Beranda / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / Bab¹⁷²—Bukti-bukti

Share

Bab¹⁷²—Bukti-bukti

Penulis: Na_Vya
last update Tanggal publikasi: 2026-08-09 20:17:27

Hakim Ketua kembali menatap Jaksa Penuntut Umum.

"Saudara Penuntut Umum, apakah masih ada bukti yang akan diajukan berkaitan dengan keterangan saksi?"

Jaksa berdiri. "Ada, Yang Mulia."

Dia lantas mengambil sebuah map tebal dari meja. "Penuntut Umum akan mengajukan beberapa dokumen medis yang berkaitan dengan almarhum Roy Darmawan."

Bagas kembali menegakkan tubuhnya.

Rachel pun perlahan mengangkat wajah.

Jaksa melanjutkan, "Dokumen tersebut terdiri dari rekam medis pasien, catatan perawatan, cat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁷²—Bukti-bukti

    Hakim Ketua kembali menatap Jaksa Penuntut Umum."Saudara Penuntut Umum, apakah masih ada bukti yang akan diajukan berkaitan dengan keterangan saksi?"Jaksa berdiri. "Ada, Yang Mulia."Dia lantas mengambil sebuah map tebal dari meja. "Penuntut Umum akan mengajukan beberapa dokumen medis yang berkaitan dengan almarhum Roy Darmawan."Bagas kembali menegakkan tubuhnya.Rachel pun perlahan mengangkat wajah.Jaksa melanjutkan, "Dokumen tersebut terdiri dari rekam medis pasien, catatan perawatan, catatan pemberian obat, serta hasil pemeriksaan kondisi pasien selama berada di rumah sakit."Penasihat hukum Maudy langsung berdiri."Yang Mulia, kami meminta agar seluruh dokumen tersebut diperiksa keasliannya terlebih dahulu."Jaksa mengangguk. "Itu akan dilakukan."Hakim Ketua menatap panitera. "Catat sebagai barang bukti dan lakukan pemeriksaan sesuai prosedur.""Baik, Yang Mulia."Beberapa lembar dokumen kemudian diserahkan kepada majelis hakim.Ruangan kembali hening.Jaksa lalu berkata, "Se

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁷¹—Fakta Berikutnya

    IYAAA, paham sekarang 😭❤️ Jadi teks yang kamu kirim ini adalah bagian awal pemeriksaan Bagas, dan lanjutan yang kita buat harus langsung menyambung dari kalimat:> “Tidak ada jalan untuk kembali.”Bagas masih duduk tegak di kursi saksi. Tatapannya tertuju kepada majelis hakim.Dia sudah membuka terlalu banyak hal hari ini.Tentang dirinya.Tentang keluarganya.Tentang alasan dia menjadi Lingga.Tentang pernikahan sirinya dengan Maudy.Namun...Masih ada bagian yang jauh lebih berat untuk diceritakan.Jaksa Penuntut Umum kembali berdiri."Yang Mulia, kami melanjutkan pemeriksaan saksi."Hakim Ketua mengangguk."Silakan."Jaksa kembali menghadap Bagas."Saudara Bagaskara.""Iya.""Setelah Saudara mendapatkan kepercayaan terdakwa, apa yang kemudian Saudara ketahui?"Bagas menarik napas perlahan. "Maudy mulai menceritakan beberapa rencananya kepada saya.""Rencana apa?"Bagas terdiam sesaat. Tatapannya sempat beralih kepada Maudy. Perempuan itu masih duduk diam. Namun kali ini wajahnya

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁷⁰—Tidak Ada Jalan Kembali

    Bagas mengembuskan napas panjang. "Karena terdakwa adalah salah satu penyebab keluarga saya hancur."Ruangan kembali sunyi. "Siapa nama ayah Saudara?" "Raditya Saputra." "Almarhum?" "Iya." "Apa yang terjadi dengan beliau?" Bagas mengepalkan tangan di atas pahanya. "Papa saya memiliki perusahaan. Perusahaan itu kemudian mengalami kebangkrutan." Jaksa mengangguk. "Dan apa hubungan kebangkrutan tersebut dengan terdakwa?" Bagas menatap Maudy. "Maudy mengambil hampir seluruh aset perusahaan Papa." Penasihat hukum Maudy langsung berdiri. "Keberatan, Yang Mulia. Pernyataan tersebut merupakan tuduhan yang belum dibuktikan." Jaksa menoleh. "Kami memiliki dokumen transaksi dan laporan keuangan yang akan diajukan sebagai barang bukti." Hakim Ketua mengangkat tangannya.. "Keberatan dicatat. Saksi tetap dipersilakan menjelaskan berdasarkan apa yang dia ketahui." Bagas mengangguk kecil. Dia kembali menatap lurus ke depan, dan lanjut bicara, "Setelah aset perusahaan habis..." Suarany

