Inicio / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / Bab⁴⁹—Kebutuhan mendesak~

Compartir

Bab⁴⁹—Kebutuhan mendesak~

Autor: Na_Vya
last update Fecha de publicación: 2026-04-14 22:22:44

"Dia?"

Bagas mengangguk, dan menyahut, "Hmm."

Manik Theresa yang agak sipit memicing pada foto Maudy, sementara Bagas mulai penasaran dan tidak sabar.

"Gimana? Lo pernah liat, gak?" Mungkin Bagas agak sedikit mendesak serta tak sabaran, membuat Theresa terheran-heran.

"Emangnya dia siapa, sih?" tanya Theresa, dengan tatapan penuh curiga. "kenalan lo?"

Bagas sontak menggaruk pelipis lantaran bingung hendak menjawab apa. Kalau dia mengatakan yang sebenarnya pada perempuan ini, apakah
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁷⁵—Salah paham~

    "Theresa?" 'Mampus! Gue lupa, kalo Theresa malem ini nyuruh gue dateng ke apartemennya.' "Siapa, Gas?" tanya Vanila. Raut Bagas memucat seketika, tenggorokannya tercekat, dan lidahnya mendadak kelu. "I-itu... Eumm..." 'Duh... Kenapa juga Theresa mesti telepon sekarang, sih?' Bagas membatin resah, gusar serta jengkel. Sebab Theresa menelepon di waktu yang tidak tepat sama sekali. "Gas." Vanila kembali menegur karena Bagas tak kunjung menjawab, dan justru terlihat serba salah. "Maudy yang telepon?" Giliran Sandi yang bertanya, sambil melangkah mendekat, kemudian melirik layar ponsel Bagas yang menyala. Kening Sandi mengernyit. "Theresa?" Bagas sontak menatap Sandi, yang berdiri di hadapan sambil menatapnya penasaran. Sejurus kemudian sudut matanya melirik Vanila, yang sedang mengecek tas, yang hendak dibawa pulang. Vanila nampak tak peduli atau pura-pura tidak peduli? Bagas menarik panjang napasnya, memutuskan untuk menjawab telepon dari Theresa. Sebab, dia

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁷⁴—Kelupaan~

    Dari kantor Maudy, Bagas langsung menuju Rumah Sakit. Namun, sebelum itu dia mampir ke toko bunga yang kebetulan berjejer tepat di depan Rumah Sakit. Wah.. Bagas sama sekali tidak memerhatikan selama ini—jika ada banyak toko bunga di dekat Rumah Sakit. "Kenapa gue gak ngeh, ya?" Bagas merutuk dirinya, sambil melihat-lihat bunga-bunga yang ditata rapi dan warnanya sangat cantik. Hidungnya mencium setiap aroma yang menguar dari beberapa bunga yang memiliki wangi yang cukup tajam. Contohnya bunga sedap malam. Dan pilihan Bagas tentunya jatuh pada bunga mawar merah, sesuai permintaan Vanila. "Mbak, saya mau mawar merah ini. Tolong dirangkai yang bagus, ya," ucap Bagas pada perempuan pemilik toko bunga tersebut. "Baik, Mas. Silakan ditunggu sebentar." Selagi menunggu, Bagas pun berinisiatif untuk pergi ke toko kue yang jaraknya tidak terlalu jauh dari toko bunga. Entah mengapa, tiba-tiba dia ingin makan cake yang manis-manis. Di toko kue, Bagas membeli cheese cake y

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁷³—Mulai berani~

    "Eum ... Sebenernya suami tante ...." Maudy nampak tengah berpikir keras—antara ingin bicara sekaligus ragu. Bila Bagas perhatikan, perempuan itu agaknya ingin mengatakan sesuatu yang menyangkut soal Roy Darmawan. Namun, entah mengapa Bagas melihat keraguan dari sorot mata Maudy. 'Semoga dia mau cerita soal Roy sama gue.' Kalau Maudy mau cerita tentang Roy, tentunya sangat menguntungkan bagi Bagas. Masalahnya, perempuan ini nampak begitu hati-hati. Maudy mengulas senyum tipis, kemudian mengangkat cangkir kopinya lagi. Disesapnya lagi capucino buatan Bagas, sedikit demi sedikit sambil berpikir keras. Bagas menghela panjang, dan terlihat tak sabar. Pemuda itu masih menatap Maudy, yang bersikap tenang, tetapi sedikit mencurigakan. "Begini, Lingga." Maudy meletakkan cangkir ke atas meja. Menjilat bibir, lalu, "hmm ... Sebenernya ada yang mau tante kasih tau ke kamu." Rautnya berubah serius, dan tatapannya nampak sangat yakin, seolah-olah dia sudah siap bicara. Sedangka

