ログイン"Berengsek! Jalang licik!" Bagas memaki setang mobil yang sama sekali tidak mempunyai salah padanya. Menyalurkan amarahnya pada Maudy yang beberapa saat lalu memintanya untuk menyingkirkan Roy dan Rachel dari dunia ini. Secara tidak langsung perempuan itu meminta Bagas untuk menghabisi nyawa ayah dan putrinya. Bener-bener gila 'kan? Bagas sama sekali tidak menyangka jika Maudy memiliki rencana yang sangat berbahaya dan beresiko cukup besar. Apalagi, dia menyeret Bagas untuk masuk ke dalam rencananya itu. Ini namanya bukan beruntung, tapi dobel sial. "Enam bulan lalu jet pribadi yang bawa suami tante ke London mengalami kecelakaan dan semuanya dikabarkan meninggal di tempat. Satu-satunya yang selamat cuma suami tante, Lingga." Bagas mengingat kembali perkataan Maudy saat menceritakan tentang kecelakaan yang menimpa Roy. Perempuan itu juga menceritakan bagaimana dia selama ini sengaja menyembunyikan Roy yang masih hidup dari Rachel dan publik. "Kenapa Tante gak ceri
Bagas dan Maudy berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit dengan didampingi seorang pria berjas serba hitam dan berkaca mata berwarna senada. Pria berpenampilan misterius itu menyambut Maudy dengan sangat hormat di depan lobi, tanpa mengatakan apa pun. Sementara Bagas masih menerka-nerka sendiri dalam hati—perihal Maudy yang dengan mudah membawanya ke tempat ini. Jadi, untuk sementara ini biarlah Bagas pura-pura bodoh dan tidak tahu menahu soal rencana jalang itu. 'Gue penasaran sama kondisi si Roy.' Bagas membatin sambil membayangkan Roy Darmawan yang sedang terbaring koma di ranjang pesakitan. "Lingga ...." Suara Maudy memecah lamunan Bagas yang isi kepalanya sangat sibuk dengan berbagai rencana setelah ini. Dan dia baru sadar jika sudah berada di depan sebuah ruangan VVIP. "Ya, Tan?" Dia menyahut seraya melirik ke sekeliling yang nampak sepi. Berbeda dengan ruangan umum lain, yang biasanya ramai pengunjung pasien. 'Kayaknya ini kamarnya si Roy.' Batin Bagas menyi
Hampir lewat tengah malam, Bagas kembali ke rumah yang hampir sebulan ini dia tempati. Tubuh yang lelah dan pikiran yang kacau, membuat Bagas memutuskan untuk langsung masuk ke kamarnya. Meskipun dia dan Maudy berstatus suami istri, mereka masih tidur di kamar yang terpisah. Entah apa alasannya, Bagas sendiri tak berminat mencari tahu. Dia justru senang karena tidak sekamar dengan jalang itu. Ya ... walau terkadang Maudy sering tidur di kamarnya, di saat perempuan itu meminta haknya. Sebagai orang yang sudah dikontrak, tentu Bagas harus memberinya. Suka atau tidak suka, itu sudah menjadi kewajibannya. Ketika kakinya melangkah masuk ke kamar, Bagas tercengang saat mendapati Maudy duduk bersandar di ranjangnya. Apalagi dengan penampilannya yang seksi. Baju tidur bahan lace tipis yang memperlihatkan lekukan tubuh Maudy. Seketika Bagas menelan ludah. Haisshhh... "Tan?" Bagas menutup pintu, lalu mendekati Maudy. Perasaannya mulai tidak enak, seperti seorang suami sungguhan yang
Beberapa jam kemudian...Perasaan itu tidak bisa dikendalikan oleh Bagas, yang detik ini baru menyadari arti Vanila di dalam hidupnya. Mengenal sosok perempuan itu dari usianya 15 tahun hingga sekarang sudah menginjak 24 tahun. Vanila selalu ada untuknya dalam situasi terberat sekalipun.Ketika Bagas kehilangan sang papa, Vanila hadir memberi support dan membantunya bangun dari keterpurukan. Ketika Bagas harus menghadapi cacian dan olokan dari teman-teman sekelasnya, Vanila selalu membela dan menguatkannya. Dan, ketika Bagas berada dalam titik terendahnya, Vanila menjadi satu-satunya orang yang tetap berada di sisinya hingga saat ini.Namun ... Mengapa Bagas baru menyadari akan hal itu? Kebersamaan yang telah terajut selama ini, ternyata menumbuhkan benih-benih cinta di hatinya. Tanpa Bagas sadari jika dia sangat membutuhkan Vanila untuk selalu berada di sisinya.Akan tetapi, semesta mungkin belum mengizinkan Bagas untuk memiliki Vanila, lantaran perbedaan keyakinan yang begitu memb
Ide dadakan merayakan ulang tahun di hunian baru tercetus begitu saja oleh Bagas. Kendati sederhana dan apa adanya. Namun, kebersamaan dan doa-doa yang dipanjatkan tak ternilai harganya jika dibanding dengan pesta meriah dan mewah. Untung saja sewaktu di toko kue Bagas kepikiran ingin makan yang manis-manis. Jadi kue itu bisa sekalian dianggap sebagai cake ulang tahun untuk Vanila, walau tanpa lilin. Bagas memesan makanan dan minuman secara online. Beberapa menu favorit Vanila pastinya. Dia juga memesan banyak camilan untuk yang lain. Pesta kecil-kecilan itu berlangsung tidak lama karena masing-masing dari mereka harus kembali ke rumah. Sandi, Marco dan Firman pamit pulang agar Vanila bisa segera beristirahat. Setelah ketiga pria itu pergi, tinggal Bagas yang masih di unit Vanila. "Ini nanti biar gue yang beresin. Lo mending istirahat aja, Van," kata Bagas, menunjuk meja makan yang masih penuh dengan beraneka makanan dan minuman serta kue yang sudah dipotong sebagian.
"Theresa?" 'Mampus! Gue lupa, kalo Theresa malem ini nyuruh gue dateng ke apartemennya.' "Siapa, Gas?" tanya Vanila. Raut Bagas memucat seketika, tenggorokannya tercekat, dan lidahnya mendadak kelu. "I-itu... Eumm..." 'Duh... Kenapa juga Theresa mesti telepon sekarang, sih?' Bagas membatin resah, gusar serta jengkel. Sebab Theresa menelepon di waktu yang tidak tepat sama sekali. "Gas." Vanila kembali menegur karena Bagas tak kunjung menjawab, dan justru terlihat serba salah. "Maudy yang telepon?" Giliran Sandi yang bertanya, sambil melangkah mendekat, kemudian melirik layar ponsel Bagas yang menyala. Kening Sandi mengernyit. "Theresa?" Bagas sontak menatap Sandi, yang berdiri di hadapan sambil menatapnya penasaran. Sejurus kemudian sudut matanya melirik Vanila, yang sedang mengecek tas, yang hendak dibawa pulang. Vanila nampak tak peduli atau pura-pura tidak peduli? Bagas menarik panjang napasnya, memutuskan untuk menjawab telepon dari Theresa. Sebab, dia