LOGIN“Clarissa, tidak boleh bicara seperti itu,” tegur Dirga dengan nada yang tegas tapi lembut. Dirga kemudian menolehkan wajah, menatap Alisa lurus-lurus. “Tentu Uncle menyayangi kalian.” Alisa akui, dia senang mendengarnya. Tapi, siapa yang tahu isi hati Dirga yang sebenarnya? Bagaimana kalau jawaban Dirga hanya untuk tidak menyakiti siapapun? Detik itu, Alisa membenci dirinya sendiri. ‘Kenapa aku ikut bersikap kekanakan, sih?’ “Aunty Alisa tidak jahat,” bantah Dirga. Bahkan sebelum Alisa menyadarinya, Dirga melangkah mendekat dan menarik tangannya. Alisa tersentak saat merasakan Dirga menautkan jadi tangan mereka. “Perhatikan, dia wanita yang baik dan juga …,” jedanya sambil melirik Alisa. Refleks, Alisa sendiri ikut melirik ke arah Dirga, menunggu kelanjutan ucapan pria itu. “Cantik sepertimu, bukan?” Demi mendengar itu, Alisa menahan napasnya. Apa Dirga bilang?! “Tidak, jelek! Rambutnya berantakan!” komentar Clarissa yang menyatakan pendapatnya dengan lantang. Matanya yang kec
Tiba-tiba terdengar suara nyaring anak kecil dari luar kamar. Seketika hal itu menyela ucapan Dirga yang langsung terdiam sambil memikirkan suara anak kecil yang terdengar familier baginya. “Uncle Dirga?” Lagi-lagi seruan panggilan ‘Uncle Dirga’ terdengar lebih jelas hingga membuat Alisa kebingungan. “Dirga–mphh!” Mata besarnya terbelalak mendapati pria itu yang tiba-tiba membungkam bibirnya dengan satu ciuman tanpa aba-aba. Sontak Alisa mengangkat kedua tangannya, hendak mendorong dada Dirga menjauh. Akan tetapi, seolah bisa membaca niatnya, Dirga meraih kedua tangan Alisa dan menempatkannya di atas kepala. Sepersekian detik berikutnya, tubuhnya menegang. Meski pikirannya ingin menolak, tubuh Alisa mengkhianatinya. Napas hangat Dirga yang menerpa wajah dan pagutan lembut di bibirnya perlahan meluluhkan Alisa dalam hitungan detik. Dia nyaris menutup mata dan membuka bibir kalau tidak mendengar suara di luar kamarnya. “Uncle! Uncle ada di mana?” Seolah tersadarkan, Dirga melepa
A/n: Tentang tiba2 ada Leo di kamar Alisa …, . . Itu . . April Mop he he he. Sowyyy **** ‘Hahhhhhhh.’ Alisa mengembuskan napas panjang sesaat setelah terbangun dari mimpi buruknya. Itu benar-benar sama buruknya ketika dia memimpikan malam kematian orang tuanya. Mengingat apa yang Leo ucapkan di dalam mimpi memang mengerikan. Menyingkirkan … Dirga? Oh, tidak. Napas Alisa sedikit tersengal dan bulir-bulir keringat sebesar biji jagung membasahi keningnya. Rasa cemas dan takut bercampur menjadi satu. Dia juga tak mengerti, kenapa bisa memimpikan hal tersebut. ‘Apa karena cerita Kak Erick?’ pikirnya yang merasa langsung terhubung kesana. Mata besarnya terpejam lalu kembali terbuka. Dia masih berusaha mengatur napasnya sambil menyadari bahwa dirinya masih berada di kamar Dirga. Demi memastikan itu semua hanyalah bunga tidur, kepalanya menoleh ke sisi sebelah tempat Dirga berbaring tadi malam. Alih-alih pria itu ada di sana, Alisa menemukan sisi ranjang tidurnya
“A–aku ingin tidur lebih cepat. Besok hari pertamaku bekerja.” Alisa memalingkan wajah seolah itulah alasan yang sebenarnya. Merasa tertolak, Dirga sempat terdiam sebelum akhirnya menarik dirinya ke posisi tempatnya berbaring. Dia hanya menanggapi singkat, “Oke.” Ragu-ragu Alisa memutar kepalanya dan menemukan Dirga sudah berbaring memunggunginya. Pada detik itu, Alisa baru menyadari satu hal bahwa pelukan yang mereka lakukan membuatnya nyaman. Jadi, saat Dirga menarik diri seperti barusan … Alisa merasa sedikit kehilangan. Dia menggigit bibir bawahnya. Sejujurnya, Alisa bukan menolak karena ingin tidur cepat, melainkan ingin sedikit membalas Dirga dengan menggodanya. Dan reaksi Dirga menunjukkan kalau saat ini skor mereka menjadi satu sama, bukan? Akan tetapi, melihat Dirga berbaring memunggunginya membuat Alisa merasa tidak enak. “Kamu … marah?” tanyanya dengan hati-hati. Tampaknya baru kali ini Dirga tidak bersikap semaunya. Bisa saja Dirga memaksakan keinginannya pa
