Home / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / Bab⁷⁹—Perintah gila Maudy~

Share

Bab⁷⁹—Perintah gila Maudy~

Author: Na_Vya
last update publish date: 2026-05-04 21:25:20

Bagas dan Maudy berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit dengan didampingi seorang pria berjas serba hitam dan berkaca mata berwarna senada.

Pria berpenampilan misterius itu menyambut Maudy dengan sangat hormat di depan lobi, tanpa mengatakan apa pun.

Sementara Bagas masih menerka-nerka sendiri dalam hati—perihal Maudy yang dengan mudah membawanya ke tempat ini.

Jadi, untuk sementara ini biarlah Bagas pura-pura bodoh dan tidak tahu menahu soal rencana jalang itu.

'Gue penasaran sama ko
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹²⁶—Permintaan Vanila~

    Bagas keluar dari kamar Rachel untuk mengambil air minum di dapur. Beberapa saat kemudian dia kembali ke kamar gadis itu dengan membawa sebotol air mineral dingin."Minumnya." Dia memberikannya pada Rachel."Makasih," ucap Rachel, menerima botol air mineral dingin yang sudah dibuka oleh Bagas. Dia meminumnya perlahan."Elo gak mandi?" tanya Bagas.Rachel menggeleng, menutup botol air mineral, lalu meletakkan di atas meja samping kasur. "Kayaknya enggak. Gue mau cuci muka sama lap² badan aja," jawabnya."Ya udah. Bersih-bersih dulu baru lanjut istirahat," kata Bagas, mengambil kotak makan bekas Rachel yang masih tersisa sedikit. "gue mau buang ini dulu, abis itu gue juga mau mandi.""Ya."Bagas pun keluar dari kamar Rachel, dan di saat yang bersamaan pintu utama rumah Marco dibuka dari luar oleh seseorang yaitu Vanila."Van, baru pulang? Dari mana aja?" tanya Bagas, yang melangkah mendekati Vanila.Perempuan itu pun berjalan mendekat, sambil tersenyum, rautnya tak berubah sedikit pun,

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹²⁵—Nemenin makan~

    Suasana di dalam mobil begitu hening. Bagas dan Rachel sama-sama tidak berminat untuk memulai obrolan. Keduanya sibuk berkutat dengan isi kepala masing-masing. Dan kemungkinan, perkataan dokter Yoshi yang membahas perihal hubungan intim masih terngiang di ingatan mereka. Pengalaman pertama datang ke spesialis obgyn tak hanya menambah pengetahuan soal beberapa hal yang harus dipelajari. Menjadi orang tua di usia muda tentunya bukan hal yang mudah. Apalagi, semua terjadi begitu tiba-tiba. Di luar rencana serta tanpa persiapan apa pun. Kehamilan Rachel memang hal yang tak pernah dibayangkan Bagas sebelumnya. Namun, meski belum siap menjadi ayah, Bagas tetap akan berusaha mempelajari peran baru tersebut. Bagas ingin anaknya kelak tidak kekurangan kasih sayang orang tuanya kendati kehadirannya, yang sama sekali tidak pernah direncanakan. Bagas ingin menjadi sosok ayah yang bisa dibanggakan. Dan soal pernikahan. Bagas pun harus siap menjadi seorang suami untuk Rachel. Segala amarah dan

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹²⁴—Canggung~

    'Duh … bisa-bisanya gue ketemu sama tante Neli di sini. Mana waktunya gak tepat, lagi!' Bagas tentu menegang ketika mendapati mantan pengguna jasanya ada di depan mata dan mengenalinya. Mampus! Lelaki itu memerhatikan sekeliling, lalu menatap Rachel yang juga menatapnya, seolah gadis itu meminta penjelasan. Buru-buru Bagas berbisik, "Dia mantan klien gue. Bentar, ya. Gue beresin masalah ini dulu." Manik Rachel menyorot tak suka pada perempuan yang sebaya dengan Maudy. Sejurus kemudian dia menatap Bagas kembali dan berkata, "Jangan kelamaan. Gue gak mau masuk sendiri." Bagas mengangguk, lalu mengusap belakang kepala Rachel. "Gue gak bakal lama." "Lingga …." Neli melangkah menghampiri Bagas dengan senyum mengembang di bibir, yang dipoles lipstik merah. "Tan …" Bagas tentu harus bersikap sopan dan tenang kendati seluruh wajahnya hampir memanas karena malu. Ah, sial sekali! Dan sebelum si Neli bicara yang tidak-tidak, Bagas pun buru-buru mengajak perempuan itu keluar dari ruang tu