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶⁹—Kisah Bagas~

    Satu minggu kemudian... Suasana Pengadilan Negeri Jakarta kembali dipadati pengunjung sejak pagi.Beberapa wartawan telah berkumpul di depan ruang sidang sambil menyiapkan kamera dan alat perekam.Kasus yang menjerat Maudy Prameswari masih menjadi perhatian publik. Hari itu, persidangan memasuki tahap pembuktian. Saksi-saksi akan mulai didengar keterangannya di bawah sumpah.Barang bukti yang selama ini hanya tersimpan dalam berkas penyidikan juga akan mulai diperlihatkan di hadapan majelis hakim. ---Bagas mematikan mesin mobilnya. Dia mengangkat wajah, memandang gedung pengadilan yang berdiri kokoh di hadapannya.Hari ini... Dia bukan lagi seseorang yang menyamar sebagai Lingga.Hari ini.... Dia datang sebagai Bagaskara Saputra.Saksi. Sekaligus korban dari rangkaian perbuatan Maudy."Gas!" Marco melambaikan tangan dari kejauhan. Di sampingnya sudah berdiri Sandi dan Firman.Firman langsung menyeringai. "Semoga hari ini cepat selesai. Gue udah sarapan, tapi tetep lapar," celet

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶⁸—Babab Baru~

    Keesokan paginya... Langit Kota Jakarta masih diselimuti mendung tipis ketika mobil Bagas memasuki halaman Polres Kota Bandung. Jam di dashboard menunjukkan pukul sembilan kurang lima menit. Bagas mematikan mesin mobil, tetapi belum juga turun. Kedua tangannya masih menggenggam kemudi. Semalaman dia hampir tidak bisa memejamkan mata. Ucapan Penyidik Ardi terus terngiang di kepalanya. "Kalau suatu hari Rachel mengetahui semuanya... jangan pernah biarkan dia membenci kakaknya." Kalimat itu terdengar sederhana. Namun justru itulah yang membuat dadanya terasa semakin sesak. Roy... Bahkan menjelang akhir hidupnya... Masih memikirkan kedua putrinya. Bagas mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya membuka pintu mobil. Hari ini... Mungkin dia akan mengetahui lebih banyak tentang rahasia yang selama bertahun-tahun disimpan Roy Darmawan. --- Beberapa menit kemudian... Seorang anggota polisi mengantarnya menuju ruang penyidik. Tok... Tok... "Silakan masuk." Bagas membuka p

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶⁷—Sebuah kemungkinan~

    Malam semakin larut..Jam dinding di ruang keluarga menunjukkan hampir pukul sembilan malam.Vanila baru saja selesai mencuci piring-piring bekas makan malam.Sementara Bagas mengelap meja makan yang sejak tadi dipenuhi remah cheesecake dan bungkus kado."Akhirnya selesai juga," gumam Bagas sambil membuang lap ke atas meja.Vanila terkekeh pelan. "Aku kira tadi rumah ini mau dibongkar sama Sandi."Bagas ikut tertawa. "Firman mah fokusnya makan. Kalo Bang Sandi fokusnya bikin ribut."Vanila mengangguk setuju. "Itu dua orang memang gak bisa dipisahin."Bagas menyandarkan tubuhnya sebentar ke meja dapur.Rumah kembali tenang.Hanya terdengar suara air dari keran yang belum benar-benar tertutup rapat.Vanila melirik ke kamar yang bersebelahan dengan kamarnya. Kamar yang dulu sering Bagas tempati ketika pria itu datang. "Rachel masuk kamar. Katanya mau mandi."Bagas mengangguk pelan. "Hari ini dia capek."Vanila tersenyum tipis. "Tapi dia bahagia."Bagas ikut menoleh ke arah kamar tersebut

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁵—Iseng nawarin pulang~

    Gila! Katakan jika saat ini seorang Bagaskara sedang mengambil kesempatan. Oh … tidak! Bagas hanya mengikuti permintaan gadis ABG cantik ini. Kalo kata Bagas "Rejeki gak boleh ditolak." Anggap saja ini rejeki nomplok! Bagas tak hanya mengajari caranya ciuman yang benar. Dia juga sudah m

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁴—Dapet ciuman mendadak~

    Setelah dari hotel, Bagas langsung menuju ke kelab. Daripada suntuk di apartemen sendirian, lebih baik dia di sini. Lagi pula, Bagas tidak bisa libur walau sehari, karena mami Kumala—pemilik kelab yang merangkap sebagai germo itu sudah mewanti-wanti. Ya... Walaupun tubuhnya lelah lantaran dia suda

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab³—Tante Cindy~

    Sore itu pilihan Bagas jatuh pada kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dengan gedung tempatnya tinggal. Perutnya sedari tadi sudah memberi sinyal, meminta diisi amunisi. Terakhir kali makan, waktu sarapan di hotel. Setelah itu Bagas tidak ada lagi memakan apa pun selain minum soda dan ngasap. Su

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁶—Ajakan nikah dadakan~

    Tawaran mengantar pulang Bagas, rupanya disambut baik oleh Rachel. Padahal dia tadi cuma iseng nawarin. Tak disangka, dia pikir Rachel akan menolak tawarannya. Namun, karena sudah terlanjur nawarin pulang, dan Bagas tidak ingin mengecewakan, dia pun terpaksa izin sama Mami Kumala. Dan saat ini

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status