LOGINCengkeraman tangan Johan di belakang tengkuk Nadya semakin mengerat, menarik perlahan namun pasti wajah wanita muda itu agar semakin mendekat.
Nadya bisa merasakan embusan napas Johan yang memburu, hangat dan sarat akan tuntutan yang mutlak.
Jantung Nadya berdentum begitu keras hingga terasa menyakitkan di dadanya. Dia memejamkan mata rapat-rapat, memasrahkan diri pada nasib yang sebentar lagi akan merenggut batasan terakhir di antara mereka.
Namun, tepat saat bibir Johan baru saja hendak menyentuh ranum bibir Nadya, seluruh ruangan mendadak gulita.
Klik!
Suara saklar otomatis yang memutus aliran listrik terdengar bersamaan dengan padamnya seluruh lampu di rumah mewah tersebut. Ruang kerja yang semula temaram seketika tenggelam dalam kegelapan total yang pekat.
"Ah!" Nadya memekik kaget, tubuh mungilnya tersentak ke belakang akibat keterkejutan yang instan.
"Sialan!" Johan mengumpat sejadi-jadinya.
Suaranya yang biasa tenang kini menggelegar dipenuhi amarah dan frustrasi yang memuncak.
Cengkeramannya pada tengkuk Nadya terlepas secara tidak sengaja karena refleks tubuhnya yang terkejut oleh perubahan atmosfer yang mendadak.
Kegelapan ini adalah berkah tersembunyi bagi Nadya. Di tengah kepanikan dan kegelapan total, otaknya yang semula lumpuh mendadak bekerja dengan cepat.
Ini adalah kesempatannya. Nadya punya peluang emas untuk kabur dan menyelamatkan diri dari kungkungan sensual sang majikan yang hampir saja menenggelamkannya.
"P-Pak... sepertinya mati lampu," cicit Nadya dengan suara bergetar, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar panik.
"S-saya permisi turun ke bawah dulu, Pak. Saya harus mencari lilin atau senter... dan saya juga harus tanya security di depan kenapa bisa padam listriknya. Takutnya ada masalah pada sekring pusat."
Tanpa menunggu jawaban dari Johan yang masih meraba-raba meja kerjanya untuk mencari ponsel, Nadya langsung membalikkan badan.
Berbekal ingatannya yang kuat tentang tata letak ruangan karena setiap hari membersihkannya,
Nadya melangkah seribu. Dia setengah berlari keluar dari ruang kerja, meraba dinding koridor lantai dua, lalu menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa dalam kegelapan.
Jantungnya berpacu karena adrenalin, bukan lagi karena gairah, melainkan ketakutan yang murni.
Begitu kakinya menginjak lantai dasar, Nadya langsung berlari menuju pintu utama. Dia membukanya dengan napas memburu dan segera berlari ke arah pos penjagaan di dekat gerbang depan.
"Pak! Pak Joko!" panggil Nadya setengah berteriak pada petugas keamanan yang sedang berjaga. "Kenapa bisa mati lampu, Pak? Apa cuma rumah kita aja?"
Pak Joko yang sedang memeriksa panel listrik di dinding luar pagar menoleh, terkejut melihat pelayan wanita itu berlari dengan wajah pucat meski dalam remang cahaya bulan.
"Eh, Mbak Nadya. Enggak tahu ini, Mbak, tiba-tiba jatuh sekringnya. Kayaknya ada korsleting di dalam rumah, atau mungkin—"
Namun, belum sempat Pak Joko menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara dengung keras dari arah generator cadangan di samping rumah.
Bzzzttt!
Sistem automatic transfer switch bekerja. Hanya dalam hitungan detik setelah Nadya sampai di halaman, seluruh area rumah mewah itu kembali benderang.
Lampu-lampu taman yang tinggi, lampu teras, hingga lampu-lampu di dalam ruangan menyala serentak, mengusir kegelapan yang sempat menjadi pelindung Nadya.
Detik itu juga, tubuh Nadya langsung membeku. Langkah kakinya terpaku di atas rumput taman.
Rasa lega yang baru saja mampir di hatinya menguap tanpa sisa, digantikan oleh sensasi dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke kepala.
Nadya menoleh ke belakang secara perlahan, digerakkan oleh firasat buruk yang mendadak menyergap jiwanya.
Di bawah sorotan lampu teras yang terang benderang, Johan sudah berdiri di sana. Pria itu tampaknya langsung mengikuti Nadya turun ke bawah.
