Share

Pesona Janda Anak Satu
Pesona Janda Anak Satu
Penulis: Ane Rifkoh

Bab 1. Penghinaan di depan mata

"Sudah kubilang, jika kamu melahirkan anak laki-laki. Kamu harus terima akibatnya!" Dengan wajah penuh amarah, Zidan berkacak pinggang dan menatap Laila tajam.

"Tapi Bang ...? Abang tidak bisa menyudutkanku begini! Aku melahirkan anak laki-laki atau perempuan, itu sudah menjadi takdir ilahi. Aku tidak bisa memilih Bang," balas Laila membela diri. Ia tak suka dengan kalimat sang suami.

"Cukup! Aku tak butuh alasanmu! Yang jelas, aku tidak akan menerimanya. Kamu ingat kan? Bagaimana perjanjian kita? Jika kamu melahirkan anak laki-laki, maka siap-siap untuk keluar dari rumah ini!" ucap Zidan tegas.

"Tapi Bang ..." Laila masih bersikukuh membantah kalimat suaminya. Ia tak bisa disalahkan seperti ini. Laki-laki atau perempuan, itu semua sudah ketetapan. Bagaimana bisa Zidan menyalahkan sepihak seperti ini.

"Sudahlah Zidan. Apa lagi yang kamu tunggu! Cepat usir dia," timpal Anggraini, mamah mertua Laila.

"Betul! Dia itu tidak berguna Bang! Sejak awal aku memang tak setuju kau menikah dengannya," sambung Vallen penuh cemooh.

"Iya! Heran, kenapa pula kau menikahi wanita ini! Sudah jelas terlahir dari kasta yang berbeda. Derajatnya saja jauh di bawah kita," hina Jonathan, kakak dari Zidan.

Semua seakan kompak menghina dan merendahkan Laila karena melahirkan anak laki-laki yang tidak sesuai harapan mereka.

Laila hanya menatap sendu anak dalam gendongannya. Tak disangka bayi yang seharusnya disambut dengan kegembiraan, justru harus terasingkan oleh keluarga ayahnya sendiri.

Laila Putri Cantika, gadis yang terlahir dari keluarga sederhana. Ia dinikahi lelaki tampan bernama Zidan Fernando, anak pemilik perkebunan karet yang terkenal kaya di desanya. Orang tua Laila merupakan buruh di perkebunan itu.

Awal mula Laila dipersunting Zidan karena kecantikan Laila yang mampu memikat hati Zidan, anak dari pemilik perkebunan karet itu.

Saat itu Laila mengantar makanan ke kebun karet untuk orang tuanya, saat itu juga ia berpapasan dengan Zidan, ia baru pulang dari kota.

Katanya, ia baru selesai belajar di luar kota dan akan mengabdikan diri di desanya. Zidan kembali ke kampung halaman untuk mengembangkan usaha ayahnya bersama Kakak lelaki dan perempuannya yang bernama Vallen dan Jonathan. Namun, bukan mengembangkan usaha sang ayah, ia justru bertemu Laila terpikat dengan kecantikannya.

Ia meminta sang ayah untuk menikahinya dengan Laila. Awalnya, Laila menolak karena ia masih belum yakin dengan Zidan, pemuda yang baru saja menyelesaikan pendidikannya itu. Saat itu juga, Laila baru saja lulus sekolah tingkat SMA.

Menurut yang ia dengar, Zidan terkenal dengan sifat yang manja dan suka menghabiskan harta kekayaan milik ayahnya, hidupnya di kota juga suka berfoya-foya. Namun, karena bujukan ibu dan ayah, serta pak Fernando, ayah dari Zidan sekaligus pemilik perkebunan karet itu, yang menyukai sifat dan kecantikan Laila, Laila pun tak bisa menolak. Ia lantas menerima pinangan Zidan, lelaki yang belum sepenuhnya ia cintai.

Bohong jika ia tak tertarik pada Zidan. Ia lelaki tampan di desa itu. Mungkin karena hidupnya di kota, cara berpakaian dan wajahnya tidak seperti lelaki desa. Itulah yang membuat Laila menyukai Zidan. Selain itu, Laila tak bisa menolak permintaan sang ayah, karena Pak Fernando sudah baik pada keluarganya. Ia sering menolong Ayah Laila, kala mereka kesusahan dalam hidup.

Di desa pun masih enggan menolak perjodohan, apalagi jika di jodohkan dengan orang yang berada. Bagi mereka, menikah dengan orang nomor satu di desa, menjadi sesuatu yang diinginkan banyak orang.

"Apa lagi yang mau kamu tunggu! Cepat pergi dari rumah ini!" usir Anggraini tak ada rasa iba dengan menantu dan cucunya, ia menatap sengit kedua manusia di depannya, memerintah agar segera meninggalkan kediamannya yang megah itu.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status