ログインJujur saja, Alisa merasakan kejanggalan.Fokus utamanya tidak lagi memikirkan pada kemungkinan dia telah dibodohi sepupunya sejak awal, melainkan lebih kepada kebodohannya sendiri.Bisa-bisanya dia tidak memeriksa, bahkan sekadar mengkonfirmasi data pribadi pria yang kini telah menjadi suaminya?Padahal selama ini, riset sudah menjadi bagian dari pekerjaannya sebagai penulis cerita cinta fiksi. Namun, ironis kemampuan itu mendadak tidak terpakai ketika Alisa hendak menikahi Dirga.Jika ada yang harus disalahkan, Alisa akan menyalahkan dirinya sendiri karena begitu mempercayai Sabrina di awal. Dan sepertinya ... akal sehat Alisa ketika itu juga tidak bekerja.Satu tangan terangkat dan langsung menepuk keningnya cukup keras. 'Dasar bodoh!' makinya dalam hati.Bagaimana jika Dirga bukan manajer kantoran biasa, melainkan ternyata seorang mafia kejam?! Berbuat salah atau bahkan tidak menjadi istri penurut, Alisa yakin dia bisa mati ditembak.Seakan tombol imajinasinya dinyalakan, hal itu b
Selagi Alisa masih berada di kamar mandi, Dirga yang sudah selesai bersiap-siap memutuskan cepat turun untuk menemui sang keponakan yang sudah dipastikan marah padanya. Pernah tinggal cukup lama di negara luar beberapa tahun lalu membuatnya lebih sering mengunjungi kediaman Sam dibandingkan Dirga pulang ke tanah air. Jadi, Clarissa memang cukup menempel padanya jika bertemu. Dan sikapnya yang kekanakan seperti tadi, Dirga bisa sedikit memakluminya. Tapi, tetap saja tidak bisa dibiarkan. Usai menuruni anak tangga terakhir, Dirga berniat berbelok menuju dapur. Namun, dia urung begitu melihat keberadaan ibunya tengah bersandar di pintu dengan tubuh Clarissa yang menghadap ke pintu seolah meminta keluar sambil menggendong tas besarnya di punggung. Larissa sepertinya tengah membujuk cucunya itu. "Kamu sudah berjanji akan bersikap baik jika Halmonie membawamu ke Uncle Dirga." "Jadi, ayo cepat lepaskan tasmu dan sarapan pagi." Namun, dengan sikapnya yang keras kepala Clarissa menolak,"
“Clarissa, tidak boleh bicara seperti itu,” tegur Dirga dengan nada yang tegas tapi lembut. Dirga kemudian menolehkan wajah, menatap Alisa lurus-lurus. “Tentu Uncle menyayangi kalian.” Alisa akui, dia senang mendengarnya. Tapi, siapa yang tahu isi hati Dirga yang sebenarnya? Bagaimana kalau jawaban Dirga hanya untuk tidak menyakiti siapapun? Detik itu, Alisa membenci dirinya sendiri. ‘Kenapa aku ikut bersikap kekanakan, sih?’ “Aunty Alisa tidak jahat,” bantah Dirga. Bahkan sebelum Alisa menyadarinya, Dirga melangkah mendekat dan menarik tangannya. Alisa tersentak saat merasakan Dirga menautkan jadi tangan mereka. “Perhatikan, dia wanita yang baik dan juga …,” jedanya sambil melirik Alisa. Refleks, Alisa sendiri ikut melirik ke arah Dirga, menunggu kelanjutan ucapan pria itu. “Cantik sepertimu, bukan?” Demi mendengar itu, Alisa menahan napasnya. Apa Dirga bilang?! “Tidak, jelek! Rambutnya berantakan!” komentar Clarissa yang menyatakan pendapatnya dengan lantang. Matanya yang kec
Tiba-tiba terdengar suara nyaring anak kecil dari luar kamar. Seketika hal itu menyela ucapan Dirga yang langsung terdiam sambil memikirkan suara anak kecil yang terdengar familier baginya. “Uncle Dirga?” Lagi-lagi seruan panggilan ‘Uncle Dirga’ terdengar lebih jelas hingga membuat Alisa kebingungan. “Dirga–mphh!” Mata besarnya terbelalak mendapati pria itu yang tiba-tiba membungkam bibirnya dengan satu ciuman tanpa aba-aba. Sontak Alisa mengangkat kedua tangannya, hendak mendorong dada Dirga menjauh. Akan tetapi, seolah bisa membaca niatnya, Dirga meraih kedua tangan Alisa dan menempatkannya di atas kepala. Sepersekian detik berikutnya, tubuhnya menegang. Meski pikirannya ingin menolak, tubuh Alisa mengkhianatinya. Napas hangat Dirga yang menerpa wajah dan pagutan lembut di bibirnya perlahan meluluhkan Alisa dalam hitungan detik. Dia nyaris menutup mata dan membuka bibir kalau tidak mendengar suara di luar kamarnya. “Uncle! Uncle ada di mana?” Seolah tersadarkan, Dirga melepa
