LOGINLangkah kaki tegap Langit menyusur lantai marmer koridor lantai sepuluh gedung Segara Corp dengan irama yang tenang namun penuh arti. Setiap helaan napasnya dihembuskan perlahan, membuang jauh-jauh sisa bayangan manis tentang Jeeva yang sempat mampir di kepalanya beberapa menit lalu. Di balik pintu kayu jati berukir di ujung koridor sana, sebuah pertempuran politik keluarga dan bisnis sudah menantinya.Begitu pintu ruang rapat utama terbuka lebar, atensi seluruh orang yang duduk mengelilingi meja oval megah langsung tertuju padanya. Tuan Besar Segara duduk di ujung meja dengan raut wajah berwibawa namun menyiratkan ketidaksabaran. Di sisi kanannya, Tuan Pierre La De Coq tersenyum tipis nan berkelas, sementara Valerie duduk manis mengenakan blazer kerja pas badan yang mempertegas kesan wanita karier sempurna."Wah, anak kebanggaan Papa akhirnya datang juga. Mengurus perusahaan besar memang menyita waktu ya, Langit, sampai-sampai tamu penting harus menunggu sekian lama," sindir Tuan Seg
"Data kita sudah kembali, meski kita belum menemukan cara mengembalikannya, begitu? kamu serius?" tanya Langit sekali lagi, memastikan pendengarannya tidak salah tangkap di tengah ketegangan yang mendera. Sorot mata tajam pria dua puluh sembilan tahun itu tak bisa berbohong, menyiratkan campuran rasa terkejut, bingung, sekaligus penasaran yang luar biasa pekat.Rendy mengangguk cepat, menyodorkan laporan analitik terbaru di layar tablet sekunder miliknya agar sang atasan bisa melihat langsung buktinya. "Iya, Tuan. Benar-benar pulih seratus persen tanpa ada satupun file krusial yang hilang atau rusak. Sistem keamanan lapis kedua kita yang tadinya sempat terkunci total akibat enkripsi asing, tiba-tiba terbuka sendiri setelah pesan ancaman itu muncul di layar utama."“Dan satu lagi, harga saham kita juga sudah membaik di pasaran. Semua berjalan normal kembali seolah tak terjadi apa-apa, Tuan.” Tegas Rendy membuat Langit semakin penasaran.Langit terdiam kaku. Alis tebalnya bertaut semaki
Suasana di dalam kabin sedan mewah itu mendadak membeku seketika. Di tengah antrean lampu merah, tanpa aba-aba, Jeeva langsung mengulurkan tangan dan menggenggam jemari tangan Langit yang sedang bertumpu pada tuas persneling.Langit refleks menoleh. Wajah dingin sang CEO yang biasanya datar dan tanpa ekspresi itu tiba-tiba menunjukkan salah tingkah yang nyata, bahkan semburat merah tipis tampak jelas menjalar di kedua pipinya.Melihat reaksi salah tingkah itu, Jeeva yang tadinya sempat kaku langsung bergerak cepat. Dengan gestur manis namun berani, ia menarik pergelangan tangan Langit mendekat lalu mengecup punggung tangan pria itu sekilas."Jeeva mau, tangan ini gak boleh megang tangan cewek lain, terutama si Kobra itu. Paham kan, Mas?" ucap Jeeva dengan mata berbinar jenaka namun menyiratkan ketegasan posesif ala remaja jatuh cinta.Langit menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan debar jantungnya yang berantakan. "Apalagi sih kamu ini? Ya gak mungkin aku gak salaman sama reka
"Mas, janjinya bisa ditunaikan sekarang," ucap Jeeva tiba-tiba begitu pintu mobil bagian penumpang ditutup rapat dari luar.Langit yang baru saja memasang sabuk pengamannya menoleh dengan dahi bertaut rapat, menampilkan ekspresi cool sekaligus kaku yang menjadi ciri khasnya. Pria dua puluh sembilan tahun itu berpikir keras, mencerna maksud dari ucapan sang mahasiswi yang mendadak menagih janji di dalam mobil."Maksudnya? Tunaikan janji sekarang gimana? Kita baru aja mau berangkat ke kampus," jawab Langit dengan nada rendah penuh kebingungan, sementara tangannya bersiap memutar kunci kontak."Iya, janji yang harus Mas laksanakan itu bukan berupa barang kayak dugaan Mas tadi," sahut Jeeva penuh keyakinan, menatap lurus manik mata sang CEO."Lalu?" tanya Langit singkat, menuntut kejelasan karena otaknya saat ini sedang terbagi dua antara urusan ancaman peretasan server di kantor dan tingkah absurd gadis di sebelahnya."Cium Jeeva, Mas."Seketika keheningan total melanda kabin mobil mewah
"Mas jangan ngelak, Jeeva serius loh..." ulang Jeeva dengan nada merengek manja, menatap lurus ke arah Langit sambil menggoyang-goyangkan ujung lengan kemeja pria dua puluh sembilan tahun itu.Langit menghela napas panjang, berusaha mempertahankan ekspresi datarnya di balik debar jantung yang mendadak berantakan akibat ulah gadis di hadapannya. Pria berwibawa itu mengambil garpu kecil, memotong sepotong pastri hangat di piringnya lalu menyodorkannya tepat di depan bibir Jeeva."Makan dulu, Jeeva. Jangan bicara hal-hal ngawur saat perutmu kosong," ucap Langit dengan suara bariton rendahnya yang tegas namun terselip kelembutan yang menenangkan.Jeeva mengerjap-ngerjapkan matanya, terpaku sejenak menatap potongan pastri yang disodorkan sang CEO. Tanpa sadar, pipinya bersemu merah jambu. Dengan malu-malu, gadis sembilan belas tahun itu membuka mulutnya dan menerima suapan tersebut, mengunyahnya pelan sambil tersenyum lebar hingga deretan gigi rapinya kelihatan."Enak..." gumam Jeeva kegir
"Ini... ini tempat apa, Mas? Kok bukan kampus?" tanya Jeeva dengan mata membelalak kaget, menatap bangunan estetik berkonsep minimalis modern di hadapan mereka.“Ayo keluar.” Ajka Langit setelah mematikan mesin mobil.“Mas…kita mau ke kampus bukan ke tempat lain ngapain berhenti segala di sini?” Tanya Jeeva kebingungan.Gadis sembilan belas tahun itu segera menyeka sisa air matanya dengan ujung lengan baju, lalu menoleh tajam ke arah Langit yang baru saja mematikan mesin mobil. Alih-alih menjawab, pria dua puluh sembilan tahun itu justru membuka sabuk pengamannya dengan tenang."Saya bilang kita keluar, Jeeva." titah Langit singkat dengan suara bariton rendahnya."Enggak mau! Aku ada kelas pagi, Mas Langit! Kalau dosen galak tahu aku bolos, bisa-bisa nilai tugasku langsung dilenyapin dari muka bumi!" protes Jeeva panik, memeluk erat tas ranselnya di dada seolah tengah melindungi diri dari penculikan terselubung.Langit mengabaikan protes tersebut. Pria itu melepas sabuk pengamannya, l







