Accueil / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / bab⁸⁴—Di ujung dilema~

Partager

bab⁸⁴—Di ujung dilema~

Auteur: Na_Vya
last update Date de publication: 2026-05-10 16:23:34

Sesi konsultasi Vanila dengan Karen berlangsung selama dua jam. Sambil menunggu Vanila di dalam, Bagas memilih duduk di teras, dan ngasep.

Lelaki itu memilih menunggu di luar, sebab tidak ingin mengganggu Vanila berkonsultasi. Ponsel Bagas yang tergeletak di atas meja bergetar, pesan singkat masuk.

Bagas memeriksa ponselnya, tak lama kemudian keningnya mengernyit. "Rachel?"

Rupanya Rachel yang mengirim pesan pada lelaki itu. Terlihat ragu saat hendak membuka chat dari Rachel, karena Ba
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹²⁶—Permintaan Vanila~

    Bagas keluar dari kamar Rachel untuk mengambil air minum di dapur. Beberapa saat kemudian dia kembali ke kamar gadis itu dengan membawa sebotol air mineral dingin."Minumnya." Dia memberikannya pada Rachel."Makasih," ucap Rachel, menerima botol air mineral dingin yang sudah dibuka oleh Bagas. Dia meminumnya perlahan."Elo gak mandi?" tanya Bagas.Rachel menggeleng, menutup botol air mineral, lalu meletakkan di atas meja samping kasur. "Kayaknya enggak. Gue mau cuci muka sama lap² badan aja," jawabnya."Ya udah. Bersih-bersih dulu baru lanjut istirahat," kata Bagas, mengambil kotak makan bekas Rachel yang masih tersisa sedikit. "gue mau buang ini dulu, abis itu gue juga mau mandi.""Ya."Bagas pun keluar dari kamar Rachel, dan di saat yang bersamaan pintu utama rumah Marco dibuka dari luar oleh seseorang yaitu Vanila."Van, baru pulang? Dari mana aja?" tanya Bagas, yang melangkah mendekati Vanila.Perempuan itu pun berjalan mendekat, sambil tersenyum, rautnya tak berubah sedikit pun,

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹²⁵—Nemenin makan~

    Suasana di dalam mobil begitu hening. Bagas dan Rachel sama-sama tidak berminat untuk memulai obrolan. Keduanya sibuk berkutat dengan isi kepala masing-masing. Dan kemungkinan, perkataan dokter Yoshi yang membahas perihal hubungan intim masih terngiang di ingatan mereka. Pengalaman pertama datang ke spesialis obgyn tak hanya menambah pengetahuan soal beberapa hal yang harus dipelajari. Menjadi orang tua di usia muda tentunya bukan hal yang mudah. Apalagi, semua terjadi begitu tiba-tiba. Di luar rencana serta tanpa persiapan apa pun. Kehamilan Rachel memang hal yang tak pernah dibayangkan Bagas sebelumnya. Namun, meski belum siap menjadi ayah, Bagas tetap akan berusaha mempelajari peran baru tersebut. Bagas ingin anaknya kelak tidak kekurangan kasih sayang orang tuanya kendati kehadirannya, yang sama sekali tidak pernah direncanakan. Bagas ingin menjadi sosok ayah yang bisa dibanggakan. Dan soal pernikahan. Bagas pun harus siap menjadi seorang suami untuk Rachel. Segala amarah dan

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹²⁴—Canggung~

    'Duh … bisa-bisanya gue ketemu sama tante Neli di sini. Mana waktunya gak tepat, lagi!' Bagas tentu menegang ketika mendapati mantan pengguna jasanya ada di depan mata dan mengenalinya. Mampus! Lelaki itu memerhatikan sekeliling, lalu menatap Rachel yang juga menatapnya, seolah gadis itu meminta penjelasan. Buru-buru Bagas berbisik, "Dia mantan klien gue. Bentar, ya. Gue beresin masalah ini dulu." Manik Rachel menyorot tak suka pada perempuan yang sebaya dengan Maudy. Sejurus kemudian dia menatap Bagas kembali dan berkata, "Jangan kelamaan. Gue gak mau masuk sendiri." Bagas mengangguk, lalu mengusap belakang kepala Rachel. "Gue gak bakal lama." "Lingga …." Neli melangkah menghampiri Bagas dengan senyum mengembang di bibir, yang dipoles lipstik merah. "Tan …" Bagas tentu harus bersikap sopan dan tenang kendati seluruh wajahnya hampir memanas karena malu. Ah, sial sekali! Dan sebelum si Neli bicara yang tidak-tidak, Bagas pun buru-buru mengajak perempuan itu keluar dari ruang tu

