Accueil / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / Bab¹⁵—Obat tidur~

Share

Bab¹⁵—Obat tidur~

Auteur: Na_Vya
last update Date de publication: 2026-03-18 23:56:00

"Gue tau lo itu suami kontrak nyokap gue, Ga."

Bentar.

Kok, Rachel tau?

"Lo tau?"

Rachel mengangguk.

"Dari mana lo tau?"

"Berarti bener 'kan?" Rachel malah balik bertanya.

Bagas beringsut mundur. Maniknya memicing. "Jadi, Lo?"

Sepasang alis Rachel naik, seringai tipis terulas di bibirnya. "Gue cuma nebak aja, sih. Dan ternyata... bener."

'Nih, anak ternyata licik juga. Bisa-bisanya gue ketipu sama muka polosnya ini.' Manik Bagas menatap tajam ke arah Rachel.

Untuk sementara lebih bai
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁸—Tentang Vanila di hidup Bagas~

    "Kenapa tangan kamu bisa luka begini, Gas? Kamu habis ninju apa?" Vanila menelisik luka di tangan Bagas dengan raut khawatir sekali. "kamu gak bisa apa lebih hati-hati sedikit?" Melihat Vanila yang sangat mencemaskannya, Bagas tentu tidak tega. Namun, berkat otaknya yang langsung berpikir cepat, dia tidak jadi mendapat omelan dari perempuan cantik ini. "Gue tadi khilaf dikit, Van," kata Bagas, dengan sorot amarah yang terpancar dari matanya. "Gue lepas kendali waktu pertama kali masuk ke kamarnya Maudy. Gue banting bingkai fotonya, terus gue tinju sampe gak sadar kalo udah berdarah-darah tangan gue." Manik Vanila melebar. "Ya ampun, Bagas. Kamu kenapa ceroboh banget, sih!" Melihat Vanila makin cemas, Bagas malah jadi gemas, dan dalam hatinya bersorak. "Tunggu bentar. Aku ambil kotak obat dulu." Bagas memerhatikan Vanila yang masuk ke kamarnya dan beberapa saat kemudian kelua

  • Pesona Pria Plus-plus    bab¹⁷—Ke rumah Vanila~

    Rasa penasaran membuat Bagas terpaksa keluar kamar, lalu turun tergesa untuk kembali ke taman belakang lagi. Kali ini dia ingin memastikan jika memang dia belum membuang bingkai rusak itu ke tempat sampah yang ada di taman belakang.Ada tiga tong sampah di taman belakang, masing-masing sesuai dengan jenis sampah. Bagas membuka tutup pada tong sampah kering, lalu melongokkan kepalanya. Maniknya terus mencermati benda-benda yang dibuang di tong itu. Namun, bingkai beserta foto Maudy yang rusak tidak nampak sama sekali. "Kok di sini juga gak ada?" Tak puas jika hanya membuka satu tong sampah, Bagas terpaksa membuka dua tong lainnya, walau itu sangat mustahil, jika benda yang dimaksud ada di dalamnya. "Gak ada semuanya. Terus di mana, coba?" Bagas menggaruk kepalanya yang nyut-nyutan sejak tadi. Gara-gara bingkai sialan, seorang Bagas rela ngorek-ng

  • Pesona Pria Plus-plus    bab¹⁶—"Siapa yang buang?"

    "Nih, obat tidur yang lo minta." Nathan menyodorkan botol ukuran kecil berwarna cokelat gelap pada Bagas. Bagas tersenyum lalu mengambil obat tidur itu dari tangan Nathan. "Thanks." Untung Bagas ingat kalau dia masih punya stok obat tidur. Jadi, malam ini dia tidak perlu repot-repot membeli lagi. Dan malam ini dia tinggal menggunakannya. "Elo kok bisa sedia begituan di mobil?" Pertanyaan Nathan yang masih penasaran perihal obat tidur, ditanggapi senyum tipis oleh Bagas. "Ini punya gue, Nat," ucap Bagas terus terang. Kening Nathan mengernyit. "Punya lo? Lo konsumsi obat tidur? Sejak kapan?" "Udah lama." Bagas menyimpan obat tidur itu ke saku celana. "gue ... insomnia akut," lanjutnya. "Masa? Kok, bisa?" Reaksi Nathan yang berlebihan membuat Bagas berdecak. "Ya, bisalah!" Sejak malam itu, Bagas memang sering meng

