เข้าสู่ระบบSepanjang perjalanan meninggalkan rumah sakit, Bagas beberapa kali melirik Rachel yang duduk di sampingnya. Perempuan itu tampak sedang memikirkan sesuatu sambil sesekali mengusap perutnya yang semakin membesar. Ada senyum tipis di wajah Rachel, senyum yang sejak tadi belum benar-benar menghilang setelah pertemuan mereka dengan Sandra. Bagas tahu pertemuan tadi bukan sesuatu yang mudah bagi mereka. Untuk Rachel, itu adalah pertemuan pertama dengan perempuan yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan laki-laki yang dicintainya. Sementara bagi Bagas, melihat ibunya bisa tersenyum, tertawa, bahkan memarahi dirinya karena kehamilan Rachel memberikan perasaan yang sulit dijelaskan. Seolah-olah ada bagian dari kehidupannya yang selama bertahun-tahun terasa kosong, kini mulai terisi kembali. "Mikirin apa?" tanya Bagas akhirnya. Rachel menoleh. "Nggak." "Kalau nggak mikirin apa-apa, kenapa senyum sendiri?" "Aku seneng." Bagas mengangkat alis. "Seneng karena apa? Karena akhirn
Keesokan harinya... Sejak pagi, Bagas sudah memikirkan satu hal. Hari ini dia ingin membawa Rachel menemui mamanya. Bukan karena dia ingin sekadar mengenalkan perempuan yang dicintainya. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dari itu. Selama bertahun-tahun, satu-satunya keluarga yang masih dia miliki adalah Sandra. Namun setelah kematian Raditya, keadaan Sandra perlahan memburuk. Depresi yang dialaminya membuat perempuan itu harus menjalani perawatan panjang. Ada masa ketika Sandra bahkan tidak mengenali Bagas dengan baik. Ada hari-hari ketika dia hanya diam menatap jendela. Ada pula saat-saat ketika emosinya tidak stabil dan dia terus menyalahkan dirinya sendiri atas kematian suaminya. Bagas pernah merasa bersalah karena tidak mampu menyelamatkan keduanya. Ayahnya sudah pergi. Ibunya jatuh sakit. Dan dirinya sendiri justru sibuk membangun kehidupan sebagai Lingga demi membalas dendam. Sekarang... Setelah semuanya selesai, Bagas ingin memperbaiki satu hal yang paling la
Sore itu...Rumah Vanila terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Rachel yang sejak siang berada di ruang tengah bahkan tidak menyadari ada sesuatu yang aneh.Vanila beberapa kali keluar masuk rumah. Kadang membawa sesuatu ke belakang. Kadang menerima telepon dan berbicara dengan suara yang sengaja dikecilkan. Rachel sebenarnya sempat curiga. Namun setiap kali ditanya, Vanila selalu memberikan jawaban yang sama. "Nanti juga kamu tau." Rachel akhirnya menyerah. Dia duduk nyaman di sofa sambil mengusap perutnya yang semakin membesar. Sejak beberapa hari terakhir, gerakan bayinya juga mulai semakin terasa. Tidak selalu kuat. Tetapi cukup untuk membuat Rachel tersenyum setiap kali merasakannya. Dia masih sering tidak percaya bahwa sebentar lagi akan ada seorang anak kecil yang memanggilnya Mama. Ada rasa takut. Ada rasa gugup. Tetapi lebih banyak rasa bahagia. Terutama setelah semua masalah yang mereka lalui akhirnya selesai. Rachel baru saja mengambil ponsel ketika terdengar su
Hari pertama kembali bekerja ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang Bagas bayangkan.Bukan karena pekerjaannya terlalu berat. Justru karena sudah cukup lama pikirannya terbiasa hidup dalam ketegangan, sampai rutinitas kantor terasa seperti sesuatu yang asing. Pukul lima sore, Bagas keluar dari ruangannya sambil mengembuskan napas. Hari itu dia tidak melakukan sesuatu yang luar biasa. Hanya memeriksa beberapa dokumen, mengikuti rapat, mempelajari pekerjaan yang diberikan Hendra, dan menerima teguran kecil karena beberapa hal yang masih belum dia pahami. Tetapi anehnya...Bagas merasa senang. Bahkan ketika Hendra menyuruhnya memperbaiki laporan yang salah, dia tidak merasa kesal. Dulu, seluruh waktunya dipakai untuk menyusun strategi. Sekarang dia hanya perlu memikirkan pekerjaan yang ada di depan mata. Sesederhana itu. Bagas baru saja hendak masuk ke mobil ketika Hendra memanggilnya. "Bagas." Bagas menoleh. "Iya, Om?" Hendra berjalan mendekat. "Gimana kerja sama om
