Home / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / bab ⁷⁶—Pilihan~

Share

bab ⁷⁶—Pilihan~

Author: Na_Vya
last update publish date: 2026-05-02 19:50:56

Ide dadakan merayakan ulang tahun di hunian baru tercetus begitu saja oleh Bagas. Kendati sederhana dan apa adanya. Namun, kebersamaan dan doa-doa yang dipanjatkan tak ternilai harganya jika dibanding dengan pesta meriah dan mewah.

Untung saja sewaktu di toko kue Bagas kepikiran ingin makan yang manis-manis. Jadi kue itu bisa sekalian dianggap sebagai cake ulang tahun untuk Vanila, walau tanpa lilin.

Bagas memesan makanan dan minuman secara online. Beberapa menu favorit Vanila pastinya. D
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁷⁸—Diajak Maudy~

    Hampir lewat tengah malam, Bagas kembali ke rumah yang hampir sebulan ini dia tempati. Tubuh yang lelah dan pikiran yang kacau, membuat Bagas memutuskan untuk langsung masuk ke kamarnya. Meskipun dia dan Maudy berstatus suami istri, mereka masih tidur di kamar yang terpisah. Entah apa alasannya, Bagas sendiri tak berminat mencari tahu. Dia justru senang karena tidak sekamar dengan jalang itu. Ya ... walau terkadang Maudy sering tidur di kamarnya, di saat perempuan itu meminta haknya. Sebagai orang yang sudah dikontrak, tentu Bagas harus memberinya. Suka atau tidak suka, itu sudah menjadi kewajibannya. Ketika kakinya melangkah masuk ke kamar, Bagas tercengang saat mendapati Maudy duduk bersandar di ranjangnya. Apalagi dengan penampilannya yang seksi. Baju tidur bahan lace tipis yang memperlihatkan lekukan tubuh Maudy. Seketika Bagas menelan ludah. Haisshhh... "Tan?" Bagas menutup pintu, lalu mendekati Maudy. Perasaannya mulai tidak enak, seperti seorang suami sungguhan yang

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁷⁷—Curhatnya seorang Bagas~

    Beberapa jam kemudian...Perasaan itu tidak bisa dikendalikan oleh Bagas, yang detik ini baru menyadari arti Vanila di dalam hidupnya. Mengenal sosok perempuan itu dari usianya 15 tahun hingga sekarang sudah menginjak 24 tahun. Vanila selalu ada untuknya dalam situasi terberat sekalipun.Ketika Bagas kehilangan sang papa, Vanila hadir memberi support dan membantunya bangun dari keterpurukan. Ketika Bagas harus menghadapi cacian dan olokan dari teman-teman sekelasnya, Vanila selalu membela dan menguatkannya. Dan, ketika Bagas berada dalam titik terendahnya, Vanila menjadi satu-satunya orang yang tetap berada di sisinya hingga saat ini.Namun ... Mengapa Bagas baru menyadari akan hal itu? Kebersamaan yang telah terajut selama ini, ternyata menumbuhkan benih-benih cinta di hatinya. Tanpa Bagas sadari jika dia sangat membutuhkan Vanila untuk selalu berada di sisinya.Akan tetapi, semesta mungkin belum mengizinkan Bagas untuk memiliki Vanila, lantaran perbedaan keyakinan yang begitu memb

  • Pesona Pria Plus-plus    bab ⁷⁶—Pilihan~

    Ide dadakan merayakan ulang tahun di hunian baru tercetus begitu saja oleh Bagas. Kendati sederhana dan apa adanya. Namun, kebersamaan dan doa-doa yang dipanjatkan tak ternilai harganya jika dibanding dengan pesta meriah dan mewah. Untung saja sewaktu di toko kue Bagas kepikiran ingin makan yang manis-manis. Jadi kue itu bisa sekalian dianggap sebagai cake ulang tahun untuk Vanila, walau tanpa lilin. Bagas memesan makanan dan minuman secara online. Beberapa menu favorit Vanila pastinya. Dia juga memesan banyak camilan untuk yang lain. Pesta kecil-kecilan itu berlangsung tidak lama karena masing-masing dari mereka harus kembali ke rumah. Sandi, Marco dan Firman pamit pulang agar Vanila bisa segera beristirahat. Setelah ketiga pria itu pergi, tinggal Bagas yang masih di unit Vanila. "Ini nanti biar gue yang beresin. Lo mending istirahat aja, Van," kata Bagas, menunjuk meja makan yang masih penuh dengan beraneka makanan dan minuman serta kue yang sudah dipotong sebagian.