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁵—Obat tidur~

    "Gue tau lo itu suami kontrak nyokap gue, Ga." Bentar. Kok, Rachel tau? "Lo tau?" Rachel mengangguk. "Dari mana lo tau?" "Berarti bener 'kan?" Rachel malah balik bertanya. Bagas beringsut mundur. Maniknya memicing. "Jadi, Lo?" Sepasang alis Rachel naik, seringai tipis terulas di bibirnya. "Gue cuma nebak aja, sih. Dan ternyata... bener." 'Nih, anak ternyata licik juga. Bisa-bisanya gue ketipu sama muka polosnya ini.' Manik Bagas menatap tajam ke arah Rachel. Untuk sementara lebih baik dia menghindari gadis ini. "Gue mau turun. Nyokap lo udah nungguin."Bagas berbalik, dan pada saat dia hampir melangkah, Rachel berkata, "Gak dosa 'kan suka sama bokap tiri sendiri?" Otomatis Bagas tidak jadi melangkah. Dia menoleh, "Terserah, lo!" ucapnya. Rachel menyeringai mendengar jawaban Bagas. "Gue juga bisa kasih apa yang nyokap gue kasih ke elo." Bagas mendengkus dengan cara Rachel yang mencoba merayunya. "Gak minat!" Setelah mengatakan itu Bagas benar-benar pergi dari kamar Rache

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁴—Ditawar anak tiri~

    Habis dari kamar maminya sekarang ke kamar anaknya. Mimpi apa kira-kira Bagas semalam, bisa masuk ke kamar cewek yang sudah dia renggut ciuman pertamanya. Mana cakep banget lagi si Rachel. Kulit mulusnya terekspos bebas karena gadis itu hanya memakai hot pants, dan kaos ketat warna merah. Bagas sampai berkali-kali menelan ludah karena pemandangan indah di hadapannya, membuat kepala atas bawah pening bersamaan. Ck! Sing eling, Bagas... Bagas menggeleng berkali-kali, agak pikiran kotornya segera enyah dari kepala. "Kok, bisa sampe kayak gini, sih?" tanya Rachel, yang sedang mengoleskan salep di luka Bagas dengan cotton bat. "Kan, tadi gue udah bilang kalo kena lemari." Bagas masih kukuh dengan jawabannya.. Rachel memicing. "Gak mungkin. Lo bohong 'kan?" Bagas berdecak karena Rachel tetap tidak mempercayai jawabannya. "Terserah lo, deh."

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹³—Ditarik ke kamar Rachel~

    Telapak tangan Bagas terasa dingin ketika menyentuh handle pintu kamar Maudy. Napasnya putus-putus. Bayangan papanya yang gantung diri berkelebat di ingatan pemuda itu. Trauma itu kembali mengganggu pikiran Bagas, yang selama ini berusaha mati-matian melupakan kejadian memilukan tersebut. Yang ada dalam pikirannya detik ini—bagaimana seandainya dia membuka pintu ini dan mendapati papanya gantung diri? Bagas menggeleng kuat-kuat. "Gak! Itu gak mungkin. Itu udah berlalu." Genggaman pada handle pintu menguat, seolah dia meyakinkan dirinya jika kejadian itu tidak mungkin terulang kembali. Bagas tak berhenti merapalkan kalimat-kalimat positif untuk mengalihkan pikiran-pikiran buruk. Hingga beberapa saat berlalu, dan akhirnya dia bisa menguasai diri. Perlahan Bagas membuka pintu kamar Maudy. Aroma parfum yang biasa dipakai perempuan itu langsung menyambut penciumannya. Kamar Maudy sangat luas dan mewah. Bagas menutup pintu, kemudian masuk sepenuhnya. Dia melangkah, menapak

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status