Share

Bab 5

last update Tanggal publikasi: 2026-07-08 16:03:32

Cengkeraman tangan Johan di belakang tengkuk Nadya semakin mengerat, menarik perlahan namun pasti wajah wanita muda itu agar semakin mendekat.

Nadya bisa merasakan embusan napas Johan yang memburu, hangat dan sarat akan tuntutan yang mutlak.

Jantung Nadya berdentum begitu keras hingga terasa menyakitkan di dadanya. Dia memejamkan mata rapat-rapat, memasrahkan diri pada nasib yang sebentar lagi akan merenggut batasan terakhir di antara mereka.

Namun, tepat saat bibir Johan baru saja hendak menyentuh ranum bibir Nadya, seluruh ruangan mendadak gulita.

Klik!

Suara saklar otomatis yang memutus aliran listrik terdengar bersamaan dengan padamnya seluruh lampu di rumah mewah tersebut. Ruang kerja yang semula temaram seketika tenggelam dalam kegelapan total yang pekat.

"Ah!" Nadya memekik kaget, tubuh mungilnya tersentak ke belakang akibat keterkejutan yang instan.

"Sialan!" Johan mengumpat sejadi-jadinya.

Suaranya yang biasa tenang kini menggelegar dipenuhi amarah dan frustrasi yang memuncak.

Cengkeramannya pada tengkuk Nadya terlepas secara tidak sengaja karena refleks tubuhnya yang terkejut oleh perubahan atmosfer yang mendadak.

Kegelapan ini adalah berkah tersembunyi bagi Nadya. Di tengah kepanikan dan kegelapan total, otaknya yang semula lumpuh mendadak bekerja dengan cepat.

Ini adalah kesempatannya. Nadya punya peluang emas untuk kabur dan menyelamatkan diri dari kungkungan sensual sang majikan yang hampir saja menenggelamkannya.

"P-Pak... sepertinya mati lampu," cicit Nadya dengan suara bergetar, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar panik.

"S-saya permisi turun ke bawah dulu, Pak. Saya harus mencari lilin atau senter... dan saya juga harus tanya security di depan kenapa bisa padam listriknya. Takutnya ada masalah pada sekring pusat."

Tanpa menunggu jawaban dari Johan yang masih meraba-raba meja kerjanya untuk mencari ponsel, Nadya langsung membalikkan badan.

Berbekal ingatannya yang kuat tentang tata letak ruangan karena setiap hari membersihkannya,

Nadya melangkah seribu. Dia setengah berlari keluar dari ruang kerja, meraba dinding koridor lantai dua, lalu menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa dalam kegelapan.

Jantungnya berpacu karena adrenalin, bukan lagi karena gairah, melainkan ketakutan yang murni.

Begitu kakinya menginjak lantai dasar, Nadya langsung berlari menuju pintu utama. Dia membukanya dengan napas memburu dan segera berlari ke arah pos penjagaan di dekat gerbang depan.

"Pak! Pak Joko!" panggil Nadya setengah berteriak pada petugas keamanan yang sedang berjaga. "Kenapa bisa mati lampu, Pak? Apa cuma rumah kita aja?"

Pak Joko yang sedang memeriksa panel listrik di dinding luar pagar menoleh, terkejut melihat pelayan wanita itu berlari dengan wajah pucat meski dalam remang cahaya bulan.

"Eh, Mbak Nadya. Enggak tahu ini, Mbak, tiba-tiba jatuh sekringnya. Kayaknya ada korsleting di dalam rumah, atau mungkin—"

Namun, belum sempat Pak Joko menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara dengung keras dari arah generator cadangan di samping rumah.

Bzzzttt!

Sistem automatic transfer switch bekerja. Hanya dalam hitungan detik setelah Nadya sampai di halaman, seluruh area rumah mewah itu kembali benderang.

Lampu-lampu taman yang tinggi, lampu teras, hingga lampu-lampu di dalam ruangan menyala serentak, mengusir kegelapan yang sempat menjadi pelindung Nadya.

Detik itu juga, tubuh Nadya langsung membeku. Langkah kakinya terpaku di atas rumput taman.

Rasa lega yang baru saja mampir di hatinya menguap tanpa sisa, digantikan oleh sensasi dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke kepala.

Nadya menoleh ke belakang secara perlahan, digerakkan oleh firasat buruk yang mendadak menyergap jiwanya.

Di bawah sorotan lampu teras yang terang benderang, Johan sudah berdiri di sana. Pria itu tampaknya langsung mengikuti Nadya turun ke bawah.

