ログイン"Mas, janjinya bisa ditunaikan sekarang," ucap Jeeva tiba-tiba begitu pintu mobil bagian penumpang ditutup rapat dari luar.Langit yang baru saja memasang sabuk pengamannya menoleh dengan dahi bertaut rapat, menampilkan ekspresi cool sekaligus kaku yang menjadi ciri khasnya. Pria dua puluh sembilan tahun itu berpikir keras, mencerna maksud dari ucapan sang mahasiswi yang mendadak menagih janji di dalam mobil."Maksudnya? Tunaikan janji sekarang gimana? Kita baru aja mau berangkat ke kampus," jawab Langit dengan nada rendah penuh kebingungan, sementara tangannya bersiap memutar kunci kontak."Iya, janji yang harus Mas laksanakan itu bukan berupa barang kayak dugaan Mas tadi," sahut Jeeva penuh keyakinan, menatap lurus manik mata sang CEO."Lalu?" tanya Langit singkat, menuntut kejelasan karena otaknya saat ini sedang terbagi dua antara urusan ancaman peretasan server di kantor dan tingkah absurd gadis di sebelahnya."Cium Jeeva, Mas."Seketika keheningan total melanda kabin mobil mewah
"Mas jangan ngelak, Jeeva serius loh..." ulang Jeeva dengan nada merengek manja, menatap lurus ke arah Langit sambil menggoyang-goyangkan ujung lengan kemeja pria dua puluh sembilan tahun itu.Langit menghela napas panjang, berusaha mempertahankan ekspresi datarnya di balik debar jantung yang mendadak berantakan akibat ulah gadis di hadapannya. Pria berwibawa itu mengambil garpu kecil, memotong sepotong pastri hangat di piringnya lalu menyodorkannya tepat di depan bibir Jeeva."Makan dulu, Jeeva. Jangan bicara hal-hal ngawur saat perutmu kosong," ucap Langit dengan suara bariton rendahnya yang tegas namun terselip kelembutan yang menenangkan.Jeeva mengerjap-ngerjapkan matanya, terpaku sejenak menatap potongan pastri yang disodorkan sang CEO. Tanpa sadar, pipinya bersemu merah jambu. Dengan malu-malu, gadis sembilan belas tahun itu membuka mulutnya dan menerima suapan tersebut, mengunyahnya pelan sambil tersenyum lebar hingga deretan gigi rapinya kelihatan."Enak..." gumam Jeeva kegir
"Ini... ini tempat apa, Mas? Kok bukan kampus?" tanya Jeeva dengan mata membelalak kaget, menatap bangunan estetik berkonsep minimalis modern di hadapan mereka.“Ayo keluar.” Ajka Langit setelah mematikan mesin mobil.“Mas…kita mau ke kampus bukan ke tempat lain ngapain berhenti segala di sini?” Tanya Jeeva kebingungan.Gadis sembilan belas tahun itu segera menyeka sisa air matanya dengan ujung lengan baju, lalu menoleh tajam ke arah Langit yang baru saja mematikan mesin mobil. Alih-alih menjawab, pria dua puluh sembilan tahun itu justru membuka sabuk pengamannya dengan tenang."Saya bilang kita keluar, Jeeva." titah Langit singkat dengan suara bariton rendahnya."Enggak mau! Aku ada kelas pagi, Mas Langit! Kalau dosen galak tahu aku bolos, bisa-bisa nilai tugasku langsung dilenyapin dari muka bumi!" protes Jeeva panik, memeluk erat tas ranselnya di dada seolah tengah melindungi diri dari penculikan terselubung.Langit mengabaikan protes tersebut. Pria itu melepas sabuk pengamannya, l
"Kamu kenapa? Lagi maki-maki saya dalam hati?" tanya Langit dengan sorot mata tajam pas di lampu merah, memecah keheningan kabin sedan mewah yang sedari tadi terasa mencekam. Pria dua puluh sembilan tahun itu menoleh sekilas, mengamati gerak-gerik gadis di sampingnya dengan insting tajam seorang pemimpin yang terbiasa membaca kebohongan sekecil apa pun.Seketika Jeeva langsung kayak tersedak batuk gitu, memegangi dadanya kaget bukan main karena tebakan pria di sampingnya yang mendadak tepat sasaran. Jantungnya berdegup sepuluh kali lebih cepat dari normal."Hah?! Siapa juga yang maki-maki? Ge-er banget..." gerutu Jeeva cepat dengan suara melengking tanda panik. Wajahnya seketika memerah padam, menjalar hingga ke leher. Ia langsung memalingkan wajah ke arah pintu samping, sama sekali tidak mau menatap wajah Langit yang memancarkan pesona mengintimidasi.Langit menyipitkan mata, mendengus pelan melihat tingkah salah tingkah itu. "Terus, kenapa kamu tadi gak nyelesaiin sarapan?" Langit m
"Calm down Jeeva. Jangan panik apalagi melo. Please. Kita mau ngampus, jangan sampai di kampus kena buli lagi sama si Vanya yang lagi pensiun bully sejenak," gumam Jeeva berjalan sambil setengah berlari menuju pintu utama dan langsung melintasi halaman rumah menuju gerbang begitu saja.Tangan Jeeva gemetar memegangi ponsel sambil mencari aplikasi ojek online, matanya sudah mengabur karena menahan bendungan bulir bening yang nyaris pecah. "Jeeva, please. Tahan, jangan nangis. Please. Dia emang milik orang, yang ganjen juga kamu kan Jeeva..." bisik Jeeva sambil terus berjalan, bahkan sapaan satpam rumah pun Jeeva abaikan begitu saja karena fokusnya hanya satu: kabur secepat mungkin dari area kediaman Banyuwangsa.Gadis sembilan belas tahun itu berdiri di tepi jalan luar gerbang utama. Angin pagi berembus cukup kencang membelai rambutnya, namun fokusnya sepenuhnya tertuju pada layar ponsel pintar yang menampilkan peta pergerakan pengemudi taksi online.Napasnya masih terengah-engah, dada
Pagi hari menyapa kediaman utama Banyuwangsa dengan bias cahaya matahari yang menembus celah jendela kaca besar di ruang makan. Suasana pagi itu terasa begitu hidup, jauh lebih padat dari biasanya.Jeeva yang baru saja menuruni anak tangga lantai dua langsung menghentikan langkahnya di ambang pintu ruang makan. Gadis sembilan belas tahun itu mengerjap pelan, merasakan dadanya mendadak sesak seketika melihat pemandangan di hadapannya. Meja makan panjang berbalut taplak putih bersih itu sudah terisi penuh oleh formasi lengkap. Bukan hanya Tuan Segara dan Marini, tetapi keluarga besar La De Coq juga hadir dengan lengkap, termasuk Valerie yang duduk tepat di sebelah kiri kursi utama Langit.Yang membuat perut Jeeva semakin mual adalah bagaimana Langit, sang CEO dingin yang biasanya kaku dan irit bicara, tampak begitu luwes menanggapi obrolan ringan dengan keluarga La De Coq. Pria dua puluh sembilan tahun itu mengenakan kemeja formal rapi, tersenyum tipis menanggapi candaan hangat di meja







