Share

Jebakan 2

Auteur: Azzurra
last update Date de publication: 2026-02-22 07:00:52
Dalton mendekat, dia sudah mendengar semuanya. Lelaki ini berlutut di depan Ana, memegang bahu wanita itu. "Dia menggunakan ayahmu untuk menarikmu kembali padanya."

"Tapi aku tetap harus pulang, Dalton. Ayahku sakit. Dia satu-satunya keluargaku!" Ana mencengkeram kemeja Dalton, matanya memohon. "Tolong, biarkan aku pulang sebentar saja. Aku tidak bisa membiarkan Ayah mati karena memikirkanku."

Dalton menatap Ana lama. Dia tahu ini adalah jebakan. Dia tahu jika Ana pulang, Adrian akan menyeka
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
alxandria310182
Tuh kan An, kan udah di ingetin tadi
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Pertemuan dengan Mama

    "Pesawat sudah lepas landas," ucap Daniel begitu sambungan terhubung. "Target aman secara fisik, tapi mental mereka terguncang ,mengetahui kenyataan.""Aku sudah menduganya," jawab Dalton di seberang sana, suaranya terdengar datar namun ada nada kelegaan yang terselip. "Sam selalu tahu cara menanamkan keraguan. Apa yang dia katakan pada mereka?"Daniel melirik ke arah kabin belakang tempat si kembar berada. "Dia menggunakan kartu 'kewajiban darah'. Dia mengatakan bahwa Maria-lah yang memisahkan mereka secara paksa. Mikail mulai mempertanyakan alasan di balik semua rahasia ini, sementara Julian tetap teguh pada komandonya—tapi aku tahu dia pun mencari kepastian.""Sam mencoba memutarbalikkan sejarah untuk menyelamatkan dirinya sendiri," sahut Dalton dingin. "Tapi dia lupa bahwa bukti finansial dan perlindungan yang di berikan ibu selama puluhan tahun lebih nyata daripada sekadar kata-kata manis tentang DNA.""Mereka ingin bertemu Maria segera setelah mendarat," Daniel memberi peringata

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Kabut di Kepala.

    Mobil terus melaju membelah jalanan Jenewa yang mulai sepi. Cahaya lampu jalan masuk bergantian lewat jendela, menerangi wajah Mikail yang tampak gelisah. "Apakah kita salah meninggalkannya sendiri?" gumam Mikail, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin, namun telinga tajam Julian menangkapnya. Julian menoleh sedikit, matanya masih menatap jalanan yang basah. "Dia meninggalkan kita lebih dulu, Mikail. Tanpa Maria, kita tidak akan pernah menjadi seperti sekarang. Kita mungkin hanya akan menjadi pion di papan caturnya." "Tapi dia bilang Maria yang memisahkan kita," ucap Mikail lagi. Kalimat Sam tentang Maria yang menyembunyikan mereka terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Sebagai pengacara, Mikail terbiasa melihat dua sisi cerita, dan keraguan itu mulai menyelinap. Daniel, yang duduk di kursi depan, tetap diam. Ia mencerna setiap kata yang keluar dari mulut si kembar. Ia tahu mereka sedang dalam persimpangan, mereka belum mengenal Maria juga belum mengetahui tentang mas

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Pertemuan dan Penolakan.

    "Jarak tak menghalangiku untuk menghancurkan mu, Sam," jawab Dalton melalui sistem komunikasi yang telah ia retas sepenuhnya. "Kau bilang kau yang menciptakan Julian dan Mikail? Tidak. Kau hanya menyumbangkan darah. Maria-lah yang menghidupi mereka, kau tak berhak atas hidup mereka."Mikail dan Julian terhenyak mendapati kenyataan lelaki tua di hadapannya ini adalah benar-benar ayahnya. Tiba-tiba, layar laptop Mikail yang tadinya menampilkan file dari Sam, berubah menjadi tampilan radar satelit yang mengunci koordinat dermaga itu. "Mikail, jalankan protokol 'Ghost Protocol' yang sudah aku tanam di sistem mu," perintah Dalton tegas. Tidak memberikan Mikail waktu untuk berfikir. Mikail, yang otaknya bekerja secepat kilat, langsung mengerti. Jari-jarinya menari di atas keyboard. "Protokol aktif, Kak!" Dalam hitungan detik, semua ponsel dan alat komunikasi para pengawal Sam mengeluarkan suara melengking yang memekakkan telinga, diikuti dengan matinya semua lampu dermaga secara total.