A/n: Tentang tiba2 ada Leo di kamar Alisa …, . . Itu . . April Mop he he he. Sowyyy **** ‘Hahhhhhhh.’ Alisa mengembuskan napas panjang sesaat setelah terbangun dari mimpi buruknya. Itu benar-benar sama buruknya ketika dia memimpikan malam kematian orang tuanya. Mengingat apa yang Leo ucapkan di dalam mimpi memang mengerikan. Menyingkirkan … Dirga? Oh, tidak. Napas Alisa sedikit tersengal dan bulir-bulir keringat sebesar biji jagung membasahi keningnya. Rasa cemas dan takut bercampur menjadi satu. Dia juga tak mengerti, kenapa bisa memimpikan hal tersebut. ‘Apa karena cerita Kak Erick?’ pikirnya yang merasa langsung terhubung kesana. Mata besarnya terpejam lalu kembali terbuka. Dia masih berusaha mengatur napasnya sambil menyadari bahwa dirinya masih berada di kamar Dirga. Demi memastikan itu semua hanyalah bunga tidur, kepalanya menoleh ke sisi sebelah tempat Dirga berbaring tadi malam. Alih-alih pria itu ada di sana, Alisa menemukan sisi ranjang tidurnya
“A–aku ingin tidur lebih cepat. Besok hari pertamaku bekerja.” Alisa memalingkan wajah seolah itulah alasan yang sebenarnya. Merasa tertolak, Dirga sempat terdiam sebelum akhirnya menarik dirinya ke posisi tempatnya berbaring. Dia hanya menanggapi singkat, “Oke.” Ragu-ragu Alisa memutar kepalanya dan menemukan Dirga sudah berbaring memunggunginya. Pada detik itu, Alisa baru menyadari satu hal bahwa pelukan yang mereka lakukan membuatnya nyaman. Jadi, saat Dirga menarik diri seperti barusan … Alisa merasa sedikit kehilangan. Dia menggigit bibir bawahnya. Sejujurnya, Alisa bukan menolak karena ingin tidur cepat, melainkan ingin sedikit membalas Dirga dengan menggodanya. Dan reaksi Dirga menunjukkan kalau saat ini skor mereka menjadi satu sama, bukan? Akan tetapi, melihat Dirga berbaring memunggunginya membuat Alisa merasa tidak enak. “Kamu … marah?” tanyanya dengan hati-hati. Tampaknya baru kali ini Dirga tidak bersikap semaunya. Bisa saja Dirga memaksakan keinginannya pa
Berbeda dari Sabrina yang memilih masuk ke dalam kamar, Andra sendiri memutuskan bergabung di meja makan dengan santainya. Bersamaan Dirga yang baru saja tiba di sebelah Alisa.Punggung wanita itu refleks menegak saat Dirga menarik kursi dan menggesernya agar lebih dekat dengannya. ‘Gebrakan apalag
Beberapa saat setelah Alisa masuk ke dalam kamar mandi, air matanya merembes jatuh di pipi. Tiba-tiba saja dia ingin menangis. Tubuhnya terlihat gemetaran saat menatap bayangannya sendiri di cermin yang terlihat lemah dan menyedihkan. Ada kalanya Alisa tak bisa menyembunyikan perasaannya, terlebih
“Alisa, kenapa melamun?”Pertanyaan itu membuat Alisa tersentak dalam lamunannya. Punggungnya menjadi lebih tegak. Matanya menatap ke arah Erick dan sekitar meja makan.Ah, dia baru ingat kalau dirinya tengah sarapan bersama Erick. Sementara Dirga belum kelihatan batang hidungnya semenjak mengangka
Alisa yang juga kebetulan tengah menatap Dirga terlihat menggerakkan bibir tanpa suara. “Apa?” tanyanya.Diam-diam Alisa mengetahui kalau yang menghubungi Dirga adalah Larissa. Karena sebelum panggilannya berakhir, ibu mertuanya itu mengatakan akan menghubungi Dirga. “Biar Mama yang marahi Dirga. D







