Share

Pulang

Bab 07

"Pak, Mak, kami berangkat ya! Jaga selalu kesehatan, jangan terlalu capek-capek kerjanya." Bang Linggom pamitan kepada Bapak dan Ibunya sembari merangkul mereka satu persatu dengan haru.

"Iya Nak, baik-baik kalian disana ya Nak! Ingat kalau sedikit saja kalian berbuat buruk di perantauan, maka akan dengan cepat tersiar kabar sampai ke kampung ini. Dan itu akan membuat Bapak dan Ibu malu. Jaga kalianlah kehormatan serta harga diri keluarga kita dengan baik, karena seperti yang kau tahu, Bapak dan ibumu ini hanyalah orang miskin yang hanya punya sedikit ladang buat menyambung hidup. Jadi kalau sampai lagi kalian berbuat buruk di perantauan, itu sama saja mencoreng muka Bapak dan Ibu di kampung ini," ucap Bapak menasehati kami.

"Baik Pak." Aku dan Bang Linggom kompak menganggukkan kepala.

"Ini ada sedikit uang, sekedar buat beli gula dan kopi Inang, diterima ya!" Aku memberikan amplop berisi sedikit uang buat Ibu Mertua.

"Simpanlah Nak, terus darimana kalian punya uang, sementara baru saja pesta. Untuk biaya pesta aja pakai uang kalian berdua nya, Lain kali aja Nak, masih panjang waktu, yang penting kita sehat-sehat," ucap ibu seraya menolak pemberianku. Tapi itu wajar namanya orang tua tidak ada yang ingin membebani anaknya selagi masih bisa bekerja.

"Tak apa-apa Inang, malah kalau Inang tidak terima, berarti Inang tidak menganggap aku anak Inang!" Aku pura-pura merajuk sambil memasukkannya ke saku baju tidur yang beliau pakai pemberian dariku.

Akhirnya Ibu tidak lagi menolak, aku memeluk sangat erat, mencium kedua pipi keriputnya. "Baik-baik di sana ya Nak, kalau suamimu nakal kasih tau ibu, biar ibu dan bapak yang menghajarnya." Ibu menepuk-nepuk punggung ku lalu mengelus rambutku dengan sayang. Bahagia rasanya.

"Kami pulang ya Amang," aku menyalami Bapak Mertua dengan erat. Pengen peluk juga sebenarnya tapi karna ini sudah di luar rumah dan banyak orang yang lalu lalang, akhirnya ku urungkan niat untuk memeluk Bapak. Sengaja agak lama tanganku bersalaman karena di tanganku uang seratus ribuan 2 lembar kuselipkan di tangan bapak, dengan harapan agar Ibu Mertua tidak melihatnya.

Maklumlah woi, namanya bapak-bapak di kampung, uang susah dicari, tunggu panen dulu, itupun yang menjual hasil panen harus ibu-ibu, sehingga uang bapak-bapak sangat terbatas. Iya kalau istri pengertian masih enak, kalau ngak? Bisa-bisa kaum bapak tidak berkutik. Ada saja ibu-ibu yang dominan, meski sakit hati, tapi demi keutuhan rumah tangga tak sedikit para bapak memilih mengalah. Padahal tenaganya yang habis terkuras bekerja. Jadilah suami takut istri, istilah kerennya suami DKI alias Suami Dibawah Ketiak Isteri. Hehehe.

"Ini buat beli Rokok ya Amang, agar tidak minta buat beberapa hari ini kepada ibu!" bisikku sambil tersenyum ke bapak. Bapak cepat mengerti sambil senyum langsung memasukkan tangannya ke saku celananya.

"Hayooo... Apa itu yang bapak masukkan ke saku celana?" ucap ibu membuat senyumku dan bapak seketika terhenti, sambil sama-sama kaku kami menoleh kepada ibu.

Bang Linggom yang melihat kami, spontan tersenyum lalu buang muka, iya aku tahu dia tersenyum meledekku. Soalnya tadi dia sarankan gak usah kasih uang ke bapak secara diam-diam, kalau ketahuan Ibu bisa berabe. Ntar bisa-bisa bapak tidak dikasih uang rokok selama sebulan, yang ada bukannya membantu, tapi secara tak langsung, kamu sudah menghukum bapak. Itulah kata Bang Linggom tadi, tapi aku ngeyel, karna aku pikir dengan cara itulah aku bisa memperhatikan bapak, meski aku tahu bapak tidaklah kekurangan.

"Dingin Mak, makanya aku masukkan tangan ke saku!" jawab Bapak Mertua mengelak.

"Sini, biar Ibu periksa bentar," cerca ibu mendekati Bapak, lalu ingin merogoh kantong celana bapak. Tapi bapak terus mengelak dan menjauhkan diri dari ibu.

"Kalau begitu, untuk satu bulan ya bapak, tidak boleh minta uang rokok dari Ibu!" ucap ibu penuh penekanan.