A/n: Harusnya bab ini aman———Seharusnya Dirga tak memaksa Andra untuk mengatakan informasi soal Alisa. Karena setelahnya, pria itu tampak seperti seseorang yang tengah dibebani banyak pikiran.Bahkan yang lebih parah membuatnya kesulitan untuk tidur. Padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.Dirga terus mengubah posisi tubuhnya, mulai dari terlentang, menyamping, sampai telungkup. Dia berusaha mencari posisi senyaman mungkin agar bisa terlelap.“Kamu membutuhkan sesuatu, Dirga?” Sedari tadi diam, Alisa membuka suaranya.Di ranjang berukuran king size itu, Dirga menoleh pada istrinya yang ternyata tengah menghadap ke arahnya.Alisa juga sudah dalam keadaan siap untuk tidur. Namun, alih-alih bisa memejamkan mata, Alisa malah sama sekali tak merasakan kantuk.Ditambah lagi, Dirga yang tak bisa diam membuatnya khawatir.Dirga menggelengkan kepalanya. “Tidak ada. Tidurlah.”Tanpa mengindahkan ucapan Dirga, Alisa tetap berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Dia berniat m
Alisa berusaha mencerna pertanyaan Dirga lebih dalam. Memangnya apa yang pria itu akan lakukan setelah mengetahui tipe pria idamannya? Tidak mungkin Dirga mendadak bertingkah mengikuti tipe pria yang Alisa idamkan, bukan? Raut wajah Alisa menegang. Terkecuali … jika Dirga memang memiliki maksud lain. Misalnya … menaruh ketertarikan padanya? Cepat-cepat Alisa menepis pemikiran tersebut. ‘Selama Dirga belum mengaku secara langsung menyukaiku, aku tidak ingin berharap apapun.’ Itulah prinsip yang Alisa pegang untuk saat ini. Tak lama terdengar dekhaman Dirga di udara. “Aku menunggu jawabanmu, Alisa.” “Maaf, aku kebanyakan berpikir,” ringis Alisa merasa tak enak. Begitu dia menoleh, didapatinya Dirga yang seolah tak sabar menunggunya bicara. Jadi, detik selanjutnya, Alisa buru-buru menjawab, “Tipeku selalu berubah-ubah." Tadinya Alisa ingin menjawab seperti ini: pria idamannya tergantung pada pria fiksi yang sedang ditulis olehnya atau aktor pria dari drama yang sedang ditont
Bagaimana mengungkapkan perasaan sayang dengan benar tanpa harus memberitahukan perasaan kita sendiri?” Sam mengulang ucapan Dirga dengan tak habis pikir. Apa yang membuat sepupunya itu bisa berpikir demikian? Manik coklatnya menatap Dirga tajam. Dia mendaratkan tangannya di pundak pria itu dengan
Melihat Dirga tak langsung merespons, Alisa melipat kedua bibirnya rapat-rapat. Dia merutukki diri. Mengapa rasanya menyenangkan memanggil Dirga seperti itu? Sesuatu yang menggelikan terasa menggelitik perutnya.Dan sudah cukup lama Alisa tak pernah merasakan sensasi tersebut.Dirga berdeham pelan,
Satu dua sampai lima detik menunggu, Alisa masih menunggu respons Dirga. Sekilas, raut wajahnya menunjukkan keterkejutan. Tapi, mulutnya masih terbungkam rapat.Rasanya seperti tak jauh berbeda berbicara dengan tembok.Keheningan di antara mereka membuat Alisa canggung sendiri. Dia meringis pelan.
*Satu jam sebelumnya Usai membaca laporan yang diterimanya, rahang pria dengan raut wajah tidak ramah itu tampak mengeras. Tangannya mencengkram sisi kertas laporan tersebut hingga tepiannya tampak kusut.“Perketat pengawasan,” perintahnya dengan suara yang rendah. Manik hitam tajamnya terangkat,