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁷⁵—Salah paham~

    "Theresa?" 'Mampus! Gue lupa, kalo Theresa malem ini nyuruh gue dateng ke apartemennya.' "Siapa, Gas?" tanya Vanila. Raut Bagas memucat seketika, tenggorokannya tercekat, dan lidahnya mendadak kelu. "I-itu... Eumm..." 'Duh... Kenapa juga Theresa mesti telepon sekarang, sih?' Bagas membatin resah, gusar serta jengkel. Sebab Theresa menelepon di waktu yang tidak tepat sama sekali. "Gas." Vanila kembali menegur karena Bagas tak kunjung menjawab, dan justru terlihat serba salah. "Maudy yang telepon?" Giliran Sandi yang bertanya, sambil melangkah mendekat, kemudian melirik layar ponsel Bagas yang menyala. Kening Sandi mengernyit. "Theresa?" Bagas sontak menatap Sandi, yang berdiri di hadapan sambil menatapnya penasaran. Sejurus kemudian sudut matanya melirik Vanila, yang sedang mengecek tas, yang hendak dibawa pulang. Vanila nampak tak peduli atau pura-pura tidak peduli? Bagas menarik panjang napasnya, memutuskan untuk menjawab telepon dari Theresa. Sebab, dia

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁷⁴—Kelupaan~

    Dari kantor Maudy, Bagas langsung menuju Rumah Sakit. Namun, sebelum itu dia mampir ke toko bunga yang kebetulan berjejer tepat di depan Rumah Sakit. Wah.. Bagas sama sekali tidak memerhatikan selama ini—jika ada banyak toko bunga di dekat Rumah Sakit. "Kenapa gue gak ngeh, ya?" Bagas merutuk dirinya, sambil melihat-lihat bunga-bunga yang ditata rapi dan warnanya sangat cantik. Hidungnya mencium setiap aroma yang menguar dari beberapa bunga yang memiliki wangi yang cukup tajam. Contohnya bunga sedap malam. Dan pilihan Bagas tentunya jatuh pada bunga mawar merah, sesuai permintaan Vanila. "Mbak, saya mau mawar merah ini. Tolong dirangkai yang bagus, ya," ucap Bagas pada perempuan pemilik toko bunga tersebut. "Baik, Mas. Silakan ditunggu sebentar." Selagi menunggu, Bagas pun berinisiatif untuk pergi ke toko kue yang jaraknya tidak terlalu jauh dari toko bunga. Entah mengapa, tiba-tiba dia ingin makan cake yang manis-manis. Di toko kue, Bagas membeli cheese cake y

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁷³—Mulai berani~

    "Eum ... Sebenernya suami tante ...." Maudy nampak tengah berpikir keras—antara ingin bicara sekaligus ragu. Bila Bagas perhatikan, perempuan itu agaknya ingin mengatakan sesuatu yang menyangkut soal Roy Darmawan. Namun, entah mengapa Bagas melihat keraguan dari sorot mata Maudy. 'Semoga dia mau cerita soal Roy sama gue.' Kalau Maudy mau cerita tentang Roy, tentunya sangat menguntungkan bagi Bagas. Masalahnya, perempuan ini nampak begitu hati-hati. Maudy mengulas senyum tipis, kemudian mengangkat cangkir kopinya lagi. Disesapnya lagi capucino buatan Bagas, sedikit demi sedikit sambil berpikir keras. Bagas menghela panjang, dan terlihat tak sabar. Pemuda itu masih menatap Maudy, yang bersikap tenang, tetapi sedikit mencurigakan. "Begini, Lingga." Maudy meletakkan cangkir ke atas meja. Menjilat bibir, lalu, "hmm ... Sebenernya ada yang mau tante kasih tau ke kamu." Rautnya berubah serius, dan tatapannya nampak sangat yakin, seolah-olah dia sudah siap bicara. Sedangka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status