Malam itu...Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bagas kembali ke apartemennya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Biasanya, ketika pintu apartemen itu terbuka, kepalanya langsung dipenuhi berbagai hal. Tentang Maudy.Tentang rencana yang belum selesai.Tentang bukti yang harus disimpan.Tentang identitas Lingga yang harus terus dia jaga. Bahkan setelah semuanya selesai, tubuhnya sering kali masih terasa tegang seolah-olah ada sesuatu yang harus dia waspadai. Namun malam ini berbeda. Bagas menutup pintu apartemennya, kemudian berdiri beberapa saat tanpa melakukan apa-apa. Sunyi. Tidak ada suara televisi. Tidak ada suara orang lain. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Bagas mengembuskan napas panjang. Kemudian dia berjalan menuju ruang tengah dan meletakkan kunci mobil di atas meja. Matanya menyapu seluruh ruangan. Apartemen itu masih sama seperti sebelumnya. Tetapi entah kenapa, malam ini terasa berbeda. Mungkin karena untuk pertama kalinya, dia ti
Beberapa hari kemudian...Pengadilan Negeri Jakarta kembali dipenuhi orang sejak pagi.Namun suasananya berbeda dari persidangan sebelumnya.Tidak banyak saksi yang menunggu di luar ruang sidang.Tidak ada lagi pemeriksaan panjang.Hari itu...Majelis hakim akan membacakan putusan terhadap Maudy Prameswari.Bagas berdiri di samping mobil sambil menatap gedung pengadilan.Untuk beberapa detik, dia hanya diam.Dulu...Dia datang ke tempat seperti ini dengan membawa satu tujuan.Balas dendam.Dia ingin melihat Maudy kehilangan semuanya.Seperti dirinya yang pernah kehilangan keluarga.Namun sekarang...Perasaannya sudah berbeda.Dendam itu masih meninggalkan bekas.Tetapi tidak lagi menguasai hidupnya.Sebuah tangan menyentuh lengannya."Mas."Bagas menoleh.Rachel berdiri di sampingnya.Perempuan itu mengenakan dress sederhana dan cardigan tipis. Perutnya yang semakin membesar membuat Bagas otomatis memperhatikan langkahnya."Pelan-pelan," ujar Bagas.Rachel tersenyum. "Aku masih bisa j
Setelah dari hotel, Bagas langsung menuju ke kelab. Daripada suntuk di apartemen sendirian, lebih baik dia di sini. Lagi pula, Bagas tidak bisa libur walau sehari, karena mami Kumala—pemilik kelab yang merangkap sebagai germo itu sudah mewanti-wanti. Ya... Walaupun tubuhnya lelah lantaran dia suda
Sore itu pilihan Bagas jatuh pada kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dengan gedung tempatnya tinggal. Perutnya sedari tadi sudah memberi sinyal, meminta diisi amunisi. Terakhir kali makan, waktu sarapan di hotel. Setelah itu Bagas tidak ada lagi memakan apa pun selain minum soda dan ngasap. Su
"Nikah sama Tante?" Bagas pura-pura bertanya polos, dan Maudy segera mengangguk cepat. Diusapnya bibir Maudy dengan ibu jari. "terus, suami Tante gimana?" tanyanya, seolah dia sedikit keberatan dengan status Maudy yang masih bersuami. "Kamu tenang aja, Lingga," ucap Maudy, mengecup bibir Bagas sek
"Lingga …." Desahan bernada putus asa itu lolos dari bibir wanita cantik, yang saat ini sedang berada di dalam kendali berondong bayarannya. "tante udah gak tahan." Wanita bernama Maudy itu melenguh, menahan sesuatu yang sedari tadi dia tahan.Jari-jari milik Maudy, yang dihias kuku-kuku akrilik be







