MasukSesi konsultasi Vanila dengan Karen berlangsung selama dua jam. Sambil menunggu Vanila di dalam, Bagas memilih duduk di teras, dan ngasep. Lelaki itu memilih menunggu di luar, sebab tidak ingin mengganggu Vanila berkonsultasi. Ponsel Bagas yang tergeletak di atas meja bergetar, pesan singkat masuk. Bagas memeriksa ponselnya, tak lama kemudian keningnya mengernyit. "Rachel?" Rupanya Rachel yang mengirim pesan pada lelaki itu. Terlihat ragu saat hendak membuka chat dari Rachel, karena Bagas sedang menjaga jarak. Namun, Bagas juga tidak bisa mengabaikannya. Sebab, dia sudah berjanji akan membantu Rachel supaya bisa kembali bertemu dengan papinya. [Lo semalem gak pulang? Lo tidur di apartemen?] Dua pertanyaan Rachel yang terkesan sangat ingin tahu membuat Bagas menghela panjang. Menekan puntung rokok ke asbak, Bagas pun mengetik pesan balasan. [Iya.] Singkat dan terkesan tak acuh. Bagas sengaja membalas demikian karena tidak ingin Rachel banyak bertanya-tanya lagi. Dia
Vanila merasakan napas Bagas terasa panas saat menerpa kulit wajahnya. Kemudian disertai lembutnya benda kenyal nan basah memagut bibirnya dengan sangat lembut. Pagutan Bagas disambut oleh Vanila tanpa penolakan berarti. Ketika pagutan itu saling berbalas, rengkuhan di pinggang Vanila pun kian merapat. Seolah Bagas tak membiarkan perempuan itu untuk menjauh. Keduanya larut dalam pagutan panas yang terasa makin menuntut. Bagas menginginkan lebih dari sekadar ini. Dia ingin membuat Vanila mendesahkan namanya seperti biasa. Lalu, tanpa meminta izin, Bagas membawa tubuh kecil Vanila ke gendongan ala bridal style tanpa melepas pagutan. Sedangkan Vanila mengalungkan kedua lengannya di pundak Bagas. Langkah Bagas begitu hati-hati ketika membawa Vanila ke kamar, dan membaringkannya di ranjang. Pelan dan sangat lembut, seolah Vanila barang yang mudah pecah. Pagutan terlepas ketika Bagas naik ke atas ranjang, lalu mengungkung Vanila dengan kedua tangan berada di sisi. Tatapan lela
"Udah, Gas. Ini udah yang ke empat kalinya." Vanila merampas paksa batang rokok yang hendak disulut kembali oleh Bagas, kemudian menaruhnya asal di meja, dengan raut kesal dan jengkel. Bagaimana dia tidak kesal? Sejak datang sampai sekarang Bagas tak berhenti mengasap. Vanila tahu bila Bagas sedang banyak pikiran belakangan ini. Namun, bisakah lelaki itu mengurangi rokok? "Gue pusing, Van. Gue bingung!" keluh Bagas meraup wajahnya berulang-ulang, lalu menyugar rambutnya yang mulai agak memanjang. Ck! Dia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali potong rambut. Waktunya habis untuk bekerja dan memikirkan cara supaya bisa balas dendam. Vanila menghela, mengulurkan tangannya ke pundak Bagas.."Kenapa pusing? Kenapa bingung? Kalo kamu gak mau lakuin, ya, dah, gak usah diterima. Beres!" ucapnya, seraya berdiri lalu mengulurkan satu tangannya lagi untuk memijat pundak Bagas. Itu hanyalah suatu tanggapan darinya, mengenai pernyataan Bagas yang katanya diajak bekerjasama oleh Maudy.
Bagas menuruti keinginan Theresa, yang memintanya untuk bertemu di suatu tempat. Bukan karena dia menerima begitu saja perintah dari perempuan itu. Bagas hanya tidak ingin mengundang masalah yang lebih besar lagi. Apalagi Theresa ini tipe orang yang tidak sabaran dan suka mengancam. Rese banget 'kan? Antara menyesal dan kapok karena dia sudah salah memilih rekan kerja sama kali ini. Mulut Theresa rupanya mirip ember. Dan Bagas ingin sekali menyumpal mulut itu dengan kaos kaki. CK! Dia mendatangi sebuah kamar hotel yang letaknya tidak terlalu jauh dari Rumah Sakit. Kamar hotel yang bisa dibilang cukup luas dan mewah. Agaknya Theresa ini memang bukan perempuan sembarangan. Oh, Bagas hampir lupa kalau perempuan itu adalah putri dari wakil direktur rumah sakit swasta terbesar di ibukota. Sudah pasti, Theresa memiliki selera yang tinggi. Terbukti dengan pemilihan kamar hotel bintang satu yang menjadi tempat mereka bertemu siang ini. Ketika Theresa keluar dari kamar mandi
"Berengsek! Jalang licik!" Bagas memaki setang mobil yang sama sekali tidak mempunyai salah padanya. Menyalurkan amarahnya pada Maudy yang beberapa saat lalu memintanya untuk menyingkirkan Roy dan Rachel dari dunia ini. Secara tidak langsung perempuan itu meminta Bagas untuk menghabisi nyawa ayah dan putrinya. Bener-bener gila 'kan? Bagas sama sekali tidak menyangka jika Maudy memiliki rencana yang sangat berbahaya dan beresiko cukup besar. Apalagi, dia menyeret Bagas untuk masuk ke dalam rencananya itu. Ini namanya bukan beruntung, tapi dobel sial. "Enam bulan lalu jet pribadi yang bawa suami tante ke London mengalami kecelakaan dan semuanya dikabarkan meninggal di tempat. Satu-satunya yang selamat cuma suami tante, Lingga." Bagas mengingat kembali perkataan Maudy saat menceritakan tentang kecelakaan yang menimpa Roy. Perempuan itu juga menceritakan bagaimana dia selama ini sengaja menyembunyikan Roy yang masih hidup dari Rachel dan publik. "Kenapa Tante gak ceri
Bagas dan Maudy berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit dengan didampingi seorang pria berjas serba hitam dan berkaca mata berwarna senada. Pria berpenampilan misterius itu menyambut Maudy dengan sangat hormat di depan lobi, tanpa mengatakan apa pun. Sementara Bagas masih menerka-nerka sendiri dalam hati—perihal Maudy yang dengan mudah membawanya ke tempat ini. Jadi, untuk sementara ini biarlah Bagas pura-pura bodoh dan tidak tahu menahu soal rencana jalang itu. 'Gue penasaran sama kondisi si Roy.' Bagas membatin sambil membayangkan Roy Darmawan yang sedang terbaring koma di ranjang pesakitan. "Lingga ...." Suara Maudy memecah lamunan Bagas yang isi kepalanya sangat sibuk dengan berbagai rencana setelah ini. Dan dia baru sadar jika sudah berada di depan sebuah ruangan VVIP. "Ya, Tan?" Dia menyahut seraya melirik ke sekeliling yang nampak sepi. Berbeda dengan ruangan umum lain, yang biasanya ramai pengunjung pasien. 'Kayaknya ini kamarnya si Roy.' Batin Bagas menyi