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹²³—Ke Dokter Obgyn~

    "Hah? Ko-konsep pernikahan?" Rachel mengerjap, bahkan mulutnya nyaris ternganga setelah mendengar pertanyaan Bagas barusan. Apa dia lagi mimpi? Atau … Bagas cuma mau nge-prank? Duh … Rachel tentu tidak mau besar kepala dengan pertanyaan Bagas, yang entah serius atau hanya bercanda. Melihat ekspresi wajah Rachel yang bengong Bagas jadi gemas dibuatnya. Dia pun iseng mencubit pipi gadis itu yang mulai nampak menggembul. "Auw!" Rachel memekik saat pipinya dicubit oleh Bagas. "sakit, tau!" bibir bawahnya mencebik sambil mengusap-usap pipi yang sebenarnya tidak terasa sakit sama sekali. Rachel hanya... Salting! Heheee... "Abisnya lo malah bengong!" Bagas berdecak, dan menyeruput kopinya lagi. Rachel menyesap tehnya yang hampir habis sambil diam-diam melirik Bagas. "Gue tanya, lo mau konsep pernikahan kayak apa? Elonya malah bengong. Kan, gue jadi gemes," ucap Bagas, menyandarkan punggung di sandaran kursi dan bersedekap. Dia menatap serius Rachel yang agaknya salah tingkah. "gue ser

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹²²—Konsep pernikahan~

    "Hoek! Hoek! Hoek!" Bagas baru saja melangkahkan kakinya masuk ke rumah, yang ditinggalinya untuk beberapa waktu saat suara seperti orang yang sedang muntah-muntah menyapa pendengaran. Tak perlu ditanyakan lagi—siapa orang yang memuntahkan isi perutnya di depan wastafel. Siluet tinggi semampai yang sangat dikenali Bagas itu membungkuk kepayahan sambil memutar kran. Menghampiri gadis yang kini mengandung bibitnya, Bagas lantas bertanya, "Elo muntah-muntah lagi, Chel?" Tanpa diminta, tangannya terjulur ke tengkuk Rachel kemudian memberi sedikit pijatan di sana. Seingat Bagas, hal seperti ini juga pernah dialami Rachel saat hendak meninggalkan gubug. Yang katanya dia alergi bau bensin, lalu pusing. Bagas kira demikian, tapi ternyata gadis ini mual lantaran tengah mengandung. Ck! Rachel bahkan tidak menyadari jika dirinya sedang hamil. "Gak tau, nih!" Rachel membasuh mulut dengan air yang dia tadahkan dari wastafel ke telapak tangan. Berkumur-kumur guna menghilangkan rasa asam di d

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹²¹—Siap jadi saksi~

    "Kalo gak salah, Rachel itu anaknya almarhum Roy 'kan?" tanya Hendra, beringsut mundur, menyandarkan punggung di sandaran kursi. Sementara jarinya mengetuk-ngetuk pinggiran meja, menunggu jawaban Bagas. Bila diperhatikan, raut kemarahan yang tersembunyi di balik sorot mata pemuda itu begitu kentara sekali. Kini, Hendra bisa mengerti, kenapa Bagas merasa malu dan ragu untuk bercerita padanya. Menghamili seorang perempuan, apalagi belum ada ikatan atau status yang sah, di negara ini masih sangatlah awam, berbeda bila kita tinggal di luar negeri, yang dari segi adat istiadat saja sangat jauh pengertiannya. Mungkin, Bagas malu karena mengira jika Hendra akan menilainya sebagai laki-laki brengsek yang mudah memainkan para wanita. Meskipun dia sempat berpikir demikian ketika pertama kali mendengarnya. "Iya, Om. Rachel anaknya, Om Roy." Bagas menjawab dengan kepala tertunduk lesu. Ke sepuluh jarinya masih saling meremas di atas meja, sambil menahan malu. Dia seakan-akan kehilangan

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁶³—Hampir Khilaf~

    Bagas membuang kasar napasnya. "Mau lo apa, sih?" tanyanya seraya menatap sinis Rachel. "gue 'kan udah ngasih semuanya, Chel? Ya udah, cukup! Gak ada yang bisa kita lanjutin lagi," pungkasnya, kemudian menghela frustrasi. Bagas mengatur napas supaya hasrat karena pemandangan di depan mata terkenda

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁶²—Godaan~

    Beberapa jam kemudian, masih di rumah sakit. Saat ini ada empat pria yang duduk bersama di sofa, di ruang rawat inap Vanila. "Jadi pelakunya cowok sama cewek?" tanya Marco yang duduk di sofa bersama Sandi dan Firman. Ketiganya baru kembali beberapa saat yang lalu dari kantin. "Iya, Bang," ja

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁶¹—Kembali dekat~

    "Mereka ...." Vanila nampak berpikir keras, dengan raut yang kembali muram dan air mata mengembun di bola matanya yang bulat. Ketika mengerjap air mata luruh ke pelipisnya. "Van ..." Bagas menghapus jejak air mata yang menetes di pipi Vanila lebih dulu, kendati dia tidak sabar mendengar jawaban p

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁶⁰—Sudah bisa diajak bicara~

    Orang itu memarkir mobilnya beberapa meter dari mobil Bagas. Lantas, langsung turun dan membuntuti Bagas masuk dengan jarak yang tentunya aman. Sementara Bagas yang tidak sadar jika sedang diikuti, terus berjalan melewati lorong demi lorong tanpa merasa curiga sedikit pun. Langkahnya agak cepat

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status