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Pertemuan

    Malam itu, Danau Jenewa diselimuti kabut tebal yang merayap dari permukaan air menuju dermaga kayu tua yang nampak rapuh. Suara ombak yang menabrak tiang-tiang dermaga menciptakan irama yang mencekam, seolah sedang menghitung mundur ledakan konflik yang tak terelakkan. Daniel berada di posisinya, mendekam di balik tumpukan kontainer tua yang menghadap langsung ke dermaga pribadi itu. Napasnya teratur, namun matanya tak lepas dari teropong malamnya. Ia sudah meminum dosis terakhir obat dari Dokter Obsidian, membuat indranya bekerja berkali-kali lipat lebih tajam. "Julian, Mikail, posisi kalian?" bisik Daniel melalui earpiece terenkripsi. Mereka merencanakan penyergapan ini beberapa hari setelah Daniel bertemu Mikail di galeri lukis tempo hari. "Aku di titik buta, arah jam dua dari dermaga. Sniper sudah siap, tapi aku hanya akan menembak jika kau memberi aba-aba," suara Julian terdengar dingin dan stabil. "Aku di dalam kabin kecil di ujung dermaga," timpal Mikail. Di depannya, l

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Kecurigaan.

    Julian mengenakan rompi antipeluru tipis di balik mantelnya, sementara jemarinya dengan cekatan merakit perangkat komunikasi mikro. Sebagai ahli strategi keamanan, ia tahu bahwa informasi adalah senjata utama, namun peluru adalah titik terakhir jika negosiasi gagal. "Aku sudah menandai area dermaga," ucap Julian sambil menunjukkan tabletnya pada Mikail. "Ada tiga titik buta di sana. Jika Sam datang membawa pasukan, mereka akan terjebak di area terbuka sebelum bisa mendekati dermaga pribadi itu." Mikail hanya mengangguk kecil. Ia duduk di depan laptopnya, jemarinya menari di atas tuts keyboard. "Aku sudah memasang firewall berlapis pada semua server firma hukumku. Begitu ada upaya peretasan atau akses ilegal menggunakan namaku atau namamu, sistem akan langsung melacak lokasi GPS pengirimnya secara real-time." Mikail berhenti sejenak, menatap layar yang menampilkan foto buram Sam yang dikirim oleh Daniel. "Aku masih bertanya-tanya apa maksud Daniel dengan 'kewajiban darah'. Di dun

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Strategi.

    Daniel melangkah menyusuri trotoar batu yang basah oleh embun malam. Di bawah lampu jalan yang temaram, ia mengeluarkan ponsel satelitnya, menekan serangkaian kode keamanan sebelum menghubungi Dalton di Jakarta. "Bos, Oprasi sudah selesai. Mikail sudah memakan umpannya," lapor Daniel tanpa basa-basi. "Bagus. Julian?" tanya Dalton di seberang sana, suaranya terdengar berat dan letih. "Aku akan mengirimkan data pertemuan ku dengan Mikail ke Julian melalui jalur anonim perusahaan keamanannya malam ini. Dia pasti akan datang ke Jenewa begitu menyadari adiknya dalam bahaya. Sam tidak boleh mendapatkan akses ke satu pun dari mereka." Daniel masuk ke dalam sebuah mobil sewaan yang terparkir di sudut jalan gelap. Di dalam, ia sudah menyiapkan peralatan pemantauan tingkat tinggi—warisan dari teknologi Obsidian yang masih berfungsi sempurna. Matanya menatap layar laptop yang menampilkan peta digital dermaga pribadi di Danau Jenewa. "Kamu harus berhati-hati, Daniel," suara Dalton terden

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Darah dan Pelukan.

    Dalton tidak bisa lagi menahan diri. Jarak di antara mereka terkikis dalam satu langkah lebar. Ia mencengkeram bahu Ana dengan tangan besarnya, tidak menyakiti, namun cukup kuat untuk memastikan Ana tidak bisa memalingkan wajah."Dengarkan aku!" bentak Dalton, suaranya parau, bergema di setiap sudu

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Dosa Masa Lalu.

    Ia segera mengambil laptopnya dan memasukkan flashdisk itu. Sebuah video terputar. Rekaman CCTV hitam putih dari gudang logistik lama milik perusahaan Obsidian. Di sana terlihat Dalton muda sedang memberikan instruksi pada sekelompok pria, dan di latar belakang, terlihat sebuah truk dengan logo '

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Luka Lama.

    Lobi utama gedung Obsidian yang berlapis marmer hitam itu sunyi, hanya derap langkah Daniel yang bergema mengikuti Elena. Daniel berjalan di belakangnya, tangannya bertaut di belakang punggung, wajahnya sedingin es.Begitu sampai di dekat pintu kaca putar, Elena tiba-tiba berhenti. Ia be

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Cemburu

    Elena tertawa kecil, berdiri dan melangkah mendekat. Ia mengabaikan Ana sepenuhnya, matanya terpaku pada Dalton. "Aku mendengar Silas sudah mati. Kupikir kau butuh seseorang yang benar-benar tahu cara merayakan kemenanganmu. Seseorang yang tahu setiap inci tubuhmu, seseorang yang Isa menyenangkan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status