登入Rindu memasukkan beberapa baju ke dalam tas untuk dia bawa saat menginap di rumah mendiang kedua orang tuanya besok. Rencananya dia akan tinggal di sana selama 3 hari.Rindu merasa senang karena dia tidak akan pergi sendiri. Ada Seno yang akan menemaninya. Dia tidak akan kesepian selama di sana.Selain ingin mengunjungi makam orang tuanya, Rindu juga ingin mengetahui perkembangan penyelidikan kasus kematian Heru dan Rinda yang dilakukan oleh Rudi. Sampai detik ini, sahabat ayahnya itu masih terus membantunya mengumpulkan bukti.Rudi mengatakan jika ada hal penting yang ingin dia sampaikan secara langsung pada Rindu. Gadis itu pasti akan merasa puas setelah mengetahuinya.Rindu sendiri merasa heran kenapa Rudi memintanya untuk menemuinya. Pasalnya, pria itu biasanya hanya akan memberi kabar lewat pesan atau telepon. Tapi walau bagaimanapun, Rindu tetap menuruti permintaan Rudi. Karena dia merasa segan dengan pria sepantaran ayahnya itu yang telah membantunya sejauh ini.Sibuk dengan ke
Seno memilih untuk meredakan emosinya di belakang rumah. Di sana terdapat kursi panjang yang sering dia gunakan untuk bersantai. Sembari menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus menggerakkan pepohonan yang ada di sekitar rumahnya.Setelah pertengkarannya dengan Hanum beberapa waktu lalu, Seno langsung pergi begitu saja meninggalkan wanita itu. Dan di sinilah dia berada, berbaring di atas kursi panjang dengan menumpukan kepalanya pada sandaran kursi.Begitu banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini di kehidupannya. Tentang perasaannya yang semakin dalam pada Rindu. Dan hubungan mereka yang semakin lengket satu sama lain.Rindu selalu bisa membuat harinya yang membosankan menjadi lebih berwarna. Tidak hanya karena perhatiannya, tapi juga tingkah manisnya yang menggemaskan.Ingin sekali Seno menyusul gadis itu ke kamarnya. Tapi dia masih waras untuk tidak berbuat demikian. Mengingat jika di rumah saat ini masih ada Hanum.Berbicara mengenai wanita itu membuat Seno mendengus kasar. Dia be
Seno dibuat menegang saat mendengar suara wanita yang sangat dikenalinya. Dengan gerakan patah-patah dia menoleh, mendapati sosok istrinya yang tengah menatapnya dengan sorot penuh selidik.Seno mengumpat pelan, dan berusaha untuk tetap bersikap tenang. Dia yakin Hanum tidak akan memperpanjang masalah ini jika dirinya bisa memberikan alasan yang logis."Kenapa kamu diam saja, Mas? Aku tanya kenapa kamu bisa keluar dari kamar Rindu? Kalian sedang apa?" cecar Hanum yang merasa kesal dengan sikap Seno.Seno berdehem samar dan berjalan mendekati Hanum. Dengan masih mempertahankan raut datarnya, pria itu menjawab pertanyaan dari sang istri."Aku mendengar suara teriakan Rindu saat baru pulang. Jadi aku langsung bergegas melihatnya. Dia takut mendengar suara petir. Ditambah tadi listrik tiba-tiba padam." jelas Seno berusaha meyakinkan.Hanum tampak masih belum sepenuhnya percaya dengan alasan tersebut. Wanita itu masih betah menatap Seno dengan pandangan mengintimidasi. Yang dibalas pria it
Rindu tak langsung menanggapi ucapan Seno barusan. Gadis itu masih diam, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi.Apa dengan dirinya memberi seorang anak untuk Seno, pria itu tidak akan meninggalkannya? Lalu bagaimana jika yang terjadi sebaliknya? Mengingat hubungan mereka yang masih belum jelas arah tujuannya.Seno tahu, Rindu pasti merasa keberatan dengan permintaannya. Terbukti dengan diamnya gadis itu yang membuat dirinya merasa canggung. Seno sadar diri, dia terlalu banyak menuntut gadis itu."Em, lupakan saja ucapan Paman tadi, Sayang. Em, lebih baik kita bicara yang lain saja." timpal Seno terdengar kikuk.Rindu tampak mengangguk, masih mengunci rapat bibirnya. Untuk saat ini dia belum ingin memikirkan permintaan Seno terlalu jauh. Dia ingin fokus dengan balas dendamnya yang sempat terhenti karena dirinya yang terlalu fokus dengan kebersamaannya bersama Seno."Kamu hanya membuat kopi saja?" tanya Seno mencoba memecah kecanggungan di antara mereka.Rindu mengangguk sembari
