. Tetapi pandangannya langsung berpaling seolah tertangkap basah oleh Pastor Gabriele. Sedang sang Pastor hanya tersenyum lembut diiringi helaan napas panjang tak menghakimi. “Maafkan aku Padre,” gumam Siena. Tatapannya menunduk, “Aku... Belum ada kepastian di antara hubungan kami. Tapi Niccolò menunjukkan perasaannya padaku, jadi… dadaku terasa sesak setiap kali melihat kedekatan Niccolò dan Lucia.” Pastor Gabriele menundukkan tatapannya sekilas, sorot matanya tajam tetapi tetap lembut. “Ah… jadi itu yang mengusik hatimu.”“Jangan salah paham.” Siena menggoyangkan tangannya sembari menatap cepat ke arah sang Pastor. “Aku tidak—aku hanya tidak suka melihatnya begitu dekat dengan Lucia. Mereka terlihat seperti…” Pastor Gabriele mengangkat tangannya seolah memotong ucapan Siena. “Lucia dan Niccolò tidak memiliki hubungan seperti yang kau takutkan, Siena.” Siena terdiam. Ada sedikit rasa lega yang menyelinap masuk ke dalam hatinya saat mendengar ucapannya. “Tidak?” Ken

  • Pesona Gelap Tuan Mafia   Ch-25 Api Kecil

    Setengah jam kemudian Siena keluar dari kamar mandi. Ia memang sengaja lebih lama di sana, berharap Niccolò akan mencarinya. Tetapi sepertinya pria itu sangat menikmati waktunya bersama Lucia. Langkah Siena terdengar menghentak lantai seolah menyalurkan api cemburu yang belum padam. Tetapi berubah pelan saat tidak melihat Niccolò dan yang lain. Ia menoleh sekeliling dengan langkah yang masih menyusuri koridor. Sampai akhirnya ia berhenti, menatap ke dalam ruangan. Di sana ada Niccolò dan Lucia. Lalu ada anak kecil yang berusia sekitar 7 tahun sedang berbaring di atas tempat tidur. Ia tidak melangkah masuk, lebih senang mengamati dari luar. “Jam tiga pagi dia bangun ketakutan. Untung saja aku bisa menenangkannya. Tapi, suhu badannya belum turun,” ujar Lucia sambil mengelus wajah anak laki-laki tersebut. “Mungkin saja dia akan mengalami trauma. Telepon Angelo untuk datang ke sini,” perintah Niccolò. Lucia menganggukkan kepala. “Ya, nanti aku akan menghubungi dia.” Lalu menatap Nicc

  • Pesona Gelap Tuan Mafia   Ch-22 Janji Di Pagi Yang Tenang

    Seorang pria menyusuri koridor. Langkahnya cepat sedang raut wajahnya tegang. Ia berhenti sejenak, mengetuk pintu sebelum akhirnya melangkah masuk. Ruangan itu dipenuhi oleh aroma cerutu mahal. Hanya disorot lampu kristal menggantung dengan cahaya temaram. Langkahnya menghampiri seorang pria. Rom

  • Pesona Gelap Tuan Mafia   Ch—9 Luka Masa Lalu Terbuka Kembali

    Siena dan Pietro berhenti di depan pintu. Perlahan Pietro membukanya, lalu mempersilakannya untuk masuk. Seiring kaki Siena berjalan di atas marmer hitam, Pietro menutup pintu. “Astaga! Ternyata yang dia maksud ruangan lounge,” desahnya saat melihat Niccolò sedang duduk di salah satu sofa yang ber

  • Pesona Gelap Tuan Mafia   Ch—6 Manipulasi Don Niccolo

    Siena mencoba bangkit. Setelah ketiga kalinya akhirnya ia berhasil berdiri. Kakinya melangkah cepat menuju dinding pintu yang terkunci dari luar. ‘Dasar brengsek! Bahkan dia mengunci pintunya.’ Setidaknya kalimat itu yang ia ingin ucapkan tetapi hanya suara geraman yang keluar dari mulut. Tiba-ti

  • Pesona Gelap Tuan Mafia   Ch—5 Niat Yang Tak Terduga

    Kesadaran Siena kembali pulih saat dirinya sudah terbaring di atas ranjang dengan Niccolo berada di atasnya. Masih bersama ciuman yang bersarang di leher jenjangnya, Siena berusaha mengendalikan diri. Ia tidak ingat bagaimana mereka sudah berada di posisi itu. Setiap ciuman itu seolah menghipnoti

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status