Dia berdiri tegak di ambang pintu utama yang terbuka lebar, melipat kedua tangannya di depan dada bidangnya yang masih terbalut kemeja hitam setengah terbuka.
Sosoknya yang tinggi besar tampak begitu dominan dan mengintimidasi, seolah-olah dia adalah penguasa mutlak yang tak bisa dihindari ke mana pun Nadya berlari.
Johan menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya, sebuah senyuman predator yang tahu bahwa mangsanya tidak akan pernah bisa lolos. Tatapan matanya yang tajam mengunci sosok Nadya yang berdiri gemetar di tengah halaman.
Johan melangkah turun dari undakan teras. Setiap langkah kakinya yang tegap dan santai seolah menekan dada Nadya, membuatnya kembali kesulitan bernapas.
Johan berjalan menghampiri Nadya, mengabaikan keberadaan Pak Joko yang buru-buru menunduk hormat dan kembali pura-pura sibuk memeriksa pagar.
Johan berhenti tepat di samping Nadya.
Dia tidak menyentuh wanita itu di depan umum, namun kedekatan tubuh mereka sudah cukup untuk menyebarkan aura kepemilikan yang pekat.
Johan menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Nadya yang langsung memerah padam.
"Alasan yang bagus untuk lari, Nadya," bisik Johan dengan suara baritonnya yang sangat rendah, bergetar sensual di antara deru angin malam. "Tapi permainan petak umpetnya sudah selesai."
Nadya meremas daster batiknya dengan sangat erat, bahkan tidak berani menatap wajah sang majikan yang begitu dekat.
Tubuhnya yang ringkih tampak semakin bergetar di bawah bayang-bayang tubuh raksasa Johan.
"Jadi, sekarang pilihan ada di tangan kamu," bisik Johan lagi, bahkan memberikan penekanan yang teramat ambigu pada setiap kata yang diucapkannya.
"Kamu mau kita melakukannya di sini, di ruang tengah... seperti tempat aku dan Lyra bercinta yang kamu lihat itu, atau... di kamar tamu?"
Sinar mentari pagi menyiram pelataran rumah utama dengan pendar hangat yang begitu menenangkan.Suasana di kediaman mewah itu tampak jauh lebih semarak dari biasanya. Deretan karangan bunga segar bernuansa putih dan biru lembut berjajar rapi di sepanjang lobi teras, menyebarkan aroma harum yang memanjakan penciuman.Dekorasi pita dan balon-balon kustom bertuliskan "Welcome Home, Jevas Alendra" menghiasi koridor utama, menyambut kepulangan sang pewaris kecil yang amat dicintai.Mobil sedan hitam mewah milik Johan berhenti perlahan tepat di depan lobi. Juan dengan sigap membukakan pintu belakang.Johan keluar lebih dulu, lalu bergerak dengan sangat perlahan dan kehati-hatian tinggi untuk membantu Nadya turun seraya menggendong Jevas yang terbungkus rapi dalam selimut katun lembut.Para ART dan staf rumah tangga berdiri berjejer rapi di teras, menyambut kepulangan mereka dengan senyum mekar dan raut wajah bahagia."Selamat datang kembali di rumah, Pak Johan, Bu Nadya, dan Den Jevas..." s
Pendar hangat mentari pagi menyusup lembut di antara celah tirai tipis ruang perawatan VIP yang bernuansa elegan dan tenang.Aroma wangi bunga segar berpadu dengan keharuman khas minyak telon bayi, menguar lembut memenuhi setiap sudut ruangan.Di atas ranjang medis bernuansa putih bersih, Nadya bersandar rileks pada tumpukan bantal empuk.Wajah cantiknya tampak sedikit pucat pasca-perjuangan hebat melahirkan, namun aura keibuan nan anggun yang memancar dari binar matanya membuat pesonanya kian memikat hati.Di samping ranjang, sebuah box bayi porselen berbantal sutra terhias rapi, menyajikan pemandangan paling indah dalam hidup pasangan tersebut.Namun pagi itu, sang bayi mungil yang telah dibersihkan dan terbedung kain katun lembut berwarna putih tidak sedang terbaring di dalam box. Bayi merah itu tengah berada rapat di dalam garapan lengan tegap milik ayah kandungnya.Johan duduk berlutut tepat di samping ranjang Nadya. Lengan kokohnya yang biasa mengeksekusi dokumen-dokumen penting
