LOGINDi kantor firma hukum….Di seberang meja rapat, Lyra terduduk dengan jemari yang saling bertaut erat di atas pangkuannya.Wajah cantiknya tampak pucat, dengan gurat kecemasan serta kelelahan mental yang teramat membayang di balik kelopak matanya yang redup.Namun, di dasar matanya, terpancar secercah harapan besar saat melihat map berkas tebal bersampul kulit yang diletakkan Randy di atas meja marmer.Tak jauh dari situ, Johan berdiri tegap di dekat jendela, menyilangkan kedua tangannya di dada seraya menatap dingin ke luar ruangan.Kehadirannya yang kaku dan tenang seolah memancarkan aura dominasi yang tak tersentuh."Selamat sore, Bu Lyra," sapa Randy dengan suara hangat namun penuh ketegasan profesional. Pria itu membuka lembar demi lembar dokumen di dalam map tersebut."Saya sudah mempelajari seluruh berkas, rekam jejak digital, serta alur transaksi keuangan yang telah dihimpun oleh tim intelijen Pak Johan."Lyra menyedut napas panjang, suaranya terdengar amat cemas saat menyahut.
"Selamat pagi, Pak Johan. Saya sudah berada di rumah utama sesuai instruksi Anda," ujar Juan dengan nada suara bariton yang tegas dan formal.Johan membalikkan tubuhnya, menopang pinggulnya di tepi meja kerja seraya menyilangkan kedua lengannya di dada.Manik mata kelamnya menatap Juan dengan tatapan tajam yang teramat dingin dan penuh perhitungan."Pagi, Juan," sahut Johan datar. Pria tegap itu tidak membuang waktu dan langsung masuk ke inti perbincangan."Mengenai masalah Lyra dan pria bernama Kevin itu... seperti yang sudah saya katakan kemarin, kita akan memprosesnya secara profesional sesuai dengan permintaan Nadya."Juan mengangguk patuh. "Baik, Pak. Apakah ada instruksi khusus mengenai batasan keterlibatan kita?""Sangat khusus," potong Johan dengan nada suara yang tak menerima bantahan."Aku tidak ingin nama perusahaan kita atau namaku terseret sedikit pun dalam sengketa ini. Tapi, aku ingin kamu mengerahkan tim intelijen keuangan internal kita pagi ini juga."Alis Juan terang
Pendar lampu dinding bernuansa keemasan membiaskan hangatnya atmosfer di dalam kamar tidur utama.Keheningan malam terasa begitu magis, seolah waktu berhenti berputar khusus untuk memberi ruang bagi dua insan yang tengah dimabuk asmara.Di atas peraduan king-size berseprai sutra yang lembut, Johan merebahkan raga mungil Nadya dengan ketelatenan yang teramat luar biasa.Perasaan haru, pemujaan mutlak, dan gejolak cinta yang membara usai mendengar tutur kata bijak sang istri tadi kini telah menjelma menjadi pendar gairah yang teramat pekat di dalam manik mata kelam Johan."Mas Johan..." cicit Nadya pelan, napasnya mulai berburu saat menatap wajah tampan suaminya yang terkunci tepat di atas raganya.Johan tak langsung menjawab dengan kata-kata.Pria tegap berbadan kokoh itu menopang bobot tubuhnya dengan kedua lengan beruratnya, memastikan tidak ada sedikit pun tekanannya yang membebani perut mungil Nadya.Pandangan matanya mengunci mata bening Nadya dengan intensitas yang sanggup melulu
Malam hari menyelimuti kediaman utama Banten dengan kehangatan yang amat menenangkan.Suasana tenang dan damai melingkupi ruang keluarga utama yang berhiaskan pendar lampu kuning keemasan.Usai menikmati santap malam bernutrisi tinggi yang disiapkan khusus sesuai panduan jurnal kehamilan, Johan dan Nadya memilih melepas lelah di atas sofa beludru bernuansa abu-abu gelap yang empuk.Sebuah televisi layar lebar menyala pelan menyajikan alunan musik instrumental, namun perhatian Johan sepenuhnya tercurah pada sosok wanita muda yang kini berada dalam pelukannya.Pria tegap itu mendudukkan Nadya di pangkuan hangatnya, melingkarkan kedua lengan kokohnya di sekeliling tubuh mungil Nadya seraya menyandarkan dagunya di bahu halus sang istri.Lengan tegapnya yang riap tak pernah absen mengusap lembut perut rata Nadya.Johan mengembuskan napas panjang, merapikan helai rambut halus Nadya yang terurai.Ada sebuah kejujuran yang harus ia sampaikan.Pria kaku itu telah berjanji pada dirinya sendiri
Ruang rapat privat di lantai khusus itu terasa begitu hening, dingin, dan mencekam.Dinding-dinding kaca tebal bernuansa kedap suara mengisolasi ruangan megah tersebut dari riuk pikuk aktivitas kantor pusat.Di ujung meja rapat berbahan kayu mahoni yang mengilap, Johan duduk tenang dengan posisi tubuh tegap.Pria itu menyilangkan kakinya yang jenjang, menopang dagunya dengan satu tangan seraya menatap lurus melintasi udara.Raut wajah Johan teramat kaku dan dingin, bagaikan pahatan batu pualam yang tak memiliki celah emosi.Pendar mata kelamnya memancarkan aura dominasi mutlak, sebuah intimidasi alami dari penguasa kerajaan bisnis raksasa yang tidak menyisakan sedikit pun rasa kasihan atau nostalgia masa lalu pada wanita di hadapannya.Lyra, yang duduk beberapa meter di seberang meja, meremas jemarinya yang gemetaran hebat.Atmosfer dingin di ruangan itu seolah mencekik lehernya, membuatnya makin merasa kerdil dan tak berdaya."Kamu punya waktu kurang dari tiga menit, Lyra," ucap Joha
Siang hari yang terik memantul anggun pada dinding-dinding kaca pencakar langit di kawasan bisnis tersibuk ibu kota.Di jantung megapolitan tersebut, berdiri kokoh gedung markas besar perusahaan raksasa milik Johan, sebuah simbol kekuasaan, pengaruh, dan kemewahan yang tak tergoyahkan.Di balik pintu kaca berputar lobi utama, lalu lalang para eksekutif berjas rapi menciptakan ritme kerja yang serba cepat dan disiplin tinggi.Namun, ketenangan lobi bernuansa marmer hitam tersebut mendadak terusik oleh hadirnya sosok wanita yang tampak memaksakan diri untuk tampil sempurna.Lyra melangkah melintasi pintu utama dengan balutan gaun formal.Meski riasan wajahnya dipoles semenarik mungkin demi menutupi keletihan dan wajah pucatnya, gurat kecemasan serta kerapuhan mental yang dalam tak bisa disembunyikan dari manik matanya yang liar.Dengan dagu terangkat memaksakan sisa-sisa gengsinya, Lyra berjalan lurus menghampiri meja resepsionis utama."Saya ingin bertemu dengan Johan sekarang juga," u







