LOGINSementara itu, di kantor Abdinegara—Bimo sedang duduk dengan wajah tegang saat pintu ruangannya diketuk pelan.“Masuk.” seseorang yang tidak diharapkan datang. Danira muncul. Wajahnya tampak berbeda. Lebih pucat. Lebih rapuh.Seolah itu benar-benar ditunjukkan untuk Bimo.“Bim …,” suaranya lirih.Bimo langsung berdiri. “Kamu kenapa?” Danira menunduk, tangannya gemetar.“Aku … aku didatangi seseorang semalam ….” Kata-katanya terasa janggal. Namun, membuatnya penasaran.“Apa?” Bimo mendekat cepat, “Siapa?!”“Aku tidak tahu …,” jawab Danira, air matanya mulai jatuh, “dia bilang, aku harus menjauh darimu atau sesuatu yang buruk akan terjadi pada bayiku.” Tubuh Bimo menegang.Bimo mengerutkan kening sambil menelaah setiap perkataannya.“Apa maksudnya?! Siapa yang berani—”“Aku takut, Bim …,” Danira memeluk perutnya, suaranya pecah, “Aku benar-benar takut .…” Tanpa berpikir panjang, Bimo menariknya ke dalam pelukan.Tanpa sadar meskipun dia sudah tidak menganggap perasaan apapun pada Dan
“Jatah?” Santi mengucapkan kata itu dalam hati, “ya ampun … beberapa hari ini aku benar-benar lupa. Bagaimanapun Baga sudah banyak membantu dan sangat mengerti tentangku, tapi aku malah mengabaikannya.”Santi menatapnya sesaat seolah tidak bisa berkata, dia tahu sudah banyak merepotkan untuk hal perceraian atau menampung hidupnya selama ini. “Aku …,” Santi tertunduk saat Baga menarik pinggangnya, “bukankah seharusnya aku tetap mendapatkan sarapan penuh sesuai dengan ucapanku atau saat ini kamu sudah melupakan itu? Kamu sudah tidak membutuhkan aku lagi?”Ucapan yang sangat menusuk dan benar-benar membuat Santi merasa tidak enak, “Bu-bukan seperti itu, aku nggak pernah berpikir seperti itu,” jawabnya terbata.“Bagaimana kalau dia benar-benar tidak ingin bercerita dan kamu juga merasa ragu? Apa kamu akan benar-benar melupakan aku? Kamu akan meninggalkanku? Membuangku seperti sampah yang sudah tidak ada gunanya?” Skakmat lagi Santi mendengar ucapan Baga.“Apaan sih! Kamu kok berpikir sej
Santi menutup pintu di belakangnya tanpa suara.“Aku nggak datang untuk basa-basi.” sudut bibir Danira menarik kecut. Menyeringai seperti menyepelekan.“Basa-basi? Yang benar saja, benar-benar ucapan nggak masuk akal,” sahut Danira ringan, “kamu datang untuk merebut kembali suamimu kan?” nadanya pelan, tapi penekanannya sangat terasa.Santi berjalan mendekat, langkahnya tenang tapi penuh tekanan, “Aku datang untuk melihat seberapa rendah kamu bisa jatuh. Aku pikir kamu wanita baik-baik, ternyata …,” kalimat Santi juga terputus, tatapannya seolah menghakimi.Senyum Danira kembali muncul, tipis dan tajam, “Kalau bicara hati-hati, Santi. Kamu sedang bicara dengan wanita yang sekarang membawa anak dari suamimu. Ini bukan main-main loh … nyatanya kamu sudah kalah denganku, ah … bukan kalah tapi sebenarnya sejak dulu itu akulah yang memang pantas menjadi istri dari Bimo Prakoso Abdinegara,” ujar Danira, seolah dialah yang seharusnya sejak dulu menjadi pemenangnya.“Benarkah?” suara Santi d
Santi melangkah masuk ke gedung Abdinegara dengan napas yang terasa lebih berat dari biasanya. Setiap langkahnya dipenuhi keraguan, tapi juga tekad yang perlahan mengeras.Hari ini, dia tidak datang sebagai istri.Dia datang untuk mengakhiri semuanya.Lift berdenting pelan saat terbuka. Santi melangkah keluar, menatap lorong panjang yang terasa asing meski sudah terlalu sering dia lalui. Beberapa karyawan menunduk hormat, tapi dia tidak membalas. Fokusnya hanya satu. Bimo.Saat pintu ruangan itu terlihat di ujung lorong, langkah Santi sempat terhenti. Tangannya mengepal. Lalu—Tanpa menunggu jeda ataupun salam sebagai ucapan, dia menerobos, membuka pintu.Bimo yang masih berdiri di dekat meja langsung menoleh. Wajahnya berubah—antara terkejut dan … berharap. Sesuatu yang tidak mungkin dia bayangkan, kini berdiri dihadapannya.“Sayang …” Suara itu lirih, berbeda dari sebelumnya.Santi menutup pintu di belakangnya, berdiri tegak. Tatapannya datar, nyaris tanpa emosi.“Kita perlu bicara.
Keesokan paginya, Santi akhirnya bertemu dengan Rio di sebuah kafe. Dia ingin sekali semua pertanyaannya terjawab dengan segera. Tidak ingin membuang rasa penasarannya. Dia hanya ingin membuktikan segala keraguan di hatinya. Rio adalah seorang pria berkacamata yang tampak sangat teliti dengan laptop di depannya, "Aku sudah cek database laboratorium yang kamu maksud secara 'pintu belakang'," bisik Rio serius. Santi menahan napas. "Lalu? Apa hasilnya sesuai dengan yang diberikan Danira pada Bimo?"Rio menggeleng perlahan. "Ada anomali. Di jam dan tanggal yang sama dengan tes Danira, memang ada pemeriksaan DNA. Tapi ada jejak akses ilegal ke sistem mereka tepat satu jam sebelum hasil dicetak. Seseorang mengubah data mentahnya." Santi mengepalkan tangannya di bawah meja. "Jadi, bayi itu ...." Tentu saja itu hal pertama yang ada dalam benaknya. Menanyakan asal-usul benih dalam perut Danira. "Aku belum bisa memastikan siapa
“Tutup mulutmu. Jangan pura-pura lagi!” dengus Bimo, dia benar-benar tidak suka dengan apa yang dikatakan Danira.“Hah! Aku ini sedang bicara apa adanya,” Danira tak sungkan untuk membalasnya dengan kecut. Dia juga tidak suka dengan nada bicara Bimo, semakin lama, Bimo tidak lagi menghargainya.“Aku akan pergi!” kembali Bimo mendengus saat dia melihat dengan teliti bahwa pesan yang dikirim tadi sepertinya hanya jebakan.“Nggak! Kamu nggak boleh pergi begitu aja!” Danira segera membentangkan tangan, menghalangi langkah Bimo.“Minggir!” hardik Bimo, Danira tetap menggeleng, “menyingkirlah, aku nggak mau berbuat kasar denganmu,” karena Bimo masih berpikir janin yang didalam kandungannya itu adalah miliknya. Bimo akan tetap menahan diri.“Kamu … benar-benar tega, Bim? Apa kamu nggak merindukan aku?” tangannya sudah mulai menempati bagian dada Bimo, bergerilya seolah merayu, meminta hal yang biasanya mereka lakukan.Kode seperti bukan Bimo tidak tahu, tapi kali ini dia harus bisa benar-ben







