LOGINSuasana di dalam mobil begitu hening. Bagas dan Rachel sama-sama tidak berminat untuk memulai obrolan. Keduanya sibuk berkutat dengan isi kepala masing-masing. Dan kemungkinan, perkataan dokter Yoshi yang membahas perihal hubungan intim masih terngiang di ingatan mereka. Pengalaman pertama datang ke spesialis obgyn tak hanya menambah pengetahuan soal beberapa hal yang harus dipelajari. Menjadi orang tua di usia muda tentunya bukan hal yang mudah. Apalagi, semua terjadi begitu tiba-tiba. Di luar rencana serta tanpa persiapan apa pun. Kehamilan Rachel memang hal yang tak pernah dibayangkan Bagas sebelumnya. Namun, meski belum siap menjadi ayah, Bagas tetap akan berusaha mempelajari peran baru tersebut. Bagas ingin anaknya kelak tidak kekurangan kasih sayang orang tuanya kendati kehadirannya, yang sama sekali tidak pernah direncanakan. Bagas ingin menjadi sosok ayah yang bisa dibanggakan. Dan soal pernikahan. Bagas pun harus siap menjadi seorang suami untuk Rachel. Segala amarah dan
'Duh … bisa-bisanya gue ketemu sama tante Neli di sini. Mana waktunya gak tepat, lagi!' Bagas tentu menegang ketika mendapati mantan pengguna jasanya ada di depan mata dan mengenalinya. Mampus! Lelaki itu memerhatikan sekeliling, lalu menatap Rachel yang juga menatapnya, seolah gadis itu meminta penjelasan. Buru-buru Bagas berbisik, "Dia mantan klien gue. Bentar, ya. Gue beresin masalah ini dulu." Manik Rachel menyorot tak suka pada perempuan yang sebaya dengan Maudy. Sejurus kemudian dia menatap Bagas kembali dan berkata, "Jangan kelamaan. Gue gak mau masuk sendiri." Bagas mengangguk, lalu mengusap belakang kepala Rachel. "Gue gak bakal lama." "Lingga …." Neli melangkah menghampiri Bagas dengan senyum mengembang di bibir, yang dipoles lipstik merah. "Tan …" Bagas tentu harus bersikap sopan dan tenang kendati seluruh wajahnya hampir memanas karena malu. Ah, sial sekali! Dan sebelum si Neli bicara yang tidak-tidak, Bagas pun buru-buru mengajak perempuan itu keluar dari ruang tu
"Hah? Ko-konsep pernikahan?" Rachel mengerjap, bahkan mulutnya nyaris ternganga setelah mendengar pertanyaan Bagas barusan. Apa dia lagi mimpi? Atau … Bagas cuma mau nge-prank? Duh … Rachel tentu tidak mau besar kepala dengan pertanyaan Bagas, yang entah serius atau hanya bercanda. Melihat ekspresi wajah Rachel yang bengong Bagas jadi gemas dibuatnya. Dia pun iseng mencubit pipi gadis itu yang mulai nampak menggembul. "Auw!" Rachel memekik saat pipinya dicubit oleh Bagas. "sakit, tau!" bibir bawahnya mencebik sambil mengusap-usap pipi yang sebenarnya tidak terasa sakit sama sekali. Rachel hanya... Salting! Heheee... "Abisnya lo malah bengong!" Bagas berdecak, dan menyeruput kopinya lagi. Rachel menyesap tehnya yang hampir habis sambil diam-diam melirik Bagas. "Gue tanya, lo mau konsep pernikahan kayak apa? Elonya malah bengong. Kan, gue jadi gemes," ucap Bagas, menyandarkan punggung di sandaran kursi dan bersedekap. Dia menatap serius Rachel yang agaknya salah tingkah. "gue ser
"Hoek! Hoek! Hoek!" Bagas baru saja melangkahkan kakinya masuk ke rumah, yang ditinggalinya untuk beberapa waktu saat suara seperti orang yang sedang muntah-muntah menyapa pendengaran. Tak perlu ditanyakan lagi—siapa orang yang memuntahkan isi perutnya di depan wastafel. Siluet tinggi semampai yang sangat dikenali Bagas itu membungkuk kepayahan sambil memutar kran. Menghampiri gadis yang kini mengandung bibitnya, Bagas lantas bertanya, "Elo muntah-muntah lagi, Chel?" Tanpa diminta, tangannya terjulur ke tengkuk Rachel kemudian memberi sedikit pijatan di sana. Seingat Bagas, hal seperti ini juga pernah dialami Rachel saat hendak meninggalkan gubug. Yang katanya dia alergi bau bensin, lalu pusing. Bagas kira demikian, tapi ternyata gadis ini mual lantaran tengah mengandung. Ck! Rachel bahkan tidak menyadari jika dirinya sedang hamil. "Gak tau, nih!" Rachel membasuh mulut dengan air yang dia tadahkan dari wastafel ke telapak tangan. Berkumur-kumur guna menghilangkan rasa asam di d