Rindu yang awalnya ingin membuat Hanum merasa kesal dengan mengirim foto Seno yang berada di dekapannya buru-buru menarik pesannya lagi. Gadis itu tidak ingin terang-terangan menabuh genderang perang dengan Hanum. Dia tidak ingin membuat semuanya berakhir dengan mudah. Hubungan ini masih harus dirahasiakan.Biarkan Hanum dihantui rasa penasaran dengan perubahan sikap Seno. Rindu ingin wanita itu sendiri yang mencari tahu apa yang terjadi pada suaminya. Dan pelan-pelan Rindu akan membuka perselingkuhan mereka melalui Seno.Kali ini Rindu kembali menjadikan Seno sebagai batu loncatan. Setelah berhasil membuat pria itu jatuh cinta padanya, dia juga akan memanfaatkan perasaan Seno untuk memenuhi kebutuhan balas dendamnya.Rindu tahu jika apa yang dia lakukan memang terdengar jahat. Tapi hanya inilah satu-satunya cara yang terpikirkan olehnya untuk bisa membalaskan dendam pada Hanum. Dengan menggunakan Seno sebagai pelaku utama untuk membuat hidup Hanum sengsara.Rindu yakin, wanita itu be
Hujan terus mengguyur dengan begitu derasnya tiada henti. Sudah lebih dari satu jam, tapi tak ada tanda-tanda hujan akan segera reda. Ditambah petir yang menyambar dengan suara menggelegar. Membuat suasana siang ini begitu mencekam.Tapi semua itu tidak dirasakan oleh pasangan kekasih yang saat ini tengah bermesraan di dalam kamar. Siapa lagi kalau bukan Rindu dan Seno yang masih betah berpelukan di atas ranjang tanpa melakukan aktivitas apapun.Hawa dingin yang menusuk kulit membuat mereka enggan untuk beranjak. Keduanya lebih memilih menghangatkan diri dengan saling berpelukan. Dan sesekali mempertemukan bibir mereka dalam sebuah ciuman.Sesekali tangan Seno akan dengan nakal menyelinap masuk ke dalam pakaian yang Rindu kenakan. Meremas gundukan kenyal yang menjadi favoritnya.Tentu Rindu membiarkan hal itu terjadi. Dia tidak merasa risih karena telah terbiasa dengan sentuhan yang Seno berikan pada tubuhnya. Bahkan dirinya sendiri yang terkadang memintanya pada pamannya itu."Emnh..
Pagi sekali Rindu sudah bangun dari tidurnya. Tak seperti biasanya yang dia akan dengan sengaja bangun siang, hari ini dia tampak sudah segar dengan wajahnya yang sedikit basah setelah mandi.Dengan kaos pendek berwarna sage dipadukan dengan rok mengembang sebatas lutut, Rindu keluar dari kamarnya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Rindu rela mengubur kekesalannya pada Seno. Setelah merenung di dalam kamarnya selama hampir satu jam, gadis itu akhirnya keluar dari kamarnya. Tujuannya saat ini adalah dapur. Dia ingin menarik perhatian Seno dengan membuatkannya secangkir kopi.Dengan raut w
Rindu terbahak-bahak setelah keluar dari ruangan pamannya, Seno. Gadis itu masih ingat bagaimana raut syok Seno setelah dia sempat mencium pipinya. Jujur saja Rindu merasa terhibur dengan segala reaksi yang pamannya itu berikan.Bersenandung kecil sembari memainkan kunci motor yang ada di tangannya
Seno dengan reflek menjatuhkan Rindu yang sejak tadi duduk di atas pangkuannya. Membuat gadis itu memekik dan mengaduh kesakitan karena bongkahan padatnya menghantam lantai dengan cukup keras."Aduhh.. Paman.." ringis Rindu.Seno yang tersadar sontak membantu Rindu untuk bangun. Lalu mendudukkan ga