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹²³—Ke Dokter Obgyn~

    "Hah? Ko-konsep pernikahan?" Rachel mengerjap, bahkan mulutnya nyaris ternganga setelah mendengar pertanyaan Bagas barusan. Apa dia lagi mimpi? Atau … Bagas cuma mau nge-prank? Duh … Rachel tentu tidak mau besar kepala dengan pertanyaan Bagas, yang entah serius atau hanya bercanda. Melihat ekspresi wajah Rachel yang bengong Bagas jadi gemas dibuatnya. Dia pun iseng mencubit pipi gadis itu yang mulai nampak menggembul. "Auw!" Rachel memekik saat pipinya dicubit oleh Bagas. "sakit, tau!" bibir bawahnya mencebik sambil mengusap-usap pipi yang sebenarnya tidak terasa sakit sama sekali. Rachel hanya... Salting! Heheee... "Abisnya lo malah bengong!" Bagas berdecak, dan menyeruput kopinya lagi. Rachel menyesap tehnya yang hampir habis sambil diam-diam melirik Bagas. "Gue tanya, lo mau konsep pernikahan kayak apa? Elonya malah bengong. Kan, gue jadi gemes," ucap Bagas, menyandarkan punggung di sandaran kursi dan bersedekap. Dia menatap serius Rachel yang agaknya salah tingkah. "gue ser

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹²²—Konsep pernikahan~

    "Hoek! Hoek! Hoek!" Bagas baru saja melangkahkan kakinya masuk ke rumah, yang ditinggalinya untuk beberapa waktu saat suara seperti orang yang sedang muntah-muntah menyapa pendengaran. Tak perlu ditanyakan lagi—siapa orang yang memuntahkan isi perutnya di depan wastafel. Siluet tinggi semampai yang sangat dikenali Bagas itu membungkuk kepayahan sambil memutar kran. Menghampiri gadis yang kini mengandung bibitnya, Bagas lantas bertanya, "Elo muntah-muntah lagi, Chel?" Tanpa diminta, tangannya terjulur ke tengkuk Rachel kemudian memberi sedikit pijatan di sana. Seingat Bagas, hal seperti ini juga pernah dialami Rachel saat hendak meninggalkan gubug. Yang katanya dia alergi bau bensin, lalu pusing. Bagas kira demikian, tapi ternyata gadis ini mual lantaran tengah mengandung. Ck! Rachel bahkan tidak menyadari jika dirinya sedang hamil. "Gak tau, nih!" Rachel membasuh mulut dengan air yang dia tadahkan dari wastafel ke telapak tangan. Berkumur-kumur guna menghilangkan rasa asam di d

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹²¹—Siap jadi saksi~

    "Kalo gak salah, Rachel itu anaknya almarhum Roy 'kan?" tanya Hendra, beringsut mundur, menyandarkan punggung di sandaran kursi. Sementara jarinya mengetuk-ngetuk pinggiran meja, menunggu jawaban Bagas. Bila diperhatikan, raut kemarahan yang tersembunyi di balik sorot mata pemuda itu begitu kentara sekali. Kini, Hendra bisa mengerti, kenapa Bagas merasa malu dan ragu untuk bercerita padanya. Menghamili seorang perempuan, apalagi belum ada ikatan atau status yang sah, di negara ini masih sangatlah awam, berbeda bila kita tinggal di luar negeri, yang dari segi adat istiadat saja sangat jauh pengertiannya. Mungkin, Bagas malu karena mengira jika Hendra akan menilainya sebagai laki-laki brengsek yang mudah memainkan para wanita. Meskipun dia sempat berpikir demikian ketika pertama kali mendengarnya. "Iya, Om. Rachel anaknya, Om Roy." Bagas menjawab dengan kepala tertunduk lesu. Ke sepuluh jarinya masih saling meremas di atas meja, sambil menahan malu. Dia seakan-akan kehilangan

  • Pesona Pria Plus-plus    bab ⁶⁹—Tunggu Bukti²~

    "Oh, gue belum ngomong, ya, sama lo." Bagas mengingat sesuatu. "Apa?" Kening Rachel mengernyit, lalu memberanikan diri duduk di samping Bagas. Tanpa melihat lawan bicaranya, Bagas berucap lagi, "Bokap lo masih hidup. Dia sekarang ada di rumah sakit." "Apa? Papi masih hidup?" Raut Rachel ter

  • Pesona Pria Plus-plus    bab⁶⁷—Godaan datang~

    "Aku pikir, aku akan mati, Gas. Aku pikir aku akan mati malam itu." Vanila masih meracau dengan derai air mata yang makin deras. Bahkan, sekujur tubuhnya menggigil, mulutnya mengatup sangat erat hingga gigi-giginya saling gemeletuk. Merasakan hal yang tidak beres terjadi pada Vanila, tentu Bagas

  • Pesona Pria Plus-plus    bab⁶⁶—Menenangkan Vanila~

    Setelah seharian melakukan tugas barunya sebagai asisten pribadi Maudy. Begitu selesai, Bagas bergegas mengemudikan mobilnya menuju Rumah Sakit untuk menemui Vanila.Dan alasan Bagas pada Maudy pun tetap sama, yakni hendak menjenguk seorang teman yang dirawat di Rumah Sakit. Perempuan itu percaya d

  • Pesona Pria Plus-plus    bab⁶⁵—Mulai Bekerja~

    Semua mata para karyawan wanita yang bekerja di perusahaan Maudy, tak berkedip ketika melihat kedatangan seorang Bagaskara Saputra ke tempat tersebut. Beberapa dari mereka ada yang berbisik-bisik, merasa kepo—siapakah gerangan laki-laki muda yang berjalan bersisian dengan atasan mereka. Muda, tamp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status