Dia berdiri tegak di ambang pintu utama yang terbuka lebar, melipat kedua tangannya di depan dada bidangnya yang masih terbalut kemeja hitam setengah terbuka.

Sosoknya yang tinggi besar tampak begitu dominan dan mengintimidasi, seolah-olah dia adalah penguasa mutlak yang tak bisa dihindari ke mana pun Nadya berlari.

Johan menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya, sebuah senyuman predator yang tahu bahwa mangsanya tidak akan pernah bisa lolos. Tatapan matanya yang tajam mengunci sosok Nadya yang berdiri gemetar di tengah halaman.

Johan melangkah turun dari undakan teras. Setiap langkah kakinya yang tegap dan santai seolah menekan dada Nadya, membuatnya kembali kesulitan bernapas.

Johan berjalan menghampiri Nadya, mengabaikan keberadaan Pak Joko yang buru-buru menunduk hormat dan kembali pura-pura sibuk memeriksa pagar.

Johan berhenti tepat di samping Nadya.

Dia tidak menyentuh wanita itu di depan umum, namun kedekatan tubuh mereka sudah cukup untuk menyebarkan aura kepemilikan yang pekat.

Johan menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Nadya yang langsung memerah padam.

"Alasan yang bagus untuk lari, Nadya," bisik Johan dengan suara baritonnya yang sangat rendah, bergetar sensual di antara deru angin malam. "Tapi permainan petak umpetnya sudah selesai."

Nadya meremas daster batiknya dengan sangat erat, bahkan tidak berani menatap wajah sang majikan yang begitu dekat.

Tubuhnya yang ringkih tampak semakin bergetar di bawah bayang-bayang tubuh raksasa Johan.

"Jadi, sekarang pilihan ada di tangan kamu," bisik Johan lagi, bahkan memberikan penekanan yang teramat ambigu pada setiap kata yang diucapkannya.

"Kamu mau kita melakukannya di sini, di ruang tengah... seperti tempat aku dan Lyra bercinta yang kamu lihat itu, atau... di kamar tamu?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 7

    "Akh!"Nadya memekik tertahan, dengan air matanya seketika meleleh membasahi sudut mata begitu rasa nyeri yang luar biasa menghantam pusat kesadarannya.Rasa sakit yang tajam dan menghentak itu terasa begitu nyata saat milik Johan yang berukuran besar memaksa masuk, menembus batasan paling suci yang selama ini dia jaga dengan taruhan harga diri.Tubuh mungil Nadya spontan menegang hebat, kakinya gemetar di bawah kungkungan tubuh kekar sang majikan.Johan menghentikan gerakannya seketika. Sepasang mata elangnya melebar, menatap Nadya dengan kilat keterkejutan yang mendalam sebelum akhirnya berubah menjadi binar kepuasan yang luar biasa maskulin.Betapa beruntungnya pria itu malam ini; di balik daster batik murah dan kepolosan pelayannya, ternyata Nadya masih seorang gadis.Dia adalah orang pertama yang menancapkan bendera kekuasaan di atas tubuh suci tersebut."Sshh... tenang, Nadya. Buka mata kamu," bisik Johan sembari mengusap lembut sisa air mata di pipi pelayannya dengan ibu jari,

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 6

    Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari bibir Nadya yang sudah mengunci rapat, Johan mencekal pergelangan tangan wanita itu dengan cengkeraman yang mutlak.Dia menarik tangan Nadya, menuntun langkah pelayan mudanya yang ringkih itu masuk kembali ke dalam rumah, melewati koridor terang, dan membawanya langsung ke dalam kamar tamu lantai bawah yang sunyi.Cklek.Pintu kamar ditutup dan dikunci dari dalam, menyegel takdir Nadya di bawah kuasa penuh sang majikan. Kamar tamu itu mendadak terasa begitu sempit begitu tubuh tinggi besar Johan mendominasi ruangan.Nadya mundur hingga punggungnya membentur tepian ranjang berukuran king size, menatap Johan dengan sepasang mata yang dipenuhi kepanikan murni.Johan maju selangkah dan menatap Nadya yang napasnya memburu tidak teratur. "Tenang, Nadya. Jangan gemetar seperti itu," ucap Johan."Malam ini, aku akan membuktikan kepada kamu... bahwa aku bukan pria lemah. Aku bukan pria yang menyerah dalam dua menit seperti yang kamu dengar sore tadi