"Kalo gak salah, Rachel itu anaknya almarhum Roy 'kan?" tanya Hendra, beringsut mundur, menyandarkan punggung di sandaran kursi. Sementara jarinya mengetuk-ngetuk pinggiran meja, menunggu jawaban Bagas. Bila diperhatikan, raut kemarahan yang tersembunyi di balik sorot mata pemuda itu begitu kentara sekali. Kini, Hendra bisa mengerti, kenapa Bagas merasa malu dan ragu untuk bercerita padanya. Menghamili seorang perempuan, apalagi belum ada ikatan atau status yang sah, di negara ini masih sangatlah awam, berbeda bila kita tinggal di luar negeri, yang dari segi adat istiadat saja sangat jauh pengertiannya. Mungkin, Bagas malu karena mengira jika Hendra akan menilainya sebagai laki-laki brengsek yang mudah memainkan para wanita. Meskipun dia sempat berpikir demikian ketika pertama kali mendengarnya. "Iya, Om. Rachel anaknya, Om Roy." Bagas menjawab dengan kepala tertunduk lesu. Ke sepuluh jarinya masih saling meremas di atas meja, sambil menahan malu. Dia seakan-akan kehilangan
Andaikan Bagas tidak sedang diburu waktu, tentu detik ini dia tengah duduk bersama dengan Vanila, bukannya malah duduk di dalam ruangan bersama ketiga rekannya. Membicarakan soal hubungannya baik-baik dan meminta maaf kepada perempuan itu.Sungguh, meskipun dia ada di sini, tetapi pikiran dan hatinya seakan tertinggal di sana—di rumah Marco, bersama Vanila. Sendu tatapan mata perempuan itu, belum pernah sekalipun Bagas lihat. Suara rendahnya ketika mengucapkan hal terakhir yang sama sekali tidak Bagas harapkan, bak ujung pisau yang menusuk-nusuk. 'Kamu gak usah mikirin aku, Gas. Aku gak pa-pa. Aku baik-baik aja.' Bagas tahu, saat ini Vanila pasti kecewa padanya. Oleh sebab itu, tanpa mengatakan apa pun, meski tidak secara langsung dia mengakui jika akan mundur. Vanila mengalah dan memberi Bagas kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Rachel yang telah dia hamili.Lantas, setelah ini apakah Bagas bisa bahagia, lantaran telah menyakiti hati
Mandi pada jam malam seperti ini sudah biasa Bagas lakukan, semenjak dia menjalani profesi sebagai lelaki penghangat ranjang para wanita kesepian. Apalagi, kalau habis bergelung panas dengan lawan main macam Theresa.Bagas tak menyangka jika partner seksnya kali ini benar-benar sudah pro dan lihai.
"Dia?" Bagas mengangguk, dan menyahut, "Hmm." Manik Theresa yang agak sipit memicing pada foto Maudy, sementara Bagas mulai penasaran dan tidak sabar. "Gimana? Lo pernah liat, gak?" Mungkin Bagas agak sedikit mendesak serta tak sabaran, membuat Theresa terheran-heran. "Emangnya dia siapa,
Kata orang—kesempatan gak akan datang dua kali. Itu sebabnya, pertemuan tak disangka ini akan dimanfaatkan oleh Bagas sebaik mungkin. Ide dari Vanila, akan dijalankan oleh Bagas. Ya.. walaupun dia tahu kelanjutannya akan seperti apa. Apalagi sikap mantan teman sekolahnya ini sama sekali tid
"Argh, sial!" Bagas memukul roda kemudi yang sama sekali tidak mempunyai salah padanya. Pemuda itu hanya meluapkan kekesalannya pada diri sendiri karena telah membuat Vanila marah, hingga mengusirnya. "Kamu mending pulang aja, Gas. Aku mau sendiri dulu."Saat Vanila menyuruhnya pulang tadi, Bagas







