MasukDewa terbuka matanya karena benturan itu. Ia langsung menahan tubuh Mentari dengan kedua tangan agar gadis itu tidak terpeleset lebih jauh. Dalam posisi itu, Mentari praktis terduduk di pangkuan Dewa, tubuh mereka saling menempel. "Mentari?" sapa Dewa dengan suara serak khas baru bangun. Senyum kecil tersungging di bibirnya melihat wajah Mentari yang merah padam. Mentari buru-buru mencoba bangkit, tapi Dewa sudah lebih dulu melingkarkan kedua lengan di pinggangnya dari belakang, menahannya tetap di tempat. Dada Dewa menempel hangat di punggung Mentari. "Jangan kabur dulu," bisiknya di telinga gadis itu. "Pak... lepaskan... saya malu..." suara Mentari hampir tidak kedengaran, kepala menunduk dalam. Dewa mengusap perut Mentari dengan jemari yang lembut, gerakan menenangkan. "Semalam kamu pingsan. Kamu juga masih lemas. Kalau dipaksa berjalan, nanti jatuh lagi." Mentari semakin menunduk, telinga dan lehernya merah total. Dewa mengecup bahu Mentari pelan, lalu berbicara dengan suar
“Enak…?” tanya Dewa serak. Mentari mengangguk kecil, tidak berani menjawab dengan suara. Dewa tersenyum, lalu mempercepat. Hentakannya menjadi lebih dalam dan lebih kasar. Tangan kirinya meremas payudara Mentari, memelintir puting, sementara tangan kanan menahan pinggang gadis itu agar tidak bergeser. Mentari sudah tidak bisa menahan suara. Desahannya keluar bebas, bercampur dengan isakan kecil setiap kali Dewa mengenai titik tertentu. Tidak lama kemudian dia kejang lagi, ototnya mencengkeram kontol Dewa sangat erat, membuat pria itu menggeram. Dewa menahan diri sebisa mungkin, terus bergerak di tengah orgasme Mentari, hingga gadis itu benar-benar basah kuyup di bawahnya. Baru setelah itu dia menarik keluar, membalik tubuh Mentari hingga tengkurap, mengangkat pinggangnya, lalu masuk lagi dari belakang dalam satu hentakan dalam. “Ahhh.. Pak… terlalu dalam…” Dewa memegang pinggang Mentari kuat-kuat, menghentak cepat dan dalam. Suara kulit bertemu kulit memenuhi kamar. Mentari
Dewa masih berada di dalam Mentari ketika gadis itu berbisik serak, “Pak… ini… yang Bapak maksud… aktivitas bikin capek…?” Dewa tertawa rendah, mengecup bahu Mentari, lalu pelan-pelan menarik keluar. Mentari langsung mengerang pelan karena rasa kosong yang tiba-tiba datang. Cairan hangat milik Dewa ikut mengalir keluar, membasahi paha dalamnya. Dewa membalik tubuh Mentari hingga telentang kembali. Gadis itu langsung menutup wajah dengan kedua lengan, telinga dan lehernya merah padam. “Jangan dilihat Pak! Saya malu...” suaranya kecil sekali. Dewa tersenyum. Dia menangkap pergelangan tangan Mentari dan menyingkirkannya dari wajah. “Aku sudah melihat semuanya, Tari. Termasuk bagian yang baru saja aku masuki.” Mentari semakin memerah. “Pak… saya… tadi… itu— itu pertama kali saya…” “Aku tahu.” Dewa mengecup keningnya lembut. “Makanya sekarang aku akan buat kamu terbiasa merasa milikku!” Alih-alih langsung masuk lagi, Dewa menunduk. Bibirnya menyentuh leher Mentari, lalu tu
Dewa berniat mengambil air minum saat melihat Mentari duduk di sofa dengan buku catatan terbuka di pangkuannya. Hari sudah malam, tapi herannya Mentari masih sibuk belajar. Sesekali dia mengernyit ketika membaca materi, lalu menuliskan sesuatu dengan tekun. Pemandangan sederhana itu membuat langkah Dewa melambat. Mentari mengangkat wajah. “Pak Dewa?” Dewa tersenyum tipis. “Belum tidur?” “Sebentar lagi, Pak. Saya mau menyelesaikan bagian ini dulu.” Dewa mengangguk. Mentari memperhatikan wajahnya. “Bapak butuh sesuatu?” Dewa terdiam sejenak, kemudian menjawab jujur, “Aku mau ambil minum.” “Mau saya ambilkan, Pak?” tawar Mentari. Dewa menggeleng. “Aku bisa ambil sendiri. Kamu lanjutkan saja belajarnya.” Dewa yang masih berdiri di ambang pintu ruang keluarga memandang Mentari yang masih asyik menunduk di atas buku catatannya. Cahaya lampu meja membuat wajah gadis itu terlihat lembut, sementara kemeja oversized yang dikenakannya sedikit longgar di bahu. “Kenapa enggak dikerjakan
"Mentari..." panggil Dewa dengan suara seraknya yang khas. "Apalagi, Pak?" "Terima kasih karena sudah datang menemuiku." Senyum Mentari melunak. "Sama-sama, Pak." Dia kemudian masuk ke rumah. Dewa mengusap wajahnya dengan handuk, tetapi senyum kecil tetap bertahan di bibirnya. Untuk pertama kalinya hari itu, pikirannya terasa benar-benar tenang. *** Setelah kejadian di kolam, Dewa sudah kembali ke ruang kerjanya. Ponselnya bergetar ketika dia baru saja membuka laptop. Reno mengirimkan pesan. "Pak, kami sudah menemukan petunjuk baru tentang penyebar foto Mentari." Dewa langsung mengambil ponselnya. Ia buru-buru menelepon Reno untuk meminta penjelasan lebih lanjut. "Cepat beritahu aku!" "Akun anonim itu berulang kali berinteraksi dengan akun seorang mahasiswi yang sama. Kami belum bisa memastikan apakah dia pelakunya, tetapi ada kemungkinan besar dia mengetahui lebih banyak daripada yang kita kira." Dewa menatap layar. "Siapa namanya?" "Raisa, Pak." Tatapan Dewa berubah din
Malam di rumah utama Mahendra terasa lebih tenang daripada biasanya. Setelah menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk, Dewa memilih menghabiskan waktu di kolam renang belakang. Air yang dingin dan udara malam diharapkan bisa membantu meredakan pikirannya. Seharian ini, ada banyak hal yang mengganggunya. Unggahan tentang Mentari masih beredar di beberapa grup mahasiswa. Reno belum mendapatkan bukti yang cukup untuk memastikan siapa yang memulai semuanya. Sementara itu, Dewa juga harus menghadapi laporan perusahaan yang tidak bisa ditunda. Namun, di antara semua masalah itu, pikirannya justru terus kembali kepada satu orang. Mentari. Dewa menyandarkan kedua tangannya di tepi kolam, lalu mengembuskan napas panjang. Dia tidak suka melihat gadis itu terluka. Terlebih jika penyebabnya adalah orang-orang yang sengaja menjadikan kehidupan pribadi Mentari sebagai bahan pembicaraan. Namun, dia juga tahu bahwa melindungi Mentari tidak berarti mengambil alih seluruh kehidupannya. Gadis itu h