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 5

    Cengkeraman tangan Johan di belakang tengkuk Nadya semakin mengerat, menarik perlahan namun pasti wajah wanita muda itu agar semakin mendekat.Nadya bisa merasakan embusan napas Johan yang memburu, hangat dan sarat akan tuntutan yang mutlak.Jantung Nadya berdentum begitu keras hingga terasa menyakitkan di dadanya. Dia memejamkan mata rapat-rapat, memasrahkan diri pada nasib yang sebentar lagi akan merenggut batasan terakhir di antara mereka.Namun, tepat saat bibir Johan baru saja hendak menyentuh ranum bibir Nadya, seluruh ruangan mendadak gulita.Klik!Suara saklar otomatis yang memutus aliran listrik terdengar bersamaan dengan padamnya seluruh lampu di rumah mewah tersebut. Ruang kerja yang semula temaram seketika tenggelam dalam kegelapan total yang pekat."Ah!" Nadya memekik kaget, tubuh mungilnya tersentak ke belakang akibat keterkejutan yang instan."Sialan!" Johan mengumpat sejadi-jadinya.Suaranya yang biasa tenang kini menggelegar dipenuhi amarah dan frustrasi yang memuncak

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 4

    Pukul sembilan lewat lima puluh menit.Nadya berdiri di kamar mandi paviliunnya sedang menatap pantulan dirinya di cermin yang buram. Jantungnya bertalu begitu keras hingga menciptakan rasa ngilu di dadanya.Dia telah mengganti dasternya yang kotor dengan daster batik lain yang lebih bersih, namun tetap longgar dan sederhana.Dia sengaja menguncir rambut hitamnya ke atas, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah pucatnya. Semburat ketakutan yang murni masih tercetak jelas di matanya.Nadya merasa seperti domba yang sedang berjalan sukarela menuju kandang serigala.Dengan langkah kaki yang berat dan gemetar, Nadya keluar dari paviliun belakang.Nadya berhenti tepat di depan pintu kayu jati berukir besar di ujung lorong lantai dua.Di atas pintu itu, semburat cahaya keemasan mengintip dari celah bawah, menandakan sang pemilik ruangan memang sedang berada di dalam.Nadya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang sudah tercecer di lantai.To

  • Pesona Pelayan Tuan Muda    Bab 3

    "Ma-maksudnya apa, Pak?" tanya Nadya ketakutan.Johan tidak langsung menjawab.Dia justru bersandar dengan santai pada tepian meja, lalu melipat kedua tangannya di depan dada, hingga membuat otot-otot lengannya tercetak semakin kekar."Kamu bekerja di sini karena sudah tidak punya tempat tinggal lagi, kan?" tanya Johan dengan nada datarnya.Nadya tertegun, dengan bola matanya yang bulat melebar cemas. Tak lama kemudian, dia pun mengangguk pelan secara refleks.“I-iya betul, Pak.”"Lalu, kalau hari ini aku memecat kamu karena kelancangan kamu tadi, kamu mau tinggal di mana?"Pertanyaan retoris itu seketika memicu kepanikan massal di kepala Nadya. Bayangan harus menggelandang di jalanan kota metropolitan yang kejam langsung berputar di benaknya.Nadya sadar betul posisinya di dunia ini begitu rapuh; dia sebatang kara dan rumah mewah ini adalah satu-satunya tempat bernaung yang dia miliki saat ini."Ta-tapi, Pak, saya mohon... jangan pecat saya," Nadya langsung memohon dengan suara parau

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 2

    “Ng-nggak, Pak. Saya nggak ngintip. Saya cuma mau ambil minum aja," cicit Nadya dengan suara yang hampir habis.Namun, tampaknya Johan tidak percaya. Pria itu justru melangkah mendekat, mengikis jarak yang tersisa di antara mereka hingga embusan napas hangatnya yang beraroma mint dapat dirasakan Nadya di puncak kepalanya.Johan menatap Nadya dengan tatapan yang membuat Nadya kembali menelan ludahnya dengan susah payah.Itu adalah tatapan menilai yang teramat tajam, gelap, dan seolah mampu menembus pakaian longgar yang dikenakan pelayan mudanya itu.Semenjak dia bekerja di rumah mewah ini hampir setahun yang lalu, Nadya tak pernah melihat Johan hanya mengenakan celana dalam seperti itu.Biasanya, sang majikan selalu tampil rapi, eksklusif, dan terkontrol dalam balutan kemeja kerja yang mahal atau piyama sutra yang kancingnya tertutup rapat.Melihat sisi liar, kasual, sekaligus sangat primitif dari seorang Johan membuat seluruh pertahanan mental Nadya runtuh seketika.Karisma maskulin p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status