Waduh, Ibu Mertua kok rusuh bangat ya!, padahal aku sudah kasih ibu jauh lebih banyak dari itu tapi tetap juga ingin menodong bapak. Hahaha... Namanya ibu-ibu ya gaes, kalau urusan duit akan selalu terdepan.

"Eriska! jangan biasakan kasih mertuamu ini uang Nak, nanti jadi kebablasan merokoknya gak bisa berhenti. Kalau sudah batuk-batuk, aduh rewel banget, lebih-lebih kayak ngurus bayi, baru janji tobat, setelah sembuh lupa sakitnya." keluh ibu.

"Gak ada kok Inang," aku masih berusaha berkelit, kasian juga bapak.

"Bapak dan mantu ternyata kompak mau bohongin ibu ya? Sini Pak, biar aku rogoh dulu saku mu!" Tangan ibu dengan lincah langsung masuk ke saku celana bapak, dan ..."

"Aduh, malu, jangan gitu." Bapak berusaha mengeluarkan tangan Ibu dari saku celananya. Tapi tangan ibu selangkah lebih cepat sehingga dengan lincah jari-jari ibu berhasil mengambil uang yang ada di kantong Bapak.

"Lalu ini apa Ris?" Ibu melotot padaku.

"Maaf Inang, mak-maksud ku tadi, biar ada saja pegangan bapak, soalnya selama lima hari di sini, aku tidak pernah lihat, ibu memberi bapak uang Bu! Kasihan bapak, beliau juga kan pengen ke warung sesekali." ucapku menunduk.

"Iya, tapi kok banyak kali ngasihnya Nak?" Ibu menghitung uang bapak yang sudah berpindah ke tangannya. "Satu, dua, tiga, empat ratus ribu rupiah."

Aku kaget, kok uangnya bertambah dua ratus ya? "A-aku cuman kasih 200 ribu kok tadi Inang." ucapku dengan wajah tidak enak.

"Jangan bohong Nak, ini ada 400 ribu, darimana kalau bukan dari Nak Eriska?"

"Sungguh Nang, aku hanya kasih Bapak 200 kok."

Aku melihat Bang Linggom seperti buang muka, oh... Berarti dia nih biang keroknya, tunggu saja! Kali ini Bang Linggom juga akan kena semprot oleh Ibu.

"Pasti itu dari Bang Linggom, tadi dia minta uang ke aku mau beli sesuatu," tuduh ku to the poin.

Seketika Bang Linggom dan Bapak Mertua sama-sama saling pandang. Hayooo... Gimana rasanya ketahuan, aku tersenyum jahil.

"Iya Linggom, ini benar dari kamu?" Ibu mendekat lalu dengan sigap menarik telinga abang Linggom seperti anak kecil yang ketahuan nakal oleh ibunya.

"Bu-bukan Ibu..." Belum selesai Bang Linggom bicara, bapak langsung buka suara.

"Sudah Gom, tidak perlu bohong lagi, yang ada hukuman bapak nanti semakin berat." ucap Bapak dengan pasrah.

"Waow... Rasain loh Bang, makanya jangan sok menasehati, ternyata Abang juga kasihan kan lihat bapak. Hihihi..."

Kami tertawa semuanya, melihat ibu yang menjewer Bang Linggom. Sakit tentunya karna aku lihat telinga suamiku itu sedikit memerah.

"Sudahlah Mak, kasih lah sebagian sama bapak, jangan semua Mamak ambil," ucap Bang Linggom sambil mengusap telinganya.

"Iya nanti kalau kalian sudah pergi, baru ibu kasih." Sahut ibu merasa menang.

Lalu aku menyalami Bang Dapot dan Kak Susi. "Kami pulang ya Bang, maaf kalau selama di kampung ini, Eriska buat banyak salah."

"Iya Ris, tidak apa-apa! Tapi untuk lain kali jangan bapak aja yang dapat duit ya." Katanya sambil senyum.

Lalu aku merogoh saku jaketku. "Ini bang, buat ngopi nanti di warung," aku sodorkan uang 100ribu selembar. Aku lihat muka kak Susi masam, biar sajalah yang penting hatiku tulus memberi suaminya meski sedikit saja.

"Terimakasih Riska." ucapnya tulus

"Sama-sama Bang!"

"Kak, kami pulang ya," aku menyodorkan tanganku ke Kak Susi istrinya Bang Dapot, kak Susi memberi tangannya salaman tapi hanya sebentar dan hanya ujung jari-jarinya saja yang kena.

"Jangan karena sudah bisa ngasih uang seratus ribu pada suamiku, jadi kau pikir aku akan tunduk padamu!"

Degg...

Suka cita seketika terasa hilang ... Kak Susi ini sebenarnya jenis manusia apa ya? Author sampai pusing dibuatnya ... hehehe

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status