Koridor rumah sakit privat bernuansa putih bersih itu terasa begitu sepi dan mencekam di bawah pendar lampu neon yang dingin. Jarum jam menunjukkan pukul 04.15 pagi.Di dalam ruang persalinan eksklusif, Nadya sudah terbaring di atas ranjang medis, berjuang melewati gelombang kontraksi yang makin rapat dan hebat demi menunggu pembukaan rahimnya lengkap.Di luar ruangan, atmosfer tak kalah tegang. Johan, yang sempat keluar sebentar saat dokter memeriksa pembukaan jalan lahir, tampak berjalan bolak-balik di atas lantai marmer bagaikan orang kesetanan.Kemeja santai yang dikenakannya tampak kusut, rambut lebatnya berantakan, dan wajah tampannya berpeluh dingin.Pria tegap itu tak berhenti mengusap wajahnya yang tegang luar biasa, memancarkan kepanikan yang berada di puncaknya.Juan, yang berdiri tak jauh dari situ seraya memegang ponsel dan berkas rumah sakit, mencoba memberanikan diri untuk menenangkan bos besarnya."Tenang, Pak Johan... Semuanya akan berjalan lancar," ujar Juan dengan n
Dini hari bertaut dingin menyelimuti kediaman utama. Suasana di dalam kamar tidur utama yang temaram oleh pendar lampu dinding bernuansa keemasan semula terasa teramat hening dan damai.Jarum jam dinding buatan Swiss menunjuk tepat di angka 02.30.Di atas peraduan king-size, Johan tidur lelap dengan satu lengan tegapnya melingkar protektif di sekeliling tubuh Nadya, menjaga wanita tercintanya yang tengah hamil tua.Namun, keheningan malam itu seketika pecah saat sebuah sentakan rasa sakit yang luar biasa menghantam perut bagian bawah Nadya."Nghh... M-Mas... Mas Johan..." ringis Nadya parau.Nadya terbangun dengan napas memburu, kedua tangannya mencengkeram erat lengan tegap suaminya.Rasa mulas yang teramat pekat datang bergulung-gulung bagaikan gelombang dahsyat, mencengkeram rahimnya tanpa ampun. Keringat dingin seketika membasahi pelipis dan dahinya.Bersamaan dengan itu, Nadya merasakan pendar cairan hangat mulai merembes tipis membasahi pakaian dan seprai sutra di bawah tubuhnya
Usia kehamilannya kini telah menginjak trimester ketiga.Perut mulusnya yang dahulu rata, kini telah membuncah besar dan menggelembung indah, menandakan makin dekatnya momen pembuka dari kebahagiaan mereka.Untuk menjaga kebugaran tubuh serta memperlancar proses persalinan kelak, Nadya rutin melakukan aktivitas fisik ringan dan senam hamil di bawah pengawasan instruktur pribadi.Namun, yang membuat suasana pagi itu terasa amat istimewa sekaligus menggelitikadalah sosok tegap yang setia berada di sampingnya.Johan. Pria perkasa berkedudukan tinggi yang disegani di jagat bisnis nasional itu, rela membatalkan tiga agenda rapat penting luar kantor demi bekerja dari rumah.Semuanya dilakukan hanya demi satu alasan mutlak: menemani sang ratu berlatih yoga pagi.Tak ada setelan jas hitam kaku, kemeja serat halus, atau dasi sutra yang biasa melekat di tubuh kokohnya.Pagi ini, Johan mengenakan kaos olahraga santai berwarna abu-abu yang mencetak dada bidangnya, berpadu dengan celana training h
Di dalam mobil sedan mewahnya, Johan mengembuskan napas lega.Perasaan ringan kini melapisi dadanya, seluruh sisa masa lalu dan benalu bernama Lyra telah tuntas diselesaikan secara bersih melalui jalur hukum Randy. Tak ada lagi celah, tak ada lagi ikatan.Begitu mobil berhenti sempurna di depan lobi utama, Johan tak membuang waktu.Pria tegap itu melangkah lebar masuk ke dalam rumah, langsung melangkah menuju lantai dasar tempat jantung kehangatan rumah tangganya berada. Pikirannya hanya dipenuhi satu nama: Nadya.Namun, alih-alih menemukan istrinya tengah beristirahat santai di kamar tidur utama atau ruang keluarga, aroma harum pandan nan manis yang menguar kuat justru menuntun langkah Johan menuju area dapur utama yang berlantai marmer bersih.Di sana, di dekat kitchen island berbahan granit hitam, berdiri sosok anggun yang membuat pendar mata Johan seketika terkunci.Nadya tampak mengenakan celemek kain bermotif bunga-bunga kecil. Rambut hitamnya diikat asal ke belakang, menyisakan