  • Pesona Pria Plus-plus    bab⁷²—Maudy memucat~

    Beberapa saat setelah bercinta di dalam mobil~ Raut Bagas terlihat semringah saat keluar dari pantry dengan membawa nampan berisi secangkir kopi, yang dibuatnya khusus untuk Maudy. Langkah Bagas begitu mantap saat berjalan melewati meja Susan, yang menatapnya keheranan. "Kamu bikin kopi buat Ibu?" tanya Susan, melirik sekilas pada cangkir kopi yang asapnya mengepul ke atas. Bagas berhenti sebentar di depan meja Susan, lalu mengangguk. "Biar keliatan ada kerjaan, Mbak," sahutnya, yang kemudian meringis. "Kan tadi udah kerja? Ikut Ibu meeting di luar, ke sana kemari." "Iya, sih... Anggep aja ini sebagai penutup sebelum saya pulang." "Ooh..." Susan menatap Bagas dengan raut penuh makna. Dan Bagas yang paham, buru-buru kabur. "Ya udah, Mbak. Aku ke ruangan Bu Maudy dulu. Keburu kopinya adem." Sebelum Susan menjawab, Bagas lebih dulu pergi dari hadapan perempuan itu. Selama beberapa hari bekerja di perusahaan Maudy, dan sering berinteraksi dengan beberapa staf perempuan t

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁷¹—🔞

    Matahari mulai beranjak saat Bagas memarkir mobilnya di basement kantor. Dia lantas membuka pengait sabuk pengaman. Sejurus kemudian dia beringsut maju mendekat pada Maudy. Bagas membantu perempuan itu— membukakan sabuk pengaman. Hal yang sudah terbiasa dia lakukan semenjak bersama Maudy. Bagas memainkan perannya dengan apik selama ini. Bersikap manis dan memberi perhatian kecil, yang sering dia berikan untuk para tante-tante penyewa jasanya. Hati perempuan mana yang tidak akan meleleh dan menghangat, apabila terus diperlakukan sedemikian rupa. Tak terkecuali Maudy, yang semakin hari semakin mengaguminya. Bagas bisa menjamin seribu persen. Terbukti, saat ini Maudy menatapnya dengan tatapan kagum. Dan tak ragu mengecup pipinya. Bagas mengulas senyum ketika Maudy memujinya, "Makasih ganteng." Perempuan itu menyeringai nakal, seraya mengusap pipi Bagas. Tatapan matanya pun tak lepas dari bibir Bagas. "Sama-sama, Cantik." Bagas membelai pipi Maudy dengan punggung tangan.

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁷⁰—Diinterogasi Maudy~

    Untuk pertama kalinya Bagas bertemu dengan orang-orang untuk membicarakan masalah pekerjaan. Membahas hal-hal yang menurutnya sangatlah asing di telinga. Jujur, urusan tersebut bukanlah dalam ranah Bagas yang hanya lulusan Sekolah Menengah Ke Atas. Bisnis, faktur penjualan, pendapatan dan lain sebagainya. Pembicaraan yang bagi Bagas sangatlah menguras pikiran dan otak. Dia sama sekali tidak paham maupun mengerti dengan semua itu. Bukannya Bagas tidak ingin belajar dan berusaha memahami ranah yang kali ini dia datangi. Mungkin pelan-pelan dia akan belajar dan mencari tahu tentang ilmu bisnis. Sebab, mau tidak mau Bagas harus mempunyai skill tersebut untuk kelangsungan hidupnya di masa yang akan datang. Bila nanti tiba waktunya, perusahaan sang ayah yang telah diambil Maudy jatuh ke tangannya lagi. Mau tidak mau Bagas harus memiliki kemampuan dalam bidang bisnis. Tak mau jika hasil kerja keras sang ayah terbuang sia-sia hanya karena dia yang belum memiliki pengalaman. Contohny

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status